Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 8. Pahlawan Baru


__ADS_3

Samuel terus berusaha melucuti pakaian Vio di atas ranjang. Tidak ada rasa belas kasihan di sana. Setiap Vio meronta, Samuel tak segan-segan menampar atau menjambak rambutnya.


Ketika rasa putus asa sudah memenuhi dada perempuan itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Jason berlari ke arah Samuel, menarik lengan lelaki itu, lalu menghujaninya dengan tinju.


"Dasar brengsek! Aku sudah bilang, jangan macam-macam di apartemenku!"


"Kamu salah paham, Jason! Aku dan gadis ini berpacaran. Kami ...."


Belum sempat Samuel melanjutkan ucapan, Jason terus mendaratkan kepal tangannya ke wajah lelaki tersebut. Amarahnya memuncak melihat bagaimana Samuel melucuti pakaian Vio secara paksa.


"Jangan bohong! Aku benci pendusta!" seru Jason dengan lengan yang tak berhenti memukul Samuel.


"Aku kenal perempuan itu, dia baru saja putus dengan pacarnya! Mana mungkin dia adalah pacarmu?"


Samuel sampai terbatuk-batuk karena menerima pukulan dari Jason pada bagian perutnya. Setelah puas meluapkan emosi, Jason menggelandang Samuel. Dia mendorong tubuh tegap sang sahabat dari dalam apartemen hingga tersungkur ke atas lantai.


Tak sampai di sana, Jason juga memasukkan semua barang Samuel ke dalam koper, lalu membuangnya ke luar unit apartemen. Lelaki itu resmi mengusir Samuel dari apartemennya detik itu juga.


"Jangan pernah tampakkan lagi wajah busukmu itu di hadapanku!" Jason menutup kasar pintu hingga menimbulkan gema pada lorong lantai tersebut.


Di sisi lain, Vio sedang meringkuk sembari menangis tergugu. Dadanya terasa begitu sesak. Seumur hidup, baru kali ini dia mengalami yang namanya pelecehan.


"Aku benci pada diriku sendiri! Aku bahkan tidak sedang berpakaian seksi. Tapi, kenapa bisa mengundang hasrat para baj*ngan?"


Ketika Vio tengah meratapi nasib buruk yang kembali menimpanya, tiba-tiba Jason masuk ke kamar. Sontak Vio menarik selimut hingga menutup dada. Vio tampak takut. Tubuhnya menggigil.


"Tidak apa-apa. Aku tidak berniat jahat kepadamu. Kamu mau ke mana?" tanya Jason lembut.


Vio bungkam. Matanya masih merah dan basah. Tubuh perempuan itu gemetar karena rasa trauma dan dingin yang menyelubungi tubuhnya.

__ADS_1


"Ini apartemenku. Aku sudah mengusir Samuel pergi. Kamu bisa tinggal dengan tenang di sini sementara waktu. Jika butuh bantuan, aku ada di kamar sebelah."


Tiba-tiba mata Jason tertuju pada poster tak senonoh yang menempel pada dinding kamar. Lelaki itu langsung mengelupas gambar-gambar itu, kemudian membawanya ke luar kamar.


"Dasar bocah mesum ini! Bisa-bisanya mengumpulkan hal semacam ini! Menjijikkan sekali!" umpat Jason, kemudian membuang poster-poster itu ke tempat sampah.


Jam menunjukkan pukul 10:00 ketika Vio terbangun dari tidur. Perempuan itu menggeliat, lalu membuka mata perlahan. Sedetik, dua detik, dan di detik ketiga, barulah Vio menyadari kalau dia sedang ada di kamar orang lain. Vio terperanjat.


Vio mengecek kelengkapan pakaiannya. Embusan napas lega keluar dari bibir tipis perempuan itu. Pakaiannya masih utuh, dan tidak ada tanda-tanda pemaksaan.


"Aku ingin mandi, rasanya lengket sekali badanku." Vio beranjak dari ranjang, kemudian masuk ke kamar mandi.


Selesai membersihkan badan, dan berganti pakaian, Vio perlahan membuka pintu kamar. Perempuan itu mengeluarkan kepala, kemudian mengamati keadaan sekitar. Suasana apartemen itu masih sangat sepi.


"Halo ... ada orang?" panggil Vio untuk memastikan bahwa dia benar-benar sendirian di rumah itu.


