
Vio menangis tergugu karena memikirkan kebaikan yang diberikan oleh Jason. Ibu hamil memang sangat sensitif. Terlebih lagi saat ini keadaan Vio yang membuat perasaannya semakin sensitif.
Ketika keluarganya sendiri mencampakkan Vio ketika sedang mengandung, ada orang asing yang sangat peduli. Dia berharap kepedulian Jason tidak menghilang begitu saja saat tahu bahwa Vio tengah mengandung.
"A-aku terharu dengan kebaikan yang kamu lakukan kepadaku. Bahkan kita tidak pernah benar-benar saling mengenal!" seru Vio di tengah isak tangis.
"Kenapa kamu begitu peduli kepadaku dan mau menolong aku yang bukan siapa-siapa ini?"
"Hei, sudah menjadi kewajiban makhluk sosial seperti kita untuk membantu sesama yang sedang kesulitan. Cepat habiskan makananmu! Setelah itu kita bicara baik-baik dari hati ke hati." Jason tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
Akhirnya mereka kembali menyantap makan siang dengan tenang. Setelah selesai, keduanya memilih untuk duduk di balkon apartemen seraya menikmati angin segar musim semi. Sisa isak tangis membuat bahu Vio terus bergerak seperti orang yang sedang cegukan.
"Jadi, masalah apa yang sedang menimpamu?" tanya Jason, lalu menyesap teh kamomil dan meletakkannya kembali ke atas meja.
"Aku hamil," jawab Vio singkat.
Tidak ada ekspresi terkejut di wajah Jason. Dia menganggap hal itu biasa terjadi di negara Amerika Serikat. Pergaulan bebas, nark*ba, dan penyimpangan sosial lainnya bukan merupakan hal tabu di sana. Justru sekarang dia heran ketika melihat Vio yang terlihat frustrasi karena kehamilannya.
"Kenapa? Menyesal? Bukannya kamu dan pacarmu menikmati ketika melakukannya?" Sebuah senyum miring terukir di bibir lelaki bermata Hazel itu.
Tamparan keras kini mendarat di pipi Jason. Mata Vio mulai basah karena menahan kesedihan dan amarah. Ternyata Jason sama saja dengan orang lain, yang menyalahkannya atas kejadian ini.
"Jika aku melakukan hubungan semacam itu dengan Mathew, aku mungkin tidak akan frustrasi begini! Aku menjadi seperti ini karena tidak melakukan hubungan badan dengan siapa pun dan tiba-tiba mengandung!" seru Vio dengan suara bergetar menahan tangis.
"Pasti ada sesuatu yang bisa membuatmu hamil. Pasti bisa dijelaskan secara logis!" Kini Jason menatap serius perempuan yang kini mulai mengeluarkan air mata itu.
"Bersiaplah! Kita pergi ke rumah sakit sekarang!" Jason beranjak dari kursi diikuti Vio yang mengekor di belakangnya.
Mereka berdua akhirnya datang ke rumah sakit tempat Vio memastikan kehamilannya dulu. Kebetulan dokter yang sedang bertugas adalah Matheo. Dia adalah dokter yang dulu memeriksa kehamilannya untuk pertama kali.
"Jadi, Anda mempertahankan kandungan itu? Keputusan yang bijak!" Theo tersenyum lebar kemudian mulai membuka map berisi rekam medis Vio.
"Dok, apakah bisa seseorang hamil tanpa melakukan hubungan badan?" tanya Jason langsung pada intinya.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Beberapa perempuan penyuka sesama jenis selalu datang ke sini untuk berkonsultasi sebelum melakukan program bayi tabung. Teknologi sekarang sangat canggih! Para perempuan bisa mengandung tanpa melakukan hubungan badan jika mereka menginginkannya."
Jason sontak menoleh ke arah Vio. Perempuan itu terlihat kebingungan dengan penjelasan sang dokter. Tatapannya tak lepas dari Theo, dan kedua alisnya saling bertautan.
"Tapi aku juga tidak pernah melakukan program bayi tabung, Dok. Lalu bagaimana bisa ada janin yang masuk ke rahimku?" tanya Vio.
"Benarkah? Ini aneh!" Theo mengusap dagu dan memajukan bibir.
"Prosedur bayi tabung memerlukan ijin dari calon ibu, jadi seharusnya kamu tahu akan hal ini." Mathew mencoba menjelaskan prosedur mengenai bayi tabung.
