Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 12. Dunia Kerja Part 2


__ADS_3

Vio mulai menggeliat. Perempuan itu menggerakkan kepala yang terasa berat ke arah kanan. Jason sedang tidur tertelungkup, seraya menggenggam jemarinya.


Sebuah senyum tipis kini menghiasi bibir Vio. Entah mengapa melihat perhatian-perhatian kecil dari Jason membuat hatinya menghangat. Selama ini orang tuanya selalu sibuk dengan bisnis.


Vio jarang sekali mendapat perhatian lebih layaknya anak pada umumnya. Lahir dan tumbuh di keluarga kaya, tidak menjamin kehidupan seseorang akan bahagia. Itulah yang dia rasakan selama ini.


"Terima kasih," ucap Vio dalam hati seraya menggerakkan lengan berniat untuk mengusap rambut Jason.


Namun, ketika jemarinya tinggal sedikit lagi menyentuh kepala Jason, lelaki itu terbangun. Jason mengucek mata dan mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan fokus pandangannya. Setelah pandangannya tidak lagi kabur, Jason langsung mendekatkan wajah kepada Vio.


"Kamu sudah bangun? Mau makan, minum, atau menginginkan hal lain? Apa kamu memerlukan sesuatu?" cecar Jason panik.


"Aku baik-baik saja, Jason. Aku hanya mengantuk. Rasanya mataku sangat berat." Vio tersenyum lembut kepada Jason.


"Kalau begitu tidurlah lagi. Aku akan tetap di sini. Jika kamu membutuhkan sesuatu, bangunkanlah aku."


"Hm, kamu juga tidur lagi saja," kata Vio.


"Kamu tidur duluan. Setelah kamu terlelap, aku juga akan segera tidur." Jason mengacak asal rambut Vio.


Perempuan itu merasa getaran aneh yang menjalar di hatinya ketika mendapat sentuhan dari Jason. Dia merasa ada yang lain. Setiap sentuhan yang Jason ciptakan sanggup membuat hati Vio merasa aman dan damai.


Perlahan Vio memejamkan mata. Entah mengapa rasa kantuknya mendadak hilang setelah melihat Jason. Dia ingin terus membuka mata agar bisa terus menatap wajah lelaki itu.


Tak sampai lima menit, tiba-tiba terdengar dengkuran halus. Vio perlahan membuka mata. Jason kembali terlelap. Akan tetapi, kini dia menyandarkan punggung pada kursi dengan posisi kepala menunduk.


"Pasti lelah sekali menjaga aku yang lemah ini. Maaf, ya, Jason. Aku berjanji setelah ini akan menjadi perempuan yang kuat agar bisa berdiri sendiri dan menjalani hidupku tanpa bantuanmu." Vio terus menatap Jason tanpa mau berkedip.


Keesokan harinya, setelah Matheo melakukan pemeriksaan ulang, Vio diperbolehkan pulang. Vio yang sebenarnya tidak suka dengan suasana rumah sakit, tentu saja merasa sangat senang.


"Ingat, jangan lupa makan yang banyak. Karena kamu sedang mengandung, usahakan menambah porsinya menjadi dua kali lipat. Penuhi asupan nutrisinya. Jika kamu merasa cepat kenyang atau selalu mual setelah makan, kamu bisa makan dengan porsi sedikit tapi sering. Kamu juga bisa melakukan olah raga ringan untuk menjaga kebugaran. Vitamin yang saya berikan jangan lupa untuk dikonsumsi." Rentetan pesan dari Theo menutup perjumpaan mereka siang itu.


"Jangan lupakan jadwal periksa satu kali dalam satu bulan, atau jika mengalami keluhan. Mengerti?" Theo menatap Vio sembari menyipitkan mata.

__ADS_1


"Mengerti, Dok. Kami pamit dulu." Vio tersenyum lebar begitu juga dengan Jason.


Mereka pun berpamitan dan pergi dari ruangan itu. Vio melangkah mantap seakan menemukan semangat baru dalam hidup. Bahkan siang ini dia berniat untuk langsung berangkat kerja.


Sebenarnya Jason terus melarangnya. Namun, Vio bersikukuh untuk tetap berangkat kerja. Akhirnya Jason mengizinkannya bekerja dengan satu syarat. Dia tidak boleh terlalu lelah.


...****************...


