
Semua tampak sempurna di mata Vio. Kehidupannya benar-benar penuh warna sekarang. Cinta yang besar dari sang suami serta senyum lucu Javier sanggup membuat semuanya terasa baik-baik saja.
Kehidupan sederhana, tetapi berkecukupan di Milan sudah cukup bagi Vio. Jason memang tidak memberikannya banyak fasilitas mewah. Namun, lelaki itu memenuhi semua keinginan Vio dengan memberikan semua yang terbaik.
Ya, segala sesuatu yang terbaik bukan berarti mewah. Hal-hal kecil dan sederhana sudah cukup membuat Vio bahagia. Perempuan itu pun sekarang mulai menggunakan keahliannya untuk berkarya.
"Hai semuanya, kali ini saya Vio ... akan berbagi sedikit tip dan trik untuk kalian yang memiliki kamar kecil tapi ingin terlihat luas dan lega." Kira-kira seperti itulah kalimat pembuka yang diucapkan Vio.
Satu bulan terakhir ini, Vio membuat kanal Youtube yang digunakan untuk berbagi tip mengenai desain interior. Dari sana, Vio juga mendapat beberapa pekerjaan untuk merancang desain interior kamar, ruang kerja, toko, dan banyak lagi.
Terdengar ketukan pintu, sehingga membuat Vio harus menjeda rekaman videonya. Tak lama kemudian Jason masuk dengan Javier yang sudah terlelap di dalam gendongannya. Jason tersenyum lembut ke arah Vio, lalu berjalan menuju ranjang untuk menidurkan sang putra.
"Maaf, mengganggu pekerjaanmu." Jason menepuk pelan bokong bayi yang kini menginjak usia dua bulan itu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sepertinya aku sudah terlalu lama berada di depan laptop." Vio pun mengakhiri rekamannya, kemudian menutup laptop tersebut.
"Nanti malam aku berencana untuk mengajakmu dan Javier makan di restoran Jepang. Bukankah kamu sudah lama ingin makan sashimi?"
"Benarkah?" Mata Vio berbinar.
Perempuan itu pun menghambur ke pelukan Jason, lalu menghujani sang suami dengan banyak ciuman. Jason pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia berniat untuk berbuka puasa setelah dua bulan lebih menahan hasrat.
Ketika Vio hendak menghentikan ciumannya, Jason pun membanting pelan tubuh sang istri hingga posisi keduanya berbalik. Kini Vio berada di bawah kungkungan Jason.
"Sayang, bolehkah aku ...." Ucapan Jason menggantung di udara karena lelaki itu tidak yakin dengan apa yang akan keluar dari bibirnya.
"Apa kamu sudah tidak bisa menahannya lagi, Jason?" terka Vio dengan suara serak.
__ADS_1
"Ah, itu ...." Jason menghentikan ucapannya.
Mungkin saja trauma pasca kelahiran masih dirasakan oleh Vio. Akhirnya Jason kembali mengurungkan niatnya. Lelaki itu berguling di samping tubuh Vio, kemudian memberikan pelukan penuh cinta kepada sang istri.
"Jika kamu belum siap, aku akan menahannya sedikit lebih lama. Aku rasa tidak masalah." Jason memainkan anak rambut Vio kemudian menyelipkannya ke belakang telinga.
"Bisakah kamu melakukannya dengan hati-hati? Aku takut jahitannya robek." Vio terkekeh karena teringat banyaknya jahitan yang harus dia terima setelah melahirkan Javier.
Vio tidak bisa menahan rasa sakit kala itu, sehingga selalu bergerak tak tentu arah dan mengabaikan instruksi yang diberikan dokter. Hal itu tentu saja menyebabkan robekan yang cukup memprihatinkan pada jalan lahirnya.
"Aku tidak akan memaksamu jika memang belum siap, Sayang." Jason mengecup puncak kepala sang istri penuh kasih.
"Jika aku terus berkubang dengan rasa trauma akan jahitan itu, bagaimana suamiku nanti? Bisa-bisa dia mencari perempuan lain untuk melampiaskan hasratnya?" Vio terkekeh.
