RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 6


__ADS_3

“La, temeni aku


ke dokter yuk…” ajak Brenda lewat ponsel. Ela kaget di seberang sana.


“Apa? Ke dokter?


Kamu hamil?”Mata Ela terbelalak.


“Yee… enak aja.


Kamu makin ngeres aja pikirannya. Aku mau ketemu dokter Daniel. Kata temenku


dia pernahmenangani anak-anak autis,”


“Kamu mau


memeriksakan dirimu? Apakah kamu autis atau tidak?”


“Elaaa…! Jangan


bercanda ah. Kalau nggak mau ya sudah!”Brenda sewot.


“Ok deh nona


manis… Gitu aja udah kejang-kejang… Nanti cepat tua loh…”


Brenda nyolot.


“Biarin!”


“Ya udah… tunggu aku.”


Brenda membelokkan


setir motornya ke kanan menuju rumah sakit. Ia menunggu Ela di lobby dengan


gelisah.Lima belas menit kemudian Ela datang menghampiri Brenda


yang cembetut. Kakinya udah kesemutan.


“Lama amat sih..?” sungutnya.


“Sorry, Nda... Aku terjebak macet. Kenapa kamu nggak


masuk aja?”


“Aku phobia berhadapan sama dokter,” Brenda bangkit dari duduknya. Ia mengetuk pintu ruang dr.


Daniel. Setelah dipersilahkan masuk, Brenda dan Ela duduk manis. Brenda


bertanya-tanya seputar penyakit autis. Bagaimana penyakit itu bisa menyerang


dan bagaimana awalnya. Bagaimana pula peran orang tua ketika penderita autis


menanjak remaja dan dewasa.


“Yang pasti autis itu bukan penyakit, tapi berupa gangguan perkembangan. Autistic Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan fungsi otak


yang kompleks dan sangat bervariasi (Spectrum), biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi


sosial dan kemampuan berimajinasi.”


“Apa sangkut pautnya dengan makanan, Dok?”


“Ada yang menyebutkan bahwa autisme disebabkan


oleh kontaminasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat


beracun seperti logam berat yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar. Ada juga beberapa ahli yang menyebutkan penyebab autis adalah Genetik, teori


kelebihan Opioid, Teori Gluten– Casein(Celiac),


teori Zat darah yang menyerang kuman ke Myeli Protein Basis dasar, teori


infeksi karena virus vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) dan Thimerosal


/bahan pengawet dari Merkuri), teori sekretin, teori kelainan saluran cerna


(Leaky Gut), teori paparan aspartame, teori kekurangan vitamin, mineral nutrisi


tertentu  dan teori orphanin Protein,


karena banyak faktor yang dicurigai maka para ahli  menyebutkan  sebagai Multifaktoral (banyak faktor). Apakah faktor genetika atau


faktor lain. Yang jelas kita harus menjaga makanan. Makanan yang tidak sehat


dan mengandung mercuri dan plumbum serta bahan kimia lainnya.”


“Ohh...” Brenda manggut-manggut.


“Ada kalanya orangtua tidak sadar anak penyandang Autis bakal memasuki masa remaja


penuh gejolak. Jika tidak dipersiapkan dengan baik akan muncul banyak masalah


karena ketidakmampuan interaksi


sosial pada diri anak.”


Brenda manggut-manggut lagi.


Dr. Daniel melanjutkan kata-katanya.


“Autis diklasifikasikan


sebagai ketidak normalan perkembangan otak yang menyebabkan hambatan interaksi


sosial, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap yang tidak biasa,


seperti tindakan sama yang berulang-ulang dan keterikatan berlebihan pada benda atau obyek tertentu. Autis empat kali lebih banyak menyerang

__ADS_1


anak laki-laki daripada anak perempuan. Karena dianggap anak tidak bisa


berinteraksi atau tidak peduli jika diajak bicara, orangtua seringkali enggan


memberi informasi kepada anaknya yang Autis. Tentang perubahan yang akan


terjadi bila anak menginjak usia remaja. Padahal


informasi ini penting agar anak Autis paham bahwa ketika remaja beberapa bagian


tubuhnya akan berubah. Emosinya juga semakin menggebu dan hasrat seksualnya


mulai muncul. Anak Autis itu seperti


anak kecil, meskipun kelihatannya cuek, ia bisa menyerap informasi yang dia


terima. Soal cepat atau tidaknya informasi itu terserap, tergantung


keterikatannya pada persoalan tersebut.”


“Apa yang harus dilakukan


orangtua, Dok?”


“Untuk itu, kiranya


perlu bagi para orang tua secara bijaksana membantu mereka untuk dapat


mengenalkan **** sesuai dengan usia mereka melalui: Gambar manusia sejak bayi hingga dewasa. Perubahan fisik yang akan terjadi. Mengarahkan anak autis untuk dapat


mengelola hasrat seksual, mengajarkan komunikasi 2 arah antara anak dan orangtua, menerapkan perilaku disiplin dan


konsekuensi sebab akibat dari perilaku mereka terhadap orang lain.”


Brenda manggut-manggut. Dirasa sudah cukup penjelasan dr. Daniel, ia


pamit.


