
Embun pagi masih terlihat di jendela kaca, meremang seperti
pandangan mata manis, saat Brenda menggeliat baru bangun tidur. Mata Brendamasih kuyu seperti mata kupu-kupu. Tetapi bola mata mungil
itu segera mengerjap haru saat menatap embun di jendela kamarnya yang putih seperti
guguran salju. Sebentar lesap karena sinar matahari pagi.
Brenda terbangun. Tidurnya tidak
begitu nyenyak karena pikiran-pikiran lain menghantui otaknya. Cahaya matahari
pagi yang tersulur membuatnya terjaga. Brenda melihat jam dinding di sudut dinding kamarnya. Sudah pukul delapan. Brendamelewatkan pagi-pagi yang indah.
Brenda bangkit dari tempat tidurnya
dengan berat. Meregangkan otot-otot punggungnya dan merentangkan tangannya.
Berjalan dengan malas menuju kamar mandi. Brenda meraih handuk dan menuju kamar mandi.
Pagi yang sangat membosankan. Pagi-pagi sekali Brenda harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ryan. Namun
sebelum ia melangkah keluar, Baim muncul di depan pintu. Brenda terkejut
setengah mati.
“Baim..?! Mau apa
kamu kemari?”tanya Brenda sedikit berang.
“Aku ingin
menuntut kekasih idiotmu itu!”sergah Baim
nyolot
“Cukup, Im! Ryan
sedang sekaratdi rumah sakit. Kamu ingin menuntut
balas? Itu salahmu, bukan kesalahan Ryan!”
“Oh... jadi
kekasihmu itu bernama Ryan? Kamu cewek *****,
Nda! Apa yang
kamu lihat dari cowok idiot itu, hakh! Harta? Kekayaan?!”
“Diam kamu! Aku
bukan cewek matre seperti yang kamu bayangkan, Im! Tolong jangan ganggu
kehidupanku!”
“Alaaa…. Nggak usah munafik! Kamu membutuhkan uang kan
untuk melunasi hutang-hutangmu? Dan kamu memanfaatkan cowok **** itu sebagai
umpan kelicikanmu!”
“Jaga bicaramu, Im! Aku nggak sedikitpun
berniat jelek ke Ryan! Apa sih maumu?! Apa kamu kurang puas menggangguku?!”
“Aku akan terus mengganggu kehidupanmu, Nda. Selama kamu
menolak cintaku!”
“Kamu gila, Im.
Masih banyak gadis lain yang menanti cintamu,”
“Tapi aku sangat mencintaimu, Nda...!”
“Jangan pernah
kamu mengucapkan cinta jika kamu tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya!”
“Kamu terlalu naïf jika menuduhku nggak tahu
arti cinta. Apa kamu pikir seorang pujangga mengerti arti cinta yang
sesungguhnya? Mereka hanya berkata-kata, Nda...”
Brenda melangkahkan kakinya, namun Baim mencengkram
lengan Brenda dengan kuat.
“Lepasiiinn…! Kamu maunya apa sih, Im?!”
“Hidup dan cintamu!”
“Tidak!!” Brenda berusaha melepaskan tangan
Baim. “Aku tidak akan pernah mencintai cowok gila sepertimu, Im!”
“Hei…! Lepaskan!” Ela tiba-tiba aja muncul di
depan rumah Brenda. Baim terkejut dengan kehadiran Ela yang keluar dari mobil
mewah. Baim melepaskan lengan Brenda yang sudah kesakitan.Ela berjalan tergesa menghampiri
__ADS_1
Brenda.
“Kamu memang sinting! Tega-teganya kamu
menyakiti kaum hawa. Dimana martabatmu sebagai cowok?!” Ela mendekati Brenda
yang merintih.
“Kamu nggak usah ikut campur! Ini urusanku dengan Brenda!”
“Heii… kamu jangan main-main. Brenda itu temen
aku dan sudah aku anggap sebagai saudaraku. Aku nggak mau ada seorang laki-laki
menyakitinya!”
“Alaaa…. Kamu tahu apa sih? Hah? Aku mencintai
Brenda dan tidak ada yang bisa melarang cintaku. Kamu tahu?!”
Brenda berlindung di samping Ela sambil melihat
bekas cengkraman tangan Baim.
“Lebih baik kamu tinggalkan Brenda atau aku
akan telepon polisi kalau kamu ingin menyakiti temanku,”
“Silahkan! Dan aku akan terus mengganggu
temanmu!”
Ela membelalakan
matanya yang memerah. Baim beranjak dari
kediaman Brenda dan masuk ke dalam mobilnya. Derum suara mobil meninggalkan
serpihan debu jalanan. Ela melihat lengan
Brenda yang memerah.
“Kamu nggak apa-apa, Nda?”tanya Ela khawatir.