Jemari Vio mulai nakal dengan menyentuh lembut dada bidang sang suami yang masih terbalut oleh kaos tipis. Bulu kuduk Jason pun mulai berdiri karena sentuhan yang sudah lama dia rindukan itu.
Siang itu pun keduanya memadu kasih. Melepaskan semua gejolak yang telah tertahan cukup lama. Ketika permainan panas itu berakhir, Jason mengucapkan puluhan kata terima kasih kepada Vio.
Sesuai janjinya, malam itu Jason mengajak Vio dan Javier makan di sebuah restoran Jepang. Air liur Vio seakan membanjiri kerongkongannya. Beraneka menu kesukaannya kini tersaji rapi di atas meja.
"Apa aku boleh memakan semuanya, Sayang?" tanya Vio dengan mata yang tak lepas dari beraneka menu di depannya.
"Tentu saja, Sayang. Makan semua yang mau kamu makan."
"Tapi, bagaimana jika berat badanku bertambah?" tanya Vio dengan bahu merosot.
"Aku tidak peduli dengan berat badanmu yang bertambah. Jika berat badan menjadi masalah, bukankah aku tidak akan mendekatimu ketika duli sedang mengandung Javier?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Jason, justru membuat Vio mengerucutkan bibirnya. Jason yang melihat Vio sedang dalam mode merajuk pun terkekeh. Lelaki itu pun mengacak rambut Vio kasar.
"Ayo, cepat makan! Bukankah kamu juga suka udon? Nanti keburu dingin!" Jason segera menyodorkan sepasang sumpit agar Vio makan, sementara dia sibuk memangku Javier yang kini sudah terlelap.
Vio pun segera menyantap Udon yang ada di hadapannya. Jason hanya menatapnya dengan senyum lebar. Membuat Vio bahagia sangat mudah. Perempuan itu sangat suka makan. Jadi, asal perut Vio kenyang pasti senyumnya akan merekah dan hatinya berbunga-bunga sepanjang hari.
Setelah selesai makan, Jason mengajak Vio berbelanja beberapa keperluan Javier. Selain itu, Jason juga ingin membelikan hadiah ulang tahun untuk Vio. Pekan depan sang istri berulang tahun dan Jason ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan Vio di hari ulang tahunnya nanti.
"Pakaian bayi memang selalu membuatku bingung. Pakaian anak jaman sekarang semakin bermacam-macam." Vio menatap pakaian bayi yang dipajang pada rak.
"Ini baru pakaian bayi laki-laki, coba lihat di bagian sana!" Jason menunjuk deretan pakaian bayi perempuan dengan dagunya.
Sontak Vio menoleh mengikuti arah pandang Jason. Sedetik kemudian, mata perempuan itu melebar. Vio seakan terhipnotis sehingga berjalan ke arah kumpulan pakaian bayi perempuan.
"Benar-benar lucu! Akkk jadi ingin beli satu!"
"Yakin, cuma satu?" Jason tersenyum miring seraya mendekatkan bibir ke telinga sang istri.
"Untuk apa beli, kalau bayinya belum ada?" bisik Jason dan sebuah senyum jahil kini terukir di bibir Jason.
Sontak Vio langsung mencubit lengan sang suami. Jason semakin tertawa melihat sikap istri cantiknya itu. Vio selalu bisa membuat Jason tertawa dan melupakan semua beban hidupnya.
Vio adalah sumber kebahagiaan bagi Jason, begitu juga dengan sebaliknya. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Vio si manja dan Jason yang paling bisa diandalkan. Kehidupan keduanya merupakan impian banyak pasangan lain.
Ketika mereka sedang sibuk bergurau, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Jason. Lelaki itu mengerutkan dahi, karena salah satu anak buahnya yang menelepon.
"Ada apa?"
__ADS_1
Jason mendengarkan semua penjelasan bawahannya itu dengan saksama. Rasanya kepala lelaki itu ingin meledak seketika. Akan tetapi, Jason mencoba untuk memendam emosi.
Vio yang menyadari perubahan ekspresi Jason pun mendekati sang suami. Setelah sambungan telepon terputus, Vio segera menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar semuanya, Vio kehilangan tempatnya berpijak. Dia tersungkur di atas lantai.