RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 4


__ADS_3

Brenda menggigit sandwich-nya.


Hmmm… enak sekali buatan Ela kali ini.


“Sandwich buatanmu enak, La,” pujiBrenda.


“Siapa dulu?” Ela


menepuk-nepuk dadanya. Dituangkannya susu cair kemasan kotak  ke gelasnya. Lalu dia juga mencomot sepotong


sandwich di atas meja.


”Kenapa kamu nggak buka


warung aja?” kata Brendamemberi


saran.


“Enggak ah. Aku nggak


ada bakat di kuliner. Aku juga nggak mau bangkrut dan mengalami


depresi sepertimu. Kamu kehilangan pekerjaan dan modal yang sangat besar.


Sekarang kamu harus melunasi hutang-hutangmu,”


“Yah, itu sudah jalan hidupku,”


“Sekarang


apa rencanamu?”


“Aku tetap


ingin membantu Ryan. Menurutku


Ryan cowok yang cakep,”


“Kau sudah gila?


Apa kamu


sadar atas ucapanmu?”alis Ela naik beberapa mili.


“Apa aku terlihat tidak sadarkan diri? Aku sudah bertemu dengannya. Ryan nggak sepenuhnya autis. Dia hanya


kurang interaksi, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain,”


“Sama saja, Brenda… Ryan tetap saja cowok


autis. Atau… kamu


mengaguminya?”


“Husst…


sembarangan! Aku nggakmungkin jatuh cinta dengan Ryan.”


“Lantas kenapa kamu menolak


dokter Deddy?”


“Itu nggak ada sangkut


pautnya, La. Aku masih belum menerima keputusan dr. Deddy aja. Lagi pula aku nggak tahu asal-usul dr. Deddy. Aku masih trauma,”


“Apalagi yang kamu tunggu?


Jodoh sudah ada di depanmu. Apa kamu nggakingin menikah?”


Brendameletakkan piring kecil


bekas sandwich di atas meja, lalu menghapus bibirnya dengan tisu.


“Aku masih belum


mau menikah muda,”


“Kau akan


menikah setelah rambutmu putih semua?”


“Ela… Itu nggakakan


terjadi,”


“Lantas, apalagi


yang kau pikirkan. Umurmu sudah dua puluh dua tahun, Nda,”


“Dan kamu pikir


aku terlalu tua?”


“Setidaknya nggakada


kerutan di wajahmu dan kau menghabiskan waktumu di salon kecantikan,”


“Ugh… kamu


membuatku patah semangat,”


“Kamu saja yang membuat dirimu cepat tua,”


“Aku


pulang dulu ah. Sudah malam, besok aku harus ke rumah Ryan. Aku nggak mau terlambat sampai di rumah Maryati,” Brendaberanjak dari kursinya.


“Jangan lupa kamu cari jodoh.


Kalau boleh jangan seperti Ryan… Hahaha…”


“Husst… Ela! Kamu


apa-apaan sih?! Nggakbaik mencibir orang,” Brenda sedikit sewot.


“Aku bercanda,”


“Nggak lucu

__ADS_1


tau!”


“Iya-iya… aku


minta maaf,”


“Sampai ketemu


besok,” pamit Brenda.“Sampaikan salamku ke tante Salma,”


“Ok.”


Brenda keluar dan menghampiri motornya. Entah mengapa kini


pikirannya dihantui bayang-bayang Ryan yang sangat memprihatinkan.


‘Kasihan Ryan. Bagaimana masa depan cowok itu?’batinnya.


Handpone Brenda berdering. Dari Baim.


Baim adalah cowok pyskopat yang mengejar-ngejar cinta


Brenda. Mereka bertemu pada sebuah pesta. Sosok cowok metro dan playboy berusia


20 tahun itu bukan tipe cowok yang diidamkan. Brenda sudah cukup trauma dengan


perlakuan Franky. Brenda tidak menyukai cowok itu yang dianggap terlalu posesif


dan arogan.


“Ya halo…?”


sapanya.


“Brenda, aku ingin bicara


denganmu,” suara Baim mengejutkan Brenda.


‘Apa sih mau cowok ini?’ bathin Brenda kesal.


“Bicara soal apa?”


tanya Brenda penasaran.


“Kita harus


ketemu,”


“Ketemu? Untuk


apa?” tanya Brenda dengan alis yang sedikit naik.


