
"Apa Ibu pikir, hanya Ibu yang berkorban?" Mathew tersenyum kecut seraya menatap sang ibu yang sudah beranjak dari kursi.
"Apa Ibu lupa, telah menyeretku juga dalam rencana ini? Aku terpaksa meninggalkan Emily untuk mendekati Vio. Ketika aku mulai jatuh cinta kepadanya, Ibu kembali memintaku untuk meninggalkan Vio! Bahkan memintaku untuk melakukan hal kejam kepadanya!" Mata Mathew memerah karena teringat akan masa lalunya.
Anna terdiam. Egonya yang terlalu tinggi menutup hatinya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan perasaan putranya itu.
Anna memilih untuk pergi dari ruangan itu sambil menggenggam pendiriannya. Dia tidak peduli lagi dengan semua. Dendam serta harta sudah merasuki jiwa ibu dua anak itu.
Rasa kecewa kini bergelayut di hati Mathew. Dia beringsut dari ruangan itu, kemudian menuju ruang pelaporan. Dia pun akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri dan bersedia untuk diperiksa.
"Saya terlibat atas kasus bayi tabung ilegal yang dialami oleh Violetta, Pak!" ujar Mathew kepada polisi yang saat itu bertugas.
Brian, mengerutkan dahi ketika mendengar pengakuan Mathew. Dia pun segera mengetik semua kalimat yang diucapkan oleh putra dari Anna itu. Brian sampai menghela napas panjang ketika Mathew menceritakan semua kejadian yang telah dia alami selama ini.
"Jadi, kamu memanfaatkan Vio untuk balas dendam dan menghasilkan uang?"
"Iya, Pak. Saya menyewakan rahimnya kepada seorang dokter yang kebetulan membutuhkan rahim untuk disuntikkan embrio. Istri dokter itu tidak memiliki rahim."
"Siapa namanya?" tanya Brian.
"Dokter Matheo."
Brian terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa dokter kandungan terkenal di Missouri itu telah melakukan sebuah tindakan ilegal demi mendapatkan seorang anak.
"Saya memalsukan tanda tangan Vio, dan membawanya ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Di sana, kami dibantu oleh seorang dokter ahli untuk menyuntikkan embrio ke dalam rahim Vio. Tapi, dokter yang membantu kami tidak tahu menahu tentang pemalsuan tanda tangan itu. Dia hanya tahu kalau program bayi tabung itu sudah terdaftar secara legal di rumah sakit tempatnya bekerja." Mathew berusaha sebisa mungkin agar tidak ada orang lain yang terseret dalam kasus ini.
"Jadi, kamu dan dokter Matheo memasukkan embrio itu tanpa seizin Nyonya Vio?"
Mathew mengangguk lesu. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Kepalanya menunduk dalam.
__ADS_1
Mathew menyesali semua perbuatannya. Dia berharap dosa-dosanya akan terampuni karena sudah menyerahkan diri kepada kepolisian. Meski terlambat, dia masih berharap agar hukuman yang diterimanya tidak terlalu berat.
Tak lama berselang, Vio dan Jason datang ke kantor polisi. Dia sedikit terkejut ketika melihat Mathew sedang duduk di depan meja kerja Brian. Vio pun segera menghampiri Mathew dan menatapnya curiga.
"Untuk apa kamu ke sini? Apa kamu ingin berdalih atas apa yang sudah kamu perbuat? Harusnya saat ini kamu juga ikut mendekam bersama ibumu di penjara!" seru Vio dengan gigi yang terkatup rapat.
"Aku ke sini memang untuk itu, Vio." Mathew mengangkat kepala kemudian menatap sendu perempuan yang sebenarnya masih sangat dia cintai itu.
"Aku ke sini untuk menyerahkan diri. Maaf, karena sudah membuat hidupmu berantakan." Mathew tertunduk penuh penyesalan.
"Maaf? Semoga saja Tuhan dan hukum di negara ini memaafkanmu. Tapi, aku tidak akan memaafkanmu selama napasku masih berembus!"
Mathew hanya bisa tertunduk lesu. Semua yang dikatakan Vio benar. Jika dia ada di posisi perempuan itu, pasti akan sulit memaafkan perbuatannya.
Akhirnya Brian meminta petugas lain untuk membawa Mathew ke sel tahanan. Vio pun menggantikan posisi Mathew. Kini dia duduk di depan meja kerja Brian. Vio pun mulai mengungkap semua yang telah dia alami selama ini.
Setelah proses investigasi yang dilakukan selama 3 bulan, akhirnya pengadilan Missouri mengadakan sidang untuk kasus yang dialami keluarga Tuan Smith. Semua orang yang terlibat ikut hadir.
