Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 21. Memastikan Keadaan


__ADS_3

Setelah sampai di depan pintu pagar, kaki Vio seakan terpaku di atas jalanan. Dia mengamati rumah mewah milik orang tuanya dari depan gerbang. Semuanya terlihat masih sama, tidak ada yang berubah sedikit pun.


Hanya satu yang beda. Vio tidak lagi tinggal di sana. Perempuan itu sudah tidak bisa menikmati kemewahan yang diberikan oleh sang ayah.


Hidup terlunta-lunta dengan mengandalkan bantuan Jason. Memiliki pengalaman bekerja untuk pertama kali. Merasakan gaji yang dia bayarkan lagi kepada Jason untuk makan dan sewa kamar.


"Vio, kamu nggak masuk?" tanya Jason ketika mendapati Vio hanya mematung di depan gerbang.


"Jason, menurutmu ... apa aku masih diterima di rumah ini?" Vio menatap lurus ke arah rumah dengan dinding berwarna putih itu.


"Itu rumahmu. Tempat di mana kamu dibesarkan penuh cinta. Tempat di mana selama ini kamu berteduh dari hujan dan panas. Meski akhirnya kamu ditendang oleh orang yang berhak sementara atas rumah itu." Jason terkekeh.


Sebuah tatapan tajam pun kini dilemparkan Vio kepada laki-laki tersebut. Ketika dia tengah berbicara serius, justru lelaki di hadapannya tersebut melemparkan gurauan. Namun, berkat ucapan Jason, Vio bisa sedikit terhibur.


Vio pun memberanikah diri menekan tombol bel. Petugas keamanan rumahnya pun menghampiri. Lelaki berkepala botak itu terbelalak melihat kehadiran Vio.


"No-Nona!"


"Pak, bisa bukakan pintu untukku?" tanya Vio dengan suara lemah penuh harap.


"Maaf, Nona. Saya harus menghubungi nyonya besar lebih dulu. Anda masih tahu kenapa bisa keluar dari rumah ini, 'kan? Jadi, saya tidak bisa membuka pintu rumah sembarang untuk Anda, Nona."


"Baiklah kalau begitu. Tolong beri tahu mama kalau aku ingin bertemu dan memastikan sesuatu. Hanya sebentar saja, kok." Vio tersenyum tipis hampir tak terlihat.


"Baiklah, saya tanyakan kepada nyonya dulu."


Lelaki bernama Adam itu pun merogoh kantong kemeja untuk mengambil ponsel. Dia mulai menggulir layar benda pipih itu. Tak lama kemudian dia menempelkannya ke telinga.


Tatapan Adam tampak serius ketika menunggu panggilannya dijawab oleh Anna. Setelah Anna menjawab panggilannya, Adam memberitahu sang majikan bahwa putrinya datang. Setelah selesai berbincang, sambungan telepon pun berakhir.


"Nyonya akan segera pulang. Nona Muda bisa tunggu di dalam." Adam tersenyum tipis dan membuka lebar pintu pagar.

__ADS_1


Vio kembali masuk ke dalam mobil Jason, kemudian melaju masuk ke halaman rumahnya yang luas. Setelah itu, mereka masuk rumah dan menunggu di ruang tamu. Jason terkejut dengan kemewahan serta kecanggihan yang ada di rumah itu.


Hanya dengan tepukan tangan serta jentikan jari, alat elektronik yang ingin digunakan menyala otomatis. Lelaki itu berdecap kagum seraya menggeleng. Dia tidak menyangka bahwa orang tua Vio benar-benar kaya.


"Kupikir kamu hanya anak orang biasa seperti aku. Ternyata kamu benar-benar anak konglomerat."


"Apa aku tidak tampak seperti anak orang kaya?" tanya Vio seraya menyandarkan punggungnya pada dasbor sofa.


Beban janin yang dikandung oleh Vio semakin berat. Perempuan itu jadi mudah lelah dan sering merasakan pegal pada punggung serta pinggang. Mengusap lembut punggung Vio menjadi kebiasaan baru untuk Jason.


Seperti saat ini, ketika Jason menyaksikan perempuan itu memegangi pinggang, dia dengan sigap meminta Vio balik badan. Jason mulai mengusap lembut punggung Vio hingga sebatas pinggang. Ajaibnya, hanya dengan beberapa kali sentuhan saja, rasa pegal dan tak nyaman yang ibu hamil itu rasakan sirna.