“Aku menunggu


jawabanmu, Nda. Kamu harus menerima cintaku,”


Brenda mendengus kesal.


“Kau nggak bisa


memaksakan kehendakmu, Baim. Aku tidak mencintaimu dan kamu bukan laki-laki


“Bukan pilihanmu?


Lantas kamu memilih laki-laki seperti apa? Bintang film? Cowok kaya? Atau…?”


“Jaga bicaramu, Im. Aku nggak seperti


itu,”


“Lantas kenapa


kamu menolakku, Nda? Apa yang kurang pada diriku? Aku cakep, anak orangkaya,


anak orang berada,”


“Dan aku bukan


cewek matre yang mata duitan, Im!”


“Kalau begitu


temui aku dan kita bicarakan masalah ini,”


“Masalah


apalagi? Sudah malam, aku capek,”


“Masalah


hubungan kita, Nda. Aku sangat mencintaimu,”


Brenda menghela nafas berat.


“Hubungan kita?


Sejak kapan kita menjalin hubungan.  Kita


sama sekali tidak punya komitmen,”


“Aku nggakpeduli. Temui aku atau aku akan bilang sama orang-orang kalau kamu perempuan


penipu,”


Brenda menaikan


alisnya. Geram juga melihat tingkah Baim.


“Ok, dimana?”


tanya Brenda kemudian.


“Di café biasa.


Aku tunggu setengah jam lagi,”


“Baik dan


setelah itu jangan pernah mengusik kehidupanku,”

__ADS_1


“Ok,”


Brenda menyalakan


starter motornya, kemudian melaju di jalan hitam. Dalam perjalanan pikirannya


terus berkecambuk tak menentu.



Di sebuah cafe tempat mereka dulu pernah bertemu, Baim


duduk sambil menatap wajah Brenda. Brenda mengalihkan pandang dari tatapan Baim yang dianggap berlebihan.


“Sekarang apa


yang kamu inginkan, Im?” tanya Brenda mencairkan suasana.


“Cintamu, Nda,”


“Lupakan rasamu


itu padaku,”


“Enggak akan.


Aku nggak akan melupakanmu begitu saja,”


“Kamu terlalu


memaksa,”


“Ya. Itulah


aku,”


Brenda


memalingkan wajah ketika Baim menatapnya dengan tajam. Ia


merasa bosan dengan cowok yang maunya menang sendiri. Memaksakan kehendak dan


terlalu overacting.


“Baiklah, kalau


begitu aku permisih,” Brenda bangkit dari kursinya. Tangan Baimdengan


cepat meraih lengan Brenda.


“Nda… please.


Setidaknya kamu mau menemaniku disini,”


“Aku nggak mau kamu


semakin gila, Im,”


“Aku memang


tergila-gila padamu, Nda,”


“Sudahlah…


jangan mulai lagi. Atau aku benar-benar pulang dan meninggalkanmu disini,”


“Ok…”


Brenda kembali


ke tempat duduk. Mata mereka saling pandang, namun tidak ramah. Ada sedikit kebencian di


hati Brenda. Ia pernah melihatBaim  bersama seorang cewek, anak sekolahan. Dia


juga pernah memergoki Baim  bermesraan dengan gadis lain.


Setelah beberapa


lama mereka hening dan saling pandang, akhirnya Brenda memutuskan untuk pulang.


Besok dia harus kembali ke rumah Maryati. Tidak ada keputusan apa-apa dari Brenda.


“Kalau nggak ada


yang dibicarakan lagi sebaiknya aku pulang. Masih banyak yang harus aku


kerjakan di rumah,”


“Tenang, Nda.


Aku akan mengantarmu pulang,”


“Nggak perlu.


Aku bawa motor,”


“Motor..? Hahahaha...” Baim tertawa lebar seolah mencibir


Brenda.


“Aku bukan cewek matre seperti pacar-pacarmu yang lain.”


Baim terdiam.


“Okey… Maafkan aku, Nda. Aku nggak bermaksud mengejekmu.”


“Permisih.”


Brenda beranjak


dari kursi dan berlalu dari sosok Baim yang menyebalkan. Baim hanya mengangkat bahunya merasa kesal dan kecewa. Sepanjang perjalanan dia


hanya mengumpat keputusan Baim yang sepihak. Entah apa


maunya cowok itu.



__ADS_1


__ADS_2