
Jason kini sedang menatap kesal pada lelaki yang dulu pernah menjadi salah satu karyawan kafe sekaligus anggota organisasinya itu. Evan menatap Jason sinis. Tidak ada raut penyesalan di wajah lelaki itu.
"Kenapa kamu berusaha menculik Javier?"
"Tanyakan pada dirimu sendiri!"
"Aku tidak pernah melakukan hal buruk kepadamu! Kenapa kamu tega melibatkan anak sekecil Javier jika memang memiliki dendam pribadi kepadaku?" Jason menyipitkan mata.
Rahang Jason semakin mengeras ketika melihat Evan tertawa terpingkal-pingkal. Begitu tawanya berhenti, lelaki itu langsung memasang muka datar. Melihat kelakuan Evan, Jason yakin kalau dia adalah seorang psikopat.
"Kamu tahu apa yang terjadi kepadaku setelah keluar dari kafe dan organisasi bobrok itu?" Evan tersenyum miring sambil menatap sinis Jason.
"Hidupku dan Monica terlantung-lantung! Kami jadi gelandangan!" teriak Evan penuh emosi.
Jason mengerutkan dahi ketika mendengar semua ucapan lelaki di hadapannya itu. Sejujurnya dia bingung. Nasib buruk yang menimpa pasangan itu kenapa malah dihubungkan dengan keluarnya dia dari kafe dan organisasi.
Bahkan saat itu Jason tidak memecatnya. Monica dan Evan keluar atas kemauannya sendiri. Jason akhirnya mengembuskan napas kasar.
"Aku rasa kamu benar-benar sudah tidak waras! Keterpurukanmu tidak ada hubungannya denganku! Kamu harus ingat bahwa ada yang namanya hukum tabur tuai di dunia ini, Evan!" Jason menggebrak meja seraya menatap nyalang lelaki yang ada di hadapannya itu.
Dada Jason kembang kempis dengan napas yang tampak semakin memburu. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki yang ada di hadapannya itu. Jika saja sekarang dia sedang tidak ada di kantor polisi dan dibatasi oleh kaca, maka bisa dipastikan Evan akan menjadi bulan-bulanannya.
"Waktu sudah habis!" seru seorang petugas, kemudian menarik lengan Evan untuk kembali ke sel tahanan.
Tak lama berselang, Monica berjalan gontai lalu duduk di kursi yang tadi sang suami duduki. Kali ini Vio yang mendatanginya. Dia menatap tajam perempuan itu.
Entah apa yang ada dipikiran Monica sampai dia tega menggunakan Javier untuk balas dendam. Padahal Monica sendiri juga memiliki seorang putri yang baru berusia enam bulan. Seharusnya dia memikirkan berulang kali jika ingin melakukan aksi penculikan itu.
"Monica, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu sekarang!" seru Vio seraya menyipitkan mata.
"Maaf," ucap Monica lirih.
"Maaf? Tunggu dulu, begini ...." Vio mencondongkan tubuhnya ke depan, kemudian menatap intens perempuan yang ada di depannya itu.
"Mari kita berpikir logis bersama." Vio menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Sebelumnya aku ingin bertanya, sebenci itukah kamu kepadaku sampai mengusik hidupku lagi? Bisa katakan apa salahku padamu? Kesalahan apa yang terlihat sengaja aku lakukan kepadamu! Coba katakan!" cecar Vio dengan mata berapi-api.
Monica terdiam, dia melirik Jason dan Matheo yang kini sedang berdiri di belakang Vio. Beberapa detik kemudian, tatapannya kembali beralih kepada Vio. Mata perempuan itu langsung berkaca-kaca.
"Aku iri dengan kehidupanmu!" seru Monica dengan suara bergetar.
"Iri? Kehidupan yang mana yang kamu maksud? Aku yang diusir dari rumah karena hamil secara mendadak? Atau aku yang harus menerima ujian bertubi-tubi selama kehamilan? Mungkin kamu iri ketika mengetahui bahwa ibu yang selama ini aku anggap baik ternyata adalah dalang dari semua nasib buruk yang menimpaku?" Vio tersenyum getir, ketika kembali teringat nasib buruk yang mengiringi hidupnya.
"Dari awal aku menyukai Jason."
Kalimat singkat yang diucapkan oleh Monica, sontak membuat Vio terbelalak. Vio langsung menoleh ke arah sang suami yang kini membuang pandangan sambil mengusap leher bagian belakang. Tak lama kemudian, Vio pun kembali menatap Monica.
"Apa kamu pernah mengatakannya kepada SUAMIKU?" Vio menekankan nada pada kata suamiku.
Monica tertunduk sambil menggeleng lesu. Bahu perempuan itu merosot karena merasa sangat bersalah atas apa yang telah dia perbuat kepada Vio. Akhirnya Vio menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.
"Kalau begitu, selamat menjalani hukuman. Aku akan tetap meminta pihak berwajib untuk memproses semuanya."
