
Porta Nuova, salah satu distrik bisnis yang ada di Milan tampak sibuk pagi itu. Dalam pandangan Jason, dia tengah menikmati sarapan di sebuah resto sambil menunggu klien. Ya, Jason mengembangkan bisnis jual beli informasinya ke negara itu.
Selama tiga bulan terakhir, lelaki itu sudah melakukan transaksi jual beli informasi lebih dari lima puluh kali. Kliennya mencakup orang biasa, konglomerat, pejabat, bahkan beberapa artis terkenal menggunakan jasanya untuk mendapatkan banyak informasi yang mereka butuhkan.
Jason menyesap americano, kemudian menatap ke luar jendela restoran. Deretan gedung pencakar langit tampak menjulang tinggi seakan menembus awan. Birunya langit di bulan Agustus tampak begitu cerah, sehingga mampu mengukir senyuman di setiap mata yang menatapnya.
"Buongiorno, Signore."
Jason menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengucapkan selamat pagi kepadanya. Lelaki itu mengerutkan dahi karena orang asing berkacamata hitam serta memakai masker sudah berdiri di hadapannya.
"Pagi," jawab Jason seraya tersenyum tipis.
Lelaki dengan pakaian kasual itu pun menarik kursi kemudian mendaratkan bokong ke atasnya. Dia melambaikan tangan kepada pelayan, lalu memesan kopi dan roti isi. Setelah sang pelayan pergi, lelaki itu pun memulai pembicaraan.
"Jadi, apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Jason tanpa basa-basi.
"Jangan terburu-buru. Sebelumnya, perkenalkan nama saya ...." Lelaki itu membuka maskernya dan di detik yang sama Jason terbelalak.
"Matheo!" seru Jason dengan mata membola.
"Apa kabar, Jason?" Matheo tersenyum miring kemudian meletakkan topi serta maskernya ke atas meja.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?" tanya Jason dengan rahang mengeras sempurna.
"Berdasarkan perhitungan, anakku akan lahir sekitar seminggu lagi." Bukannya menjawab, Matheo justru tersenyum miring dan membahas mengenai hari kelahiran anaknya.
Jason menatap tajam ke arah lelaki tampan tersebut. Jemarinya mengepal kuat dan tatapannya tak lepas dari Theo. Napas lelaki tampan itu terlihat menggebu.
Di sisi lain, Matheo terkekeh karena melihat ekspresi Jason yang begitu menyenangkan baginya. Senyum seringai menghiasi bibirnya. Lelaki itu pun menyandarkan punggung pada kepala kursi.
__ADS_1
"Jangan ganggu kehidupanku! Kamu tidak memiliki hak yang sah atas bayimu! Kamu sudah melakukan tindakan ilegal untuk mendapatkannya!"
"Benarkan? Dan kamu juga terlibat dengan ini semua! Jason, dalam bekerja jangan pernah melibatkan hati di dalamnya. Lihat hasilnya sekarang! Kamu terjebak oleh perasaanmu sendiri." Theo kembali duduk tegak dan menyipitkan mata ketika menatap Jason.
"Aku penasaran, bagaimana jadinya jika Vio mengetahui ini semua. Kamu terlibat dengan rencanaku untuk menjadikannya ibu pengganti untuk anakku!" Theo tertawa terbahak-bahak.
"Tutup mulutmu! Jangan macam-macam! Keselamatan bayimu juga ada di tanganku!"
"Oh, jadi kamu sekarang pintar melayangkan ancaman, ya? Baiklah, kita lihat siapa yang berhasil mendapatkan bayi itu. Aku atau kalian!" Matheo beranjak dari kursi kemudian kembali memakai kacamata serta topinya.
"Ah, niatku untuk memberitahukan semuanya kepada Vio sudah bulat. Jadi, jaga baik-baik istrimu itu. Jangan sampai memberikan celah untukku."
Tak lama berselang pelayan datang. Theo menyesap minumannya kemudian berlalu begitu saja. Usai kepergian Theo, Jason memukul meja hingga barang yang ada di atasnya melompat.
Jason benar-benar tak menyangka, pada akhirnya Matheo dapat menemukan keberadaannya. Dia pun segera menghubungi anak buahnya untuk memastikan siapa yang telah membocorkan keberadaannya kepada Jason.
"Sialan! Dari mana dia mengetahui semuanya!"
