
Brenda memerhatikan
wajahnya di cermin oval berbingkai kayu. Gadis itu terlihat cantik diusianya
yang baru menanjak 24 tahun. Ia memiliki pendar mata yang bening dan bercahaya. Lesung pipit di pipi kirinya juga
terlihat sempurna. Tubuhnya tinggi semampai rambut hitam panjang sebahu. Bibirnya tipis dan
selalu memerah. Paduan satin dengan blazer
membungkus tubuhnya yang ramping. Ia terlihat modis.
Brenda tengah mengalami gejolak hidup
yang tak sebanding dengan kenyataan. Kehidupan Brenda kini berbalik seratus delapan puluh
derajat dari sebelumnya. Ia bukan lagi gadis kaya
bergelimpangan harta. Kini Brenda menjadi gadis miskin yang harus melunasi semua hutang-hutangnya di bank.
Melunasi kartu kredit yang jumlahnya cukup besar,
hingga ia jumpalitan mencari uang tambahan.
“Seratus juta rupiah? Oh my God… Darimana aku mendapatkan uang itu?” Ia bergumam dalam hati ketika mengingat hutang-hutangnya di bank.
Dunia terasa sesak hingga ia harus pontangpanting bekerja keras. Semua
dilakukannya, sebelum para kolektor menagih ke rumahnya dengan hujatan yang
dahsyat. Seperti debt collector yang baru-baru ini
memaki-makinya karena menunggak pembayaran.
‘Oh Tuhan… Bantu aku…’ gumamnya dalam doa. Brenda menghela nafas sejenak, lalu mengaminkan
doa yang setiap hari diminta dalam sujud. Berharap dewi fortuna kembali ke
pangkuannya.
Brenda mengambil stiletto coklat tua dari rak sepatu. Ia mengenakan sepatu itu di kakinya yang mulus. Sepatu hak tinggi dengan bentuk yang elegan. Sepatu itu ia beli beberapa bulan lalu. Ketika
ia masih memiliki tabungan. Sedikit menunduk Brenda membetulkan sepatunya. Setelah
itu ia merapikan baju berlengan pendek dengan paduan warna yang senada. Ia melirik
penampilannya di depan cermin. Mengatur rambut indahnya yang sebahu dan menyelipkan anak-anak rambut ke daun telinganya. Ia tak ingin terkesan
awut-awutan di depan perempuan bernama Maryati. Seorang pengusaha bunga segar
yang memiliki beberapa toko di kotanya. Perempuan berusia 48 tahun itu menawarkan Brenda pekerjaan. Ia memiliki
seorang putra bernama Ryan.
Brenda menerima tawaran itu dengan senang hati. Ini kesempatan, batinnya.
Peluang yang menentukan jalan hidupnya.
“Lancarkan perjalananku ya Allah…” pintanya pada Yang Maha Kuasa.
Brenda menjadi seorang pengajar sejak beberapa bulan lalu. Sejak usaha
kuliner yang ia jalankan mengalami kebangkrutan. Sejak semua pintu tertutup
untuknya dan sejak mentari pun berpaling tak menatapnya. Brenda kehilangan
segala-gala nya. Pegangan hidup, kepercayaan diri dan orang-orang yang dekat
dengannya.
Hampir saja Brenda putus asa, ketika uangnya disikat habis oleh cowok yang
memanfaatkan hartanya. Cowok yang membuat Brenda kecewa karena ulahnya. Cowok itu hura-hura bersama gadis lain menggunakan kartu kredit Brenda
untuk berbelanja dan hura-hura. Kini Brenda harus membayar hutang-hutang cowok itu ke Bank. Brenda jengah bila mengingat cowok itu. Kini semuanya telah sirna.
Dunianya terbalik seperti roda pedati. Brenda jatuh miskin dan ia akan memulai kembali
dari nol. Ia berusaha mencari pekerjaan, namun tetap saja dengan nada yang
sama. Belum ada lowongan.
Ternyata penampilan cantik saja tidak cukup untuk menunjang sebuah
lamaran kerja. Buktinya Brenda ditolak hampir sepuluh perusahaan. Brenda juga
hampir putus asa ketika jalan hidupnya hampir tertutup. Ela menyarankan Brenda
untuk memberikan ilmunya kepada anak-anak yang membutuhkan.
Ela, gadis berambut pendek seusia Brenda. Ia lebih beruntung dari Brenda
yang punya pekerjaan tetap dan kekasih yang sangat setia. Gadis berkulit kuning
langsat itu memang gadis yang pintar. Ia telah menyelesaikan kuliahnya di
Melbourne beberapa tahun lalu.
Brenda menerima usul Ela untuk mengajar anak-anak dari rumah ke rumah. Les private yang kini menjamur di kotanya.
