
Samuel menatap pintu apartemen Jason seraya memicingkan mata. Dia paham betul kebiasaan temannya yang malas mengganti nomor sandi. Bahkan pernah suatu ketika Samuel menguras isi tabungan temannya itu karena semua nomor sandi dibuat sama oleh Jason.
Samuel mulai menekan nomor sandi pintu apartemen Jason. Sebuah senyum seringai terukir di bibir lelaki berambut panjang itu, karena dugaannya benar. Jason tidak mengganti sandi apartemennya.
"Dasar pemalas yang ceroboh!" umpat Samuel.
Lelaki itu langsung melangkah masuk. Perlahan dia mengendap-endap hendak memasuki kamar Jason untuk mencuri barang berharganya. Akan tetapi, langkah lelaki berandal itu berhenti di depan bekas kamarnya.
Setelah pintu terbuka, kini terpampang tubuh mulus Vio yang hanya terbalut kimono handuk. Hasrat lelaki tampan itu seketika mencuat. Dia mulai melangkah mendekati Vio.
Mata Samuel jelalatan menatap setiap inci tubuh Vio. Bagian bawah kimono sedikit tersingkap hingga paha putih Vio terekspos. Senyum seringai kini menghiasi bibir lelaki mesum itu.
"Jason, ternyata kamu masih doyan sama perempuan!"
Samuel perlahan melepas ikatan kimono, dan kini terpampang jelas tubuh polos Vio dengan perut yang mulai membuncit. Samuel terkekeh melihat kondisi Vio saat ini.
"Wah, kamu handal atau gimana, Jason. Sepertinya kamu mengambil paket kilat, ya? Udah hamil saja perempuan ini!" Samuel kembali terkekeh.
"Aku penasaran, bagaimana rasanya berhubungan dengan perempuan yang sedang hamil!"
Samuel langsung menaiki tubuh Vio dan memberikan sentuhan di setiap jengkal tubuh perempuan itu. Vio yang merasa ada seseorang yang menggerayanginya tentu saja langsung terbangun. Dia terbelalak ketika mendapati Samuel sudah berada di atasnya.
"Pergi, Brengsek!" umpat Vio seraya mendorong dada Samuel.
"Ayo kita lanjutkan lagi yang dulu sempat tertunda, Baby!" Samuel mulai menyerang Vio dengan sentuhan liar dan ciuman.
Vio terus meronta, berusaha terlepas dari kungkungan Samuel. Entah mendapat kekuatan dari mana, Vio berhasil mendorong tubuh kekar Samuel. Lelaki itu terjengkang dan terjatuh ke atas lantai.
Vio pun menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Dia berlari seraya membetulkan ikatan kimononya. Akan tetapi, tiba-tiba Samuel menarik pergelangan kaki Vio.
__ADS_1
Perempuan itu pun tersungkur di atas lantai dengan lutut dan telapak tangan sebagai tumpuan. Samuel menarik kaki Vio dan kembali naik ke atas tubuhnya. Lelaki jahat itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Kita tuntaskan semua malam ini, Sayang! Aku sangat penasaran bagaimana rasanya berhubungan badan sldengan wanita hamil!"
"Menjauhlah, B*jingan! Jangan sentuh aku!" Mata Vio mulai memanas dan berkabut.
Air mata perlahan turun membasahi pipi perempuan itu. Dadanya terasa begitu sesak karena harus kembali dihadapkan dengan Samuel. Traumanya semakin dalam terhadap lelaki itu.
Di sisi lain, Jason terus melajukan mobilnya. Hatinya terasa risau. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres terjadi di apartemennya.
Terlebih lagi ketika Vio tak mengangkat panggilannya. Jason terus melajukan mobil secepat mungkin. Jarak tempuh yang harusnya 30 menit, dapat dilalui Jason dalam 15 menit saja sore itu.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku nggak enak begini?"
Jason mempercepat langkah ketika sudah keluar dari mobil. Sialnya lift sedang dalam perbaikan sore itu. Jadi, mau tak mau Jason terpaksa naik ke unit apartemennya melalui tangga darurat.
