
Sudah lewat tengah malam ketika Jason keluar dari apartemennya. Dia langsung melajukan mobil untuk menemui Eric. Eric merupakan salah satu sahabatnya yang ahli dalam bidang IT, peretas andal di dunia hitam yang bisa diandalkan. Eric beberapa kali membantu Jason untuk menembus database musuhnya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, Jason pun sampai di sebuah gudang tua yang tampak tak terurus dari luar. Namun, ketika masuk ke dalam orang akan dibuat tercengang. Gudang itu memiliki bangunan yang bersih dan rapi di bagian dalam.
Gudang tersebut memiliki banyak monitor. Terdapat sebuah dinding kaca dengan foto-foto yang tertempel di sana. Beberapa dari foto itu sudah disilang menggunakan spidol merah.
"Tuan, kenapa Anda tidak menghubungi saya jika mau datang ke markas?" tanya Eric yang kini bergegas menghampiri Jason.
"Jika hanya berdua berbicara santai saja kepadaku, Bro!" Jason terkekeh seraya mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotak.
"Jika kamu datang ke sini, pasti ada sesuatu yang mendesak. Ada masalah apa, Jason?" Eric memutar kursi sehingga tatapannya kini lurus ke arah Jason.
"Scan tubuhku! Apa ada benda asing yang berpotensi menjadi alat penyadap bersarang di tubuhku?"
"Baiklah, kemarilah!"
Eric mengarahkan Jason untuk memasuki sebuah bilik. Lelaki itu mengomando Jason agar melepaskan semua pakaian. Setelah sang sahabat melakukan apa yang dia perintahkan, Eric pun duduk di sebuah meja menghadap laptop yang menghubungkannya dengan bilik tersebut.
"Waaahhh, dragon-mu besar juga," goda Eric sambil terkekeh ketika melihat senjata utama milik Jason.
"Sialan! Sudah, fokus sama pekerjaanmu saja!" seru Jason.
"Baiklah, sebentar aku cek dulu!"
Jemari Eric terus menari di atas papan ketik. Sesekali dia menggeser tetikus. Tak membutuhkan waktu lama untuk mencari alat penyadap yang ditempelkan di tubuh Jason.
Sebuah titik berwarna merah tampak terlihat di antara kedua alis Jason. Lelaki itu pun memberitahukan hal itu kepada sang sahabat. Setelah mengingat lagi, barulah Jason sadar.
Beberapa hari sebelum Theo menemuinya, ada orang asing yang memukulnya. Ketika terbangun dia sudah tergeletak di depan unit apartemennya. Jason pun menceritakan hal itu kepada Eric.
"Kau tahu, alat penyadap itu berukuran Nano. Ia ditanamkan ke bawah kulit arimu dengan bantuan jarum. Setelah itu mereka melapisi kulitmu dengan lem transparan yang sangat kuat agar alat itu tidak terlepas." Eric menjelaskan semua yang dia tahu kepada Jason.
"Aku tidak peduli dengan semua itu. Yang penting sekarang lepaskan alat itu dariku."
"Baiklah, keluar dari sana dan kemarilah."
Jason bergegas mengenakan lagi pakaiannya, lalu keluar dari bilik. Setelah itu dia duduk di depan Eric yang sudah menyiapkan beberapa alat untuk melepaskan Nano cip yang tertanam di bawah kulit Jason.
__ADS_1
"Ini akan selesai dalam lima menit."
Eric pun mulai mengusap dahi Jason menggunakan tisu yang diberi cairan khusus. Dalam hitungan detik, lem yang awalnya transparan, berubah warna menjadi kecokelatan. Eric perlahan mengelupas lem tersebut.
Eric menggunakan bantuan kacamata khusus yang bisa melihat obyek berukuran Piko sekali pun. Lelaki itu menggunakan magnet seukuran jarum untuk menarik perangkat penyadap dari bawah kulit Jason.
"Hanya sigini besarnya." Eric menunjukkan sebuah alat seukuran debu yang hampir tak terlihat oleh mata.
"Wah, hebat sekali pembuat alat ini!" seru Jason karena kagum.
"Alat ini dikembangkan oleh kelompok tertentu untuk mendukung kegiatan ilegal. Meski kecil, alat ini sulit dihancurkan. Butuh larutan kimia khusus untuk melelehkan partikel yang dipakai dalam pembuatan alat ini."