Brenda bisa membanggakan otaknya yang lumayan encer.
“Sempurna,” batinnya.
Senyum Brenda mengembang. Tak lama lagi kocek mengalir ke rekening miliknya.
Sudah lama sekali ia tidak menikmati secangkir kopi hangat di Starbuck atau Coffe Box langganannya. Rekreasi ke pantai Danau Toba dan berlibur ke negeri
tetangga. Atau berbelanja di butik ternama
di kota Medan. Butik Itu menyiapkan
barang-barang dengan merek terkenal.
__ADS_1
Brenda meraih
kunci mobil di atas Buffett lalu keluar kamar dengan sumringah. Suara telapak sepatunya
berdentum di lantai keramik.
“Saya pergi dulu
ya, Bik…” pamitnya kepada sang pembantu. “Jangan lupa mengambil pesanan saya.”
Ucapnya kemudian.
“Baik, Bu…” pembantu
itu menyahut lalu berlalu ke dapur.
Brenda berjalan menuju
mobilnya. Sedan lama tahun rendah yang diparkir di depan rumah. Mobil itu terlihat
memprihatinkan dengan bentuk yang mengenaskan. Catnya sudah mulai memudar dan
terkelupas. Banyak karat di samping gerdang nya. Pintu mobilnya juga sudah rusak.
Brenda membeli mobil itu beberapa bulan lalu. Seorang
teman menjual padanya dengan harga murah. Mobil bekas, namun masih bisa
dikendarai.
Brenda masuk ke
mobil. Sejenak ia memperhatikan mobilnya yang sangat usang. Bungkus permen berserakan
di bawah kursi. Oh… menjijikkan. Bauh apek menyeruak di dalam mobil. Brenda menelan air ludahnya. Ia memungut sampah dan membuangnya keluar.
AC di dalam sedikit bermasalah. Ia bisa membayangkan betapa
tersiksanya di dalam mobil tanpa AC.
“Ughhh…” Brenda sedikit mengeluh.
Brenda menstarter mobilnya beberapa kali. Mobil tidak mau
menyala. Ia baru teringat kalau mobil itu tidak ada bensinnya.
“Oh my God...
Lengkaplah sudah penderitaanku,” gumamnya kesal.
Brenda keluar dari mobilnya dan melihat motor bebek yang
juga tidak bagus penampilannya. Mau tidak mau ia harus menghampiri motor itu
dan mengendarainya.
Ada sedikit rasa miris di hatinya ketika harus
oleh keegoisan yang selama ini diraihnya. Rasa kesal dan rasa ingin menangis
acap kali hadir ketika ia harus menutup rapat-rapat dompetnya untuk membeli
sesuatu. Ia juga harus membayar sang pembantu yang selalu menemaninya.
Terkadang mama tidak tega jika Brenda tidak sanggup menggaji pembantunya. Mama
dengan baik hati membayar gaji sang pembantu.
Setelah menyalakan starter, motor itu meluncur di jalan hitam.
Menyusuri jalan Sisingamangaraja lalu belok ke kiri menuju jalan Juanda. Brenda
tersenyum tipis dari balik kaca spion. Ia sudah tidak sabar ingin segera
bertemu Maryati. Bayaran yang cukup memuaskan, hingga ia membatalkan semua
janjinya ke Ela.
Ela memang
sahabat yang baik. Ia sangat mengerti perasaan Brenda. Tidak seperti
teman-teman lainnya. Saat ia jatuh dan terpuruk, Ela yang memberi semangat
untuk Brenda. Meski sifat Ela terkadang menyebalkan, namun Ela tetap menjadi
nomor satu sebagai sahabat sejati. Kesusahan Brenda bukanlah masalah bagi Ela.
Brenda mengenang
masa-masa kejayaannya tiga tahun yang lalu saat ia kehilangan pekerjaan akibat resesi ekonomi di
perusahaan konveksi tempat dia bekerja. Mentari seakan berhenti menggulirkan
cahaya keemasannya. Kelam menyelimuti dunianya. Bintang-gemintang di langit sana mengaburkan diri,
seolah tak mau menatap keterpurukan Brenda. Brenda merasakan kehilangan pegangan.
Orang-orang di dekatnya juga mulai menjauh.
Berawal dari usul Ela yang brilian untuk membuka sebuah restoran dan
bisnis kuliner cepat saji. Bisnis itu tengah marak-maraknyadi kota Medan. Butuh
ekstra belajar memasak profesional untuk mendapatkan masakan yang enak dan
berkualitas.Ditambah harga yang
terjangkau dan memenuhi selera kalangan bawah sampai atas.
Awalnya bisnis kuliner Brenda berkembang pesat. Banyak pelanggan yang merasa puas dengan
pelayanan dan masakannya. Cita rasa
__ADS_1
yang berbeda dengan menu-menu yang menggiurkan. Membangkitkan selera makan yang
luar biasa.
