Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Ban 32. Pembagian Warisan


__ADS_3

Suasana tegang menyelimuti ruang tengah keluarga Smith. Anna, adik Jhonson beserta istrinya, dan juga beberapa keluarga dekat hadir dalam pembacaan surat wasiat mendiang Jhonson. Pengacara keluarga itu masih dalam perjalanan.


Anna dan Albert tampak saling melemparkan tatapan tajam. Kedua kubu itu merasa paling berhak atas harta yang dimiliki keluarga Smith. Bahkan mereka melupakan bahwa ada Vio sebagai pewaris tunggal utama semua aset milik keluarga Smith.


"Kamu hanya adiknya. Akulah yang berhak penuh atas semua aset milik mendiang suamiku!" seru Anna penuh keyakinan.


Mendengar ucapan Anna tentu saja membuat Albert tertawa terbahak-bahak. Sudut matanya sampai mengeluarkan air mata karena merasa apa yang diucapkan adik iparnya itu adalah sebuah lelucon. Begitu juga dengan istri Albert. Dia tersenyum geli melihat Anna yang bersikukuh dengan pendapatnya.


"Begini saja, apa kamu mau menjadi istri keduaku? Baru nantinya aku akan memberikan sedikit aset milik mendiang adikku. Rumah ini mungkin?" Albert terbahak-bahak mendadak meringis kesakitan karena sang istri menginjak kakinya.


"Bercanda, Honey. Aku cuma bercanda," bisik Albert seraya meringis menahan sakit.


Anna yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum miring. Dia mengabaikan dua orang itu kemudian meraih ponsel. Perempuan itu mencoba untuk menghubungi Benny, pengacara sang suami yang memegang surat wasiat.


Saudara dekat lain hanya diam. Enggan berkomentar apa pun. Sebenarnya mereka selain Albert, ada di sana hanya untuk menyaksikan pembagian warisan. Jadi, tidak ada pengaruhnya bagi kerabat yang lain siapa pun yang mendapatkan aset lebih banyak.


Tak lama berselang pintu utama rumah keluarga Smith terbuka lebar. Seorang lelaki paruh baya berwajah tampan memasuki ruang tengah. Dia bergegas menemui Anna yang kini sudah beranjak dari sofa.


"Selamat malam, Nyonya Smith. Maaf, sudah membuat Anda dan yang lain menunggu lama." Benny menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat kepada Anna dan semua yang ada di sana.


"Tidak masalah, Pak Benny. Silakan duduk!" Anna menunjuk kursi yang awalnya dia duduki menggunakan kelima ujung jarinya.

__ADS_1


"Terima kasih." Benny pun mendaratkan bokongnya ke atas kursi kemudian mulai membuka tasnya.


Lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop, lalu membukanya perlahan. Sebelum membacakan isi amplop tersebut, Benny memakai kacamata dengan bingkai berwarna emas. Dia berdeham beberapa kali, kemudian mulai membuka suara.


"Sebelum saya membaca surat wasiat dari Tuan Jhonson Smith, alangkah baiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu." Benny kembali menunda acara pembacaan surat wasiat.


"Saya Benny Brandon, pengacara yang diberi kuasa oleh Tuan Smith untuk mengurus semua administrasi hukum bisnis serta aset milik beliau. Di sini saya akan membacakan surat wasiat yang sudah ditulis oleh Tuan Smith sejak lima tahun yang lalu." Benny mulai membuka lipatan kertas dan menarik napas panjang sebelum membacakan isi surat wasiat.


"Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Jhonson Smith ...." Semua orang yang ada di sana terdiam ketika Benny membacakan kalimat demi kalimat yang ditulis langsung oleh Jhonson.


"Untuk rumah yang kini kami tinggali, beserta satu unit mobil Ford-F Series, dan tabungan senilai 1 juta dolar saya berikan kepada istri saya tercinta, Anna Swan." Benny menatap Anna sekilas, lalu kembali membacakan isi surat tersebut.


