Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 35. Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Seorang bocah kecil yang sudah rapi dalam balutan pakaian kasual, sedang berlarian di ruang tengah keluarga Black. Dia adalah Javier Black, putra pertama dari Vio. Lebih tepatnya putra yang dikandung olehnya karena sebuah tindakan ilegal.


Di belakangnya, Vio sedang berlari mengikuti gerakan aktif sang putra untuk menyuapinya sarapan. Jason tumbuh menjadi anak yang sangat aktif dan cerdas. Dia selalu bergerak sesuka hati seakan tidak oernah kehabisan energi.


"Javier, ayo kita makan dulu! Bus sekolah sebentar lagi akan datang menjemputmu!" seru Vio sambil membawa satu mangkuk penuh sup krim jagung kesukaan Javier.


"Kejar Javy, Mommy! Javier tidak akan mau makan kalau Mommy belum berhasil menangkap Javy!" seru Javier seraya menjulurkan lidah.


"Jangan seperti itu, Sayang! Ayolah!" Napas Vio hampir putus karena mengejar Javier sang sangat aktif.


Kondisi Vio akhir-akhir ini sedikit menurun. Dia mudah sekali lelah dan sering merasa pusing. Bahkan, karena kondisi itu Vio tidak dapat membuat Video untuk konten kanal Youtube-nya.


Jason berulang kali mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Namun, Vio terus menolak karena merasa masih sanggup menahan kelelahan dan rasa pusing yang sering menghampiri. Dia berpikir itu terjadi karena dirinya mengalami anemia.


"Javier, berhenti! Please, Mommy sudah tidak ...." Belum selesai kalimat yang diucapkan oleh Vio, perempuan itu langsung tumbang.


Vio tersungkur di atas lantai dengan posisi tengkurap. Sup krim yang ada di dalam mangkuk pun tumpah mengotori lantai. Pecahan mangkok membuat ruangan itu terlihat sedikit kacau.


"Mommy!" seru Javier dengan mata terbelalak.


Javier pun segera berlari menghampiri sang ibu. Dia mengguncang tubuh Vio sambil terus menyerukan namanya. Setelah mencoba membangunkan sang ibu dan tidak ada respon, Javier bergegas meraih gagang telepon untuk menghubungi sang ayah.


"Daddy, mommy tiba-tiba jatuh dan tertidur di atas lantai ketika mengejarku!" ujar Javier panik sambil terus menangis.


Tak lama berselang, Marry sang asisten rumah tangga masuk dari taman belakang karena mendengar keributan yang ada di ruang tengah. Marry langsung menghampiri majikannya dan menghubungi ambulans. Setelah ambulans datang, Vio pun dibawa ke rumah sakit.


Marry duduk di depan IGD seraya memangku dan memeluk Javier yang masih menangis. Tiba-tiba terdengar suara derap langkah dari ujung lorong. Jason setengah berlari mendekati Marry dan Javier.


Mengetahui kedatangan sang ayah, Javier langsung turun dari pangkuan Marry dan menghambur ke pelukan sang ayah. Jason menimang putra kesayangannya itu, seraya mengucapkan kalimat penenenang agar sang anak diam.

__ADS_1


"Ta-tadi waktu mommy kejar Javy, tiba-tiba tidur di atas lantai. Ja-Javy sudah bangunkan mommy ... ta-tapi mommy tidak mau bangun, Daddy," jelas Javier di antara isak tangis.


"Sudah, tidak apa-apa, Javier." Jason mengusap lembut punggung sang putra.


"Keluarga Nyonya Vio?" Seorang dokter keluar dari IGD menemui Jason yang tengah menggendong Javier.


"Bisa kita bicara sebentar, Pak? Mari ikut ke ruangan saya." Dokter bernama Mark itu berjalan lebih dulu.


Jason pun meminta Marry untuk menggendong javier dan menemani Javier. Setelah itu, dia mengekor di belakang Dokter Mark. Setelah sampai di ruangan sang dokter, Jason menarik kursi lalu duduk di atasnya.


"Bagini, Pak. Sudah berapa lama istri anda mengalami kelelahan dan pusing?" tanya Mark sambil membuka selembaran kertas berisi diagnosis kesehatan Vio.


