Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 37. Ayah Javier


__ADS_3

Vio hari itu sengaja menunggu di depan sekolahan sang putra. Dia benar-benar penasaran dengan siapa orang yang dipanggil Sweet Uncle oleh Javier. Ketika berangkat tidak ada hal janggal yang terjadi.


Vio hanya melihat para wali murid atau sopir mereka mengantar anak-anak kemudian pergi. Beberapa dari murid sekolah Javier memang diantar jemput secara pribadi oleh orang tua atau sopir pribadi mereka. Akan tetapi, selama ini Javier sengaja diantar jemput oleh bus sekolah.


Jason dan Vio sepakat melakukan hal itu, agar Javier mau membaur dengan teman-temannya tanpa memandang status sosial. Terlebih lagi sekolahan itu merupakan sekolah terbaik di Missouri, jadi Vio yakin akan keamanannya. Jason akan di antar jemput sesekali oleh sang ayah jika tidak sibuk dengan pekerjaannya.


"Siapa itu?" Vio mengerutkan dahi ketika melihat seorang lelaki berpakaian rapi mondar-mandir di depan gerbang sekolah.


Sesekali lelaki itu tampak memasuki pos petugas keamanan. Keduanya terlihat sudah akrab. Vio pun menajamkan penglihatan karena penasaran dengan lelaki itu.


Seketika Vio terbelalak ketika mengetahui siapa yang sedang ada di depan gerbang sekolah sang putra. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghampiri lelaki itu. Vio berdiri tegap seraya menatap sinis laki-laki yang kini sedang berbincang dengan petugas keamanan sekolah.


"Dokter Theo, untuk apa Anda ke sini?" tanya Vio sembari melemparkan tatapan tajam.


"Ah, aku kebetulan lewat. Aku ...." Ucapan Matheo menggantung di udara karena disela oleh Vio.


"Jadi selama ini kamu yang memberikan coklat, permen, cookies, dan mainan itu kepada Javier?" cecar Vio.


Matheo tampak gugup. Jakunnya naik turun karena menelan ludah kasar. Tak hanya Matheo yang tampak gugup. Si petugas keamanan juga terlihat panik.


"Anda, Pak Charles! Bukankah seharusnya para murid dilarang keras berbicara dengan orang asing? Kenapa Anda mengizinkan Javier berbicara dengan orang ini?" Vio menatap tajam lelaki dengan kumis yang sudah memutih di depannya itu.


"Ah, Pak Theo hanya mengajak Javier mengobrol, Nyonya. Dia tidak berniat buruk. Lagi pula, mereka hanya mengobrol lima menit sambil menunggu bus sekolah keluar dari garasi. Aku juga mengawasinya dengan baik." Charles mencoba untuk membela diri tanpa menjatuhkan Matheo.


"Aku akan melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah!" Vio hendak masuk ke lingkungan sekolah.


Akan tetapi, Charles mencegahnya. Jika sampai Vio benar-benar mengatakan semuanya kepada kepala sekolah, sudah bisa dipastikan lelaki berusia senja itu akan mengalami pensiun dini.

__ADS_1


"Be-begini saja Nyonya Black, lain kali saya tidak akan mengizinkan Tuan Matheo menjenguk Javier. Maaf atas keteledoran saya. Saya pikir dia memang kerabat dekat Javier. Wajah mereka berdua sangat mirip! Sekali lagi saya mohon maaf!"


"Memangnya wajah kami terlihat semirip itu, Kakek Charles?"


Suara menggemaskan Javier sontak membuat tiga orang dewasa yang sedang bersitegang itu menoleh. Javier sedang menjinjing tas ranselnya seraya mengamati tiga orang yang kini ada di hadapannya. Vio pun menepuk dahi.


"Uncle, maaf. Javy tidak bisa menyembunyikan rahasia kita. Mommy selalu mengatakan untuk berkata jujur meski kenyataannya akan terasa menyakitkan." Javier tertunduk lesu menatap ujung sepatunya.


Matheo dan Vio saling beradu pandang. Rasa bersalah semakin menyergap hati Matheo. Dia merasa sangat bersalah dan tidak memiliki hak sedikit pun atas Javier.


Namun, sejujurnya Matheo ingin dipanggil oleh putra biologinya itu dengan panggilan ayah sekali saja. Akhirnya detik itu juga Matheo mengambil langkah nekat. Dia bersimpuh di depan Javier kemudian merangkum wajah sang putra.


