Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 29. Pantas


__ADS_3

Jason tertunduk lesu, bersiap menerima caci maki dari Vio. Keringat kini membasahi telapak tangannya. Jantungnya berdegup begitu kencang. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Suara hela napas terdengar keluar dari bibir Vio. Perempuan itu beranjak dari sofa, kemudian masuk ke kamar, dan meletakkan Baby Kiwi ke dalam keranjang bayinya. Jason mengerutkan dahi karena melihat sikap Vio yang biasa saja.


Setelah merebahkan Baby kiwi ke keranjang bayi, Vio pun keluar dari kamar, membuka lemari pendingin makanan, dan mengambil dua kaleng minuman bersoda. Dia kembali menghampiri Jason, lalu memberikan satu kaleng minuman kepada sang suami.


"Sayang, sebenarnya aku sudah tahu semuanya." Vio tersenyum lembut dan menatap sendu sang suami.


"Apa! Da-dari mana kamu tahu?" Mata Kason membulat sempurna karena tidak menyangka bahwa ternyata Vio sudah mengetahui semua hal mengenai Theo dan dirinya.


Vio membuka tutup kaleng, terdengar suara buih soda yang mendesis karena reaksi karbonasi. Vio menegak minuman itu perlahan, lalu meletakkan kaleng ke atas meja. Dia tersenyum tipis kepada Jason dan mulai menceritakan apa yang sudah diceritakan oleh Rose kepadanya.


"Beberapa hari setelah kita pergi ke sini, dokter Theo menemui bibi. Dia mengancam bibi, bahkan hampir saja membunuhnya. Bibi tidak mengatakan di mana kita berada sekarang. Beliau menasihati dokter Theo dengan banyak hal." Vio mulai menceritakan semua yang diceritakan oleh Rose.


"Kenapa tidak ada yang menceritakan ini semua kepadaku!" seru Jason kesal.


"Bibi sangat tahu sikapmu. Jika sampai kamu tahu, pasti tanpa berpikir panjang, kamu akan kembali ke Missouri dan membunuh dokter Theo dengan tanganmu sendiri." Vio terkekeh karena melihat ekspresi Jason yang mulai panas.


Jason mengusap wajah kasar kemudian menatap sendu sang istri. Dia tak menyangka Vio merupakan perempuan yang sangat penyabar. Bahkan perempuan itu selama ini bersikap biasa saja, seperti memang belum mengetahui apa pun mengenai kebohongannya.


"Bibi menceritakan semuanya kepadaku. Beliau menceritakan semua tentang kamu, pekerjaanmu, niat awalmu mendekatiku, sampai banyak sekali aib dan kebiasaan konyolmu." Vio terkekeh karena teringat banyak hal tentang cerita Rose beberapa bulan yang lalu.


"Vio, kenapa kamu tidak marah karena telah aku bohongi?"


"Awalnya aku marah kepadamu, Jason. Sangat marah!" Vio melipat lengan di depan dada sembari melemparkan tatapan tajam kepada sang suami.


"Tapi, setelah berpikir dengan kepala dingin ... aku rasa ini semua memang sudah menjadi kehendak Tuhan. Kita bertemu, berkenalan, saling suka, dan kini hidup bersama."


"Vio ...." Hati Jason seakan diguyur dengan air es karena mendengar ucapan sang istri.

__ADS_1


Jason benar-benar terharu dengan itu semua. Cintanya untuk Vio semakin kuat. Dia berjanji tidak akan membuat perempuan cantik itu menderita.


"Apa kamu juga sudah tahu kalau Mama Anna adalah ibuku?"


Kali ini mata Vio melebar. Melihat ekspresi perempuan itu, tentu saja mengisyaratkan bahwa kali ini Vio belum mengetahui fakta itu. Vio hanya mengetahui bahwa Jason mendekati dia karena ingin balas dendam kepada Anna tanpa tahu motif utamanya. Jason pun mulai menceritakan semuanya.


"Aku pernah bilang bukan, kalau aku diasuh oleh Bibi Rose sejak lahir?"


Vio mengangguk. Matanya tak lepas dari Jason yang kini sedang menerawang, menatap langit-langit apartemen. Perempuan itu bersiap mendengar cerita masa lalu sang suami yang belum dia tahu.


"Ibu meninggalkanku karena mengejar ambisi lain. Dia ingin sekali menjadi dokter kecantikan dan mengejar cinta salah satu pengusaha hebat di Missouri kala itu." Jason tersenyum kecut kemudian mengalihkan pandangan kepada Vio.


"Dan kamu tahu siapa lelaki itu?" Jason memiringkan kepala seraya tersenyum kecut.


