Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 38. Javier, Kamu di Mana?


__ADS_3

Setelah Vio mengamati selama tiga hari, ternyata Matheo memegang janjinya. Dia sama sekali tidak pernah datang ke sekolah Javier. Akhirnya, hari ini Vio memutuskan untuk membiarkan Javier pergi dan pulang sekolah dengan fasilitas bus.


Tidak ada rasa khawatir hari itu karena Vio merasa semua akan baik-baik saja. Dia mengantar Javier ke depan rumah. Menunggu bus sekolah menjauh seraya melambaikan tangan.


Setelah bus menghilang dari pandangan, Vio kembali masuk ke rumah. Dia mulai mengerjakan beberapa pesanan desain interior dan sesekali membuat video untuk kanal Youtube. Semua terlihat baik-baik saja, sampai sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Halo, Nyonya Black. Kami mohon maaf ...."


Kalimat yang diucapkan oleh kepala sekolah JavierĀ  sontak membuat kaki Vio lemas. Ponsel perempuan itu pun jatuh ke atas lantai dan terpisah menjadi beberapa bagian. Vio yang kalut lemah seketika.


Dunia Vio seakan runtuh. Dia tidak lagi memperhatikan sekitar. Air mata mulai turun membasahi pipi ibu dari Javier tersebut. Sebuah teriakan keras dari Vio pun membuat Marry berlari ke ruang kerja sang majikan.


"Nyonya, Anda kenapa?" tanya Marry sambil mengguncang tubuh Vio.


"Javier ... Javier tidak ada di mana pun di sekolahnya! Kamu ada di mana, Javy!" teriak Vio di antara tangisnya.


Marry yang terkejut dengan penuturan sang majikan pun langsung mengabarkan hal itu kepada Jason. Dia mengatakan semuanya kepada lelaki itu. Tak lama berselang Jason pun pulang ke rumah dengan wajah yang tak kalah panik.


"Bagaimana bisa?"


"A-aku juga tidak tahu, Jason. Tadi kepala sekolah Javier mengatakan ketika jam istirahat dia pergi sendiri ke belakang kelas. Saat bel masuk berbunyi dia tidak ada!" Vio mencoba menjelaskan semua dengan suara terbata-bata.


"Ayo kita temui Bu Adele!"


Jason pun langsung mengendarai mobil bersama dengan sang istri untuk menemui Adele, kepala sekolah Javier. Sesampainya di ruang kepala sekolah, Javier yang marah pun menggebrak meja. Dia tidak terima dengan sistem keamanan pihak sekolah.

__ADS_1


"Cek semua CCTV!" perintah Jason kepada sang kepala sekolah.


Adele tampak membetulkan letak kacamatanya. Dia menelan ludah kasar sebelum menjawab perintah dari Jason. Perempuan berusia 55 tahun itu berusaha setenang mungkin ketika menghadapi Jason yang kini menggebu-gebu.


"Kami minta maaf sebelumnya, Tuan Black. Kamera pengintai di bagian belakang kelas Javier sedang dalam perbaikan. Jadi ...."


Ucapan Adele terpotong, karena dia terperanjat saat Jason menggebrak meja kerjanya. Kini Adele menatap Jason ketakutan. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena tidak tahu harus berkilah seperti apa lagi kepada lelaki itu.


"Aku akan melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib! Kalian menarik iuran besar untuk para wali murid, tapi CCTV saja sampai rusak tidak segera diganti!" teriak Jason penuh amarah.


"Ka-kami akan memberi kompensasi atas kasus ini. Kami akan mengerahkan semua petugas keamanan di sekolah ini untuk membantu pencarian Javier, Tuan. Jadi ...."


Kali ini Jason bukan hanya menggebrak meja kerja Adele. Dia sampai menggulingkan meja kerja berukuran sedang itu, hingga semua buku dan benda yang ada di atasnya berserakan ke atas lantai. Melihat hal itu, Vio mencoba menenangkan Jason.


"Sudahlah, Sayang. Ayo kita cepat cari Javier." Vio memeluk tubuh sang suami seraya menangis tersedu-sedu.