"Javier, mungkin mulai besok Uncle tidak akan menemuimu lagi." Ada sorot kesedihan yang terpancar jelas di mata Matheo.


"Bolehkah Uncle meminta satu hal kepadamu?" tanya Matheo seraya tersenyum lembut.


"Bisa panggil Uncle dengan sebutan Daddy? Sekali ini saja."


Mendengar permintaan Matheo kepada sang putra sontak membuat Vio menarik lengan Javier. Dia langsung menggendong tubuh Javier protektif seraya memicingkan mata.


"Kamu jangan aneh-aneh, Matheo! Aku ingatkan sekali lagi! Jangan pernah temui Javier lagi!"


"Vio, bagaimana pun aku adalah ayahnya! Aku berhak menemuinya." Kali ini Matheo meninggikan suaranya.


"Ayah Javy? Uncle ayah Javy?"


Sontak Vio terdiam, tidak bisa lagi berkata-kata. Dia langsung membawa tubuh Javier masuk ke mobil dan mengabaikan semua pertanyaan sang putra. Sesampainya di rumah, Vio langsung mengajak sang putra membersihkan badan seperti biasa.

__ADS_1


"Mommy, Sweet Uncle is my daddy?"


Vio mencoba mengabaikan pertanyaan sang putra. Dia terus membuka kancing kemeja Javier tanpa mau membalas pertanyaan sang anak sepatah kata pun. Merasa diabaikan sang ibu, Javier pun melayangkan protes.


Javier menepis lengan ibunya. Bocah laki-laki itu kini melipat lengan di depan dada sambil menatap tajam Vio. Bibir Javier pun mengerucut karena kesal dengan sikap sang ibu.


"Javy, tolong hargai perasaan Mommy."


"Mommy selalu bilang kepada Javier untuk mengatakan semuanya secara jujur meski akan terasa sakit dan pedih. Tapi, kenapa sekarang Mommy malah mengacuhkan Javy ketika bertanya mengenai Sweet Uncle?"


Vio seakan tertampar ketika mendengar ucapan Javier. Vio menelan ludah kasar. Apa yang pernah dikatakan Vio kepada Javier kini bagaikan bumerang bagi dirinya sendiri.


Ternyata menjadi orang tua adalah hal yang sangat sulit. Ketika kita bisa mengajarkan sesuatu kepada anak, artinya kita juga sudah siap menerapkan hal itu kepada diri sendiri. Bukan hanya menjejalkan nasihat kepada anak, tetapi orang tua juga harus memberi contoh secara nyata dalam perbuatan sehari-hari.


"Okay, Mommy akan mengatakan semuanya sekarang. Javier, Sweet Uncle yang kamu kenal itu bernama Theo. Dulu dia adalah seorang dokter. Dia memanglah ayahmu dan ibu hanya diminta untuk mengandung serta melahirkan dirimu. Karena suatu alasan, Mommy tidak mau kamu dirawat oleh uncle dan membawamu pergi jauh darinya."


Javier tampak mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir sang ibu. Dia menatap intens manik mata Vio. Bocah berusia lima tahun lebih itu berusaha mencerna penjelasan dari sang ibu.


"Rumit, Mommy. Kepala Javier seperti berputar ketika mendengarkan penjelasan dari Mommy." Javier memutar kepalanya sehingga membuat pandangannya kabur.


Vio terkekeh melihat tingkah lucu Javier. dia mencubit gemas pipi bulat sang putra. Sebuah pelukan hangat pun mendarat di tubuh Javier yang mulai terlihat gemuk.


"Setelah kamu dewasa, kamu akan mengerti. Yang jelas uncle itu memang ayahmu." Vio tersenyum lembut kemudian membelai rambut lurus sang putra.


"Jadi, Javy punya dua daddy?"


Vio menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia memaksakan senyum kemudian mengangguk. Vio tidak tahu apa keputusannya kali ini sudah tepat atau belum.

__ADS_1


Paling tidak beban hatinya sedikit berkurang ketika mengungkapkan kenyataan itu kepada Javier. Lebih baik dia mengatakan semua sekarang juga agar Javier tidak meledak-ledak di kemudian hari, karena mendengarnya dari orang lain setelah dewasa.


__ADS_2