Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 36. Sweet Ucle


__ADS_3

"Mommy!" seru Javier ketika Vio sampai di rumah.


Bocah laki-laki yang baru pulang sekolah itu langsung menghambur ke pelukan sang ibu. Dia terus mencium aroma tubuh Vio yang sudah lama tak memeluknya. Javier tidak dapat menjenguk sang ibu karena kegiatan sekolahnya yang padat sebelum liburan musim dingin.


"Hai, Boy! Mommy kangen sekali sama kamu!" Vio melepaskan pelukan kemudian mengacak rambut Javier.


"Mommy mau coklat?"


"Coklat?" Vio menautkan kedua alisnya.


Selama ini Vio sangat membatasi Javier dalam mengonsumsi coklat untuk menjaga berat badan sang putra dan demi kesehatan giginya. Javier sudah masuk dalam hitungan berat badan berlebih, jadi dokter menyarankannya untuk mengurangi konsumsi makanan manis.


"Sebentar Javy ambil dulu!" Javier turun dari gendongan Vio kemudian berlari ke kamarnya.


Tak lama kemudian, Javier membawa 2 bungkus coklat almon dan menyodorkannya kepada sang ibu. Vio tersenyum tipis, lalu merangkum wajah sang putra. Sebuah belaian lembut mendarat di kepala Javier.


"Javier Sayang, Mommy terima coklatnya. Javy masih ingat pesan Mommy, bukan?"


"Iya, Javy hanya boleh makan cokelat dan permen di hari minggu. Dan itu harus didampingi oleh Mommy. Makanya, Javy mengumpulkan semua coklat dan snack dari Sweet Uncle. Nanti kita makan sama-sama setelah Mommy sembuh." Mata Javier membulat seakan sedang meminta persetujuan dari sang ibu.


Vio akhirnya mengizinkan sang putra untuk mengonsumsi cokelat tersebut. Meski ini adalah hari Sabtu, Vio memberi kelonggaran karena minggu lalu Javier tidak memakan coklat. Setelah selesai memakan makanan manis tersebut, Vio meminta Javier untuk sikat gigi.


Ketika Javier tidur siang. Vio dan Jason kini bersantai di kamar mereka. Keduanya tengah membahas rencana peluncuran pertama produk terbaru yang sudah diteliti bertahun-tahun.


Ya, rencana produksi produk suplemen kecantikan beberapa tahun lalu baru bisa direalisasikan sekarang. Mereka mengalami beberapa kali kegagalan ketika meracik formula yang tepat. Selain demi keuntungan, perusahaan mereka mengutamakan kualitas dengan menekan efek samping setiap produk yang diproduksi.


"Terima kasih sudah terus mendukungku, Sayang." Vio tersenyum lembut kepada sang suami yang kini sedang menatap langit cerah siang itu.

__ADS_1


"Sudah menjadi kewajibanku untuk mendukungmu. Asal itu hal yang baik, aku pasti akan terus mendorongmu dan memberikan bantuan sebisa mungkin."


"Jika saja kamu tidak bersamaku saat itu ... aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang, Jason." Vio menerawang mengingat kembali masa lalu kelamnya yang begitu menyakitkan.


"Hei, semua sudah berlalu. Kini kehidupan kita jauh lebih baik."


"Maaf, belum bisa memberikanmu keturunan." Vio kembali tertunduk lesu karena mengingat bahwa dirinya belum juga mengandung hingga detik ini.


Jason mendekati sang istri, lalu memberikannya pelukan. Mendapat perlakuan lembut dari Jason, justru membuat hati Vio mengharu biru. Mata perempuan cantik itu mulai berkaca-kaca.


Pengorbanan Jason begitu besar untuk Vio. Dia jadi merasa belum menjadi istri yang baik bagi sang suami, karena belum bisa memberinya keturunan.


"Jangan pikirkan lagi masalah anak. Toh, kita sudah memiliki Javier. Bagiku itu sudah sangat cukup." Jason berusaha menenangkan sang istri.


Meski sebenarnya Jason masih tetap berharap bisa memiliki seorang anak lagi dari Vio, tetapi lelaki berpikiran luas itu dapat membaca keadaan. Jason yakin apa yang telah dia capai dan miliki hari ini adalah anugerah terbaik dari Tuhan.


