Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 22. Tak Bisa Jauh


__ADS_3

Mendengar permintaan Vio, tentu saja Anna langsung mengangguk cepat. Dia pun beranjak dari sofa dan berjalan lebih dulu menuju kamar sang suami. Jason dan Vio mengikuti perempuan itu dari belakang.


Ketika sampai di depan pintu kamar, Anna menghentikan langkah. Dia balik badan, menatap putrinya untuk memastikan bahwa Vio akan baik-baik saja setelah melihat keadaan sang suami.


"Siapkan hatimu, Vio." Jemari Anna kini sudah memegang hendel pintu.


Vio mematung di depan kamar sang ayah. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi sang ayah sekarang.


Seiring terbukanya pintu kamar, kaki Vio menjadi lemas. Jason yang ada di belakangnya dengan sigap menangkap tubuh perempuan itu. Hati Vio bergetar melihat kondisi sang ayah yang tampak memprihatinkan.


Tubuh Jhonson ditempeli oleh banyak sekali alat bantu medis. Alat pendeteksi detak jantung mengeluarkan suara khas yang sanggup memecahkan kesunyian. Kantong berisi cairan jernih menggantung pada pengait tiang infus dengan selang yang menjuntai, dan dihubungkan ke tangan lelaki itu dengan jarum.


"Papa," lirih Vio dengan suara bergetar.


Anna mulai melangkah masuk kemudian menarik kursi yang ada di samping ranjang. Perempuan itu melambaikan tangan ke arah Vio, lalu menepuk kursi tersebut. Vio pun melangkah pelan dengan bantuan Jason.


"Duduklah, Vio. Meski Papamu terpejam, dia masih bisa mendengar setiap kata yang kamu ucapkan. Semoga dengan kehadiranmu di sini, Papamu akan segera bangun."


Vio pun mendaratkan bokongnya ke atas kursi. Dia mulai menggenggam jemari Jason yang kulitnya mulai berkerut karena termakan usia. Titik air mata jatuh membasahi pipi perempuan yang tengah mengandung 5 bulan itu.


"Pa, bangunlah. Maaf, karena Vio belum bisa menjadi kebanggaan buat Papa." Isak tangis mulai lolos dari bibir Vio


"Pa, asal Papa tahu. Vio benar-benar tidak melanggar janji kepada ibu. Mathew yang membuat Vio mengandung. Dia menyewakan rahimku kepada orang lain dengan memalsukan tanda tangan Vio.” Vio tersenyum kecut di antara tangis.


"Tapi, Vio akan berjuang untuk anak ini. Jika orang itu datang untuk mengambil bayi ini, Vio tidak akan pernah memberikan bayi ini. Dia sudah menjadi bagian hidup Vio. Dia hidup dengan darah Vio dan makan dari tubuhku." Vio mengusap lembut perutnya yang sedang berkedut.


Seakan mendengar ucapan Vio, Jhonson meneteskan air mata. Vio pun mengambil tisu yang ada di atas nakas, lalu mengusap air mata sang ayah. Vio merasa Jhonson sudah mengerti sekarang, perempuan itu sedikit lebih lega.

__ADS_1


"Hei, kenapa menangis, Pa? Ayo, bangunlah! Papa bisa melalui ini semua. Apa Papa tidak ingin melihat cucumu lahir?" Vio tersenyum lebar, tetapi air mata terus membanjiri wajah cantiknya.


Percakapan searah itu berlangsung cukup lama. Jason harus ke luar ruangan itu karena mendapatkan panggilan dari Matheo. Lelaki itu bergegas mengangkat panggilan tersebut.


"Aku tidak mau Vio lepas dari pengawasanmu! Segera bawa dia kembali ke apartemen! Ingat, jangan berbuat macam-macam! Dengar ini ...."


Suara hening sejenak. Tak lama kemudian mulai terdengar Theo yang sedang berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Sedetik kemudian suara perempuan yang begitu akrab menyapa pendengaran Jason.


"Jason, apa kabar? Terima kasih sudah mengirimkan banyak bahan makanan untuk Bibi melalui temanmu! Kamu memang anak yang baik! Aku dengar temanmu ini seorang dokter? Dia juga memberi Bibi beberapa obat untuk mengatasi vertigo yang akhir-akhir ini aku alami. Bahkan dia menjanjikan diskon jika Bibi memeriksakan diri di rumah sakit tempatnya bekerja!"


