Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 16. Hampir Saja


__ADS_3

"Vio ...." Suara Angel melemah mendengar ucapan Vio.


"Jangan pernah bicara lagi denganku! Mulai sekarang, kita kerja masing-masing. Aku tidak pernah berbuat jahat kepadamu. Tapi di hari pertama kita bertemu, kamu sudah meremas kepercayaanku." Vio pun berlalu meninggalkan Angel yang masih berdiri tegap menatap punggungnya yang mulai menjauh.


"Jadi, kamu ingin cara kasar? Baiklah!" Angel mengepalkan jemarinya seraya menatap pintu ruang istirahat yang mulai tertutup.


Vio pun segera memesan taksi untuk kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Vio mandi dan langsung menuju dapur untuk mengisi perut. Perempuan itu membuka lemari pendingin makanan, dan mencari makanan siap santap yang biasa dibuat oleh Jason.


"Nggak ada?" Bahu Vio merosot karena tidak ada makanan jadi yang tinggal dihangatkan sebelum dimakan.


"Kalau begitu aku buat spageti saja!"


Vio mulai mengeluarkan saus, bawang bombai, dan beberapa bahan lain untuk dimasak bersama spageti. Dia merebus pasta spageti, kemudian mulai menyiapkan toping. Sebenarnya Vio bingung harus bagaimana.


Ini adalah pertama kalinya Vio memegang panci dan peralatan masak lainnya. Perempuan itu menatap sayuran, ikan tuna dalam kaleng, dan beberapa bahan lainnya seraya menggaruk kepala. Akhirnya dia memutuskan untuk melihat cara memasak spageti melalui televisi yang terhubung dengan kanal Youtube.


[Rebus pasta spageti ke dalam air mendidih dengan menambahkan minyak zaitun serta garam]


"Oh, oke! Tinggal tunggu airnya mendidih baru masukkan pasta."


[Sambil menunggu pasta spageti matang, kalian bisa menyiapkan saus tuna untuk topping]


"Aku siapkan bahannya, lanjut!"


Vio terus mengikuti langkah yang diberikan oleh pembawa acara kanal memasak itu. Setelah air mendidih, Vio segera memasukkan pasta spageti ke dalam panci. Namun, mulai timbul kekacauan.


Tercium aroma gosong dari wajan yang dia gunakan untuk menumis tuna. Vio mulai panik melihat asap mengepul memenuhi ruangan itu. Belum lagi air dalam panci yang mulai meluap, karena Vio terlalu banyak menuangkan air ke dalamnya.


"Aduh, bagaimana ini!" seru Vio panik.


Wajan mulai terbakar dan mengeluarkan api. Vio pun kalang kabut mencari kain untuk memadamkan api. Bodohnya, Vio tidak mematikan kompor.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kaos yang ada di jemuran, Vio langsung membasahinya dengan air. Ketika perempuan itu masih ada di dalam kamar mandi, Jason datang. Lelaki itu terbelalak melihat api yang berkobar di atas kompornya.


"Astaga! Apa ini!" Jason langsung meletakkan kantong belanjaannya ke atas meja.


Lelaki itu melepas kemeja yang membalut tubuh dan menuju wastafel untuk membasahinya. Setelan itu, Jason melemparkan kemeja yang sudah basah ke atas penggorengan.


"Vio! Astaga, Vio! Kamu di mana?" Jason mematikan kompor kemudian mencari Vio di kamarnya.


Terdengar suara gedoran pintu dari arah kamar mandi Vio. Jason langsung mendekat, dan berusaha memutar kenop pintu. Namun, pintu tersebut tidak mau terbuka.


"Vio, menjauh dari pintu!" teriak Jason.


Setelah memastikan Vio telah menjauh dari pintu, Jason langsung mendobrak benda tersebut hingga terbuka. Vio tampak ketakutan di sudut kamar mandi seraya memeluk tubuhnya sendiri. Jason langsung memeluk tubuh Vio yang mengigil ketakutan.


"Hei, tenanglah. Semua baik-baik saja. Tenanglah," ucap Jason berusaha menenangkan Vio.


"A-apinya tiba-tiba menyala di atas wajan ketika aku mau meniriskan pasta. A-aku hendak memadamkannya, tapi malah pintu sialan itu terkunci!" Vio terus berbicara di antara isak tangis.


