
Jason melongo ketika Vio melemparkan kotak cincin itu kepadanya. Perlahan lelaki itu meraih kotak yang kini jatuh ke atas lantai. Setelah itu dia bertanya kepada Vio kenapa melemparkan kotak tersebut kepadanya.
"Kenapa kamu lempar, Vio? Apa cincinnya tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Jason seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu sudah gila, ya? Mana ada cincin di dalamnya?" Vio melipat lengan seraya melemparkan tatapan tajam ke arah lelaki tampan tersebut.
"Hah!" Sontak Jason langsung membuka kotak kecil tersebut.
Pupil Jason melebar manakala melihat kotak tersebut kosong. Hanya berisi busa yang biasa dipakai untuk menyelipkan cincin. Bibir lelaki tampan itu tentu saja menganga lebar.
"Kok bisa nggak ada?" Jason mengerutkan dahi seraya menatap Vio penuh tanya.
"Lah, terus aku harus tanya sama siapa? Tuhan?" Vio yang kesal pun kehilangan selera makannya dan beranjak dari kursi.
"Hei, hei, tunggu dulu Vio!" Jason pun mengejar Vio yang sedang merajuk.
Setelah berhasil menahan Vio masuk lagi ke kamarnya, Jason memegang lengan atas perempuan itu. Dia menatap dalam kedua bola mata Vio. Lelaki itu berusaha mengungkapkan perasaan melalui sorot mata.
"Sebenarnya pagi ini aku ingin memintamu untuk menjadi istriku. Aku ingin kita bersatu secara hukum dan menjadi keluarga kecil. Membesarkan bayi dalam kandunganmu, kemudian menua bersama. Tapi ...." Ucapan Jason menggantung di udara.
Jason menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia meraih kedua tangan Vio, mengangkatnya menuju bibir, kemudian mendaratkan kecupan lembut pada jari-jari lentik itu.
"Sepertinya ada kesalahan teknis." Jason tersenyum kecut teringat bagaimana teledornya dia karena bisa kehilangan cincin yang sudah dipersiapkan beberapa hari yang lalu.
"Maksudmu apa, Jason?" Vio berusaha meyakinkan kembali pendengarannya.
Perempuan itu menangkap maksud dari Jason. Akan tetapi, dia takut jika lelaki itu hanya menggodanya. Dia pun menatap tajam Jason.
__ADS_1
"Vio, menikahlah denganku. Aku sangat menyayangimu. Aku ingin kita selalu bersama dalam suka dan duka. Berbagi bahagia dan keluh kesah. Aku ingin menjadikanmu tempat pulang untuk melepas lelah setelah seharian bekerja. Menjadi tempat mencurahkan kasih sayang. Apa kamu mau menikah denganku, Vio?"
Vio terdiam sejenak. Dia meneliti setiap gurat wajah yang ditunjukkan Jason. Perempuan itu berharap apa yang diucapkan Jason bukan hanya sekedar bualan atau lelucon.
Setelah menatap lelaki di hadapannya cukup lama, Vio pun mengangguk. Dia mulai yakin kalau Jason sungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan. Mendapat jawaban dari sang tambatan hati tentu saja membuat Jason langsung menarik lengan Vio dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kalau begitu ayo kita sarapan dulu! Setelah itu aku akan meminta izin kepada mama untuk membawamu pergi ke Italia."
"Italia? Kenapa harus ke sana, Jason?" Vio mendorong pelan dada Jason, lalu mengerutkan dahi karena mendengar ucapan lelaki itu.
"Aku mendapatkan pekerjaan yang bagus di sana. Jadi, aku memutuskan untuk menjalankan bisnis kecil di sini dari sana saja."
"Tapi, ayahku ...."
"Kita bisa melakukan panggilan video setiap hari dengan mama. Komunikasi sekarang canggih, jangan bingung."
"Aku rasa tidak mungkin. Bahkan beliau tidak mencegahku ketika hendak membawamu pulang lagi ke apartemen."
Semua kekhawatiran Vio selalu dapat ditepis dengan baik oleh Jason. Akhirnya perempuan itu pun yakin. Keduanya langsung melajukan mobil menuju kediaman orang tua Vio.
