
"Tuan Smith meninggal dunia, Tuan."
Sebuah kalimat yang membuat Jason murka itu diucapkan penuh sesal oleh anak buah yang ditugaskan untuk merawat Jhonson. Tubuh Jason bergetar hebat karena ledakan amarah. Tangannya mengepal kuat karena menganggap anak buahnya tidak mampu bekerja dengan baik.
Daripada memarahi sang bawahan, Jason memilih untuk mengakhiri panggilan. Dia tidak ingin istrinya kalau ayahnya telah meninggal dunia. Jika Vio mengetahuinya, sudah bisa dipastikan bahwa Vio akan hancur jika sampai tahu sekarang.
Baru saja semuanya terlihat baik-baik saja. Namun, kini keadaan dengan mudahnya berbalik. Membayangkan tangisan Vio saja sudah membuat hati Jason terasa nyeri. Apalagi harus melihatnya benar-benar menangis?
"Ada apa, Sayang?" tanya Vio seraya memegang lengan atas sang suami.
"Tidak apa-apa, Sayang. Bukankah sebaiknya kita segera pulang? Ini sudah terlalu larut, kasihan Javier."
Awalnya Vio tidak menaruh curiga. Akan tetapi, sepanjang perjalanan dia merasa Jason yang tampak bingung dan murung. Sesampainya di apartemen, Vio terus mendesak sang suami untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Jason terpaksa memberitahukan semuanya detik itu juga.
Lelaki itu menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Vio yang masih penasaran terus mencecar Jason untuk menjelaskan semua yang sedang terjadi.
"Tuan Smith ... meninggal." Jason tertunduk dalam dengan bahu merosot.
"Tuan Smith? Maksudmu papaku?" Vio mengerutkan dahi.
Mata Vio mulai berkabut. Dia mencoba untuk tersenyum setelah mendapat berita menyakitkan itu. Namun, akhirnya pertahanannya runtuh.
Kaki Vio seakan kehilangan pijakan. Tubuhnya merosot ke atas lantai. Dadanya terasa begitu sesak.
Vio berulang kali memukul dada agar tangisnya mau keluar dari bibir ibu muda tersebut. Namun, tidak ada tangis yang keluar. Rasa sesak karena kesedihan yang menggerogoti hatinya justru semakin terasa mencekik.
"Jason, kenapa tangisku tidak mau keluar? Bukankah seharusnya aku menangis histeris sekarang? Bagaimana ini?" Suara Vio mulai bergetar, jemarinya tak berhenti memukul dada.
"Vio, tenanglah!" Jason pun itu bersimpuh di depan Vio.
__ADS_1
Lelaki itu mengusap punggung sang istri dengan tangan kanan. Sedang tangan kirinya digunakan untuk menumpu beban tubuh Javier. Vio masih terus memukul dadanya yang terasa begitu sesak. Sampai akhirnya sebuah pelukan dari Jason, membuat tangis Vio pecah.
"Jason, anak buahmu tidak becus menjaga ayahku ternyata! Kenapa kamu tidak memecatnya saja?" Vio terus menyalahkan anak buah Jason di antara isak tangis.
"Maaf, maafkan aku. Menangislah Vio. Menangislah yang keras, luapkan semua kesedihanmu."
Jason tidak paham bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Sejak kecil orang tuanya hanyalah Bibi Rose. Dia tidak sempat merasakan bagaimana lembutnya belaian ibu dan hangatnya pelukan seorang ayah.
"Jason ...." Vio yang masih berlinang air mata kini menatap Jason berapi-api.
"Kenapa, Sayang?"
"Apa kamu mau membantuku untuk membalas perbuatan mama dan Mathew?" Suara Vio bergetar karena amarah yang menguasai hatinya.
Detik itu juga Jason mengetahui sisi gelap Vio yang mulai bangkit. Kesan perempuan manja dan lembut kini tak tampak lagi pada wajah Vio. Hanya ada aura kemarahan bercampur kesedihan yang menyelimuti perempuan itu.
"Aku sudah menyiapkan semua rencana untuk menjatuhkan mama dan Mathew. Apa kamu ingin menambahkan sesuatu yang lain untuk rencanaku?" tanya Jason dengan wajah datar.
"Yang penting sekarang kita kembali ke Missouri dulu. Semua akan kita mulai di sana." Vio bangkit dari atas lantai kemudian berjalan ke luar dari toko.
