Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 11. Dunia Kerja


__ADS_3

"Perkenalkan, saya Violetta. Senang bisa menjadi partner kerja kalian." Sebuah senyum lebar terukir di bibir Vio.


Ini adalah salah satu pengalaman pertama Vio. Biasanya perempuan itu mendapat jatah bulanan dari Jhonson tanpa harus bersusah payah kerja. Namun, mulai sekarang Vio harus bekerja sendiri untuk menghidupi dirinya serta janin yang kini ada di dalam rahim.


"Baiklah, sekarang mulai bekerja! Semoga hati kalian menyenangkan!" Jason memberikan semangat untuk semua karyawannya pagi itu


Semua karyawan toko pun mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada tiga karyawan yang bekerja pagi itu. Dua barista dan Vio.


Makanan pendamping seperti kue, Jason sudah bekerja sama dengan salah seorang kerabatnya. Jadi mereka akan memasok beberapa jenis kue ke kafe setiap harinya. Sedangkan untuk makanan jenis lain, seperti kentang goreng, spageti, atau pasta, Jason sendiri yang memasaknya untuk pelanggan.


"Vio, kemarilah!" Jason melambaikan tangan ke arah Vio yang sedang membersihkan meja.


Vio pun bergegas menghampiri Jason. Jason mulai mengajari Vio bagaimana cara mengoperasikan komputer dengan sistem Linux tersebut. Vio yang memang sebenarnya cerdas itu pun berhasil menangkap apa yang dijelaskan Jason dengan baik.


"Mengerti?" tanya Jason untuk memastikan perempuan di sampingnya itu paham dengan penjelasannya.


"Tentu saja. Mudah sekali!" Vio tersenyum lebar kemudian beranjak dari tempat itu.


Namun, ketika Vio baru saja balik badan lengannya ditahan oleh Jason. Dua pasang mata anak manusia itu saling menatap. Perlahan senyum Vio menghilang berganti dengan dahi yang berkerut.


"Ada apa, Jason?"


Sedetik, dua detik, Jason hanya terdiam. Dia seakan sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, Jason melepaskan pergelangan tangan Vio kemudian mengangkat lengan dengan jemari yang mengepal. Jason meninju udara di depannya.


"Semangat!" seru Jason diiringi sebuah senyum lembar yang sanggup membuat jantung para wanita berhenti berdetak sementara.


Hal itulah yang sedang dirasakan Vio sekarang. Tanpa sadar, perempuan itu menahan napas karena melihat senyuman Jason. Setelah Jason kembali menyebut namanya, barulah Vio berkedip dan mengambil napas. Vio tampak terengah-engah sehingga membuat Jason panik.


"Apa kamu baik-baik saja, Vio? Kenapa napasmu terlihat sesak?" tanya Jason panik.

__ADS_1


"A-aku baik-baik saja, Jason. Ka-kalau begitu, aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu!" Vio segera melangkah meninggalkan Jason dan kembali memegang kain lap untuk membersihkan meja.


Aneh bin ajaib, ketika papan toko dibuka ternyata sudah ada sekitar 5 orang yang mengantre di depan kafe. Melihat hal itu, tentu saja membuat para karyawan dan Jason tercengang. Pagi itu mereka sangat sibuk.


Tidak hanya memesan kopi, es krim, atau minuman lain. Para pelanggan juga memesan beberapa makanan berat seperti spageti dan pasta. Jam menunjukkan pukul 1 ketika perut Vio terasa begitu melilit.


Keringat dingin mengucur, membasahi dahi perempuan itu. Pandang Vio mulai kabur dan perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Jason yang menyadari hal itu langsung menarik lengan Vio.


"Elga, bisa kamu gantikan Vio sebentar?"


Elga mengangguk, kemudian menyerahkan cangkir kosong kepada William. Setelah Elga mengganti posisi Vio, perempuan itu pun dipapah oleh Jason menuju ruang istirahat khusus karyawan.


"Duduklah, biar aku ambilkan air hangat." Jason mendudukkan tubuh Vio ke atas bangku, kemudian berjalan menuju dispenser.