Jam menunjukkan pukul 13:30 ketika Vio sampai di kafe. Monica, Elga, dan seorang lagi yang namanya belum diketahui oleh Vio sedang sibuk melayani pelanggan. Vio bergegas absen, dan berniat untuk membantu mereka. Jam berjalan begitu cepat hingga akhirnya jam istirahat sif pertama dimulai.


"Aku istirahat dulu, ya, Vio? Terima kasih bantuannya," ucap partner kerja Vio yang ternyata bernama Angel.


"Iya, Angel. Selamat makan!" seru Vio dengan senyum lebarnya.


Setelah semua karyawan sif pagi masuk ke ruang istirahat, Vio kembali melanjutkan pekerjaannya. Di tengah jam kerja, rasa lapar tiba-tiba menyerang perempuan itu. Pandangan Vio mulai kabur, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dan bibir perempuan itu terlihat pucat.


Evan mendekati Vio kemudian memberinya beberapa keping biskuit yang diletakkan dalam kantong kertas. Vio sontak menoleh ke arah lelaki dengan rambut sebahu yang diikat itu.


Vio menatap kantong kertas itu dan Evan secara bergantian. Hatinya menghangat. Ternyata di luar rumah masih banyak orang yang peduli kepadanya.


Vio pun perlahan memasukkan kepingan biskuit itu ke dalam mulutnya. Perempuan itu mengunyahnya perlahan, menikmati setiap rasa yang meleleh di lidah. Namun, baru beberapa kali gigit rasa mual menyerang lagi.


"Astaga, sialan!"


Vio bergegas berlari ke arah toilet, lalu menumpahkan semua isi perutnya. Lima belas menit kemudian, Vio kembali lagi ke mesin kasir. Sesampainya di sana Monica sudah menatapnya sinis, serta Angel yang sedang berada di depan mesin kasir.


"Kamu kenapa, sih? Kalau nggak ngrepotin karyawan lain?" ketus Monica.


"Ah, maaf. Aku ...."


"Sudah, gapapa. Aku lanjut istirahat, ya, Vio." Angel tersenyum lembut kemudian berpamitan.


Jam kerja pun berlalu. Kini saatnya tutup Toko. Vio membawa semua uang yang ada di dalam laci mesin kasir ke dalam kantor, sementara William dan Evan membereskan kafe.

__ADS_1


"Mari kita hitung omzet hari ini." Jason membuka laporan omzet yang masuk ke data induk, kemudian mulai mengetikkan angka yang tertera di kayar komputer ke dalam kalkulator.


Jason mengurangi total omzet dengan pembayaran melalui kartu debit, kredit, serta uang digital. Setelah itu, lelaki tersebut mengurangkan lagi hasilnya dengan sejumlah uang yang sudah disetorkan oleh Angel sore tadi.


"Hasilnya 230 dolar 70 sen."


Vio tertegun ketika mendengar jumlah uang yang disebutkan oleh Jason. Jason yang menyadari Vio terdiam, akhirnya mengalihkan pandangannya dari kalkulator.


"Kenapa?" Jason bertopang dagu menatap Vio yang tengah melongo.


"Itu ... u-uangnya kurang hampir 90 dolar." Bahu Vio merosot dengan jemari yang meremas kuat celananya.


"Apa!" seru Jason dengan mata terbelalak.


"Bagaimana bisa, Vio!" Jason mengusap wajahnya kasar.


"Aku juga tidak tahu, Jason. Mesin kasir tidak hanya aku yang pegang. Ada Angel juga."


"Jadi, kamu menyalahkan Angel?" Jason menyipitkan mata.


"Bu-bukan begitu maksudku, Jason."


"Kita lihat CCTV hari ini! Panggil Willy dan Evan!"


Vio tak menjawab lagi. Dia bergegas memanggil dua partner kerjanya hari itu. Tak lama kemudian, Willy dan Evan masuk ke dalam kantor.


Jason menjelaskan duduk permasalahan kepada dua barista itu. Setelah mereka berdua paham, Jason langsung membuka rekaman CCTV seharian ini. Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai akhirnya terlihat gelagat Vio yang mencurigakan.


Jason, Willy, dan Evan sontak menatap Vio dengan tatapan penuh penghakiman. Vio menelan ludah kasar. Jantungnya berdegup begitu kencang.


"Vio, apa ini!" Jason menggebrak meja sehingga membuat perempuan itu tersentak.


__ADS_1


__ADS_2