
Pihak kepolisian langsung memborgol pergelangan tangan Anna. Tak ada perlawanan sedikit pun yang dilakukan oleh Anna. Perempuan itu mengikuti langkah dua polisi yang menggelandangnya.
Mereka pun menuntun Anna keluar dari ruang tengah. Vio mengekor di belakang mereka. Ketika Anna sudah sampai di ambang pintu utama, Vio menghentikan polisi yang masih menggandeng lengan sang ibu.
"Tunggu!" seru Vio, lalu setengah berlari menghampiri sang ibu.
Vio menatap datar Anna, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga sang ibu. Vio ingin mengungkapkan sebuah pesan sebelum sang ibu di bawa ke kantor polisi.
"Tenanglah, Ma. Aku ini anak baik. Jadi, selama Mama nanti mendekam di penjara, akan kupastikan rumah, mobil, dan uang itu aman, tak berkurang atau rusak sedikit pun." Sebuah senyum miring kini terukir di bibir perempuan cantik itu.
Anna menoleh sedikit, sehingga tatapannya dan Vio kini bertemu. Perempuan itu tersenyum miring dan membalas semua ucapan sang anak. Dia tidak ingin kalah begitu saja dari Vio.
"Anakku, akan kupastikan kamu menyesali semuanya. Aku tidak akan lama di dalam penjara karena bukti yang hanya sedikit! Setelah aku keluar dari penjara, bersiaplah untuk menerima kehancuranmu yang sesungguhnya!"
"Sudah cukup! Ayo segera ikut kami ke kantor polisi!" ujar salah seorang polisi yang menggandeng Anna.
"Untuk Anda Nyonya Violetta. Kami juga menunggu kedatangan Anda sebagai saksi. Kami akan mengirimkan surat panggilan secepatnya."
"Baik, Pak." Vio tersenyum lembut.
Mereka semua pun mulai memasuki mobil. Anna menatap Vio penuh kebencian melalui kaca jendela mobil. Melihat hal itu, justru membuat Vio merasa bangga. Dia sukses membalaskan sebagian dendam kepada sang ibu tiri.
Vio pun mengangkat tangan seraya melambaikan tangan untuk mengantar kepergian Anna. Bahkan Vio mengucapkan selamat tinggal dengan ekspresi suka cita. Setelah mobil polisi menghilang dari pandangan, Vio masuk kembali ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Jason masih setia memangku Javier yang masih terlelap. Beberapa kerabat Vio mulai berpamitan satu per satu. Rumah besar itu kini sepi, hanya menyisakan beberapa pelayan dan keluarga kecil Vio.
"Malam ini kita menginap di sini saja. Untuk selanjutnya, kamu bisa mengurus perusahaan. Besok aku akan mengadakan rapat direksi." Vio mengambil alih tubuh mungil Javier dan naik ke kamarnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Vio bertemu dengan jajaran direksi yang ada di perusahaan mendiang sang ayah. Dia harus memulai semuanya dari nol dengan bantuan Jason. Ternyata perusahaan sang ayah dalam keadaan kacau.
Laporan keuangan tidak sinkron dengan omzet serta anggaran lain. Ternyata tidak hanya sang ibu yang menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi. Beberapa karyawan menyalahgunakan dana yang disiapkan untuk keperluan penelitian.
Mereka semua bersekongkol untuk membuat laporan palsu. Perusahaan bangkrut bukan hanya karena para investor yang menarik saham mereka. Namun, juga akibat dari sifat buruk karyawan yang bekerja di dalamnya.
"Kepalaku hampir pecah karena memikirkan semuanya. Seharusnya aku dulu kuliah jurusan bisnis, bukan desain interior!" Vio menenggelamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangan.
"Sayang, minumlah! Ibu menyusui tidak boleh stres." Jason menyodorkan segelas coklat hangat untuk sang istri.
Vio mengangkat kembali wajahnya, kemudian meraih gelas yang disodorkan oleh sang suami. Vio meniup cairan manis itu, lalu menyesapnya perlahan. Kafein yang terkandung dalam coklat, mampu menenangkan Vio detik itu juga.
