Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 7. Sengsara


__ADS_3

Vio terus memejamkan mata. Perempuan itu sedang menyiapkan diri untuk menghadapi keras dan tajamnya ujung anak tangga yang pasti mampu membuat kulitnya sobek. Akan tetapi, setelah menunggu beberapa detik, Vio merasa tubuhnya berhenti bergerak.


"Apa Tuhan menghentikan waktu? Apa Tuhan benar-benar memberikanku kesempatan? Jika memang begitu, aku berjanji akan menerima bayi ini dan merawatnya penuh cinta, Tuhan," gumam Vio dengan suara lirih.


Sesaat kemudian, Vio merasa lehernya sedikit tercekik. Ternyata kancing atas kemejanya kini menekan leher, sehingga membuat pernapasannya terganggu. Vio pun terbatuk-batuk.


"Harusnya kamu berterima kasih kepadaku. Sepertinya Tuhan mengirimkan aku sebagai penyelamatmu." Jemari Jason kini sedang menggenggam kerah kemeja Vio bagian belakang.


Jason bergegas menarik Vio, sehingga tubuh perempuan itu kembali berdiri tegak. Setelah berhasil mengatur napas, Vio melipat lengan di depan dada seraya menatap tajam lelaki di hadapannya itu.


"Tidak usah mengucapkan terima kasih. Aku hanya melakukan apa yang aku lakukan saja," ucap Jason jemawa.


Hal itu tentu saja membuat Vio terkekeh. Perempuan itu benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan lelaki dengan tingkat kepercayaan diri tinggi itu.


"Awalnya aku berniat mengucapkannya. Tapi, setelah melihat sikap menyebalkanmu itu, aku memutuskan untuk tidak mengucapkan terima kasih!" Vio balik kanan kemudian melangkah menjauhi Jason.


"Hei, jangan lupa janjimu kepada Tuhan untuk merawat bayi itu dengan baik!" teriak Jason.


Jason kembali terkekeh melihat tingkah sombong Vio. Lelaki itu mulai tertarik dengan perempuan yang kini tengah mengandung bayi misterius itu.


Sementara Jason masih mematung di lantai atas, Vio bergegas kembali ke depan apartemen Mathew untuk mengambil kembali kopernya. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, Vio menatap tajam pintu unit apartemen Mathew yang masih tertutup.


"Kalian pasangan yang sangat serasi! Sama-sama busuk!" Vio meludah di depan pintu kemudian melangkah keluar dari apartemen.


Kaki Vio berjalan terus tanpa arah. Dia berusaha mendatangi beberapa kerabat serta kenalan sang ayah. Namun anehnya, mereka semua enggan membukakan pintu untuk Vio.


Hingga tengah malam, Vio masih ada di jalanan. Gang sempit yang sepi dengan genang air hujan, dia tapaki dengan hati-hati. Takut air kotor itu terpercik sehingga membasahi baju.


"Astaga, aku capek, haus, lapar." Vio memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kecil yang ada di salah satu sudut gang tersebut.


Temaram lampu bohlam satu-satunya sumber cahaya di sana. Aroma busuk dari sampah sisa makanan berhasil membuat perut Vio kembali bergejolak. Perempuan itu pun langsung memuntahkan isi perutnya.


Tidak ada apa pun yang keluar. Hanya ada cairan bening dengan rasa yang sangat pahit. Detik itu juga, Vio baru menyadari kalau dia belum makan atau pun minum seharian ini.

__ADS_1


Kepala Vio terasa berputar. Pandangannya mulai kabur. Tubuh perempuan itu akhirnya tumbang dan tergeletak lemas di atas jalanan becek gang sempit dan gelap tersebut.


...****************...


"Hei, bangun! Kamu nggak pa-pa?"


Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan tato singa pada lengannya menepuk pelan pipi Vio. Perempuan itu mulai menggeliat. Ketika membuka mata, sontak pupilnya melebar.


Vio sekarang sudah ada di sebuah ruangan dengan banyak poster perempuan seksi yang menempel pada dinding. Lampu ruangan itu temaram, tidak terlalu terang. Aroma alkohol tercium jelas oleh Vio.


"Aku ada di mana?" seru Vio seraya menyilangkan lengan di depan dada.


