
Matheo yang sedang kalang kabut mencari keberadaan Vio berteriak frustrasi di depan pintu apartemen Jason. Lelaki itu merasa sangat dirugikan. Dia telah membayar banyak uang kepada Mathew untuk menyewa rahim Vio.
Tidak sampai di situ, Theo juga menyewa Jason untuk menjaga Vio selama masa kehamilan. Sekarang Vio yang telah mengandung bayinya menghilang tanpa jejak. Terlebih lagi, saat mengetahui alat pelacak dan penyadap yang telah ditanamkan pada kulit Jason sudah tidak dapat diakses.
"Ke mana kalian!" teriak Matheo seraya menendang pintu unit apartemen Jason.
Lelaki itu pun menghubungi Mathew. Setelah mengulangi panggilan berulang kali, teleponnya baru dijawab oleh Mathew. Theo langsung mencecar Mathew dengan berbagai pertanyaan mengenai Vio.
"Ke mana saudara tirimu itu pergi?" tanya Theo dengan nada bicara tinggi.
"Aku tidak tahu," jawab Mathew singkat.
"Kamu jangan main-main! Aku sudah membayarmu lebih untuk semua itu! Tapi, apa ini?"
"Transaksi kita sudah berakhir sejak proses penyuntikan embrio! Kita sudah sepakat untuk tidak menyinggung satu sama lain setelah itu. Jadi, berhenti menghubungiku!" Panggilan pun berakhir.
"Kalian semua b*jingan!" umpat Theo dengan amarah yang meledak.
Kini Theo keluar dari apartemen Jason, kemudian melajukan mobil menuju kafe. Dia hendak mencari lelaki yang telah dia bayar itu di sana. Sesampainya di kafe, Theo langsung berteriak layaknya orang kesetanan.
Bahkan Theo memaksa masuk ke kantor, untuk memastikan bahwa Jason masih ada di sana. Semua orang yang ada di sana menahannya. Eric yang kesal akhirnya membekuk lelaki itu dan menggelandangnya masuk ke kantor.
"Buka matamu lebar-lebar! Pak Jason sudah pindah! Dia menjual kafe ini kepadaku karena tidak sanggup membayar para karyawan!"
"Brengsek!" umpat Theo.
Lelaki itu pun melangkah gontai keluar dari kafe. Hanya ada satu tempat yang menjadi penentuan terakhir, yaitu rumah Rose. Theo pun bergegas melajukan mobil menuju rumah Rose.
Sesampainya di sana, Rose menyambutnya hangat sama seperti ketika dia datang pertama kali ke sana. Rose langsung menyiapkan banyak makanan untuk Theo. Akan tetapi, sikap Theo jauh berbeda.
__ADS_1
Theo melempar semua makanan yang dihidangkan oleh Rose. Beraneka macam kue dan kudapan lain pun berserakan ke atas lantai. Selain itu, pecahan piring serta stoples membuat ruangan itu tampak semakin kacau.
"Ke mana perginya Jason, Bibi Tua Bangka!" umpat Theo seraya mencengkeram syal rajut yang melingkar di leher Rose.
"Jika aku mengatakan dia ada di mana ... apa yang akan kamu lakukan kepada keponakanku itu?" tanya Rose santai.
"Aku akan membunuhnya karena telah berani membawa kabur anakku!"
"Anakmu?" tawa Rose pecah seketika.
"Tidak ada persetujuan sah yang dilakukan oleh Vio. Kamu dan mantan pacar sekaligus saudari tirinya telah memalsukan tanda tangan di atas materai!"
"Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?" tanya Theo geram.
Kini Theo bukan hanya mencengkeram syal yang melingkar pada leher Rose. Jemarinya mulai naik dan mencekik leher Rose. Perempuan yang tampak renta itu hanya melemparkan tatapan dingin.
Seakan tidak ada rasa sakit atau sesak akibat cekikan Theo. Melihat ekspresi datar Rose, membuat amarah Theo semakin memuncak. Dia mendorong tubuh Rose hingga punggungnya menempel pada dinding.
Rose tetap bungkam. Justru tatapannya semakin tajam ke arah Theo. Perempuan itu mulai menggerakkan lengan untuk melepaskan cengkeraman tangan Theo dari lehernya.
"Ayo, katakan di mana Jason membawa pergi Vio!" Theo semakin mengencangkan cekikannya pada leher Rose.
Tak lama berserang dua orang ajudan yang diminta sembunyi oleh Rose pun akhirnya keluar. Mereka berdua meringkus Theo dan membawa lelaki itu menjauh dari Rose. Setelah terlepas dari tangan Theo, tubuh Rose merosot ke atas lantai.