“Nggak, La. Hanya lenganku aja yang sakit,”Brenda merintih.
“Baim keterlaluan. Ini nggak bisadibiarkan, Nda. Kamu harus melaporkan masalah ini ke
polisi dengan tuduhan kekerasan,”
“Aku nggak mau masalahnya menjadi besar, La,”
“Sampai kapan kamu hidup dalam bayang-bayang
cowok itu?”
“Hari ini aku mau menjenguk Ryan, La. Kamu
ikut?”
“Aku nggak bisa,
Nda. Masih ada beberapa tulisan yang harus aku selesaikan. Deadline besok. Tadi
aku hanya ingin menjengukmu, perasaanku enggak enak. Ternyata Baim menyerangmu,”
“Makasih, La. Untung kamu cepat datang, kalau
tidak aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Baim,”
“Kamu kudu hati-hati, Nda. Kalau Baim mengancammu,telpon aja aku. Aku akan
mengerahkan kakak sepupuku untuk menangkap Baim,”
“Terima kasih, La. Aku pergi dulu ya,”
“Kamu hati-hati ya, Nda…”
Brenda mengangguk sambil masuk ke mobilnya dan
meluncur di jalan hitam. Ela hanya menggelengkan kepalanya memperhatikan mobil
Brenda yang menjauh. Ia benar-benar nggak ingin sahabatnya terluka.
Sepanjang
perjalanan,Brenda dihantui sosok Baim yang
menyebalkan. Cowok sinting yang overprotektif mengejar-ngejar cintanya. Lengannya masih terasa sakit dan meninggalkan
bekas kemerahan. Ia memutar setir ke kanan dan menuju rumah sakit.
Suara telapak
sepatu Brenda terdengar seirama di koridor rumah sakit. Pikirannya masih kacau,
namun ia ingin memberi semangat ke Ryan hari ini. Sesampainya di depan pintu,
Brenda mengintip sedikit. Terlihat Maryati duduk di
kursi sambil memegang jemari tangan Ryan. Kemudian Brenda membuka pintu dan
__ADS_1
menyapa Maryati.
“Pagi, Tante...”
sapanya.
Maryati menoleh
pelan ke Brenda, lalu mengulas senyum manisnya.
“Pagi juga, Nda. Syukurlah kamu sudah datang,”
“Iya, Tante...”
Maryati
memperhatikan wajah Brenda yang sedikit tegang, lalu melihat lengan Brenda yang
memerah.
“Kamu kenapa, Nda?
Lengan kamu...?”
“Hmm... saya nggak
apa-apa, Tante. Tadi saya terjatuh di rumah,”
“Hhh... kamu
hati-hati, Nda...”
“Makasih, Tante. Saya baik-baik aja kok… Bagaimana keadaan Ryan?”
“Sudah mulai
membaik. Ryan sudah menggerakkan tangannya,”
“Bagus kalau
begitu, Tante. Tinggal proses penyembuhan aja,”
“Yah... Kita
ngobrol di luar yuk...” ajak Maryati seraya bangkit dari duduknya.
Brenda mengikuti
wanita itu sambil terus berpikir. Ia tahu kalau Maryati akan menagih janjinya
untuk berpura-pura mencintai Ryan.
Maryati duduk di
kursi yang tersedia di luar ruangan diikuti Brenda. Sejenak ia menatap wajah
Brenda lalu berujar.
“Bagaimana tawaran
saya, Nda?” tanyanya dengan penuh harap.
Brenda menunduk
dan bingung. “Hmmm... Baiklah, Tante. Ini saya lakukan demi Ryan, bukan
semata-mata karena uang,”
Maryati tersenyum.
“Terima kasih, Nda... Kamu memang gadis yang baik. Saya segera mentransfer uang
itu ke rekeningmu,”
“Terima kasih
juga, Tante...” ucapnya datar.
Brenda tersenyum
tipis walau hatinya sedang teriris-iris. Bagaiman ia mencintai cowok autis
seperti Ryan? Sementara ia sangat mencintai Yuda. Namun Yuda sampai saat ini
tidak memberi tanda-tanda ke Brenda.
Setelah menjenguk
Ryan, Brenda permisi pulang. Ia masih harus mengajar anak-anak lainnya. Sungguh
ini pilihan yang sulit untuknya. Dimana ia harus melunasi hutang-hutangnya dan
ia harus mencintai cowok dengan gangguan komunikasi seperti Ryan. Dunianya
seperti jungkir balik dan porak-poranda.
Cowok yang dulu
sangat ia cintai juga membuat ia menderita. Sedangkan Baim cowok dengan
tempramental tinggi selalu mengganggu kehidupannya. Sementara Yuda? Cowok
ganteng yang sejak dulu dicintainya belum memberi tanda-tanda. Apakah ia harus
__ADS_1
menerima ajakan Dedy untuk menikah?