"Sekitar hampir satu bulan, Dok. Saya sudah memintanya untuk memeriksakan diri. Tapi, istri saya selalu menolaknya dengan dalih hanya menderita anemia. Jadi, selama ini dia hanya mengkonsumsi tablet penambah darah serta parasetamol untuk meredakan sakit kepala ketika datang."


Mark mengembuskan napas kasar. Dia lantas melepas kacamata yang awalnya menggantung di hidung. Lelaki itu menautkan jemari tangannya dan menatap Jason serius.


"Begini, Pak. Kami menemukan ada bekas herpes di leher istri Anda. Kemungkinan virus yang ada di sana menyebabkan ensefalitis atau radang otak."


Dokter pun mulai menjelaskan bagaimana virus itu bisa sampai menginfeksi otak Vio. Setelah menjelaskan secara detail, dokter menyarankan agar Vio dirawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk melihat perkembangannya.


"Anda tenang saja, radang otak yang dialami Nyonya Violetta masih tahap awal. Jadi, kami pastikan pasien bisa sembuh dengan pengobatan yang tepat."


"Baiklah, Dok. Saya percayakan kesembuhan istri saya di bawah penanganan Anda."


Sang dokter tersenyum lebar. Jason pun mengulurkan tangan dan berpamitan. Dia segera menemui sang istri yang kini sudah sadar. Vio tampak sedikit lebih pucat.


Javier sampai tertidur lagi karena lelah menangis. Jason meminta Marry untuk pulang dan menjaga putranya di rumah saja. Setelah sang asisten keluar dari IGD, Jason pun mendaratkan bokongnya ke atas kursi.


Jason menggenggam erat jemari Vio, kemudian mengecup punggung tangannya penuh cinta. Lelaki itu menatap sang iatri penuh cinta, lalu menyelipkan anak rambut Vio ke belakang telinga.

__ADS_1


"Aku sakit apa, Sayang?" tanya Vio dengan suara lemah.


"Ensefalitis ... radang otak ringan. Tapi, tenang saja. Kata dokter, kamu akan sembuh dalam sepuluh hari."


"Syukurlah," ucap Vio sambil tersenyum lembut.


"Sejujurnya, aku berharap ini tanda kehamilan." Wajah Vio berubah sendu.


Jason paham dengan perasaan Vio. Keduanya memang ingin segera memiliki anak lagi dari hasil pernikahan itu. Namun, Tuhan belum berkehendak.


Mereka berpikir bahwa Tuhan ingin keduanya fokus merawat Javier lebih dulu. Jason dan Vio pun mencoba untuk ikhlas menjalani semua sambil menunggu kehadiran buah hati.


"Yang sabar, ya. Setelah kamu sembuh ... bagaimana kalau kita menjalani program kehamilan? Kita cek sebenarnya ada masalah apa dengan diri kita." Jason mencoba untuk menenangkan Vio yang tampak begitu kalut.


"Jika saja, aku yang bermasalah ... apa kamu akan meninggalkanku, Jason?" Mata Vio mulai berkaca-kaca.


Vio mulai memikirkan banyak hal buruk mengenai kesehatan kesuburannya. Dia memang pernah mengandung, tetapi itu bukanlah bayi yang berasal dari sel telurnya. Vio takut jika sel telurnya bermasalah.


Jason memutuskan untuk memberikan pengobatan di rumah sakit saja agar terpantau 24 jam oleh tim medis. Jadi, dia yang sering mengunjungi sang istri. Merawat Vio yang kian hari semakin membaik.


Di hari ke tujuh, Vio sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan untuk pulang. Namun, dokter memintanya segera kembali jika mengalami keluhan pasca pengobatan.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Javier!" seru Vio dengan mata berbinar.


"Dia juga selalu menanyakanmu setiap aku pulabg dari rumah sakit. Tapi, akhir-akhir ini ... Marry bilang kalau Javier sering pulang dengan berbagai macam hafiah atau jajanan do dalam tasnya."


"Benarkah? Mungkin dari temannya?"


"Entahlah, setiap ditanya dia tidak mau mengaku."

__ADS_1


"Asal tidak membahayakan Javier, biarkan saja." Vio tersenyum lembut dengan mata menatap lurus ke jalanann yang ada di depannya.


__ADS_2