"Aman!" Vio langsung keluar dari kamar menuju ke dapur.


Akhirnya Vio memutuskan untuk mengambil sebuah apel. Dia mengusapkan buah tersebut pada baju, kemudian menggigitnya. Selain itu, Vio juga mengambil sekotak susu dan menuangkannya pada gelas.


"Bukan seperti hunian laki-laki," gumam Vio ketika melihat apartemen itu terlihat sangat rapi dan bersih.


Belum lagi mengetahui bahwa lemari pendingin makanan penuh dengan buah dan sayuran. Hal ini tentu saja jarang dilakukan oleh lelaki pada umumnya. Bahkan dia yang perempuan pun, tidak pernah memperhatikan isi kulkasnya.


"Sepertinya Jason adalah lelaki yang baik."


Vio mulai berjalan ke arah ruang tengah. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika melirik meja makan. Perempuan itu mendekati meja tersebut, kemudian meraih secarik kertas yang diletakkan di bawah piring berisi roti isi.


"Makanlah, aku akan kembali di jam makan siang. Kita akan bicarakan semuanya ketika bertemu." Vio membaca dengan keras tulisan yang ada di dalam kertas tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memakannya. Tapi ... apa makanan ini benar-benar aman dikonsumsi?" Vio mengusap dagu seraya menyipitkan mata karena menaruh curiga pada makanan di depannya itu.


Suara usus yang hanya mencerna gas pun terdengar. Hal itu menyebabkan Vio tak lagi berpikir lebih lama. Dia langsung memasukkan potongan roti isi ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan.


"Wah, enak!" seru Vio antusias dengan mata membola.


Tanpa sadar, Vio telah memindahkan makanan yang ada di atas piring ke dalam perutnya. Setelah itu rasa kantuk mulai menyerang. Vio memilih untuk berbaring di sofa yang ada di depan tuang televisi. Dalam hitungan detik, perempuan itu mulai memejamkan mata dan tertidur pulas.


Ketika jam makan siang, Jason benar-benar pulang. Dia tersenyum tipis ketika melihat Vio sudah tertidur. Lelaki itu memutuskan untuk membuat ayam goreng renyah, kentang tumbuk, serta merebus kacang polong. Selain itu, Jason juga membuatkan salad buah untuk Vio.


Ketika makanan sudah siap, Jason memutuskan untuk segera membangunkan Vio. Dia melangkah mendekati perempuan yang masih terlelap itu. Sebelum membangunkan Vio, Jason menatap wajah cantiknya.


"Nasibmu buruk sekali, ya?" Jason mulai mengangkat lengan, berniat menyelipkan anak rambut Vio ke belakang telinga.


Akan tetapi, tiba-tiba Vio membuka mata. Perempuan itu diam sejenak seperti prosesor komputer yang tengah mengolah data. Sedetik kemudian, Vio berteriak histeris.


"Dasar mesum!" Vio melemparkan bantal ke arah Jaspn, hingga membuat lelaki itu kehilangan keseimbangan dan terduduk di atas karpet.


"Menjauh! Sana! Hush! Hush!" Vio mengibarkan telapak tangan agar Jason menjauh dari hadapannya.


"Okay, aku mundur! Aku hanya ingin membangunkanmu dan mengajak untuk makan siang!" Jason berusaha menenangkan Vio yang sepertinya trauma jika berdekatan dengan lelaki.


"Ayo, kita makan!" Jason melangkah lebih dulu ke meja makan.


Vio hanya mengamati lelaki itu dari kejauhan sambil memasang sikap waspada. Begitu Jason kembali melambaikan tangan, barulah Vio mau beranjak dari sofa dan melangkah ke arah meja makan. Perempuan itu menarik kursi, lalu mendaratkan bokong ke atasnya.


"Makanlah, setelah ini. Kita bicarakan semua. Aku akan coba banyu sebisanya agar kamu bisa keluar dati masalah yang sedang kau alami." Jason tersenyum tipis kemudian mulai menyantap hidangan makan siang sederhana yang dia buat sendiri itu.


Keduanya makan dalam keadaan diam. Hanya terdengar suara ayam keriuk yang tengah dikunyah oleh dua orang beda gender itu. Namun, Jason menghentikan aktivitasnya ketika mendengar isak tangis keluar dari bibir Vio.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


__ADS_2