Jason akhirnya mengajak Vio ke luar dari kamar. Dia meminta gadis itu duduk di ruang tengah, sementara Jason mengambilkan air putih untuknya. Ketika melewati kompor, Jason tersenyum kecut.


Aroma tuna gosong dan kepulan asap kini memenuhi dapurnya. Selain itu pasta yang tadi direbus Vio berubah menjadi sebesar cacing Alaska. Belum lagi bekas potongan paprika dan beberapa tuna yang berceceran di atas lantai.


"Sepertinya malam ini aku harus lembur bersih-bersih." Jason tersenyum kecut kemudian melangkah mendekati Vio.


Mata Vio terlihat masih basah dengan sisa isak tangis karena ketakutan. Jason menyodorkan air mineral kepada Vio, dan segera diraih oleh perempuan itu.


"Minumlah! Semuanya sudah aman. Sepertinya alat pendeteksi kebakaran sedang tidak berfungsi. Aku akan melaporkannya pada pihak manajemen."


"Ma-maaf, aku sudah membuat dapurmu menjadi kacau. Aku tadi kelaparan dan berniat memasak spageti. Ta-tapi ...." Tangis Vio kembali pecah.


"Hei, sudahlah. Aku juga minta maaf karena tidak memasakkan makanan yang cukup untukmu. Mulai sekarang telepon aku jika ingin makan sesuatu."

__ADS_1


"Tapi, Jason ... aku kan tidak memiliki ponsel?" Vio menunduk menatap ujung kakinya.


"Tunggu di sini sebentar." Jason beranjak dari sofa kemudian berjalan ke arah kamar.


Tak lama kemudian, Jason keluar dengan membawa sebuah benda pipih. Jason memberikan ponsel bekas yang sudah lama tidak dia pakai setelah membeli ponsel baru. Vio pun menerima benda pipih tersebut.


"Untuk sementara waktu pakailah ponsel ini dulu. Jika nanti ada uang lebih, aku akan membelikan yang lebih canggih untukmu."


"Benarkah?" Vio berbinar mendengar ucapan Jason.


Jason pun mengangguk untuk meyakinkan Vio bahwa ucapannya bukan hanya bualan belaka. Sontak Vio menghambur ke pelukan Jason. Jason terbelalak, tetapi perlahan matanya terlihat teduh.


Senyum Vio menjadi bahan bakar tersendiri bagi Jason. Dia mulai merasa sakit ketika melihat perempuan itu meneteskan air mata. Jason tidak tahu lagi bagaimana nantinya jika tugasnya selesai, dan harus berpisah dengan Vio.


Saat itu, pasti Jason akan merasa sangat kesepian dan rapuh. Tak ada lagi senyum dan tingkah manja Vio yang menemani hatinya. Membayangkan saat itu terjadi, membuat Jason merasa sangat sedih.


"Vio, maafkan aku. Aku sudah menyembunyikan banyak hal darimu. Aku membohongimu selama ini. Jika semua ini terungkap, aku harap kamu tidak membenciku."


***


Waktu bergulir begitu cepat. Usia kandungan Vio kini memasuki trimester kedua. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan.


Vio mengambil libur, dan menunggu Jason pulang kerja. Beberapa waktu lalu, Jason menambah seorang koki lagi untuk membantunya di dapur. Jadi, misalkan sewaktu-waktu Vio membutuhkannya, dia dapat datang secepat mungkin.


"Astaga, sesak semua!" gerutu Vio seraya menatap pakaian yang kini berserakan di atas ranjang.


Perutnya yang mulai membuncit membuat Vio kesulitan menemukan ukuran baju yang pas untuknya. Vio akhirnya menghubungi Jason, dan memintanya untuk membelikan pakaian yang lebih longgar. Sambil menunggu Jason datang, Vio memutuskan untuk merebahkan tubuh di atas ranjang.


Ketika Vio dalam keadaan tidur, seseorang diam-diam memasuki apartemen Jason. Seorang lelaki bertubuh tinggi perlahan memasuki kamar Vio. Dia menatap buas seraya menyeringai melihat Vio yang hanya membalut tubuhnya dengan kimono handuk.


"Mari kita lanjutkan permainan yang dulu tertunda, Baby!"

__ADS_1


__ADS_2