Rahasia Kehamilan Violetta

Rahasia Kehamilan Violetta
Bab 28. Ternyata


__ADS_3

"Dasar dokter brengsek!" teriak Jason.


Tubuh Jason bercucuran keringat. Dadanya kembang kempis karena amarah yang memuncak. Lelaki itu pun terbangun dari tidur.


Mimpi yang dialami Jason terasa begitu nyata. Sampai dia tidak sadar kalau semua itu hanya sebuah mimpi. Jason mengusap wajah kasar, lalu menoleh ke samping ranjang.


Vio sudah tidak ada di atas ranjang. Lelaki itu langsung turun dari pembaringan, kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencari keberadaan sang istri. Ternyata benar, Vio sedang duduk di sudut kamar mandi seraya meringis menahan sakit.


"Astaga, Sayang! Kamu kenapa?" tanya Jason panik.


"Pe-perutku sakit!" Vio meringis seraya mengusap perutnya.


"Kenapa kamu nggak bangunkan aku?" Jason mendekati sang istri kemudian mengangkat tubuh perempuan itu, dan membaringkannya ke atas ranjang.


"Aku kasihan sama kamu. Semalam kamu tidur begitu larut. Lagi pula aku masih bisa menahan rasa sakit ini."


"Apa kamu akan melahirkan? Bagaimana kalau kita periksakan dirimu ke rumah sakit?"


Vio hanya mengangguk pasrah. Jason pun segera menggendong sang istri, kemudian membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Vio langsung diperiksa. Benar saja, perempuan itu sudah memasuki pembukaan empat.


Jason terus mendampingi Vio. Vio diminta untuk duduk di sebuah bola besar sambil mengatur napas. Sebisa mungkin Jason melemparkan candaan agar sang istri tidak begitu tegang dalam menghadapi persalinan.


"Sayang, sebentar lagi Baby Kiwi kita lahir! Berdasarkan pemeriksaan beberapa kali jenis kelaminnya laki-laki. Apa kamu sudah memiliki nama yang bagus untuk Kiwi?"


Jason dan Vio menyebut bayi yang ada di dalam kandungan itu dengan nama Baby Kiwi. Hal itu karena selama kehamilan, Vio sangat menyukai buah kiwi. Setiap harinya harus ada stok buah tersebut di dalam lemari pendingin makanan.


"Bisakah kita pikirkan itu nanti saja setelah Baby Kiwi lahir? Rasanya otakku tidak berpikir lagi karena menahan kontraksi," ucap Vio sambil terus mendesis menahan sakit.


Jason tersenyum kecut karena saat ini apa yang dia ucapkan mulai tidak bisa diterima Vio. Setiap jam rasa sakit yang mendera Vio semakin kuat. Jam menunjukkan pukul 14:00 ketika Vio memasuki ruang bersalin.


Jason menggenggam erat jemari sang istri. Dia berusaha menguatkan Vio yang tengah berjuang menahan sakit demi melahirkan buah hatinya ke dunia. Meski bayi itu bukan putra biologis keduanya, Vio dan Jason merawat dengan baik anak itu.

__ADS_1


Mereka memberikan vitamin serta makanan terbaik untuk calon buah hati keduanya. Melakukan semua perlakuan khusus untuk janin sesuai kebutuhan dengan penuh cinta. Mereka berdua bahkan seakan memiliki ikatan bati yang kuat dengan Baby Kiwi.


"Aku sudah nggak tahan lagi, Jason! Rasanya aku ingin buang air besar!" seru Vio dengan suara tertahan di tenggorokan.


Jason pun segera memencet tombol darurat. Tak lama kemudian, seorang dokter masuk. Dia melakukan pemeriksaan VT untuk mengetahui seberapa lebar leher rahim Vio terbuka.


"Pembukaan lengkap! Siapkan persalinan!" seru dokter itu kepada dua orang perawat yang membantunya.


Mereka pun segera mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk membantu persalinan Vio. Keringat dingin semakin deras membasahi dahi serta tubuh Vio. Dia pun menuruti semua instruksi yang diberikan oleh dokter.


"Ya, dorong terus. Semangat Nyonya! Kepalanya sudah mulai terlihat!" seru sang dokter menggebu penuh semangat.