Rahang Jason mengeras seketika. Dia tidak menyangka bahwa Theo berani menggunakan sang bibi untuk mengancamnya. Dia hanya bisa mendengarkan bibinya yang terus memuji Matheo.


"Astaga, paiku! Sudah dulu, ya? Bibi sedang memanggang pai untuk dibawa pulang oleh temanmu ini."


Kembali terdengar suara tawa kecil dan percakapan dari ujung telepon. Tak lama kemudian, Matheo kembali berbicara kepada Jason. Alis Jason menyatu dengan tatapan yang semakin tajam.


"Bagaimana menurutmu? Bukankah aku pandai dalam berbisnis?" Terdengar ledakan tawa yang membuat Jason semakin geram.


Mendengar teriakan Jason, justru membuat Matheo semakin terbahak-bahak. Jason terus mengumpat dan meminta dengan nada tinggi agar Theo tidak menemui bibinya lagi. Namun, bukan Theo namanya jika menuruti ucapan Jason. Di sini dia adalah pemegang kendali permainan, bukan Jason.


"Apa begitu caranya memohon kepada seseorang, Jason? Bukankah seharusnya kamu mengatakannya dengan suara bergetar? Ah, seharusnya juga diiringi isak tangis!" ejek Matheo.


Ketika sedang sibuk bernegosiasi dengan Matheo, tiba-tiba sebuah tepukan di bahu Jason membuatnya menoleh. Vio sudah berdiri di belakang lelaki itu dengan mata sembab. Sontak Jason segera mematikan sambungan telepon dan memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana.


"Vi-Vio! Sejak kapan kamu ada di belakangku?"


"Baru saja, Jason. Kenapa kamu terlihat begitu panik saat aku datang? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Vio di antara sisa isak tangis.

__ADS_1


"Ah, tidak ada. Bagaimana? Mau pulang sekarang?"


"Aku sepertinya harus kembali ke rumah. Aku tidak bisa ikut denganmu kembali ke apartemen."


Sontak Jason menelan ludah kasar. Baru saja dia mendapat ancaman dari Matheo, dan sekarang Vio mengambil keputusan yang sangat mencengangkan. Jason pun harus memutar otak agar Vio mau tetap pulang dan berada dalam pengawasannya.


"Bisakah kamu tetap tinggal denganku, Vio?" Bahu Jason merosot dengan kepala menunduk menatap ujung sepatu.


"Kenapa?"


"Aku ... rasanya tidak bisa jika harus berhenti menatapmu sedetik saja." Jason menatap sendu ke arah Vio.


Mendengar ucapan Jason tentu saja membuat Vio tertegun. Dia mencari-cari kebohongan di wajah Jason. Namun, apa yang dikatakan lelaki itu benar-benar tulus.


Terlepas dari tugasnya mengawasi Vio, Jason memang sudah jatuh hati kepada perempuan itu. Vio adalah dunianya sekarang. Dia akan kesulitan melalui hari tanpa melihat perempuan itu secara langsung.


"Tapi, Jason ...."


"Pulanglah bersamanya!"


Vio dan Jason, menoleh ke arah sumber suara. Anna sedang menyandarkan lengannya pada kusen pintu kamar Jhonson. Perempuan itu tersenyum lembut, kemudian berjalan mendekati sang putri dan juga Jason.


"Mama akan mengabarkan setiap perkembangan papamu. Mana nomor ponselmu?" Anna mulai mengetikkan deretan angka yang disebut Vio ke dalam benda pipih tersebut.


"Baiklah, kita makan malam dulu. Setelah ini, kalian boleh pulang."


Mereka pun menuruni anak tangga menuju meja makan. Jason hanya diam ketika melihat Vio dan Anna berbincang. Jason sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Memikirkan cara agar lepas dari pengawasan Matheo. Dia mencoba mengingat kembali hari di saat Theo menemuinya di kafe. Setelah berhasil mengingat kembali semuanya, Jason terbelalak seketika.


Jason akan memastikan sesuatu dengan menemui salah satu temannya yang tahu mengenai teknologi. Setelah berhasil mengetahui bagaimana Matheo mengawasinya, dia kan segera membawa Vio dan bibinya pergi dari Missouri.


__ADS_2