RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 1


__ADS_3

Brenda memerhatikan


wajahnya di cermin oval berbingkai kayu. Gadis itu terlihat cantik diusianya


yang baru menanjak  24 tahun. Ia memiliki pendar mata yang bening dan bercahaya. Lesung pipit di pipi kirinya juga


terlihat sempurna. Tubuhnya tinggi semampai rambut hitam panjang sebahu. Bibirnya tipis dan


selalu memerah.  Paduan satin dengan blazer


membungkus tubuhnya yang ramping. Ia terlihat modis.


Brenda tengah mengalami gejolak hidup


yang tak sebanding dengan kenyataan. Kehidupan Brenda kini berbalik seratus delapan puluh


derajat dari sebelumnya. Ia bukan lagi gadis kaya


bergelimpangan harta. Kini Brenda menjadi gadis miskin yang  harus melunasi semua hutang-hutangnya di bank.


Melunasi kartu kredit yang jumlahnya cukup besar,


hingga ia jumpalitan mencari uang tambahan.


“Seratus juta rupiah? Oh my God… Darimana aku mendapatkan uang itu?” Ia bergumam dalam hati ketika mengingat hutang-hutangnya di bank.


Dunia terasa sesak hingga ia harus pontangpanting bekerja keras. Semua


dilakukannya, sebelum para kolektor menagih ke rumahnya dengan hujatan yang


dahsyat. Seperti debt collector yang baru-baru ini


memaki-makinya karena menunggak pembayaran.


‘Oh Tuhan… Bantu aku…’ gumamnya dalam doa. Brenda menghela nafas sejenak, lalu mengaminkan


doa yang setiap hari diminta dalam sujud. Berharap dewi fortuna kembali ke


pangkuannya.


Brenda mengambil stiletto coklat tua dari rak sepatu. Ia mengenakan sepatu itu di kakinya yang mulus. Sepatu hak tinggi dengan bentuk yang elegan. Sepatu itu ia beli beberapa bulan lalu. Ketika


ia masih memiliki tabungan. Sedikit menunduk Brenda membetulkan sepatunya. Setelah


itu ia merapikan baju berlengan pendek dengan paduan warna yang senada. Ia melirik


penampilannya di depan cermin. Mengatur rambut indahnya yang sebahu dan menyelipkan anak-anak rambut ke daun telinganya. Ia tak ingin terkesan


awut-awutan di depan perempuan bernama Maryati. Seorang pengusaha bunga segar


yang memiliki beberapa toko di kotanya. Perempuan berusia 48 tahun  itu menawarkan Brenda pekerjaan. Ia memiliki


seorang putra bernama Ryan.


Brenda menerima tawaran itu dengan senang hati. Ini kesempatan, batinnya.


Peluang yang menentukan jalan hidupnya.


“Lancarkan perjalananku ya Allah…” pintanya pada Yang Maha Kuasa.


Brenda menjadi seorang pengajar sejak beberapa bulan lalu. Sejak usaha


kuliner yang ia jalankan mengalami kebangkrutan. Sejak semua pintu tertutup


untuknya dan sejak mentari pun berpaling tak menatapnya. Brenda kehilangan


segala-gala nya. Pegangan hidup, kepercayaan diri dan orang-orang yang dekat


dengannya.


Hampir saja Brenda putus asa, ketika uangnya disikat habis oleh cowok yang


memanfaatkan hartanya. Cowok yang membuat Brenda kecewa karena ulahnya. Cowok itu hura-hura bersama gadis lain menggunakan kartu kredit Brenda


untuk berbelanja dan hura-hura. Kini Brenda harus membayar hutang-hutang cowok itu ke Bank. Brenda jengah bila mengingat cowok itu. Kini semuanya telah sirna.


Dunianya terbalik seperti roda pedati. Brenda jatuh miskin dan ia akan memulai kembali


dari nol. Ia berusaha mencari pekerjaan, namun tetap saja dengan nada yang


sama. Belum ada lowongan.


Ternyata penampilan cantik saja tidak cukup untuk menunjang sebuah


lamaran kerja. Buktinya Brenda ditolak hampir sepuluh perusahaan. Brenda juga


hampir putus asa ketika jalan hidupnya hampir tertutup. Ela menyarankan Brenda


untuk memberikan ilmunya kepada anak-anak yang membutuhkan.


Ela, gadis berambut pendek seusia Brenda. Ia lebih beruntung dari Brenda


yang punya pekerjaan tetap dan kekasih yang sangat setia. Gadis berkulit kuning


langsat itu memang gadis yang pintar. Ia telah menyelesaikan kuliahnya di


Melbourne beberapa tahun lalu.


Brenda menerima usul Ela untuk mengajar anak-anak dari rumah ke rumah. Les private yang kini menjamur di kotanya.