"Vio, tolong cabut laporan kepadaku! Aku dipaksa oleh Evan untuk melakukan semua ini!" Kali ini Monica memohon sambil menangis.
"Siapa itu Miracle? Bayimu?"
Monica mengangguk lesu seraya mengusap air mata yang tidak mau berhenti menetes. Vio kembali membuang napas kasar. Dia menatap tajam Monica sembari melipat lengan di depan dada.
"Kita lihat keputusan hakim! Jika memang kamu dibebaskan aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Sementara kamu ditahan, Miracle akan aku rawat! Tenang saja, dia akan mendapat kasih sayang yang sama seperti dari kedua orang tuanya."
Vio pun meninggalkan Monica yang kini tergugu. Jason dan Matheo pun mengekor di belakang perempuan itu. Setelah dari kantor polisi, mereka pun menjemput Miracle yang dititipkan kepada bibi Monica.
Sejak hari itu Vio merawat Miracle penuh cinta. Hingga suatu hari ketika Monica terbebas dari penjara, Vio terpaksa menyerahkannya kembali kepada sang ibu kandung.
"Mommy, jadi hari ini aku akan bertemu dengan ibu kandungku?" tanya Miracle dengan mata berbinar.
"Iya, dia ibu yang baik. Dia pasti akan mencintai dan merawatmu dengan baik juga." Vio tersenyum lebar sambil membelai rambut sang putri yang kini berusia empat tahun itu.
Setelah Miracle dapat diajak berkomunikasi dengan baik, Vio sudah memberitahu bahwa dia bukanlah ibu kandungnya. Dia mengatakan bahwa Monica sedang bekerja di luar negeri dan menitipkannya ketika masih bayi. Beruntungnya Monica dapat mengerti dengan baik.
__ADS_1
Keduanya pun segera melangkah keluar rumah, dengan langkah riang. Vio dan Monica sudah mengadakan janji temu di kafe yang dipakai oleh organisasi buatan Jason untuk transaksi jual beli informasi.
Ketika sampai di kafe, Monica langsung beranjak dari kursi dan menyambut Miracle dengan merentangkan kedua tangannya. Namun, Miracle malah bersembunyi di balik tubuh Vio. Dia tampak ketakutan dan mengintip sang ibu diam-diam.
"Mira, dia ibumu. Ayo, ke sana!" Vio berjongkok seraya merangkum wajah mungil Miracle.
"Ibu?" Mata Miracle melebar.
Akhirnya mereka pun melangkah mendekati Monica. Miracle mulai mau mendekati sang ibu. Gadis kecil itu menatap sang ibu penasaran. Hanya dalam hitungan detik, Miracle sudah mau bergelayut manja kepada sang ibu.
Mereka pun mengobrol dan keakraban pun mulai terjalin. Di akhir pertemuan, Vio kembali menyerahkan pengasuhan Miracle kepada Monica. Sebenarnya rasa tak rela yang menyelubungi hatinya.
Namun, Vio tidak boleh egois. Dia harus menyerahkan Miracle kepada ibu kandungnya. Lagi pula Vio masih bertemu dengan Miracle kapan pun dia mau.
"Vio, terima kasih sudah mau merawat Miracle dengan baik. Padahal aku sudah sebegitu jahatnya kepadamu." Bahu Monica merosot seraya menatap sendu Vio.
"Sudahlah, aku juga senang melakukannya. Dari dulu aku memang mendambakan anak lagi. Tapi, Tuhan belum mengizinkan. Aku sudah mendaftarkan Miracle asuransi kesehatan serta pendidikan. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan biaya pendidikannya."
"Aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu, Vio." Dua orang perempuan yang kini telah menjadi ibu itu pun berpelukan.
"Jalani semua dengan baik mulai sekarang. Fokuslah mendidik Mira dengan baik. Aku akan menjamin kehidupan kalian sampai Mira bisa mandiri."
Begitu baiknya hati Vio hingga membuat Monica menangis tergugu. Dia berulang kali menyakiti Vio, tetapi perempuan itu masih saja menabur kebaikan untuk kegidupannya. Pantas saja hidup Vio tampak bahagia.
Hati Vio begitu baik, tidak seperti Monica yang dipenuhi rasa iri. Detik itu juga dia bertekat akan menjalani hidup dengan baik. Dia akan menjadi orang pertama yang datang jika Vio mengalami kesulitan.
"Mommy, Mira tetap boleh berkunjung ke rumah, 'kan?"
"Tentu saja! Jika Ibu tidak bisa mengantarmu ke rumah Mommy, Mommy yang akan datang mengunjungimu bersama Kakak Javy."
"Janji?" Mira menyodorkan kelingking, dan Vio pun menautkan kelingkingnya.
Mereka pun berpisah dengan hati yang ikhlas. Saling memaafkan dan memulai lembaran baru. Ditemani senja mereka bertiga pun berpisah di depan kafe itu.
...-TAMAT-...
__ADS_1