Perempuan itu menarik napas dalam. Berusaha mengisi paru-parunya lagi dengan oksigen. Sesekali Rose terbatuk-batuk karena rasa sesak yang dia tahan sejak tadi.
"Lepaskan aku! Siapa kalian? Kalian semua bersekongkol ternyata!" Theo terus berteriak seperti orang kesetanan.
Theo terus berontak agar terlepas dari cengkeraman para ajudan yang bekerja untuk Jason dan Rose. Setelah berhasil mengatur napas, Rose pun mendekati Theo yang kini diikat pada kursi.
__ADS_1
"Nak, dari tadi aku mencoba untuk bersabar. Tapi, sekarang kesabaranku telah habis. Jangan sampai kamu mencari Jason atau Vio lagi! Bayi itu bukan milikmu karena kamu mendapatkannya dengan cara ilegal! Ah, tadi kamu bertanya ... bagaimana aku bisa tahu semuanya, 'kan?" Rose tersenyum tipis kemudian berjongkok di depan Theo.
"Tentu saja Jason yang menceritakan semuanya. Awalmya aku terkejut karena dia datang bersama seorang perempuan yang sedang mengandung. Alu pikir dia yang telah menghamili Vio." Rose kembali berdiri, lalu melipat lengan di depan dada.
"Jason akhirnya menceritakan semuanya. Oh ya, aku tidak akan melaporkan penyeranganmu ini ke pihak kepolisian. Aku juga tidak akan melaporkan tindakan ilegalmu menyangkut kehamilan Vio. Kamu hanya perlu diam, dan melanjutkan hidup seperti biasanya." Rose menepuk pipi Theo seraya tersenyum miring.
"Ah, ya. Satu lagi! Jangan pernah tekan lagi istrimu agar bisa memiliki keturunan secara biologis. Tekanan karena kondisinya yang kurang sempurna saja, sudah membuatnya depresi. Hargailah perasaan istrimu selama dia masih ada."
Entah mengapa ketika mendengar ucapan Rose, air mata Theo menggenang. Dia kembali teringat kepingan memori bersama sang istri. Theo ingat bagaimana ketika dia melamar Irene.
Saat itu, Irene sudah menjelaskan kondisinya kepada Matheo. Lelaki itu pun berjanji menerima kekurangan Irene. Namun, seiring berjalannya waktu rasa egois mulai menggerogoti hatinya.
Tuntutan dari keluarga membuatnya nekat menempuh jalan ilegal demi mendapatkan keturunan. Entah mengapa dulu tiba-tiba Mathew mendatanginya dan menawarkan ibu pengganti untuk calon anaknya. Tanpa berpikir panjang, Theo pun mengambil tawaran itu.
"Aku sebenarnya kasihan kepadamu. Kamu hanya dijadikan alat untuk balas dendam Mathew dan ibunya. Yah, bisa dibilang kamu adalah korban yang akhirnya menjadi tersangka."
Theo tidak mampu lagi menanggapi ucapan Rose. Dia hanya menunduk menatap ujung sepatunya. Rasa penyesalan memang datang terlambat.
"Pulanglah, dan segera minta maaf pada istrimu. Dia sudah sangat menderita selama ini. Kembali mulai semua dari awal. Lupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu." Rose tersenyum lembut kemudian mengisyaratkan kepada para ajudannya untuk melepaskan ikatan tali yang melingkari tubuh Theo.
Setelah terlepas dari ikatan, Theo pun bergegas pupang ke rumah. Sepanjang perjalanan, dia terus mengucap maaf dalam hati untuk sang istri. Sampai akhirnya sebuah kejadian tak terduga membuat hidup Theo benar-benar hancur.
Ketika memasuki kamar untuk menemui sang istri, Theo sudah mendapati Irene tergeletak tak bernyawa di atas lantai. Cairan merah berbau amis menggenang di lantai kamarnya. Theo terlambat.
"Irene ... Sayang! Kamu kenapa tidur di lantai?" Theo berusaha mengingkari kenyataan yang ada di hadapannya saat ini.
"Irene, kenapa tanganmu berdarah? Aku bilang hati-hati kalau memegang benda tajam. Kenapa kamu bandel sekali. Irene, buka matamu. Jangan bercanda!" Theo membuka paksa kelopak mata sang istri menggunakan jemarinya.
Tak lama kemudian tubuh dokter tampan itu gemetar. Tangisnya pecah seketika. Dia berulang kali memanggil nama sang istri, berharap Irene kembali membuka mata. Akan tetapi, semuanya sia-sia.
__ADS_1
Irene sudah meninggal. Theo berteriak sekuat tenaga untuk melampiaskan kesedihan serta rasa penyesalan yang mendalam. Dunianya sudah runtuh tak tersisa.