Tuhan paling tahu dengan apa yang kita perlukan. Tuhan tidak akan memberi semua yang kita mau jika kota tidak membutuhkannya. Jason selalu meyakini hal itu, sehingga kehidupannya terasa tenang selama ini meski terus dihantam banyak masalah.


"Iya, sekarang kumpulkan semangatmu agar segera pulih! Mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan adik bagi Javier!" Jason mengecup lembut puncak kepala sang istri.


***


Vio mengerutkan dahi ketika membongkar isi tas sang putra. Di dalam tas Javier kini terdapat beraneka macam makanan manis dan juga satu set mainan kereta dengan harga mahal. Dia pun segera memanggil Javier yang sedang sibuk membereskan mainan.


"Javy!" panggil Vio seraya melambaikan tangan ke arah sang putra.


"Yes, Mom!" Javier segera berlari menghampiri sang ibu dan bersimpuh di hadapannya.

__ADS_1


"Ini semua dari mana, Sayang?" Vio menunjukkan semua hasil temuannya kepada Javier.


Javier tampak santai. Dia meraih kotak mainan itu kemudian memeluknya erat. Vio menghela napas panjang ketika melihat Javier bersikap protektif pada mainan itu.


"Mommy boleh ambil semua coklat dan Snak itu! Tapi jangan ambil mainan ini! Javy menyukainya."


"Mommy tidak akan mengambilnya dari kamu, Javy. Tapi ... ada satu syarat." Vio mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah sang putra.


"Boleh Mommy tahu, siapa yang memberikan ini semua kepadamu?" tanya Vio hati-hati dan setenang mungkin agar Javier mau berkata jujur.


Javier tampak terdiam. Bocah laki-laki itu mulai menunduk, menatap karpet bulu yang kini menjadi alas duduknya bersama sang ibu. Vio tetap bergeming, menanti sang putra mau mengatakan semuanya dengan jujur.


"Dia teman Mommy." Suara Javier terdengar sangat lemah hampir tidak terdengar.


"Tapi, Sweet Uncle tidak mau aku menyebutkan namanya kepada siapa pun. Dia takut Mommy akan melarangku untuk bertemu dengannya." Mata Javier mulai berkaca-kaca.


"Baiklah, tidak masalah jika paman itu tidak memiliki niat jahat. Mulai hari ini, Mommy sendiri yang akan mengantarmu dan menjemputmu pulang sekolah. Daddy akan sibuk dengan pekerjaannya. Boleh Mommy memohon satu hal kepadamu, Javy?"


Javier tampak mengangguk lemah. Dia masih belum berani menatap sang ibu secara terang-terangan. Javier terus menunduk, dan menatap Vio dari sela-sela rambut yang menutup pandangannya.


"Hey, Boy. Look at me! Mommy tidak marah. Mommy hanya ingin tahu saja siapa yang memberikan semua ini kepadamu. Mommy khawatir jika Your Sweet Uncle memiliki niat jahat kepadamu." Vio berusaha mengungkapkan kekhawatirannya dengan bahasa sehalus mungkin.


"Sorry, Mom. Lain kali Javy akan lebih berhati-hati." Javier tertunduk lesu penuh penyesalan.


Akhirnya percakapan keduanya berakhir. Vio memutuskan untuk mencari tahu sendiri siapa orang yang dimaksud oleh Javier. Dia khawatir jika orang itu benar-benar memiliki niat buruk kepada sang putra.


Terlebih banyak sekali perusahaan lain yang berusaha menjatuhkan perusahaan miliknya akhir-akhir ini. Terlebih di masa lalu, Jason merupakan musuh banyak pejabat penting. Meski sekarang bisnis jual beli informasi sudah diserahkan kepada Eric, Vio tetap saja khawatir jika dendam masa lalu berpengaruh terhadap kehidupannya sekarang.

__ADS_1


Keesokan harinya Vio pun mengantar jemput sang putra seperti janjinya. Ketika mengantar Javier, Vio terus mengamati sang putra hingga bocah kecil itu masuk ke dalam gerbang sekolah. Namun, ketika mendekati jam pulang dia melihat ada seseorang yang sangat dia kenal mendekati gerbang sekolah.


"Jadi, dia yang selama ini menemui Javier!"


__ADS_2