Mendengar pernyataan itu, membuat Anna melongo. Selama ini Anna mengira bahwa sang suami akan memberikan perusahaan beserta aset bisnis lainnya kepada dia. Ternyata semua ini di luar dugaan. Dia hanya mendapatkan sebagian kecil aset yang dimiliki sang mendiang suami.


Setelah itu Benny menyampaikan bahwa seluruh aset lain yang berhubungan dengan bisnis, sebuah vila di Madagaskar, serta 2 unit mobil mewah diberikan kepada Vio. Kali ini Albert meradang karena dia tidak menerima sepeser pun dari sang adik. Lelaki itu merasa ikut mengembangkan bisnis Jhonson dan berkontribusi cukup besar untuk perusahaan.


"Aku tidak terima! Pasti ada yang salah dengan surat wasiat ini! Aku sudah sangat baik kepada Jhonson! Kenapa dia tidak memberikanku sepeser pun!" seru Albert berapi-api.


"Tuan Albert, apa Anda lupa? Beberapa tahun lalu, beliau sudah dibelikan rumah untuk Anda. Tuan Smith pung membantu untuk melunasi hutang akibat hobi Anda yang pergi ke kasino setiap malam?" Benny menatap tajam Albert seraya tersenyum miring.


Albert memukul udara karena tidak bisa lagi berkutik. Akhirnya lelaki itu, beranjak dari sofa dan pergi dari sana seraya menggandeng jemari sang istri. Dia terus mengumpat sepanjang jalan menuju pintu utama.

__ADS_1


Tak sampai di sana, Albert pun membanting kasar pintu setelah keluar dari kediaman keluarga Smith. Ternyata bukan hanya Albert yang melayangkan protes. Anna masih belum terima atas pembagian harta warisan mendiang sang suami yang dia anggap tidak adil.


"Vio tidak berhak atas apa pun di sini. Dia sudah keluar dari keluarga ini sejak mengandung anak tak jelas itu! Suamiku mengusirnya dari rumah secara langsung, dan mengatakan bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga ini!" seru Anna dengan bahu bergetar.


"Di dunia ini tidak ada yang namanya mantan anak, Ma!" Terdengar seru suara Vio dari arah pintu utama.


Anak tunggal dari Jhonson Smith kini telah kembali. Dia datang bersama Jason dan juga Javier. Demi berjaga-jaga, rumah itu sudah dikepung oleh anak buah Jason.


Vio mendekati sang ibu yang kini menatapnya tajam penuh amarah. Rahang Anna mengeras sempurna. Jemari perempuan itu pun mengepal kuat hingga jejak kukunya membekas pada telapak tangan.


"Kalau mantan istri, sudah pasti ada." Vio tersenyum miring seraya menatap tajam Anna yang kini melemparkan tatapan penuh kebencian kepadanya.


"Terima kasih sudah menunjukkan sifat aslimu, Ma. Jadi ... aku tidak perlu repot-repot untuk membongkar semuanya."


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau papamu ...." Sebuah tamparan keras kini mendarat di pipi Anna.


Wajah perempuan itu sampai berpaling. Vio menatap tajam sang ibu tiri penuh kebencian. Perempuan yang dia kira menyayangi dirinya dengan tulus itu, ternyata sama saja dengan kisah kejam ibu tiri putri di negeri dongeng.


"Aku akan melaporkan semuanya ke polisi. Pembunuhan ibuku, ayah, dan ikut berkontribusi dalam tindakan media ilegal!" seru Vio tanpa rasa takut sedikit pun.


Semua orang yang ada di ruangan itu terbelalak ketika mendengar ucapan Vio. Mereka semua juga tidak menyangka bahwa Anna merupakan perempuan kejam. Tak lama berselang, beberapa orang polisi memasuki rumah tersebut dan menghampiri Anna.

__ADS_1


"Nyonya Anna Swan, Anda kami tangkap atas tuduhan kasus pembunuhan berencana dan juga menutupi tindakan medis yang dilakukan secara ilegal!"


__ADS_2