
Jason tertegun mendengar ancaman dari Theo. Dia terlihat menatap datar lelaki di hadapannya. Rahangnya mengeras.
Jason akhirnya memegang pergelangan tangan Jason dan menariknya. Kini kerah kemeja Jason terlepas dari genggaman Matheo. Lelaki itu menepuk bahu sang dokter perlahan.
"Sebenarnya aku muak dengan ini semua. Tapi ... aku terus menahannya. Dokter Theo, bagiku kamu hanyalah kotoran di ujung kuku. Aku diam, bukan berarti karena takut. Jika sampai kamu sentuh Vio bahkan sampai menyakitinya, aku pastikan kamu akan menyesal!" Dalam hitungan detik, Jason mampu membalikkan keadaan.
"Kamu bisa dipenjara karena melakukan manipulasi data. Kamu bekerja sama dengan Mattew untuk menghancurkan masa depan keluarga Tuan Smith, bukan?"
"Stop it! Dasar b*jingan!" umpat Theo dengan jemari mengepal kuat di samping badan.
Jason tersenyum miring, kemudian melangkah ke arah IGD, meninggalkan Theo yang masih melongo. Setelah Jason menghilang di balik pintu, Matheo memukul dinding dingin yang ada di sampingnya. Dia berteriak frustrasi.
Di dalam ruangan, Vio tampak terlelap. Gurat ketakutan masih jelas terlihat di wajah perempuan itu. Jason menarik kursi kemudian mendaratkan bokong ke atasnya.
"Maaf, tidak bisa melindungimu. Aku memang payah, ya?" Jason tersenyum kecut.
Jason menggenggam tangan Vio kemudian mencium punggung tangan perempuan itu. Jika bisa menggantikan rasa sakit yang dialami Vio, maka Jason akan melakukannya. Melihat perempuan itu terus merintih menahan sakit, membuat hati Jason ikut teriris.
Lelaki itu terus menatap Vio yang beberapa kali tampak mengerutkan dahi seraya mendesis. Jason terus mengusap lembut punggung tangan Vio untuk memberikan semangat kepada perempuan itu.
"Hei, bukankah kamu sudah berjanji untuk menjadi wanita yang kuat? Ayo, jangan lemah. Perjalanmu masih jauh untuk bisa menghadirkan bayi itu ke dunia."
Sedetik kemudian, Jason terdiam. Dia tidak tahu bagaimana perasaan Vio setelah melahirkan nanti. Perempuan itu harus berpisah dengan bayi yang telah dikandung selama 9 bulan itu.
Mendadak hati Jason terasa nyeri membayangkan betapa kalutnya Vio kelak. Ketika lelaki itu memikirkan banyak hal yang akan terjadi di masa yang akan datang, tiba-tiba Vio membuka mata dan menjerit histeris.
"Hei, Vio. Tenanglah! Aku ada di sini!"
"Lelaki brengsek itu datang lagi Jason! Aku takut!" Vio terduduk dengan tubuh menggigil ketakutan.
__ADS_1
"Dia sudah diamankan. Aku meminta pihak apartemen untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib. Setelah keadaanmu membaik, kita ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."
Vio masih menangis sesenggukan. Bayangan wajah beringas Samuel masih jelas terlihat di matanya. Jason terus memberikan pelukan kepada perempuan itu untuk menenangkannya.
Di tengah pelukan itu tiba-tiba Vio terbelalak. Tangisnya berhenti seketika. Dia meminta Jason untuk melonggarkan pelukan.
"Ada apa?"
"A-ada yang bergerak di dalam perutku!" seru Vio seraya mengusap air mata yang membasahi pipi.
"Benarkah?" Pupil mata Jason melebar mendengar pengakuan dari ibu muda di depannya itu.
"Dia bergerak lagi!" Sontak Vio menarik lengan Jason dan meletakkan telapak tangan lelaki itu ke atas perutnya yang masih bergerak.
"Wah, dia benar-benar bergerak!"
Dua orang yang baru merasakan pengalaman pertama kali itu tersenyum lebar. Setiap gerakan yang mereka rasakan membawa kebahagiaan tersendiri. Tanpa mereka sadari, sepasang mata perempuan muda menatap iri keduanya.
***
Pagi itu Vio sedang bersiap untuk berangkat kerja. Dia mulai menggunakan terusan berbahan katun karena kaos serta celananya sudah tidak mampu menampung perutnya yang mulai membuncit. Vio terkekeh ketika melihat kondisi badannya yang seperti perempuan cacingan.