Vio meletakkan kembali cangkir ke atas meja, lantas menyandarkan punggung pada kepala kursi. Jason tersenyum tipis. Dia memutari meja kerja Vio dan berhenti tepat di belakang sang istri, lalu memijat lembut bahu perempuan itu.
"Semua akan baik-baik saja. Kita mulai semuanya dari awal. Aku dengar, pabrik masih tetap berproduksi dengan bahan baku yang ada. Ayo kita berdayakan para ilmuan untuk menciptakan obat baru yang dibutuhkan sekarang ini." Jason mengucapkan setiap kalimat penuh keyakinan.
"Ah, untuk sementara waktu ... kita produksi saja suplemen untuk menjaga kecantikan kulit serta beberapa suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh. Bagaimana?"
"Baiklah, ini akan menjadi pertimbangan yang baik. Tapi, untuk suplemen kecantikan, kita membutuhkan lebih banyak waktu untuk menelitinya."
"Tidak masalah, kita jual semua yang ada dulu. Sejalan dengan itu kita harus meningkatkan kinerja tim marketing sambil menjalankan penelitian untuk suplemen kecantikan."
Vio bisa bernapas sedikit lebih lega sekarang. Jason memang paling bisa diandalkan. Idenya begitu cemerlang dalam urusan bisnis.
Entah dari mana Jason mendapatkan keahlian itu. Padahal dia dulu mengenyam pendidikan kuliah berbasis ilmu informasi dan teknologi. Kemampuan Jason dalam urusan bisnis, agaknya karena berasal dari gen orang tuanya.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Sayang." Vio tersenyum lebar, memutar kursi kerjanya, kemudian memeluk tubuh sang suami.
__ADS_1
Setelah itu keduanya membantu tim pemasaran untuk memasarkan stok yang masih mengendap di gudang pabrik. Mereka memasang iklan di beberapa e-commerce. Selain itu menawarkan produk tersebut ke apotek kecil dan rumah sakit dengan harga balik modal.
Sementara di dalam kantor polisi, Anna sedang diinterogasi. Dia lebih banyak diam hingga membuat pihak kepolisian kesal. Suasana ruang interogasi yang temaram terasa begitu mencekam, tetapi tidak bagi Anna.
Perempuan itu terlihat santai. Bahkan, tidak ada raut penyesalan yang tampak di wajahnya. Sesekali dia tertawa kecil ketika mendapatkan pertanyaan seputar motifnya membunuh Jhonson dan istrinya.
"Kami akan memanggil psikolog. Aku rasa Anda sudah tidak waras, Nyonya. Kembalikan dia ke sel!" seru polisi bernama Vector.
"Mohon ijin, Pak! Ada yang ingin menemui Nyonya Anna."
"Baiklah, pertemukan mereka!"
Anna pun di bawa ke sebuah ruangan kecil dengan pembatas kaca di bagian depannya. Di luar ruangan ada seorang laki-laki yang begitu dia kenal sedang duduk memunggunginya. Anna menarik kursi kemudian mendaratkan bokong ke atasnya.
"Untuk apa kamu ke sini? Ibu bilang jangan pernah terlihat sedikit pun!" seru Anna.
Lelaki tersebut memutar kursi kemudian menatap sendu sang ibu. Mata Mathew tampak merah dengan kelopak mata yang terlihat bengkak. Hidung lelaki tersebut merah karena sisa tangis.
"Aku akan mengeluarkan Ibu dari sini. Dari awal aku sudah bilang untuk tidak melakukan apa pun, Bu. Lihat sekarang? Semuanya jadi sangat kacau."
"Apa kamu bilang? Jadi, kamu menyalahkan ibu yang ingin merebut semua harta ayahmu?" Anna melebarkan kelopak mata sehingga bola matanya membola.
"Itu semua karena kebangkrutan! Bukan salah Tuan Smith! Ayolah, sadar Bu!"
Anna langsung berdiri dan menggebrak meja di depannya. Rahang perempuan itu tampak mengeras. Napas penuh amarah kini menyapu kaca yang membatasi Anna dan Mathew.
"Sia-sia sudah pengorbananku selama ini! Hidup dengan orang yang tidak aku cintai, demi memulihkan kondisi ekonomi keluarga kita! Dan kini, anakku yang berbakti ini menyalahkanku!"
__ADS_1