Sesampainya di rumah keluarga Smith, Vio dan Jason langsung masuk karena memang Adam sudah diberikan izin membukakan pintu untuk Vio jika dia berkunjung. Setelah menunggu selama beberapa menit, Anna pun turun dari lantai atas menemui keduanya.
Sebuah pelukan dari Anna mendarat pada tubuh Vio yang semakin berisi. Keduanya pun duduk bersebelahan. Mereka berbincang ringan sampai akhirnya Jason mengutarakan maksud utamanya mengunjungi Anna.
"Bibi, begini ... tujuan saya ke sini selain untuk mengunjungi Anda, saya bermaksud untuk meminta restu karena saya dan Vio akan menikah." Jason menatap serius ke arah calon ibu mertuanya itu.
"Vio sudah setuju, dan bersedia hidup bersama saya. Setelah pendaftaran pernikahan, saya akan membawa Vio pindah ke Italia. Apa Anda mengizinkannya?"
__ADS_1
Tidak ada ekspresi apa pun yang tampak pada wajah Anna. Perempuan itu justru meraih cangkir berisi teh kemudian menyesapnya perlahan. Anna kembali meletakkan cangkir ke atas meja setelah meneguk dua kali cairan berwarna coklat bening tersebut.
"Memangnya, apa yang bisa kamu berikan untuk Vio? Apa kamu sanggup memberi dia apa yang selama ini keluarga Smith berikan kepadanya?" Anna mengangkat satu alisnya seraya tersenyum miring.
Jason tampak menelan ludah kasar. Dia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan melalui mulut. Sebuah senyum lembut terukir di bibir lelaki tampan itu.
"Saya mungkin tidak bisa memberikan sama persis seperti apa yang diberikan keluarga ini kepada Vio. Tapi, saya berani menjamin bahwa hidup Vio akan lebih bahagia bila bersama denganku. Saya akan memberikan semua yang Vio butuhkan."
"Hanya itu?" Anna terkekeh, membuang wajah sekilas, kemudian kembali menatap Jason.
"Kebahagiaan Vio adalah hal paling penting bagi saya. Jadi, saya dapat memastikan dia akan selalu mendapatkan senyum terbaik dalam hidup jika bersama denganku, Bi."
Anna tampak mengangguk beberapa kali. Setelah itu sebuah kalimat singkat yang menyatakan bahwa dia merestui hubungan dan niat baik keduanya pun keluar dari bibirnya. Vio pun tersenyum lebar.
Perempuan itu memeluk tubuh sang ibu tiri. Puluhan kata terima kasih pun diungkapkan oleh Vio untuk sang ibu. Anna pun melepaskan Vio dan memberinya beberapa pesan.
"Kamu harus jaga pola makan. Jangan terlalu manja kepada Jason. Belajarlah sedikit saja tentang pekerjaan rumah. Jangan sampai kamu membuat rumah Jason kebakaran hanya karena memasak pasta atau semacamnya."
"Kabar buruknya, Vio sudah melakukan hal itu, Bibi. Dia hampir saja membakar apartemenku ketika hendak memasak spageti!" sahut Jason diikuti tatapan tajam Vio.
Mendengar pengakuan calon menantunya, tentu saja membuat Anna tertawa terbahak-bahak. Vio yang merasa dijadikan bahan lelucon oleh calon suami dan sang ibu pun merajuk. Dia mengerucutkan bibir seraya membuang muka.
Perbincangan mereka pun berakhir. Vio bergegas menuju kamar sang ayah untuk berpamitan. Setelah selesai, Vio dan Jason pergi ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan.
Begitu mobil sepasang calon suami istri itu pergi, mimik wajah Anna berubah. Tidak ada lagi senyum ramah yang menghiasi bibirnya. Tatapan tajam pun kini dia layangkan ke arah mobil Jason yang mulai menjauh.
"Kenapa membiarkan mereka pergi begitu saja, Mom?"
__ADS_1
"Bukankah jika Violetta pergi dari sini akan memudahkan kita untuk menguasai seluruh aset Tuan Smith yang bodoh ini?" Anna mendekati Jhonson kemudian menyentuh tirus lelaki itu yang mulai tirus.