Brenda bisa membanggakan otaknya yang lumayan encer.


“Sempurna,” batinnya.


Senyum Brenda mengembang. Tak lama lagi kocek mengalir ke rekening miliknya.


Sudah lama sekali ia tidak menikmati secangkir kopi hangat di Starbuck atau Coffe Box langganannya. Rekreasi ke pantai Danau Toba dan berlibur ke negeri


tetangga. Atau berbelanja di butik ternama


di kota Medan. Butik Itu menyiapkan


barang-barang dengan merek terkenal.

__ADS_1


Brenda meraih


kunci mobil di atas Buffett lalu keluar kamar dengan sumringah. Suara telapak sepatunya


berdentum di lantai keramik.


“Saya pergi dulu


ya, Bik…” pamitnya kepada sang pembantu. “Jangan lupa mengambil pesanan saya.”


Ucapnya kemudian.


“Baik, Bu…” pembantu


itu menyahut lalu berlalu ke dapur.


Brenda berjalan menuju


mobilnya. Sedan lama tahun rendah yang diparkir di depan rumah. Mobil itu terlihat


memprihatinkan dengan bentuk yang mengenaskan. Catnya sudah mulai memudar dan


terkelupas. Banyak karat di samping gerdang nya. Pintu mobilnya juga sudah rusak.


Brenda membeli mobil itu beberapa bulan lalu. Seorang


teman menjual padanya dengan harga murah. Mobil bekas, namun masih bisa


dikendarai.


Brenda masuk ke


mobil. Sejenak ia memperhatikan mobilnya yang sangat usang. Bungkus permen berserakan


di bawah kursi. Oh… menjijikkan.  Bauh apek  menyeruak di dalam mobil. Brenda menelan air ludahnya. Ia memungut sampah dan membuangnya keluar.


AC di dalam sedikit bermasalah. Ia bisa membayangkan betapa


tersiksanya di dalam mobil tanpa AC.


“Ughhh…” Brenda sedikit mengeluh.


Brenda menstarter mobilnya beberapa kali. Mobil tidak mau


menyala. Ia baru teringat kalau mobil itu tidak ada bensinnya.


“Oh my God...


Lengkaplah sudah penderitaanku,” gumamnya kesal.


Brenda keluar dari mobilnya dan melihat motor bebek yang


juga tidak bagus penampilannya. Mau tidak mau ia harus menghampiri motor itu


dan mengendarainya.


Ada sedikit rasa miris di hatinya ketika harus


oleh keegoisan yang selama ini diraihnya. Rasa kesal dan rasa ingin menangis


acap kali hadir ketika ia harus menutup rapat-rapat dompetnya untuk membeli


sesuatu. Ia juga harus membayar sang pembantu yang selalu menemaninya.


Terkadang mama tidak tega jika Brenda tidak sanggup menggaji pembantunya. Mama


dengan baik hati membayar gaji sang pembantu.


Setelah menyalakan starter, motor itu meluncur di jalan hitam.


Menyusuri jalan Sisingamangaraja lalu belok ke kiri menuju jalan Juanda. Brenda


tersenyum tipis dari balik kaca spion. Ia sudah tidak sabar ingin segera


bertemu Maryati. Bayaran yang cukup memuaskan, hingga ia membatalkan semua


janjinya ke Ela.


Ela memang


sahabat yang baik. Ia sangat mengerti perasaan Brenda. Tidak seperti


teman-teman lainnya. Saat ia jatuh dan terpuruk, Ela yang memberi semangat


untuk Brenda. Meski sifat Ela terkadang menyebalkan, namun Ela tetap menjadi


nomor satu sebagai sahabat sejati. Kesusahan Brenda bukanlah masalah bagi Ela.


Brenda mengenang


masa-masa kejayaannya tiga tahun yang lalu saat ia  kehilangan pekerjaan akibat resesi ekonomi di


perusahaan konveksi tempat dia bekerja. Mentari seakan berhenti menggulirkan


cahaya keemasannya. Kelam menyelimuti dunianya. Bintang-gemintang di langit sana mengaburkan diri,


seolah tak mau menatap keterpurukan Brenda. Brenda merasakan kehilangan pegangan.


Orang-orang di dekatnya juga mulai menjauh.


Berawal dari usul Ela yang brilian untuk membuka sebuah restoran dan


bisnis kuliner cepat saji. Bisnis itu tengah marak-maraknyadi kota Medan. Butuh


ekstra belajar memasak profesional untuk mendapatkan masakan yang enak dan


berkualitas.Ditambah harga yang


terjangkau dan memenuhi selera kalangan bawah sampai atas.


Awalnya bisnis kuliner Brenda berkembang pesat. Banyak pelanggan yang merasa puas dengan


pelayanan dan masakannya. Cita rasa

__ADS_1


yang berbeda dengan menu-menu yang menggiurkan. Membangkitkan selera makan yang


luar biasa.


