RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 19


__ADS_3

Embun pagi masih terlihat di jendela kaca, meremang seperti


pandangan mata manis, saat Brenda menggeliat baru bangun tidur. Mata Brendamasih kuyu seperti mata kupu-kupu. Tetapi bola mata mungil


itu segera mengerjap haru saat menatap embun di jendela kamarnya yang putih seperti


guguran salju. Sebentar lesap karena sinar matahari pagi.


Brenda terbangun. Tidurnya tidak


begitu nyenyak karena pikiran-pikiran lain menghantui otaknya. Cahaya matahari


pagi yang tersulur membuatnya terjaga. Brenda melihat jam dinding di sudut dinding kamarnya. Sudah pukul delapan. Brendamelewatkan pagi-pagi yang indah.


Brenda bangkit dari tempat tidurnya


dengan berat. Meregangkan otot-otot punggungnya dan merentangkan tangannya.


Berjalan dengan malas menuju kamar mandi. Brenda meraih handuk dan menuju kamar mandi.


Pagi yang sangat membosankan. Pagi-pagi sekali Brenda harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ryan. Namun


sebelum ia melangkah keluar, Baim muncul di depan pintu. Brenda terkejut


setengah mati.


“Baim..?! Mau apa


kamu kemari?”tanya Brenda sedikit berang.


“Aku ingin


menuntut kekasih idiotmu itu!”sergah Baim


nyolot


“Cukup, Im! Ryan


sedang sekaratdi rumah sakit. Kamu ingin menuntut


balas? Itu salahmu, bukan kesalahan Ryan!”


“Oh... jadi


kekasihmu itu bernama Ryan? Kamu cewek *****,


Nda! Apa yang


kamu lihat dari cowok idiot itu, hakh! Harta? Kekayaan?!”


“Diam kamu! Aku


bukan cewek matre seperti yang kamu bayangkan, Im! Tolong jangan ganggu


kehidupanku!”


“Alaaa…. Nggak usah munafik! Kamu membutuhkan uang kan


untuk melunasi hutang-hutangmu? Dan kamu memanfaatkan cowok **** itu sebagai


umpan kelicikanmu!”


“Jaga bicaramu, Im! Aku nggak sedikitpun


berniat jelek ke Ryan! Apa sih maumu?! Apa kamu kurang puas menggangguku?!”


“Aku akan terus mengganggu kehidupanmu, Nda. Selama kamu


menolak cintaku!”


“Kamu gila, Im.


Masih banyak gadis lain yang menanti cintamu,”


“Tapi aku sangat mencintaimu, Nda...!”


“Jangan pernah


kamu mengucapkan cinta jika kamu tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya!”


“Kamu terlalu naïf jika menuduhku nggak tahu


arti cinta. Apa kamu pikir seorang pujangga mengerti arti cinta yang


sesungguhnya? Mereka hanya berkata-kata, Nda...”


Brenda melangkahkan kakinya, namun Baim mencengkram


lengan Brenda dengan kuat.


“Lepasiiinn…! Kamu maunya apa sih, Im?!”


“Hidup dan cintamu!”


“Tidak!!” Brenda berusaha melepaskan tangan


Baim. “Aku tidak akan pernah mencintai cowok gila sepertimu, Im!”


“Hei…! Lepaskan!” Ela tiba-tiba aja muncul di


depan rumah Brenda. Baim terkejut dengan kehadiran Ela yang keluar dari mobil


mewah. Baim melepaskan lengan Brenda yang sudah kesakitan.Ela berjalan tergesa menghampiri

__ADS_1


Brenda.


“Kamu memang sinting! Tega-teganya kamu


menyakiti kaum hawa. Dimana martabatmu sebagai cowok?!” Ela mendekati Brenda


yang merintih.


“Kamu nggak usah ikut campur! Ini urusanku dengan Brenda!”


“Heii… kamu jangan main-main. Brenda itu temen


aku dan sudah aku anggap sebagai saudaraku. Aku nggak mau ada seorang laki-laki


menyakitinya!”


“Alaaa…. Kamu tahu apa sih? Hah? Aku mencintai


Brenda dan tidak ada yang bisa melarang cintaku. Kamu tahu?!”


Brenda berlindung di samping Ela sambil melihat


bekas cengkraman tangan Baim.


“Lebih baik kamu tinggalkan Brenda atau aku


akan telepon polisi kalau kamu ingin menyakiti temanku,”


“Silahkan! Dan aku akan terus mengganggu


temanmu!”


Ela membelalakan


matanya yang memerah. Baim beranjak dari


kediaman Brenda dan masuk ke dalam mobilnya. Derum suara mobil meninggalkan


serpihan debu jalanan. Ela melihat lengan


Brenda yang memerah.


“Kamu nggak apa-apa, Nda?”tanya Ela khawatir.


