
"Kamu sudah mendapatkan banyak uang dariku, menjaga satu perempuan hamil saja tak bisa?" Suara lelaki di ujung telepon membuat Jason mengusap wajah kasar.
"Maaf, Pak. Saya ...." Belum sempat menjawab, ucapan Jason sudah dipotong oleh orang yang telah meneleponnya.
"Jangan sampai hal ini terulang lagi! Meski dia ada di pihak yang salah, kamu harus menutup mata! Kalau sampai dia dan bayinya kenapa-napa, aku akan langsung menghancurkan kafemu yang hampir bangkrut itu!"
Panggilan telepon pun berhenti. Jason menatap tajam ke arah ponselnya. Lelaki itu sebenarnya ingin sekali membanting benda pipih tersebut.
Akan tetapi, Jason mengurungkan kembali niatnya. Jika sampai ponselnya rusak, artinya dia harus membeli yang baru. Kondisinya saat ini membuat lelaki tersebut harus berhati-hati dengan pengeluaran. Jika tidak, maka kehidupannya akan hancur.
Di rumah Theo, Irene yang masih tampak marah sedang duduk memunggungi sang suami di ruang tamu. Kehadiran Vio benar-benar membuat hati perempuan itu panas. Apa yang sedang dialami Vio sekarang, merupakan keinginannya sejak lama.
"Hei, dengarkan aku, Sayang." Theo berusaha membujuk sang istri agar berhenti merajuk.
"Dengarkan apa lagi? Kamu selalu menceritakan semua kehamilan para pasienmu kepadaku! Hal itu membuatku muak dan tertekan! Terlebih sejak kamu menangani perempuan ini! Hampir setiap hari kamu menceritakan perkembangan janinnya kepadaku!" Irene menatap Violetta sinis dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Jika kamu benar-benar mencintaiku, harusnya kamu tidak membawa semua cerita pasienmu yang sedang mengandung itu ke rumah! Bahkan malam ini kamu membawa dia ke rumah! Maksudmu apa, Theo?" Kini tatapan Irene beralih pada sang suami.
"Maaf, tadi dia sedang terlihat kesulitan di tengah jalan. Jadi, aku mencoba untuk membantunya. Ayolah, biarkan dia menginap di sini semalam saja," bujuk Theo.
"Nggak! Antarkan dia pulang ke rumahnya! Aku tidak sudi mengizinkan wanita lain tinggal satu atap denganku!" seru Irene kemudian beranjak pergi dari ruang tamu.
"Irene! Tunggu, Sayang!" Matheo berusaha mencegah sang istri pergi, tetapi Vio mencegahnya.
"Benar, Dok. Antarkan saja aku pulang. Aku hanya cukup menekan gengsi dan egoku untuk masuk serta memohon kepada Jason agar menerimaku di apartemennya." Vio tersenyum kecut.
Keadaan benar-benar memaksa Vio bersikap layaknya pengemis. Dia seperti kambing hitam bagi kejahatan teman kerjanya. Setelah hari ini, dia akan lebih waspada terhadap orang asing yang bersikap baik.
Vio takut mereka berbaik hati hanya untuk menjebak dan menghancurkannya. Seperti yang dilakukan Evan hari ini. Vio masih tak habis pikir kenapa lelaki itu tega menjebaknya di hari mereka pertama kali bertemu.
"Kalau begitu aku antarkan pulang, ya? Aku minta maaf sekali lagi atas sikap Irene."
"Aku sangat mengerti sekali bagaimana perasaannya, Dok," sahut Vio.
__ADS_1
"Dia harus mendengar suaminya yang selalu menceritakan kisah kehamilan para pasien setiap waktu. Aku juga sangat mengerti perasaanmu, Dok. Pasti berat rasanya. Setiap hari berhadapan dengan perempuan hamil, padahal Anda sedang berjuang untuk kehadiran buah hati."
"Terima kasih atas perhatiannya. Ayo, aku anatar pulang sekarang!"
Mereka berdua pun keluar rumah dan langsung meninggalkan kediaman Matheo. Dari balik jendela kamar, Iris menatap tak suka mobil yang perlahan menjauh dari pandangannya. Rahangnya mengeras kuat dengan mata yang menatap tak suka ke arah kendaraan sang suami.
"Seharusnya aku yang mengandung bayi itu! Bukan kamu!"
***
Jam menunjukkan pukul 23:30 ketika Vio sampai di depan apartemen Jason. Dia turun dari mobil kemudian berpamitan kepada Matheo. Vio baru masuk ke gedung apartemen itu setelah Theo menghilang dari pandangannya.