Lengan kurus, kaki kurus, wajah tirus, tetapi perut Vio buncit. Seperti ada balon yang dia masukkan ke dalam daster. Perempuan itu mengusap lembut permukaan perut yang tertutup terusan itu.
"Pagi, anak Mommy! Sudah siap berjuang hari ini?" Mata Vio tak lepas dari perutnya yang terus bergerak pelan membentuk gelombang.
Tak lama berselang, terdengar ketukan pintu. Vio berjalan pelan ke arah benda tersebut, kemudian membukanya perlahan. Jason sudah berdiri tegap seraya tersenyum lebar.
"Sudah siap? Apa kamu yakin dapat menjaga diri di tempat kerja? Kalau lelah istirahat, kalau lapar langsung makan saja. Tidak usah memedulikan omongan karyawan lain. Bilang saja kalau kamu kerja rodi sebagai ganti uang makan dan tempat tinggal untuk membungkam mulut mereka!" Rentetan pesan itu keluar dari bibir seorang Jason.
__ADS_1
Tentu saja Vio terkekeh mendengar semuanya. Dia benar-benar heran dengan tingkat kecerewetan Jason yang melebihi sang ibu ketika memberi nasihat. Melihat Bio tertawa, membuat Jason menautkan kedua alisnya.
"Kamu kenapa? Ada yang lucu?" tanya lelaki itu keheranan.
"Jason, kecerewetanmu melebihi batas ambang wajar lelaki pada umumnya! Bahkan melebihi bagaimana cerewetnya mama ketika menasihatiku tentang banyak hal!" Vio memegang perutnya yang terguncang karena ledakan tawa.
"Benarkah?" Jason ikut terkekeh.
Keduanya pun tertawa bersama. Ketika tawa mereka mulai reda, Jason pun mengajak Vio untuk bergegas berangkat ke toko. Jason meminta Vio untuk berjalan lebih dulu.
Baru berjalan beberapa langkah, keseimbangan Vio goyah. Lantai yang licin, serta alas sepatu yang mulai halus membuat perempuan itu kesulitan berjalan. Beruntungnya Jason sigap.
Lelaki itu menangkap tubuh Vio dengan cepat. Kini Vio berada di dalam pelukan Jason. Mata keduanya saling beradu.
Jakun Jason tampak naik turun karena menelan ludah. Pesona Vio sanggup meruntuhkan pertahanan lelaki itu. Jason pernah patah karena seorang wanita, dan kehadiran Vio seakan menjadi obat tersendiri yang perlahan menyatukan hatinya yang telah patah sejak lama.
"Jason ...." Suara Vio terdengar lembut di telinga Jason.
Mereka terbuai dengan suasana. Tanpa sadar, Vio memejamkan mata. Dia berharap bibir Jason mendarat di atas bibirnya.
Jason yang merasa mendapatkan izin dari Vio pun perlahan mendekatkan bibirnya. Napas beraroma min kini dirasakan oleh Jason. Semerbak wangi bunga merongrong rongga hidung lelaki itu.
Jason terus memangkas jarak di antara keduanya. Sampai akhirnya bibir lelaki itu mendarat tepat di atas bibir Vio. Secara naluriah, Vio pun membuka mulutnya untuk memberikan akses kepada Jason agar lebih leluasa.
"Aku ambil napas dulu!" Vio menekan dada bidang Jason sehingga ciuman mereka terlepas.
Jason yang masih belum rela memisahkan bibir, akhirnya menempelkan dahinya pada dahi Vio. Napas keduanya saling bersahutan karena hasrat yang semakin membuncah. Vio melingkarkan lengannya ke leher Jason.
Sebuah senyum manis terukir di bibi wanita cantik itu. Setelah paru-paru keduanya kembali terisi oksigen, kini giliran Vio yang hendak menyerang. Namun, baru saja bibirnya menyentuh bibir Jason, terdengar denting bel.
__ADS_1
Jason mengusap wajah kasar, dan terpaksa melangkah ke arah pintu. Ketika membuka pintu, lelaki mengerutkan dahi melihat perempuan yang berada di depannya. Vio pun menyusul Jason, dan langsung terbelalak saat mengetahui siapa yang telah berkunjung ke apartemen Jason.