Brenda sibuk mengurusi pelanggan yang rata-rata dari luar kota,
bahkan ada beberapa dari negeri
tetangga, Malaysia dan Singapura. Beberapa pengusaha
muda dari Thailand dan China. Sungguh luar biasa. Sehari ia bisa mendapat omset
puluhan juta rupiah. Brenda bergelimang harta dan mempercayakan usahanya kepada
cowok berperawakan tinggi berwajah oriental. Cowok itu bernama Franky.
Ternyata Franky menghabiskan semua modal usaha Brenda dan kabur bersama simpanannya.
Ia membobol tabungan Brenda, kartu
kredit dan ATM hingga ludes. Padahal Brenda sangat mencintai Franky
lebih dari apapun hingga ia percaya
semua akal busuk Franky. Brenda depresi ketika tahu Franky menghabiskan
semua uang di tabungan dan pergi bersama perempuan lain.Ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Hanya
Ela, sahabat satu-satunya yang mengerti perasaan Brenda.
Brenda meminjam modal ke mama dan menjalankan kembali bisnis kulinernya
dari nol. Modal masih tidak cukup. Ia meminjam dari bank dengan menggadaikan
surat-surat rumah. Di tahun kedua,
bisnis Brenda mengalami kemerosotan. Entah apa masalahnya hingga pelanggan mereka berpaling
tanpa sebab. Brenda berusaha untuk mengembalikan mutu dan kualitas masakan, namun tetap saja
pelanggan berkurang. Brenda kehabisan modal usaha dan akhirnya ia menjual tempat dan peralatan masak kepada
seseorang. Brenda sangat membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutangnya.
Sejak mengalami
krisis itu Brenda tidak ingin tergantung kepada orangtuanya. Brenda ingin
mandiri. Ia mengontrak rumah sederhana di kawasan Jalan Sisingamangaraja.
Brenda beralih profesi sebagai pengajar freelance di
salah satu perguruan dan membuka les private bagi anak-anak rumahan. Sebenarnya Brenda merasa
malu-depresi-kecewa-marah. Bagaimana dengan komentar teman-temannya, tetangga
dan kerabat dekatnya? Apakah mereka akan menertawakannya? Brenda yang dulu
bergelimang harta, kini menjadi gadis miskin yang serba kekurangan. Tanpa mobil
mewah, baju mahal dan aksesoris dengan
harga jutaan rupiah. Brenda tidak perlu malu memikirkan pendapat orang tentangnya.
Dunia selalu berputar kapan saja. Jadi tak salah kalau saat ini Brenda menjadi
pengajar dan hidup sederhana.
Untuk menunjang pengetahuan dan pekerjaan barunya, Brenda terpaksa
mengambil kursus computer, banyak membaca buku dan membeli buku-buku tentang
pendidikan. Selama ini dia hanya tahu dunia jual beli dan memasak. Dia mempelajari
dunia internet. Tidak hanya sampai di situ, dia juga mengambil les bahasa asing,
Inggris-Mandarin-Jepang.
Wuih, Brenda merasa stres juga, tapi demi kelangsungan
hidup dan masa depannya, Brenda harus lebih berpotensi. Brenda pontang-panting mengajar dari rumah yang satu ke
rumah yang lain. Bukan jarak yang dekat harus ditempuh, hingga ia tiba di rumah larut malam.
Syukurlah Tuhan memberi Brenda otak yang lumayan cerdas, sehingga dia dapat
mempelajari semuanya dengan cepat. Bahasa Inggris lebih mudah dikuasai daripada
bahasa Jepang dan Mandarin. Sekarang sudah seperti jamur, dimana-mana banyak berdiri sekolah bahasa
asing. Jika ada satu rumah saja yang berlabel sekolah bahasa asing, maka
tetangga sebelahnya juga nggak mau kalah, pada ikut membuka usaha yang sama.
Katanya buka sekolah lebih banyak untungnya, dan tidak sulit prosedurnya.
Begitulah orang mengikuti trend.
Dalam waktu tiga bulan saja, Brenda sudah mendapat beberapa orang anak untuk
menerima didikannya. Brenda bersyukur langganan pertamanya adalah seorang anak keturunan Tionghoa, minta
diajarkan bahasa Inggris. Kemudian dua orang anak SMP yang ingin belajar
Matematika.
Sukses pertama membawa Brenda menuju ke sukses berikutnya. Tentu saja keberhasilan
transaksi pertama ini memberi penghasilan yang lumayan pada Brenda. Brenda tersenyum
bahagia melihat usaha yang dirintisnya berhasil pada langkah pertama. Ini
pertanda baik untuk memulai langkah kedua.
__ADS_1