Tak lama kemudian, Jason kembali dengan segelas air hangat. Vio pun meniup air itu dan meminumnya perlahan. Jason menanyakan kondisi Vio lagi.


"Aku ... lapar." Mata Vio berkaca-kaca denga bibir melengkung ke bawah.


Setelah Jason keluar dari ruang istirahat, Vio langsung membuka kotak bekalnya. Di dalam kotak itu sudah ada salad dan juga beberapa potong steik daging serta roti. Vio yang melihat makanan di hadapannya sontak meneteskan air liur.


Tanpa menunggu lagi, Vio langsung menyantap makan siangnya dengan rakus. Entah mengapa sejak tinggal bersama Jason, napsu makannya naik berkali lipat. Dia benar-benar menikmati masakan yang dibuatkan oleh Jason.


Ketika sedang asyik melahap makanannya, tiba-tiba seorang karyawan masuk ke dalam ruangan itu dan menatap tak suka kepada Vio. Dia mendekati Vio, kemudian menutup kembali kotak makan Vio.


"Bukankah ini belum waktunya istirahat?" Perempuan itu melipat lengan di depan dada.


Dari pin yang menempel di dada perempuan itu, Vio dapat mengetahui bahwa dia bernama Monica. Vio tersenyum lembut berusaha bersabar menghadapi perempuan itu.


"Aku lapar, dan tadi Jason mengizinkanku untuk mengambil jam istirahat lebih dulu. Aku tadi hampir saja pingsan."

__ADS_1


"Jason? Kamu menyebut Pak Jason hanya dengan sebutan nama?" Monica menyipitkan mata.


Vio hanya menunduk. Rasa lapar yang dia rasakan belum terpuaskan, dan kini kakinya mulai gemetar. Dahi perempuan itu kembali dibanjiri dengan keringat dingin.


Pandangan Vio mulai gelap. Dia berusaha memejamkan mata berulang kali kemudian menggelengkan kepala agar tatapannya kembali fokus. Akan tetapi, usahanya gagal.


Tubuh Vio mulai limbung. Dia pun akhirnya tersungkur ke atas lantai. Monica yang tidak tahu kalau Vio tengah mengandung malah tersenyum miring.


"Masih ada, ya? Dimarahi orang lain malah pura-pura pingsan?" Monica mendekati Vio kemudian menggunakan kakinya untuk menyentuh lengan perempuan itu.


"Hei, bangunlah! Jangan pakai trik bodoh ini untuk menghindar dari kesalahan yang kamu buat! Hei, bangunlah!" Monica terus menyentuh lengan Vio dengan kakinya.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Monic!" seru Jason ketika menatap Vio yang sedang ditendang-tendang oleh Monica.


"P-Pak, dia berpura-pura pingsan ketika aku menegurnya makan di jam kerja!" Jemari Monic menunjuk ke arah Vio yang masih tergeletak lemas di atas lantai.


"Aku yang memberinya ijin! Kamu ini bodoh atau gimana?" Tanpa menghiraukan lagi Monica yang terus berusaha membela diri, Jason langsung mengangkat tubuh Vio.


Jason membawa keluar Vio melalui pintu belakang kafe. Lelaki itu bergegas melajukan mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Vio langsung di tangani.


Jason mondar-mandir di depan IGD sambil menggigit jemari karena rasa khawatir yang berlebihan. Dia takut akan ada hal buruk yang menimpa Vio serta janinnya. Tak lama berselang, Matheo keluar dari IGD.


"Bagaimana kondisi Vio, Dok?"


"Bagaimana bisa dia lemah? Apa kamu tidak memberinya makan?"


"Aku ...."


"Jangan sampai hal buruk terjadi pada bayi di dalam kandungannya!" bentak Matheo.

__ADS_1


Tanpa berkata lebih banyak lagi, Theo langsung pergi meninggalkan Jason. Lelaki itu tertunduk lesu seraya meremas rambut frustrasi. Dia mengusap wajah kasar kemudian masuk ke ruang IGD.


Vio masih terpejam dengan selang infus yang menempel pada lengan. Jason menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Mulai detik itu, dia berjanji akan lebih memperhatikan asupan gizi Vio agar kejadian yang sama tak terulang kembali.


__ADS_2