Bahkan Jason juga diminta datang sebagai saksi. Lelaki itu pun juga terlibat dengan kasus kehamilan mendadak Vio. Dia bahkan sudah siap jika statusnya yang awalnya hanya saksi berubah menjadi terdakwa.
Proses peradilan berlangsung begitu alot. Terlebih ketika saksi ahli dihadirkan. Semua pernyataannya membuat Vio geram.
"Nyonya Anna Swan mengalami depresi berat, Yang Mulia. Beliau mengonsumsi obat penenang dalam jangka waktu lama. Saya rasa, dua membutuhkan penanganan mental khusus daripada harus mendekam di sel tahanan."
"Keberatan Yang Mulia!" teriak jaksa penuntut umum.
"Nyonya Anna melakukan semua rencana itu dalam keadaan sadar! Meski terdakwa mengonsumsi obat penenang, semuanya dia lakukan dalam keadaan sadar! Saya tidak setuju jika beliau hanya mendapatkan perawatan mental tanpa menjalani hukuman di dalam sel!"
"Semuanya tenang!" seru hakim ketua.
__ADS_1
Setelah persidangan itu berjalan alot, akhirnya pengadilan memutuskan hukuman berat bagi Anna dan Matheo. Anna dijatuhi hukuman seumur hidup, sedangkan Matheo lima tahun penjara untuk kasus pemalsuan tanda tangan.
Mathew mendapatkan pembebasan bersyarat, karena dianggap sangat kooperatif selama proses penyidikan berlangsung. Vio pun bisa bernapas lega. Dia tidak memedulikan Mathew yang terbebas dari hukuman.
Vio menganggap setiap keputusan yang diberikan oleh hakim, adalah sesuatu yang memang pantas untuk para terdakwa. Akhirnya Vio memilih untuk berdamai dengan hatinya. Dia tidak ingin terbebani dengan dendam.
"Vio!" panggil Mathew sambil setengah berlari ke arah sang mantan kekasih sekaligus aduk tirinya.
Vio dan Jason sontak menoleh, kemudian menghentikan langkah. Mereka berdua menatap datang Mathew yang kini sedang berusaha mengatur napas. Setelah napasnya dirasa membaik, Mathew mengulurkan tangan.
Vio menatapnya sekilas. Perempuan itu melirik sang suami, kemudian menyambut uluran tangan Mathew ketika mendapat persetujuan dari Jason. Sebuah senyum lebar terukir di bibir Mathew.
"Vio, maafkan aku. Aku sudah berbuat banyak hal buruk kepadamu. Aku harap setelah ini kita bisa berhubungan baik lagi sebagai saudara."
Mendengar ucapan Mathew, tentu saja membuat Vio langsung menarik tangannya. Dia melipat kedua lengan di depan dada. Sebuah tatapan sinis pun dia lemparkan kepada Mathew.
"Hubungan keluarga, ya? Aku rasa aku tidak akan pernah bisa menganggapku kakak tiri sekali pun sejujurnya aku muak dengan semua drama yang sudah kamu lakukan selama ini." Vio tersenyum miring seraya membuang mukanya sekilas.
Sedetik kemudian, Vio kembali menatap Mathew. Dia tersenyum tipis seraya mendorong dada kiri lelaki itu dengan ujung jari telunjuk. Mathew mundur satu langkah, kemudian tertunduk lesu.
"Aku sudah memaafkanmu, jadi jangan terlalu dipikirkan. Tapi, aku todak akan pernah melupakan semua perbuatan buruk yang telah kalian lakukan! Jika aku terus menyimpan dendam, akan tidak baik untuk kesehatan mentalku aku tidak ingin menjadi seperti kamu dan ibumu!"
"Lalu, Jason? Kenapa kamu tidak membencinya? Dia terlibat juga dengan ini semua!"
"Jason?" Vio menatap sekilas sang suami, kemudian kembali menatap tak suka kepada Mathew.
"Suamiku ini memang terlibat. Tetapi, selama ini dia selalu berusaha melindungiku! Dia selalu menjagaku, selama kehamilan dan sampai saat ini dia selalu menemaniku! Kamu tidak pantas dibandingkan dengannya! Kamu hanya memanfaatkanku untuk balas dendam! Tidak ada rasa cinta yang tulus, seperti yang diberikan Jason untukku!" Vio pun balik badan dan meninggalkan Mathew yang kini mematung di atas lantai.
"Kamu salah, Vio. Aku sebenarnya juga sangat mencintaimu dengan tulus. Hanya saja, keadaan harus membuatku melupakan semua itu meski sulit." Mathew terus menatap punggung Vio yang semakin menjauh.
__ADS_1