“Terima kasih, Dok. Saya pikir sudah cukup penjelasan yang


dokter paparkan tadi. Sekali lagi terima kasih, dok. Kami permisi dulu,”


“Sama-sama. Saya akan membantu


bila anda membutuhkan saya,”


Brenda mengangguk dan


tersenyum manis. Ia beranjak


dari duduknya dan pergi.


“Ugh... begitu aja kamu


seperti mau diperkosa buto ijo. Padahal kamu sendiri bisa menghadapi dokter


“Impas!”


“Kok impas?”


“Ya, gara-gara kamu datang


terlambat, kakiku kesemutan,”


“Itu bukan alasan,”


“Ok, terima kasih atas kesediaan waktumu,” Brenda terus melangkahkan


kakinya di koridor.


“Hanya itu?” alis Ela naik sedikit.


“Yah..”


“Ugh... dasar,” Ela


mengumpat, lalu melangkah terburu-buru.


“Jangan kenceng-kenceng kalau jalan. Ntar kamu terpeleset,”


“Aku masih ada janji dengan Reynold,”


“Ughh… Reynold lagi Reynold lagi. Kapan sih kamu bisa meluangkan waktu


untukku?” Brenda mengikuti langkah Ela yang tergesa-gesa.


“Makanya kamu cari pacar. Ini


tidak saatnya berdebat, Nda. Aku harus menemui Raynold. Ada yang ingin kami bicarakan,”


“Okey… anggap saja aku yang salah telah membuatmu membatalkan janji.


Bagaimana kalau kita makan malam?” usul  Brenda.


“Baik, itu sebagai hukumanmu. Kamu traktir aku,”


“Ughh… Ela… masak aku yang traktir??”Brenda merengek seperti anak kecil.


“Kamu kan baru dapat gaji dari anak didikanmu,”


“Itu untuk melunasi hutang-hutangku di bank. Sebelum bunganya membludak


seperti bom,” Brenda sedikit merajuk. Ela menghentikan langkahnya. Mengangkat


bahunya dengan ekspresi pasrah.


“Ok, kali ini aku yang traktir,”


“Ya… kamu kan tahu keuanganku belum stabil,”

__ADS_1


Ela menatap Brenda dengan


lekat, lalu tersenyum tipis. Tak tega melihat Brenda menunjukkan wajah sedihnya. Ia memeluk


Brenda sebagai kata maaf dalam persahabatan mereka. Brenda dan Ela beranjak


meninggalkan rumah sakit. Mereka


cekakak cekikik di koridor rumah sakit.



Brenda tiba di rumah dengan penuh kekesalan. Sehabis mandi ia menatapi


wajahnya di depan cermin. Entah mengapa tiba-tiba saja ia teringat dengan wajah


Ryan.


“Ohh... kenapa lagi-lagi wajah


itu yang kuingat?”


Brenda  gelisah  di kamar. Kehadiran Baim membuat


hari-harinya semakin terasa terkekang. Cowok ingusan itu selalu saja mengejar-ngejar cinta


Brenda. Padahal Brenda sama sekali tidak memberi harapan pada cowok itu. Ia


hanya menganggap Baim sebagai seorang sahabat atau adik dantidak memiliki perasaan


lebih terhadapnya. Brenda curhat ke Ela mengenai Baim lewat ponsel.


“Aku takut sekali, La.


Baim terus saja mengancamku… Dia seperti sosok monster yang memata-mataiku,” ucap


Brenda dengan ekspresi galau.


“Ngancam kamu?


Apa haknya?”tanya Ela melotot.


“Dia akan terus


mengganggu kehidupanku. Gila kan tuch cowok?”


“Kamu harus


tegas, Nda. Kalau enggak kamu bilang enggak,”


“Sudah ku katakan, La. Tapi dia bersikeras agar aku


mencintainya,”


“Jangan


biarkan dia mempermainkanmu, Nda. Kamu laporkan aja ke polisi,”


Brenda terdiam


sejenak. Ia memperhatikan genangan air hujan di samping kamarnya.


“Aku harus


bagaimana, La. Dia juga mengancamku kalau aku melaporkannya ke polisi.”


“Kamu jangan


diam aja, Nda. Ini masalah kehidupanmu, masa depanmu. Kalau


dia tetap menterormu, maka dia akan terus merajalela menghantuimu,”


“Aku bingung…


Anak itu suka nekad. Kemarin aja dia nekad menyayat lengannya karena aku menolak


perkataan cintanya,”


“Nda… kamu harus


hati-hati. Baim itu cowok psikopat!”


Brenda menggigit


bibirnya dengan mata menerawang. Mengapa ia harus berkenalan dengan cowok


ambisius seperti Baim kalau ternyata cowok itu seorang psikopat.


“Iya, La…Aku takut aja,”


“Ya sudah, kamu istirahat aja. Udah malam. Mending kamu


memikirkan pekerjaanmu besok,”


“Ya...Makasih atas saranmu. Bye…”


Brenda mematikan


ponselnya, lalu memperhatikan tetes air hujan dari jendela kamarnya. Ia mengingat


wajah Ryan sesaat. Cowok itu membuat semangatnya bangkit kembali. Ryan sangat


membutuhkan pertolongan.


“Kasihan Ryan…”


gumamnya dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2