Jason tinggal di sebuah apartemen dengan desain yang unik. Mereka tinggal di Bosco Verticale, apartemen yang mengusung konsep ramah lingkungan. Setiap teras unit apartemen, ditanami berbagai macam tumbuhan.
Sesampainya di apartemen, Jason bergegas menemui Vio. Perempuan itu sedang bersantai di depan televisi sambil memakan salad buah. Mengetahui kepulangan sang suami, Vio pun meletakkan mangkuk salad ke atas meja, kemudian menyambut Jason.
"Sudah pulang, Sayang?" Vio melingkarkan lengannya pada leher Jason, lalu memberikan kecupan sekilas pada bibir sang suami.
Mendapat perlakuan manis dari Vio, membuat Jason tersenyum lebar. Bayangan kemarahan Vio kembali terlintas sedetik kemudian. Dia harus segera memberitahukan semua kepada Vio, sebelum Matheo membongkar rahasia yang selama ini dia pendam.
"Aku sudah lapar. Bisa masakkan sesuatu untukku?" tanya Vio sambil tersenyum lebar.
"Boleh, tunggu di sini sebentar. Makanan akan segera siap!" Jason merangkum wajah sang istri kemudian mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
Sejak menikah dengan Vio, Jason selalu memanjakan perempuan itu. Dia memberi Vio fasilitas terbaik. Lelaki tampan itu juga melarang Vio menyentuh pekerjaan rumah terutama memasak.
Ya, alasannya hanya satu. Dia tidak mau rumahnya semakin kacau karena Vio yang belum bisa mengerjakan semua dengan baik. Namun, sesekali jika berada di rumah, Jason mengajari sang istri beberapa hal mengenai pekerjaan rumah.
Jason yakin, seiring berjalannya waktu Vio akan mengerti. Lagi pula, seorang istri diciptakan bukan untuk dijadikan pembantu rumah tangga. Bagi Jason, istri merupakan jantung dari rumah tangga. Jadi, lelaki itu akan mengusahakan kebahagiaan sang istri daripada membebaninya dengan banyak pekerjaan rumah.
"Vio, bisa bantu aku sebentar?" tanya Jason yang sedang sibuk di dapur.
"Boleh," ucap Vio seraya berjalan pelan ke arah dapur.
Perempuan itu mulai kesulitan ketika bergerak. Dia melangkah layaknya siput seraya memegangi pinggangnya yang terasa hampir copot. Setelah berjuang keras, akhirnya Vio dapat mencapai dapur dengan selamat.
Jason tersenyum tipis kemudian menarik kursi, serta meminta Vio untuk duduk di atasnya. Setelah Vio duduk tidak ada komando selanjutnya, sehingga perempuan itu mengerutkan dahi. Dia bertopang dagu seraya memperhatikan Jason yang sedang sibuk memotong paprika serta tomat.
"Jadi, bantuan jenis apa yang kamu butuhkan, Jason?"
"Semangati aku! Aku tidak butuh bantuan apa pun dari kamu selain itu. Semua pekerjaan yang aku lakukan akan terasa ringan dan tidak lagi membutuhkan bantuan, jika kamu terus mendukungku dan memberi semangat." Jason menatap mata Vio ketika mengatakan semua hal manis itu.
Vio tersenyum lebar. Lelaki di hadapannya itu memang pandai mengobrak-abrik hatinya. Sedikit saja kalimat manis yang terucap dari bibir sang suami, mampu membuat hatinya seakan terbang melayang.
Akhirnya Vio hanya menemani Jason seraya mengobrol ringan. Setelah semua masakan selesai, Jason segera menatanya ke atas piring dan di sajikan pada meja makan. Setelah semua siap, Jason menggandeng jemari Vio dan menarik kursi untuknya.
Ketika mereka berdua sudah siap menyantap makanan, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Ini merupakan hal langka. Selama ini tidak ada yang pernah berkunjung karena mereka berdua pendatang baru yang tidak memiliki kerabat seorang pun di Milan.
"Biar aku lihat siapa yang datang, kamu tunggu di sini saja."
Vio tersenyum lembut seraya mengangguk pelan. Jason pun melangkah menuju ruang tamu dan membuka pintu. Sontak lelaki itu terbelalak ketika mengetahui siapa yang datang.
"Untuk apa kamu ke sini, Theo?"
__ADS_1
"Bertamu dan memberitahu semuanya kepada Vio. Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk mengungkap semuanya kepada Vio di hadapanmu! Bukankah ini lebih seru?" Matheo pun tertawa terbahak-bahak.