"Ayo, Vio. Dengarkan Dokter Marry! Kamu bisa melakukannya! Aku ada di sini untukmu dan bayi kita!" Jason pun ikut memberikan dukungan kepada Vio.


Setelah berulang kali mengejan, akhirnya bayi mereka pun terlahir ke dunia. Suara tangis bayi memenuhi ruangan itu. Rasa haru menyeruak di hati Vio dan Jason.


Jason berulang kali mengucap syukur. Dia terus mendaratkan kecupan pada puncak kepala sang istri. Air mata bahagia pun kini mengalir membasahi pipi Vio.


Rasa lelah kini mendera tubuh Vio. Setelah diperbolehkan tidur, akhirnya perempuan itu pun memejamkan mata. Rasa lelahnya terbayar sudah.


Bukan hanya rasa lelah ketika melahirkan. Akan tetapi, rasa lelah ketika mengandung. Rasa lelah yang menguras emosi karena kehadiran tak terduga itu kini lunas sudah. Vio mendapatkan bayi itu seutuhnya.


Sebuah senyum tipis terukir di bibir Vio selama terpejam. Jason pun dengan setia menemani Vio yang kini terlelap melepas letih. Menggenggam kuat jemari tangannya dan mengusapnya lembut.


...----------------...


Hari ini tepat tiga hari setelah kelahiran Baby Kiwi dan mereka sudah kembali ke apartemen. Bayi laki-laki berparas tampan itu begitu mirip dengan Irene. Vio belum menyadari hal tersebut.


Akan tetapi, Jason sudah menyadarinya. Ketakutan kini menghantui Jason. Dia takut kebohongannya akan segera terbongkar. Kekhawatirannya bertambah ketika Vio menyusui bayi tersebut.


"Jika diperhatikan, kenapa wajah bayi kita ini mirip dengan seseorang, ya?"

__ADS_1


"Siapa?" tanya Jason dengan suara setenang mungkin.


"Istri dokter Matheo!"


Mendengarkan tebakan tepat sasaran membuat Jason tersedak. Vio yang panik, langsung menyodorkan air minumnya kepada Jason. Lelaki itu pun meneguk air mineral yang ada di dalam botol hingga tandas.


"Kamu kenapa?" tanya Vio keheranan.


"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya terkejut karena tebakanmu yang aku rasa benar itu."


"Benar? Apa maksudmu, Sayang?"


Jason tampak menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Lelaki itu memutuskan untuk membongkar semuanya sekarang juga. Dia tidak ingin mimpi dalam kenyataannya beberapa hari lalu menjadi kenyataan.


Meski nantinya berakhir pahit, Jason akan menerimanya. Bahkan Jason sempat membayangkan bahwa Vio akan marah besar dan memintanya untuk bercerai. Semuanya sudah salah sejak awal.


Keadaan, rencananya, dan melibatkan Vio dalam membalaskan dendam pribadi kepada sang ibu adalah hal yang keliru. Namun, cintanya kepada Vio tidak pernah salah. Jason akan menerima semua keputusan Vio.


"Sebenarnya bayi itu adalah bayi dokter Theo dan juga Irene. Dia membeli rahimmu melalui Mathew. Mereka memalsukan tanda tanganmu, dan membawamu untuk melakukan penyuntikan embrio dalam keadaan tidak sadarkan diri."


"Lalu?" Vio tampak mengerutkan dahi.


"Setelah semua transaksi itu selesai, Matheo membayarku untuk menjagamu karena Bibi Anna mengusirmu dari rumah. Seiring berjalannya waktu, aku terbawa perasaan. Dan pada akhirnya ... aku menikahimu." Jason tertunduk lesu.


Semua sudah diucapkan oleh Jason dengan penuh ketulusan serta kejujuran. Dia berharap Vio mau mengerti keadaannya, dan memaafkan semua kebohongan yang telah dilakukan selama ini.


"Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang, Jason?" tanya Vio dengan tatapan mata tajam.


Rahang perempuan itu tampak mengeras. Tatapannya tak lepas dari Jason, berusaha menuntut penjelasan yang lebih dalam kepada sang suami. Jason menelan ludah kasar. Bayangan kemarahan Vio dan kenyataan bahwa dia harus berpisah dengan sang istri kembali terbayang di pelupuk mata.


__ADS_1


__ADS_2