"Jangan takut, Baby. Kamu sudah berada di tangan orang yang tepat. Mari puaskan aku malam ini, kita akan bersenang-senang, Sayang!" Lelaki itu membuka kaos, hingga terlihat otot dada yang tampak sering dilatih.


Tatapan lelaki dengan rambut yang menumbuhi area wajahnya itu terlihat layaknya singa yang sedang kelaparan. Perlahan dia mendekati Vio dan menghujani perempuan itu dengan kecupan.


"Lepaskan aku dasar bajingan!" Vio terus meronta, memukul dada lelaki yang kini berada di atas tubuhnya itu.


Sang mantan kekasih itu selalu memperlakukannya dengan lembut ketika sedang beradu bibir. Tidak ada pemaksaan seperti yang dia alami sekarang. Bulir air mata perlahan turun membasahi pipi Vio.


Dada perempuan yang sedang mengandung itu terasa begitu sesak. Usahanya untuk membuat lelaki asing itu menghentikan aksinya tak ada arti. Sampai akhirnya rasa mual kembali menyerang.


"Minggir, aku mau muntah!" seru Vio.


"Jangan banyak alasan!" Lelaki itu terus mendaratkan ciuman kepada Vio.


Vio yang tak lagi sanggup menahan perut yang bergejolak, akhirnya kembali memuntahkan cairan bening yang sangat pahit. Melihat Vio muntah, membuat pria itu tersinggung. Dia akhirnya memukul keras pipi Vio.


"Aduh!" pekik Vio.


Tak sampai di situ, lelaki tersebut kini menyeretnya menuju kamar mandi. Dia mengguyur tubuh Vio dengan air dingin hingga menggigil. Tangis Vio kini bercampur dengan air mata.


"Tolong, lepaskan aku! Jangan siksa aku seperti ini!" Vio terus memohon, berharap mendapat belas kasihan dari lelaki di hadapannya itu.

__ADS_1


"Dasar wanita j*lang!" Sebuah pukulan kembali mendarat pada pipi Vio.


"Aku sudah berbaik hati membawamu ke sini! Jika tidak, pasti tadi akan ada banyak berandal yang menggilirmu di jalanan!" seru lelaki itu seraya menuding ke arah pintu.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Lelaki itu mengancam Vio agar tetap diam di kamar mandi. Jika Vio berulah, dia tak segan-segan untuk kembali menghajarnya.


Lelaki tersebut melangkah meninggalkan kamar mandi. Ketika membuka pintu, Jason sudah berdiri di depan unit apartemennya. Mereka berdua ternyata berteman.


"Lama sekali, Sam! Apa kamu menyembunyikan wanita lagi di apartemenku?" Jason langsung masuk tanpa permisi.


Ya, apartemen yang ditinggali Samuel merupakan apartemen miliknya. Dia meminjamkan apartemen itu kepada sang sahabat karena kasihan. Samuel diusir dari rumah karena sering bersikap seenaknya.


Ketika melangkah masuk, sepasang mata Jason menangkap koper yang tergeletak di sudut ruangan. Sontak Jason menghentikan langkahnya. Dia mengerutkan dahi seraya mengusap dagu.


"Sam, apa kamu berniat untuk pergi dari sini?"


"Ah, i-itu ...."


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" cecar Jason.


"Te-tentu saja tidak, Jason!"


Meski Samuel mengatakan tidak, Jason tak langsung percaya. Dia mendekati temannya itu, kemudian melayangkan tatapan tajam. Lelaki tersebut mendorong Samuel dengan ujung jari untuk mengintimidasi temannya itu.


"Jangan pernah macam-macam di dalam apartemenku ini, atau kamu angkat kaki dari sini!" ancam Jason kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


"Brengsek!" teriak Samuel frustrasi.


Lelaki itu menendang koper Vio. Setelahnya, Samuel kembali lagi ke kamar mandi untuk menemui Vio. Perempuan itu sedang meringkuk di sudut kamar mandi dengan tubuh menggigil kedinginan.


"Mari kita lanjutkan yang tertunda, Baby!" Sebuah senyum seringai kini menghiasi bibir Samuel.


Samuel tidak memedulikan kondisi Vio yang terlihat memprihatinkan. Dia berusaha membuka kemeja Vio secara paksa. Perempuan itu hanya bisa pasrah kali ini karena sudah kehilangan tenaga.

__ADS_1


__ADS_2