Peluh kini bercucuran membasahi dahi dan hampir sekujur tubuh lelaki tampan tersebut. Setelah susah payah menaiki anak tangga, akhirnya Jason sampai di depan pintu apartemennya. Dia mulai menekan deretan angka untuk membuka kunci apartemen.
"Sam, apa yang kamu lakukan?" tanya Jason dengan nada penuh amarah.
Vio tampak frustrasi di bawah kungkungan Samuel. Air mata perempuan itu meleleh dengan bibir yang dibungkam oleh Samuel dengan telapak tangan. Melihat Samuel yang menghiraukannya membuat darah Jason seakan mendidih.
Jason langsung menarik lengan Samuel dan menghujani lelaki itu dengan tinju. Kedua pipi lelaki itu habis dipukuli oleh Jason. Belum lagi perutnya.
Bahkan sempat terbersit pikiran Jason untuk menginjak ular piton mini milik Samuel. Dia ingin langsung menghancurkan masa depan temannya itu karena telah berani menyentuh Vio secara paksa untuk kedua kalinya.
"Pukul aku terus, Jason! Keluarkan semua kekuatanmu!" tantang Samuel.
Jason pun tak segan-segan terus menghujani Samuel dengan bogem mentah. Lelaki itu meluapkan semua amarahnya detik itu juga. Bahkan dia berniat menghabisi nyawa Samuel.
__ADS_1
"To-tolong aku, Jason! Pe-perutku sakit!" Vio merintih dalam posisi meringkuk sembari memegang perutnya.
Jika saja Vio tidak merintih kesakitan, sudah bisa dipastikan niat Jason untuk menghilangkan nyawa Samuel tercapai. Jason mengikat Samuel dengan isolasi besar agar temannya itu tidak kabur atau membalas pukulannya.
"Tahan sedikit lagi. Aku akan memanggil bagian keamanan apartemen."
Jason bergegas menghubungi bagian keamanan apartemen dan tak lama kemudian mereka datang. Samuel akhirnya dibawa ke kantor polisi, sedangkan Jason langsung menggendong tubuh Vio dan membawanya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Vio merasa nyeri luar biasa pada perutnya. Keringat dingin bercucuran membasahi dahi perempuan itu. Vio pun terus merintih dan mendesis karena menahan sakit.
"Kita sampai! Bertahanlah sebentar lagi!" Jason terus berusaha fokus dengan jalanan.
Jemari lelaki itu tak lepas dari genggaman tangan Vio yang terus memegangnya erat. Sesekali Vio meremas jari-jari Jason untuk menahan rasa sakit yang dia derita.
Setelah sampai rumah sakit, tim medis langsung memberi pertolongan pertama kepada Vio. Jason menunggu di depan IGD dengan perasaan cemas luar biasa. Bayangan bagaimana pucatnya wajah Vio terus membayangi pikiran lelaki itu.
"Kamu kuat, Vio! Kamu pasti bisa bertahan!" seru Jason di dalam doanya.
Setelah menunggu selama hampir satu jam, Theo keluar dari ruang IGD. Dia menatap tajam ke arah Jason. Rahang lelaki tampan itu mengeras kuat.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Theo dengan suara sedingin es.
"Aku juga tidak tahu, Pak. Tiba-tiba saja ketika aku pulang dari kerja, Vio sudah berada di atas lantai hendak dipaksa oleh temanku."
"Kamu benar-benar ceroboh! Bagaimana jika hal buruk terjadi kepada Vio? Bayiku dan Irene ada di dalam rahimnya!" teriak Theo seraya mencengkeram kerah kemeja Jason.
Jason menundukkan pandangan. Dia tidak berani menatap manik mata lelaki itu. Kali ini kesalahannya benar-benar fatal.
"Jika sampai hal seperti ini kembali terulang, akan kupastikan kamu akan kehilangan Vio! Aku kehilangan bayiku, dan kamu ...." Sebuah senyum miring terukir di bibir Theo.
__ADS_1
"Akan kehilangan Vio untuk selama-lamanya! Bukankah kamu mulai menyukai perempuan itu?"