Mereka akhirnya berkemas setelah sampai di apartemen. Mereka mengambil jadwal penerbangan pertama keesokan harinya. Setelah melakukan perjalanan udara selama 17 jam, akhirnya Vio sampai di Missouri.
Kedatangan mereka disambut ceria oleh Rose. Perempuan itu ikut menjemput ke bandara. Senyumnya merekah manakala menyambut kedatangan Jason beserta Vio dan Javier.
"Halo, Tampan! Nenek benar-benar merindukanmu!" seru Rose seraya mengambil alih Javier dari gendongan Jason.
"Bibi, kenapa hanya Javier yang disambut dengan pelukan? Bagaimana dengan dua keponakanmu ini?" Jason membuang muka seraya melipat lengan di depan dada.
"Hahaha, dasar bayi tua!" seru Rose sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Vio belum bisa tersenyum karena gusar. Dia ingin segera datang ke makam sang ayah. Rasa kecewa atas tindakan sang ibu tiri membuat Vio menegang.
"Vio Sayang, ayo berjalan sedikit lebih cepat! Bibi sudah membuatkan makanan kesukaanmu!" seru Rose.
Vio memaksakan senyum meski terasa berat. Jason pun menggandeng jemari Vio dan memberinya kekuatan. Dia membawa sang istri masuk ke mobil dan meminta Eric segera mengantar mereka pulang.
"Sayang, kita ke makam papa besok saja. Kamu butuh istirahat untuk memulai aksi kita. Berdasar informasi yang diberikan oleh Timmy, pembacaan surat wasiat besok malam. Kita akan datang secara mendadak di acara tersebut untuk mengambil kembali hakmu." Jason menguatkan sang istri yang kini sedang terpuruk.
Akhirnya Vio mengangguk. Dia menahan egonya dan pulang ke rumah Rose. Perempuan itu berharap besok sanggup menerima kenyataan yang begitu menyakitkan itu.
***
Angin semilir membelai dedaunan yang ada di area pemakaman. Vio berjalan dengan bunga krisan dalam dekapan. Sedangkan Jason sedang sibuk menggendong Javier.
Langkah demi langkah Vio tapakkan di atas jalan setapak berbatu dengan rumput hijau yang mengelilingi sekitar. Jantungnya memompa darah ke seluruh tubuh hingga membuat debarannya tak menentu.
Ketika sampai di depan sebuah batu nisan dengan ukiran nama sang ayah, Vio berhenti melangkah. Dia menatap sendu batu granit di hadapannya. Vio berjongkok di depan makan Jhonson kemudian meletakkan buket bunga ke atas gundukan tanah tersebut.
"Papa, maaf. Vio baru bisa datang. Andaikan Vio tahu mama sejahat itu, maka Vio tidak akan meninggalkan papa sendirian di sana. Maaf, karena sudah mengabaikan papa karena menuruti ego."
Hati Jason terasa sakit ketika mendengar ucapan sang istri. Dari ucapan Vio, Jason menangkap bahwa perempuan itu menyesal telah pergi dari Missouri bersamanya. Namun, lagi-lagi lelaki tampan itu memilih untuk memendamnya sendiri.
Jason sadar bahwa pikiran dan hati Vio sedang kacau saat ini. Dia akan berusaha memahami sang istri sebaik mungkin. Jason ingin menjaga hubungannya agar tetap harmonis bersama Vio, meskipun harus menekan perasaannya sendiri.
"Pa, lihatlah bayi yang aku kandung ini, sekarang sudah berusia 2 bulan lebih. Seharusnya papa menimang Javier sekarang. Maaf, belum bisa menjadi putri yang baik untukmu." Suara Vio bergetar bercampur isak tangis.
"Aku berjanji akan membalas semua perbuatan mama. Aku akan mengambil lagi hakku, dan menendang mama dari daftar keluarga kita! Aku tidak rela namanya tercantum dalam daftar penerima hak warismu."
Vio kembali menemukan kekuatannya. Dendam adalah bahan bakar Vio saat ini. Dia tidak peduli, bahan bakar tersebut nantinya justru akan membakar kehidupannya sendiri. Bagi Vio yang terpenting sekarang adalah, membalas semua perbuatan Anna yang telah menghancurkan keluarga Smith.
__ADS_1