"Terima kasih, Jason. Aku merasa jauh lebih baik sekarang." Vio tersenyum lembut kemudian meminta Jason menyudahi aktivitasnya.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang dengan membawa dua cangkir teh serta beberapa stoples makanan ringan. Dia juga membawakan beberapa buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong. Melihat semangkuk besar buah kesukaannya disajikan, tentu saja Vio langsung menyambar makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut.


Keduanya mengobrol banyak hal sambil menikmati camilan yang sudah disiapkan. Vio kembali teringat kebiasaannya ketika berada di rumah, dan menceritakan semua itu kepada Jason. Selain itu mereka bercerita banyak hal konyol serta saling melempar lelucon. Tanpa mereka sadari, Anna sudah datang.


Perempuan itu tersenyum tipis ketika melihat putri kesayangannya kembali. Dia melangkah cepat dan merentangkan tangan seraya memanggil nama Vio. Mendengar namanya disebut, tentu saja membuat Vio beranjak dari sofa dan melangkah cepat ke arah sang ibu.


"Baik, Ma. Sangat baik! Mama apa kabar?" tanya Vio balik.


"Ibu juga baik. Ayo, duduk!" ajak Anna.


Mereka pun berjalan seraya bergandengan tangan dan duduk di sofa yang sama. Begitu menyadari bahwa ada orang lain di antara mereka, Anna pun melirik Jason dan Vio secara bergantian.


"Siapa dia? Pacarmu?" tanya Anna sambil tersenyum penuh arti.


"Bukan!" sanggah Vio dan Jason bersamaan.


"Oh ... mungkin belum, ya?" Anna terkekeh karena melihat dua anak muda tersebut salah tingkah.

__ADS_1


"Ah, Mama ngomong apa, sih?" Vio menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan menunduk.


Tawa Anna pecah melihat sikap manis putrinya itu. Jason hanya bisa tersenyum simpul sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah berbasa-basi cukup lama, akhirnya Vio mencoba untuk menanyakan tentang keadaan sang ayah.


"Ma, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa, Sayang?"


"Mmm ... aku tadi bertemu dengan Bibi Margareth di acara pemakaman Michelle. Beliau mengatakan bahwa papa sedang dalam kondisi tidak baik. Apa itu benar?"


Anna tiba-tiba terdiam. Dia tampak memijat pangkal hidung kemudian menyandarkan punggung pada dasbor sofa. Anna mengembuskan napas kasar, lalu kembali menegakkan punggung.


"Iya, sesaat setelah kamu pergi, papamu mendapatkan kabar bahwa beberapa investor menarik sahamnya dari perusahaan. Mereka melakukan hal itu dikarenakan ada perusahaan lain yang menjanjikan pembagian keuntungan yang lebih besar."


"Lalu, kenapa media tidak mengendus bahwa kondisi papa sedang tidak baik? Apa Mama sengaja menyembunyikan hal ini dari media?"


"Iya."


"Kenapa, Ma?" Vio menyipitkan mata dengan rahang yang mulai mengeras.


"Itu ... agar pamanmu tidak mengambil alih perusahaan ini."


"Paman Albert?"


Anna mengangguk. Dia pun mulai menceritakan bahwa sebenarnya beberapa bulan terakhir kondisi perusahaan sedang kolaps secara mendadak. Tekanan demi tekanan membuat Jhonson mengabaikan makanan, vitamin, serta olah raga.


Sebenarnya Jhonson sering mengalami serangan jantung sejak Vio masih tinggal bersama mereka. Akan tetapi, Anna dan sang suami sepakat untuk menyembunyikan fakta tersebut dari Vio.


"Kita ini keluarga. Kenapa harus menyembunyikan semuanya dariku? Bukankah aku juga bagian dari keluarga ini?" Vio sedikit kecewa dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


"Saat itu, kamu sedang sibuk skripsi. Kami tidak ingin fokusmu terpecah karena harus memikirkan apa yang tidak menjadi tanggung jawabmu, Vio."

__ADS_1


Vio mengusap wajah kasar, kemudian menatap satu sang ibu yang sedang tertunduk lesu. Dia kini menatap sang ibu yang tengah tertunduk lesu.


"Ma, bolehkah aku menjenguk papa?"


__ADS_2