Vio terlihat berpikir ketika pintu lift mulai terbuka. Dia ragu, apakah harus keluar dari sana dan mengetuk pintu apartemen, atau justru membiarkan lift kembali tertutup. Akhirnya, dalam hitungan detik Vio memutuskan untuk benar-benar menekan egonya.
Suara langkah kaki Vio menggema di lorong apartemen yang sudah sunyi. Ketika sudah berada di ujung lorong, dia menghentikan langkah. Perempuan itu menatap pintu di hadapannya, kemudian menekan bel.
"Semoga kamu masih mau mengizinkanku untuk tinggal sementara waktu di sini, Jason."
Vio kembali menekan bel karena tidak ada jawaban. Hatinya terasa begitu nyeri karena Jason mengabaikannya. Air mata peremouan itu mulai merebak.
Perempuan itu berjongkok kemudian menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Dia mulai menangis sesenggukan. Bahkan setiap detik, tangisnya bertambah kencang.
"Kamu tega sekali, Jason! Membiarkan wanita hamil ini terlantung-lantung di jalanan!"
Vio kembali berdiri. Dia menatap pintu yang masih tertutup rapat. Jemari perempuan itu kembali mengepal dan menggedor pintu agar Jason mau membuka apartemen untuknya.
"Aku akan menggedor pintu ini sampai jebol kalau perlu! Ayo Jason! Buka pintunya! Atau akan kudobrak pintu ini!" teriak Vio frustrasi.
"Kamu kenapa?"
Suara Jason membuat Vio berhenti berteriak. Sontak Vio menoleh ke belakang. Jason sedang membawa belanjaan seraya menatapnya kebingungan.
"Hey, Vio. Kamu kenapa?" tanya Jason sekali lagi.
__ADS_1
"Kamu jahat!" seru Vio kemudian menangis histeris.
Perempuan itu menangis sesenggukan sehingga membuat Jason panik. Dia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian ini. Setelah itu, Jason langsung membuka pintu apartemen dan menarik lengan Vio.
Setelah meletakkan belanjaan di meja dapur, Jason mengambil satu botol air mineral dan menyerahkannya kepada Vio. Perempuan itu meneguknya perlahan. Setelah Vio terlihat sedikit tenang, Jason mulai membuka pembicaraan.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
"Kenapa, kenapa! Kamu itu terlihat tenang sekali! Ketika aku keluar dari kafe, sebenarnya aku ingin sekali kamu mengejarku! Melarangku agar tidak pergi dari sana!" Vio mulai mengungkapkan kekecewaannya.
"Bahkan kamu terlihat santai dan malah berbelanja sesuka hati, tanpa mau mencariku!" seru Vio di antara sisa isak tangis.
"Hei, maaf. Aku pikir kamu akan baik-baik saja dan pasti pulang karena tidak tahu harus ke mana." Jason justru tersenyum konyol dan membuat Vio kembali bercucuran air mata.
"Kamu memang jahat, Jason!"
Jason terkekeh melihat Vio yang sedang merajuk. Dia akhirnya memeluk tubuh Vio dan menepuk pelan punggungnya. Perempuan cantik itu pun menangis sampai puas di dalam pelukan Jason.
Tak lama berselang suara perut Vio terdengar. Rasa melilit mulai dirasakan oleh ibu hamil itu karena terakhir dia makan adalah sore hari ketika jam istirahat. Jason langsung melepaskan pelukannya, lalu menggenggam lengan atas Vio.
"Kamu lapar?" tanya Jason seraya menundukkan kepala untuk melihat wajah Vio.
"Menurutmu?" Vio masih mencebikkan bibir.
"Mau makan apa?"
"Pai apel dan susu," jawab Vio singkat di antara sisa isak tangis.
"Apa kamu bisa tidur lelap dengan hanya memakan sepotong pai?"
"Siapa bilang aku hanya memakannya sepotong!" Vio membuang muka seraya melipat lengan di depan dada.
"Baiklah, tunggu di sini sebentar. Aku akan membuatkannya untukmu." Jason tersenyum tipis, kemudian melangkah ke dapur.
__ADS_1
Kebetulan hari itu Jason memiliki stok kulit pai. Dia tinggal membuat isiannya, dan memanggangnya ke dalam microwave. Jadi, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk membuat makanan itu.
Sambil menunggu Pai matang, Jason mendekati Vio untuk mengajaknya mengobrol. Akan tetapi, sebuah senyum konyol terukir di bibir Jason ketika mendapati calon lawan bicaranya itu sudah meringkuk di atas sofa dengan mata terpejam.