"Sudahlah, nggak usah sok pintar! Jujur, aku malas mikir! Ada hal lain yang harus aku lakukan sekarang!"
Lagi-lagi Eric terkekeh. Sahabatnya itu memang tidak suka menangani dan memikirkan banyak hal. Untuk itulah dia memiliki beberapa anak buah yang membantunya dalam menjalankan bisnis jual beli informasi. Dia hanya perlu memodali mereka semua untuk operasional bisnis tersebut.
"Bisa bantu aku lagi?"
"Apa?"
"Satu lagi, siapkan dokumen untuk mendaftarkan pernikahanku dengan Vio ke catatan sipil."
"Apa!" Sontak Eric terbelalak mendengar permintaan Jason.
"Kamu serius?" Eric kini mencondongkan tubuhnya ke arah Jason.
"Menurutmu?"
Jason beranjak dari kursi kemudian melangkah ke arah pintu keluar. Eric yang masih penasaran dengan keputusan Jason pun, mengekor di belakang sang sahabat. Dia mencecar lelaki itu dengan berbagai pertanyaan.
Akan tetapi, Jason memilih untuk diam dan meninggalkan Eric dengan pertanyaan yang memenuhi kepala. Dia langsung tancap gas kembali ke apartemen.
...****************...
Keesokan harinya, Jason menghubungi Elga. Selain menjadi barista di kafe, sebenarnya Elga merupakan salah satu orang kepercayaan Jason. Dia adalah asisten pribadi lelaki tersebut.
"Kafe kuserahkan kepadamu. Mulai hari ini, semua yang berhubungan dengan kafe menjadi tanggung jawabmu."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Kafe sudah kembali stabil. Tetap laporkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis jual beli informasi kita. Bekerja samalah dengan Eric untuk mengawasi dan mengontrol semua anggota organisasi kita." Jason terus memberikan pesan terakhirnya kepada Elga sebelum pindah ke Italia.
"Aku akan mengontrol semua dari jauh. Kupercayakan semua kepadamu dan Eric," imbuh Eric.
"Baik, Tuan."
"Baiklah, kuserahkan semuanya kepada kalian."
Sambungan telepon pun terputus. Jason sudah berkemas dan menyiapkan sarapan untuk Vio. Dia berencana membawa Vio pergi dari Missouri setelah mendapatkan izin dari Anna.
Jason pun melangkah ke kamar Vio dan mengetuk pintunya. Ketika terbuka, Vio masih tampak mengantuk. Wajah polos Vio benar-benar terlihat cantik di mata Jason.
"Bersiaplah! Hari ini aku ingin mengajakmu ke rumah mamamu."
"Bukankah hari ini kita kerja? Aku juga harus memeriksakan kandungan ketika jam makan siang."
"Aku sudah memecatmu dan mengganti dokter kandunganmu! Jangan banyak tanya dan segera bersiap!"
Tanpa menunggu persetujuan Vio, Jason langsung meninggalkan perempuan itu. Vio pun bergegas mandi dan bersiap. Meski hatinya terus menggerutu, perempuan itu tetap saja melakukan apa yang diminta Jason.
Jam menunjukkan pukul 08:00 ketika Vio selesai bersiap. Dia melangkah menuju meja makan karena perutnya sudah protes minta diisi. Di atas meja makan, sudah terhidang beberapa jenis makanan.
Namun, ada sebuah menu yang disembunyikan Jason di atas piring dengan tutup saji di atasnya. Vio mengerutkan dahi ketika melihat penampakan yang tak biasa itu.
"Apa ini?" tanya Vio keheranan.
"Buka saja!"
Vio perlahan mengangkat tutup saji berbahan stainles tersebut. Di bawahnya ternyata terdapat sebuah kotak perhiasan kecil berwarna hitam berbahan beludru. Vio terbelalak.
Vio menatap kotak tersebut dan Jason secara bergantian. Dia meletakkan tutup saji ke atas meja, kemudian meraih kotak tersebut. Jason memintanya untuk membuka kotak itu.
Ketika kotak terbuka Vio mengerutkan dahi. Dia menatap kesal kepada Jason, kemudian melempar kotak tersebut ke arah lelaki yang belakang ini menjadi tumpuan hidupnya itu.
"Kamu sedang bercanda, Jason?"
__ADS_1