
Jason membawa Vio ke sebuah tempat yang ada di pinggiran Missouri. Mobil lelaki itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang semua bagiannya terbuat dari kayu. Jason setengah berlari ketika melihat seorang perempuan berusia 60 tahunan duduk di teras rumah seraya memperhatikan ponsel.
"Bibi Rose!" teriak Jason.
Perempuan berusia senja itu pun beranjak dari kursi goyang. Dia juga membetulkan letak kacamata bacanya yang merosot. Setelah penglihatannya sedikit lebih baik, sebuah senyum lebar merekah di bibir perempuan tersebut.
"Jason! Dasar anak nakal! Lama sekali tidak mengunjungiku!" seru Rose seraya memeluk tubuh kekar keponakannya itu.
"Maaf, Bibi. Aku sedang sibuk dengan usahaku. Maaf, baru bisa berkunjung sekarang." Jason melepaskan pelukannya kemudian mencium jemari Rose yang sudah keriput.
Rose mengerutkan dahi ketika menangkap ada orang lain yang berada di halaman rumahnya. Perempuan itu melangkah ke arah Vio. Tatapannya langsung tertuju pada perut Vio yang sudah membuncit.
"Siapa kamu?" Rose menautkan kedua alisnya.
"Sa-saya Violetta, Bibi. Saya ...."
"Calon istriku, Bi!" sahut Jason.
Rose balik badan kemudian menatap Jason dengan alis yang saling bertautan. Memahami apa yang dipikirkan sang bibi, Jason pun mengajak perempuan itu untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Nanti aku jelaskan semuanya di dalam." Jason pun mengajak Vio untuk masuk.
Mereka bertiga kini duduk di ruang tamu ditemani jus serta buah-buahan segar. Vio kembali menelan ludah kasar karena harus menahan hasratnya untuk menyantap buah-buahan itu. Jason yang menyadari bahwa calon istrinya tengah berjuang melawan keinginan makan pun terkekeh.
"Kenapa, Jason?" tanya Rose ketika mendapati Jason tertawa kecil.
"Ada seseorang yang sepertinya menginginkan sesuatu. Tapi, dia menahannya karena gengsi."
Vio yang menyadari Jason menyindirnya pun mencubit lengan lelaki tampan tersebut. Sontak Rose menatap Vio yang wajahnya kini memerah karena malu. Rose tersenyum lembut kepada Vio.
"Kamu mau? Ambil saja! Makan semua yang kamu suka!"
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Vio dengan senyum merekah dan mata berbinar.
"Tentu saja!"
Vio pun segera mengambil beberapa potong buah dan memasukkannya ke dalam mulut sekaligus. Dia tidak peduli lagi bibi Jason menilainya rakus atau semacamnya. Jason yang melihat kelakuan calon istrinya itu hanya bisa menggeleng.
"Pelan-pelan makannya." Rose mulai khawatir takut kalau Vio tersedak.
"Iya, Bi. Ini juga pelan-pelan," ucap Vio dengan mulut yang dipenuhi buah.
Setelah menghabiskan hampir setengah mangkuk buah, rasa kantuk kini menyerang Vio. Rose yang menyadarinya pun meminta perempuan itu untuk istirahat di kamar tamu. Sementara Vio tidur, Jason dan sang bibi mulai berbincang.
"Di mana kamu mengenalnya?" tanya Rose penasaran.
"Dia adalah anak tiri ibu. Ibu menikah lagi dengan ayahnya setelah suami keduanya meninggal." Jason mulai meraih gelas berisi jus dan meneguknya perlahan.
"Apa kamu sudah menemui ibumu?" tanya Rose antusias.
"Tapi setelah beberapa kesengajaan yang kubuat untuk bisa terhubung dengan Vio, justru sekarang aku jatuh hati padanya." Jason tersenyum lembut karena kini wajah Vio membayangi dirinya.
"Dasar, anak muda!" Rose terkekeh dan ikut menyandarkan punggung pada dasbor sofa.
"Bagaimana ekspresi ibumu ketika melihat dirimu untuk pertama kali?" tanya Rose.
"Dia tidak mengenaliku. Aku benar-benar merasa menjadi anak terbuang. Untuk itulah aku memutuskan untuk membiarkannya saja. Aku ingin membiarkan ibu menguasai semua yang keluarga Smith miliki. Tapi, aku berencana membuat semuanya berantakan."