"Lagi pula aku tidak yakin dengan tenaga keamanan sekolahan ini! Menjaga satu bocah kecil saja kalian tidak becus! Aku akan menuntut sekolah ini karena sudah teledor dalam mengawasi murid yang masih ada di dalam lingkungan sekolah!" seru Jason.


Vio pun akhirnya menarik lengan sang suami dan keluar dari ruangan itu. Mereka kembali ke mobil dan segera melajukannya menuju ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan Vio hanya bisa menangis.


Vio merasa lemah sekarang. Kekuatan perempuan itu seakan menguap ke udara karena kehilangan putra kesayangannya. Sampai akhirnya dia teringat akan sesuatu.


"Apa mungkin ini ulah Matheo?" Vio menghapus air mata kemudian menatap takut kepada Jason yang masih tampak marah.


Jason mengerutkan dahi setelah mendengar penuturan sang istri. Vio memang todak pernah menceritakan bahwa paman yang sering memberi makanan serta mainan kepada Javier adalah Matheo. Dia berpikir bahwa setelah Matheo tidak menemui Javier sudah tidak akan terjadi masalah seperti ini.

__ADS_1


Barulah sekarang Vio mengungkapkan semua. Menceritakan bahwa Matheo sering menemui Javier di sekolahnya. Bahkan Vio yang sempat bersitegang dengannya di hari terakhir Theo terlihat.


"Kenapa kamu tidak menceritakannya kepadaku, Vio!" Jason menatap tajam ke arah sang istri.


Vio yang merasa bersalah pun akhirnya tertunduk lesu. Dia meremas jaket tipis yang membalut tubuhnya. Melihat Jason tampak marah membuat Vio takut.


Hari ini Vio melihat emosi sang suami begitu meledak-ledak. Selama hidup bersama, dia mengenal Jason adalah lelaki yang sangat sabar. Kali ini dia benar-benar melihat sisi lain dari sang suami.


Namun, dari kejadian ini Vio yakin bahwa kasih sayang Jason kepada Javier benar-benar tulus. Layaknya seorang ayah kandung yang menyayangi putranya sepenuh hati. Tanpa aba-aba Jason langsung memutar roda kemudi untuk berbalik arah.


"Kita temui Matheo sekarang juga!"


Jason tidak memikirkan lagi teriakan pengguna jalan lain. Suara klakson mobil bersahutan untuk mengingatkan Jason tang mengendarai mobil secara sembarangan. Vio pun tampak tegang menatap jalanan karena sang suami mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.


Waktu tempuh menuju rumah Matheo pun dapat dijangkau secepat angin. Begitu sampai di depan gerbang rumah mantan dokter itu, Jason langsung memencet berulang kali. Dia sampai mengguncang pintu pagar agar kegaduhan yang dibuatnya dapat memancing sang pemilik rumah untuk keluar.


Akan tetapi, usaha Jason tak ada hasil. Akhirnya dia memanjat pagar besi itu untuk masuk ke halaman rumah. Jason langsung menggedor pintu rumah, bahkan sesekali menendangnya.


"Keluar, Matheo! Keluar b*jingan! Di mana kamu sembunyikan putraku!" teriak Jason layaknya orang kesetanan.


Sementara di liar pagar rumah, Vio sedang mengamati apa yang sedang dilakukan Jason. Tak lama berselang sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Matheo. Begitu pintu dibuka, Vio langsung menghampiri Matheo.


"Di mana kamu sembunyikan putraku?" tanya Vio dengan gigi terkatup.


Matheo mengabaikan Vio. Dia langsung membuka pintu pagar, disusul Jason yang langsung berlari ke arah mantan dokter tersebut. Jason pun langsung menghajar Matheo tanpa ampun.

__ADS_1


Theo sampai tidak memiliki kesempatan membalas setiap pukulan yang dilayangkan oleh Jason kepadanya. Pukulan brutal itu berhenti ketika suara yang sangat dia kenal melarangnya untuk memukul Matheo. Pandangan Jason dan Vio pun langsung tertuju ke arah sumber suara.


__ADS_2