Tanda tanya besar mulai memenuhi pikiran Vio. Kepalanya terasa berdenyut karena sulit memahami semua. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Vio sudah mengambil keputusan untuk menerima bayi itu, karena Tuhan mengabulkan keinginannya untuk tetap hidup ketika nyawanya ada di ujung bahaya. Akhirnya, Vio dan Jason keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk.
Ada sedikit penerangan, kenapa Vio bisa hamil. Namun, di saat yang bersamaan pertanyaan besar muncul. Bagaimana dia bisa menjalani program bayi tabung, sedangkan tidak pernah merencanakan program tersebut?
"Nona!" panggil seorang perempuan muda dengan seragam perawat.
Vio dan Jason langsung menghentikan langkah. Perawat itu mendekati Vio dan mulai memperkenalkan diri. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengobrol di kafetaria rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Vio dengan nada bicara datar.
"Saya tahu, kenapa Anda bisa mengandung!" Mata Debby tampak berapi-api dan terlihat begitu meyakinkan.
Mendengar pengakuan Debby, tentu saja membuat Vio terbelalak. Perempuan itu mulai mencondongkan tubuh ke arah Debby. Mata Vio membola, bersiap mendengarkan pengakuan dari Debby.
"Sekitar dua bulan lalu, Anda dibawa ke sini oleh seorang lelaki dalam keadaan pingsan. Seorang dokter ahli fertilitas menangani Anda. Kebetulan, saya yang membantu beliau."
"Aku masih bingung. Langsung saja pada intinya!" bentak Vio frustrasi.
Jason meraih bahu Vio, kemudian mengusapnya lembut. "Biar dia menyelesaikan ucapannya dulu, Vio. Bersabarlah."
"Setahu saya, dokter menyuntikkan embrio ke dalam rahim Anda. Berdasarkan data yang saat itu saya baca sekilas, Anda bersedia menjadi ibu pengganti bagi calon bayi tersebut."
__ADS_1
Vio beranjak dari kursi kemudian menggebrak meja. Matanya menatap tajam ke arah Debby. Jason memaksa Vio untuk kembali duduk dan menenangkan perempuan itu sebisa mungkin.
"Aku bahkan tidak pernah sekali pun menyetujui hal itu! Ini merupakan penyalahgunaan data!"
"Vio, tenanhlah dulu. Kita bisa mengusut semua pelan-pelan." Jason terus berusaha menenangkan Vio.
"Kalau boleh kami tahu, siapa lelaki yang membawa Vio datang ke sini?" tanya Jason dengan suara lembut.
"Saya kurang tahu. Tapi, lelaki itu memiliki rambut ikal dengan tinggi sekitar 6 kaki." Debby mengangkat lengannya untuk mendeskripsikan tinggi lelaki misterius tersebut.
"Apa ada ciri yang lebih spesifik?" cecar Jason.
"Ah, ada! Dia memiliki tanda lahir di pergelangan tangan kanannya!"
Mendengar ciri fisik lelaki yang disebutkan oleh Debby, membuat Vio kembali beranjak dari kursi. Dia langsung berjalan cepat ke arah pintu keluar. Jason terus memanggilnya, tetapi Vio mengacuhkan lelaki tersebut.
"Terima kasih atas informasinya, Sus. Saya pergi dulu!" Jason pun segera mengejar Vio yang terus melangkah cepat meninggalkan kafetaria.
Ketika Jason berhasil menyusul Vio, lelaki itu menarik lengannya. Otomatis Vio menghentikan langkah. Wajahnya tampak merah padam dengan napas tersengal.
"Kamu kenapa, Vio?"
"Aku sudah tahu siapa yang melakukan ini kepadaku!"
"Memangnya siapa?" Jason mengerutkan dahi.
"Mathew! Pasti dia yang melakukan hal ini kepadaku! Aku harus menemuinya untuk meminta penjelasan!" seru Vio.
"Ayo aku antar!"
Keduanya pun pergi ke apartemen Mathew. Sesampainya di sana. Vio terus menekan tombol unit apartemen Mathew. Namun, tidak ada jawaban.
"Apa kalian mencari Mathew?" tanya seorang perempuan berusia 60-an.
__ADS_1
Vio dan Jason pun menoleh. Perempuan itu mendekat kemudian menjelaskan bahwa Mathew sudah pergi dari sana kemarin. Menurut keterangannya, Mathew pergi beberapa jam setelah kepergok oleh Vio.
"Sial!" umpat Vio seraya memukul udara.