"Benarkah? Jadi, apa rencanamu?"
Jason kembali menegakkan punggung. Lelaki itu mengangkat satu kakinya ke atas paha, lalu saling menautkan jemari satu sama lain. Sebuah senyum miring terbit di bibir tipis lelaki tampan itu.
"Aku sudah bekerja sama dengan beberapa klien yang terhubung dengan perusahaan Tuan Smith. Aku menawarkan mereka pembagian hasil jika mau berinvestasi dengan organisasi buatanku. Padahal aku hanya menaikkan pembagian sebanyak 5 persen saja dari yang ditawarkan perusahaan Tuan Smith. Tapi, mereka semua langsung menyetujuinya. Tinggal tunggu waktu yang tepat saja untuk menarik saham mereka dari perusahaan itu secara bersamaan." Kali ini senyum Jason tampak menyeramkan.
__ADS_1
"Mengenai dokter Theo ... dia itu bodoh atau bagaimana? Apa dia tidak menyelidiki seseorang sebelum memintanya untuk melakukan sesuatu untuk dia?" Rose terkekeh karena teringat bagaimana mendengar Matheo mengancam Jason melalui sambungan telepon.
"Entahlah, tapi kebetulan sekali justru rencananya malah mendekatkanku kepada Vio. Bukankah aku harus bersyukur untuk ini?" Jason tersenyum miring ketika teringat bagaimana Theo menemuinya untuk pertama kali.
Theo mengatakan memilih Jason karena sering melihat Vio dan Mathew nongkrong di kafenya. Sepengetahuan Theo, kafe tersebut juga sedang terjadi krisis keuangan. Padahal sebenarnya kafe itu baik-baik saja. Jason sengaja merancang kafe itu untuk tempat transaksi jual beli informasi organisasi, jadi terlihat sepi pengunjung.
Hanya saja beberapa waktu belakangan Vio mendatangkan hoki tersendiri, sehingga kafe tersebut ramai pengunjung. Karyawan Jason pun bisa mendapatkan penghasilan lebih untuk itu.
"Bibi hanya khawatir bagaimana nantinya jika Vio mengetahui semua tentang rencana ini? Apa dia akan tetap mau bersamamu, atau tidak?"
"Aku sudah memikirkannya. Aku akan mengungkapkan semua ketika waktu dirasa sudah tepat. Aku akan pindah ke Italia, Bibi mau ikut? Aku khawatir Theo nekat menyakitimu nantinya."
"Tenanglah, selama ini aku selalu dijaga baik oleh ajudan-ajudanmu. Aku rasa kamu tidak perlu mengkhawatirkan keselamatanku."
***
Setelah selesai mengurus semua berkas dan permohonan Jason disetujui, dia langsung mengajak Vio pergi ke bandara. Keduanya sudah berkemas jauh-jauh hari. Rasa bahagia kini memenuhi hati Vio, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Keduanya kini sudah berada di bandara dan sedang menuju pesawat pribadi milik Jason. Vio yang tidak percaya bahwa Jason memiliki pesawat pribadi pun bertanya-tanya. Jason tampak berpikir agar Vio tidak semakin mencurigainya.
"Aku meminjamnya dari seorang teman. Aku takut kalau kamu tidak nyaman naik pesawat bersama orang lain karena terbiasa naik pesawat pribadi."
"Tunggu! Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku terbiasa naik pesawat pribadi?" Vio menyipitkan mata, sehingga membuat Jason gelagapan.
"Bu-bukannya orang kaya sepertimu memang seperti itu? Ke mana-mana dengan kendaraan terbaik dan bersifat pribadi?" ungkap Jason.
"Benar juga, sih." Vio terkekeh seraya menggaruk kepalanya.
Tak lama berselang jadwal penerbangan mereka telah tiba. Keduanya pun langsung masuk ke dalam kabin dan duduk di kursi masing-masing. Pramugari mulai menghampiri mereka dan membantu untuk memasang sabuk pengaman.
Setelah pesawat lepas landas, mereka langsung ditawari makanan dan minuman. Vio pun mengiyakan tawaran dari sang pramugari. Keduanya menikmati perjalanan dengan santai. Tanpa mereka tahu ada sepasang suami istri yang tengah depresi dan kelimpungan karena tidak dapat menemukan mereka di mana pun.
__ADS_1