“Nggak, La. Hanya lenganku aja yang sakit,”Brenda merintih.


“Baim keterlaluan. Ini nggak bisadibiarkan, Nda. Kamu harus melaporkan masalah ini ke


polisi dengan tuduhan kekerasan,”


“Aku nggak mau masalahnya menjadi besar, La,”


“Sampai kapan kamu hidup dalam bayang-bayang


cowok itu?”


“Hari ini aku mau menjenguk Ryan, La. Kamu


ikut?”


“Aku nggak bisa,


Nda. Masih ada beberapa tulisan yang harus aku selesaikan. Deadline besok. Tadi


aku hanya ingin menjengukmu, perasaanku enggak enak. Ternyata Baim menyerangmu,”


“Makasih, La. Untung kamu cepat datang, kalau


tidak aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Baim,”


“Kamu kudu hati-hati, Nda. Kalau Baim mengancammu,telpon aja aku. Aku akan


mengerahkan kakak sepupuku untuk menangkap Baim,”


“Terima kasih, La. Aku pergi dulu ya,”


“Kamu hati-hati ya, Nda…”


Brenda mengangguk sambil masuk ke mobilnya dan


meluncur di jalan hitam. Ela hanya menggelengkan kepalanya memperhatikan mobil


Brenda yang menjauh. Ia benar-benar nggak ingin sahabatnya terluka.



Sepanjang


perjalanan,Brenda dihantui sosok Baim yang


menyebalkan. Cowok sinting yang overprotektif mengejar-ngejar cintanya. Lengannya masih terasa sakit dan meninggalkan


bekas kemerahan. Ia memutar setir ke kanan dan menuju rumah sakit.


Suara telapak


sepatu Brenda terdengar seirama di koridor rumah sakit. Pikirannya masih kacau,


namun ia ingin memberi semangat ke Ryan hari ini. Sesampainya di depan pintu,


Brenda mengintip sedikit. Terlihat Maryati duduk di


kursi sambil memegang jemari tangan Ryan. Kemudian Brenda membuka pintu dan

__ADS_1


menyapa Maryati.


“Pagi, Tante...”


sapanya.


Maryati menoleh


pelan ke Brenda, lalu mengulas senyum manisnya.


“Pagi juga, Nda. Syukurlah kamu sudah datang,”


“Iya, Tante...”


Maryati


memperhatikan wajah Brenda yang sedikit tegang, lalu melihat lengan Brenda yang


memerah.


“Kamu kenapa, Nda?


Lengan kamu...?”


“Hmm... saya nggak


apa-apa, Tante. Tadi saya terjatuh di rumah,”


“Hhh... kamu


hati-hati, Nda...”


“Makasih, Tante. Saya baik-baik aja kok… Bagaimana keadaan Ryan?”


“Sudah mulai


membaik. Ryan sudah menggerakkan tangannya,”


“Bagus kalau


begitu, Tante. Tinggal proses penyembuhan aja,”


“Yah... Kita


ngobrol di luar yuk...” ajak Maryati seraya bangkit dari duduknya.


Brenda mengikuti


wanita itu sambil terus berpikir. Ia tahu kalau Maryati akan menagih janjinya


untuk berpura-pura mencintai Ryan.


Maryati duduk di


kursi yang tersedia di luar ruangan diikuti Brenda. Sejenak ia menatap wajah


Brenda lalu berujar.


“Bagaimana tawaran


saya, Nda?” tanyanya dengan penuh harap.


Brenda menunduk


dan bingung. “Hmmm... Baiklah, Tante. Ini saya lakukan demi Ryan, bukan


semata-mata karena uang,”


Maryati tersenyum.


“Terima kasih, Nda... Kamu memang gadis yang baik. Saya segera mentransfer uang


itu ke rekeningmu,”


“Terima kasih


juga, Tante...” ucapnya datar.


Brenda tersenyum


tipis walau hatinya sedang teriris-iris. Bagaiman ia mencintai cowok autis


seperti Ryan? Sementara ia sangat mencintai Yuda. Namun Yuda sampai saat ini


tidak memberi tanda-tanda ke Brenda.


Setelah menjenguk


Ryan, Brenda permisi pulang. Ia masih harus mengajar anak-anak lainnya. Sungguh


ini pilihan yang sulit untuknya. Dimana ia harus melunasi hutang-hutangnya dan


ia harus mencintai cowok dengan gangguan komunikasi seperti Ryan. Dunianya


seperti jungkir balik dan porak-poranda.


Cowok yang dulu


sangat ia cintai juga membuat ia menderita. Sedangkan Baim cowok dengan


tempramental tinggi selalu mengganggu kehidupannya. Sementara Yuda? Cowok


ganteng yang sejak dulu dicintainya belum memberi tanda-tanda. Apakah ia harus

__ADS_1


menerima ajakan Dedy untuk menikah?



__ADS_2