Brenda sibuk mengurusi pelanggan yang rata-rata dari luar kota,


bahkan ada beberapa dari negeri


tetangga, Malaysia dan Singapura. Beberapa pengusaha


muda dari Thailand dan China. Sungguh luar biasa. Sehari ia bisa mendapat omset


puluhan juta rupiah. Brenda bergelimang harta dan mempercayakan usahanya kepada


cowok berperawakan tinggi berwajah oriental. Cowok itu bernama Franky.


Ternyata Franky menghabiskan semua modal usaha Brenda dan kabur bersama simpanannya.


Ia membobol tabungan Brenda, kartu


kredit dan ATM hingga ludes. Padahal Brenda sangat mencintai Franky


lebih dari apapun hingga ia percaya


semua akal busuk Franky. Brenda depresi ketika tahu Franky menghabiskan


semua uang di tabungan dan pergi bersama perempuan lain.Ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Hanya


Ela, sahabat satu-satunya yang mengerti perasaan Brenda.


Brenda meminjam modal ke mama dan menjalankan kembali bisnis kulinernya


dari nol. Modal masih tidak cukup. Ia meminjam dari bank dengan menggadaikan


surat-surat rumah. Di tahun kedua,


bisnis Brenda mengalami kemerosotan. Entah apa masalahnya hingga pelanggan mereka berpaling


tanpa sebab. Brenda berusaha untuk mengembalikan mutu dan kualitas masakan, namun tetap saja


pelanggan berkurang. Brenda kehabisan modal usaha dan akhirnya ia menjual tempat dan peralatan masak kepada


seseorang. Brenda sangat membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutangnya.


Sejak mengalami


krisis itu Brenda tidak ingin tergantung kepada orangtuanya. Brenda ingin


mandiri. Ia mengontrak rumah sederhana di kawasan Jalan Sisingamangaraja.


Brenda beralih profesi sebagai pengajar freelance di


salah satu perguruan dan membuka les private bagi anak-anak rumahan. Sebenarnya Brenda merasa


malu-depresi-kecewa-marah. Bagaimana dengan komentar teman-temannya, tetangga


dan kerabat dekatnya? Apakah mereka akan menertawakannya? Brenda yang dulu


bergelimang harta, kini menjadi gadis miskin yang serba kekurangan. Tanpa mobil


mewah, baju mahal dan aksesoris dengan


harga jutaan rupiah. Brenda tidak perlu malu memikirkan pendapat orang tentangnya.


Dunia selalu berputar kapan saja. Jadi tak salah kalau saat ini Brenda menjadi


pengajar dan hidup sederhana.


Untuk menunjang pengetahuan dan pekerjaan barunya, Brenda terpaksa


mengambil kursus computer, banyak membaca buku dan membeli buku-buku tentang


pendidikan. Selama ini dia hanya tahu dunia jual beli dan memasak. Dia mempelajari


dunia internet. Tidak hanya sampai di situ, dia juga mengambil les bahasa asing,


Inggris-Mandarin-Jepang.


Wuih, Brenda merasa stres juga, tapi demi kelangsungan


hidup dan masa depannya, Brenda harus lebih berpotensi. Brenda pontang-panting mengajar dari rumah yang satu ke


rumah yang lain. Bukan jarak yang dekat harus ditempuh, hingga ia tiba di rumah larut malam.


Syukurlah Tuhan memberi Brenda otak yang lumayan cerdas, sehingga dia dapat


mempelajari semuanya dengan cepat. Bahasa Inggris lebih mudah dikuasai daripada


bahasa Jepang dan Mandarin. Sekarang sudah seperti jamur, dimana-mana banyak berdiri sekolah bahasa


asing. Jika ada satu rumah saja yang berlabel sekolah bahasa asing, maka


tetangga sebelahnya juga nggak mau kalah, pada ikut membuka usaha yang sama.


Katanya buka sekolah lebih banyak untungnya, dan tidak sulit prosedurnya.


Begitulah orang mengikuti trend.


Dalam waktu tiga bulan saja, Brenda sudah mendapat beberapa orang anak untuk


menerima didikannya. Brenda bersyukur langganan pertamanya adalah seorang anak keturunan Tionghoa, minta


diajarkan bahasa Inggris. Kemudian dua orang anak SMP yang ingin belajar


Matematika.


Sukses pertama membawa Brenda menuju ke sukses berikutnya. Tentu saja keberhasilan


transaksi pertama ini memberi penghasilan yang lumayan pada Brenda. Brenda tersenyum


bahagia melihat usaha yang dirintisnya berhasil pada langkah pertama. Ini


pertanda baik untuk memulai langkah kedua.

__ADS_1


__ADS_2