
Jason memukul wajah Matheo secara membabi buta. Wajah lelaki itu mulai membiru dan tetesan darah mulai keluar karena kulit yang lecet. Jason terus mendaratkan pukulan tanpa memberi cela kepada Theo untuk membalas atau sekedar bangkit dari atas aspal.
Javier yang menyaksikan kejadian itu pun akhirnya bergegas membuka pintu mobil. Bocah laki-laki itu langsung berteriak sekencang yang dia mampu untuk menghentikan sang ayah.
"Daddy! Hentikan! Jangan pukul Uncle lagi!" teriak Javier dengan jemari yang mengepal kuat di samping badan.
Mendengar teriakan dari sang putra, tentu saja membuat Jason berhenti. Kepalan tangannya kini menggantung di udara. Dia pun menoleh ke arah sumber suara.
Begitu juga dengan Vio dan Matheo. Mereka semua kini menatap Javier yang mulai mengeluarkan air mata. Vio langsung berlari ke arah Javier dan memeluk putranya itu.
Hati Vio seperti diguyur dengan air es. Melihat Javier baik-baik saja tentu saja membuat perasaannya sangat lega. Vio melepaskan pelukannya kemudian memeriksa setiap inci tubuh Javier untuk memastikan kalau sang putra tidak terluka.
"Javy, kamu baik-baik saja? Kamu dari mana? Kenapa meninggalkan sekolah tanpa izin dari ibu wali kelas? Mommy dan Daddy sangat khawatir!" Vio merangkum wajah sang putra sambil berlinang air mata.
"I feel so sorry, Mommy. Tadi Javier melompat pagar karena rindu dengan Uncle." Javier menatap Matheo yang kini sedang terduduk lemas di atas aspal.
Javier pun langsung berlari ke arah Matheo. Dia menatap wajah sang ayah yang kini sudah babak belur seraya meringis membayangkan rasa sakit yang dialami oleh Theo. Javier merogoh saku celana kemudian mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk menyeka darah yang mengalir di sudut bibir Theo.
"Ini pasti sangat menyakitkan, Uncle. Maafkan Daddy, ya? Dia pasti khawatir karena tidak dapat menemukanku di sekolahan. Aku benar-benar anak yang bandel, bukan?" Javier kembali mengeluarkan isak tangis.
Matheo pun langsung merengkuh tubuh tambun Javier. Mendapat pelukan dari sang ayah kandung membuat tangis bocah lelaki itu semakin pecah. Tubuhnya sampai bergetar karena menangis.
"Hei, Boy! Uncle tidak apa-apa. Semuanya akan membaik dalam beberapa hari." Matheo menggendong tubuh Javier kemudian menatap Vio dan Jason dengan tatapan dingin.
"Aku tahu kalian pasti panik. Tapi, tolong berpikirlah dingin sebelum bertindak. Harusnya tadi kalian tanyakan baik-baik kepadaku. Masuk saja dulu. Mari kita bicarakan semuanya di dalam."
__ADS_1
Vio meraih lengan sang suami kemudian mengangguk saat mata mereka beradu. Jason menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ada rasa sedih dan penyesalan yang menyelusup ke hatinya ketika melihat sang putra menangis sesenggukan.
Keduanya pun mengekor di belakang Matheo. Sesampainya di dalam rumah Matheo, mereka semua duduk di ruang tamu. Javier tampak asyik bermain dengan puzzle yang baru saja dibelikan oleh Theo.
"Minumlah!" Theo meminta dua orang di depannya itu untuk meminum teh yang sudah dia siapkan.
Setelah menyesap teh buatan Theo, Vio pun menekan emosinya. Dia mulai menanyakan kenapa Javier bisa bersama dengan lelaki itu. Sebelum menjelaskan semuanya kepada Vio dan Jason, Theo menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.
"Aku memang pernah melakukan hal jahat. Tapi, orang jahat tidak selamanya akan menjadi orang jahat." Theo tersenyum kecut seraya menatap datar dua orabg yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Aku tidak tahu awal mula Javier keluar dari sekolahnya tanpa izin. Namun, aku tak sengaja lewat di depan mini market yang ada di dekat sekolahan itu. Javier tampak menangis karena dipaksa masuk oleh dua orang yang aku rasa kalian juga mengenalnya." Matheo mencoba untuk menjelaskan kronologi bagaimana Javier bisa bersamanya.
"Uncle dan aunty itu jahat sekali! Dia mengatakan banyak hal buruk tentang Daddy dan Mommy!" celetuk Javier tanpa melepaskan pandangannya dari puzzle yang tengah dia mainkan.
Vio pun beranjak dari sofa kemudian mendekati sang putra. Dia ingin mendengarkan semua kronologi dari sudut pandang Javier. Bukannya tidak percaya kepada Matheo, dia hanya ingin menyambungkan cerita mereka berdua.
"Iya, Mommy. Pagar sekolah bagian belakang memiliki beberapa lubang. Aku melihat beberapa kakak kelas keluar dari sana agar bisa jajan di luar kantin sekolah saat jam istirahat."
"Lalu Javy meniru perbuatan tidak baik itu?" Vio menyipitkan mata untuk ketika mencecar perbuatan tercela sang putra.
Mendengar pertanyaan dari sang ibu sontak membuat Javier menghentikan aktivitasnya. Dia langsung menatap sendu sang ibu sekilas, lalu menundukkan kepala. Jemari bocah itu mulai meremas celana yang membalut tubuh bagian bawahnya.
"Sorry, Mommy."
"Jangan pernah ulangi lagi hal itu, mengerti?" Javier pun mengangguk patuh kemudian Vio memeluk sang putra penuh cinta.
__ADS_1
"Jadi, siapa kedua orang itu?" Jason akhirnya mau membuka suaranya untuk menanyai Matheo.
"Mantan pekerjamu."
Jason mengerutkan dahi. Dia mencoba untuk menggali ingatannya. Selama menjalankan organisasi jual beli informasi dulu dia sama sekali tidak pernah memecat karyawan.
Semua masalah Jason cari jalan pintas agar tidak sampai memecat anggota organisasi. Setelah gagal mengingat lagi siapa orang yang dimaksud oleh Matheo, akhirnya Jason menyerah. Dia menggeleng seraya mengedikkan bahu.
"Aku tidak pernah memecat karyawanku. Tapi ...." Tiba-tiba Jason terdiam dengan mata terbelalak.
"Astaga! Jadi mereka?" Jason menepuk dahi ketika ingatannya kembali secara mendadak.
"Siapa, Jason?"
"Kamu ingat Evan dan Monica?"
Mata Vio pun membulat sempurna mendengar nama dua orang tersebut. Mereka adalah dua orang yang sengaja menjebak Vio ketika bekerja di kafe Jason. Vio tidak menyangka keduanya tega berniat buruk kepada Javier.
"Lali, di mana mereka berdua sekarang?" tanya Jason berapi-api.
"Aku sudah membawa mereka ke kantor polisi. Sebelum mendekati Javier, aku menelepon polisi dan akhirnya keduanya tertangkap," jelas Matheo.
"Ayo kita ke sana sekarang!"
...****************...
__ADS_1