Jantung Vio berdegup kencang. Dia menaruh curiga bahwa ayahnya 'lah yang dimaksud oleh Jason. Vio menelan ludah kasar, dan tanpa sadar menahan napas ketika menanti kalimat berikutnya yang keluar dari bibir Jason.


"Ayah Mathew, adalah lelaki yang awalnya diincar oleh ibuku."


"Lalu, kenapa sekarang Mama Anna menjadi istri papaku?"


"Karena dendam," jawab Jason singkat dengan tatapan mata serius.


"Dendam?" Rasanya semua semakin terasa rumit bagi Vio.


"Iya, suami sebelumnya mengalami kebangkrutan karena banyak investor yang beralih ke perusahaan papamu. Ayah Mathew mengalami serangan jantung kemudian meninggal dunia. Ibu menganggap semua ini salah dari ayahmu," jelas Jason.


"Bagaimana bisa mama berpikir seperti itu? Bukankah sudah biasa ketika seorang pengusaha mengalami kebangkrutan? aku benar-benar tidak menyangka mama memiliki pemikiran sependek itu."


"Mamamu melakukan banyak dosa untuk dapat membalaskan dendam kepada papamu. Termasuk mengupayakan pembunuhan ibu kandungmu."

__ADS_1


"Apa!" seru Vio karena tidak menyangka bahwa kematian ibunya melibatkan Anna.


"Bahkan ayahmu sekarang dalam bahaya. Tapi, tenanglah ... aku sudah menempatkan salah satu orang kepercayaanku di sana untuk merawat papamu. Dia menggagalkan setiap rencana yang dilakukan mama untuk menghabisi papa."


Vio mengusap wajah kasar. Sebuah rasa dendam mulai muncul di hati Vio. Bahkan ada niat untuk membalas semua perbuatan sang ibu tiri suatu saat nanti.


"Sudahlah, itu semua hanya masa lalu. Mari sekarang kita fokus ke kehidupan kita. Membesarkan Baby Kiwi dan menjalankan peran sebagai orang tua sebaik mungkin." Jason menggenggam jemari Vio seraya tersenyum tipis.


"Jason, kamu benar. Aku rasa aku tidak membutuhkan harta papa. Sudah ada kamu dan Baby Kiwi di sampingku, rasanya sudah cukup." Ucapan Jason mampu mengguyur amarah yang berkobar di dada Vio.


Vio berpikir, jika terus berkubang dalam dendam dan masa lalu akan membuat kehidupannya semakin rumit dan tidak tenang. Selain itu, dendam itu akan berkelanjutan dan tidak akan ada habisnya jika diteruskan.


Jason menarik lengan Vio kemudian memeluk erat tubuh sang istri. Dia menumpahkan semua kasih sayang kepada Vio dengan puluhan kecupan pada leher putih perempuan itu. Rasa syukur kini Jason ucapkan kepada Tuhan karena telah mendapatkan istri sebaik Vio.


"Oh ya, Sayang." Vio melepaskan pelukan Jason, kemudian menatap dalam mata suaminya itu.


"Kita belum memberi nama untuk Baby Kiwi."


Jason menepuk dahi. Dia sampai lupa kalau putra kesayangan mereka belum memiliki nama. Jason tampak mengusap dagu memikirkan nama yang tepat untuk Baby Kiwi.


"Bagaimana kalau kota beri dia nama Javier. Jason Violetta dan -er merupakan unsur nama yang dimiliki anak kita," usul Vio.


Jason hanya mengangguk tanda setuju. Dia akan menyetujui apa pun yang Vio sukai asalkan baik. Suasana berubah sunyi.


Jason mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri kemudian menatap dalam mata perempuan yang sangat dia cintai itu. Jason mengusap lembut pipi sang istri, dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Vio.


Kecupan itu semakin lama terasa semakin panas. Napas keduanya saling memburu saling bersahutan. Gejolak hasrat pun mulai meluap. Akan tetapi, tangis Javier membuat keduanya menghentikan ciuman panas itu.


"Aku lupa kalau harus masih menahannya sampai 40 hari ke depan. Untuk Javier mengingatkan kita!" Jason tersenyum kecil dengan dahi yang masih menempel pada dahi Vio.

__ADS_1


Vio tersipu. Apa yang dikatakan sang suami benar. Bahkan dirinya hampir saja hanyut dalam suasana.


"Kalau begitu aku tenangkan Javier dulu. Bersabarlah sebentar lagi, Sayang." Vio menutup percakapannya dengan sebuah kecupan lembut di atas bibir sang suami.


__ADS_2