
Brenda tiba di rumah setelah sholat isya.
Pembantunya buru-buru membukakan pintu. Brenda masuk dengan wajah lelah. Belum
sempat ia duduk di kursi, pembantunya langsung berkata;
“Tadi ada titipan, Bu,” kata pembantu
itu.
“Titipan apa?” tanya Brenda ingin tahu. Dahinya
berkerut sambil menatap pembantunya. ‘Apa surat tagihan lagi? Pikirnya dalam
hati.
Pembantu itu mengambil seikat rangkaian bunga segar dari atas bufet lalu memberi ke Brenda. Brenda mengerutkan keningnya.
“Dari siapa, Bik?” tanyanya.
“Pak Yuda, Bu...”
“Yuda?” sedikit bergemuruh hati Brenda
mendengar nama Yuda. Buru-buru ia menerima bunga itu dan membaca selembar
kertas yang menempel di sisi batang bunga. Brenda tersenyum tipis membaca
tulisan singkat itu. Just for you...
Kriiing.... Kriiinngg.... tiba-tiba aja
handphonenya berdering. Brenda mengangkat ponselnya. Dari Yuda.
“Bagaimana? Kamu suka bunga
pemberianku?” tanya Yuda dari seberang sana, sebelum Brenda mengucap kata halo.
“Hmmm... bunga yang indah. Darimana kamu
tahu aku suka mawar?”
Yuda terkekeh. “Setiap perempuan pasti
suka mawar,”
“Makasih ya, Yud. Aku nggak nyangka kamu
mengirimi aku bunga yang indah ini,”
“Ini kejutan buatmu,”
“Hmmm…makasih...”
“Selamat istirahat ya...”
“Yup...”
Klik. Yuda mematikan ponselnya. Padahal
__ADS_1
Brenda masih ingin berlama-lama ngobrol dengan Yuda. Brenda meletakkan bunga
pemberian Yuda di atas meja dan menyuruh pembantunya untuk mengambil vas bunga. Lama ia
memandang bunga-bunga itu sambil tersenyum tipis. Hatinya seperti kuncup-kuncup
mawar yang tengah berkembang.
“Ah... Yuda... aku sangat kagum
padamu... Apakah ini tanda-tanda dari cintamu?” gumam Brenda dalam hati sambil
tersenyum.
Brenda merebahkan tubuhnya diatas tempat
tidur dan lelap dalam buaian mimpi yang indah.
Brenda menguap lebar ketika matahari
menyilaukan matanya, ketika jam weker berdering keras menyentaknya dari mimpi
indah. Ia bangkit sambil melihat jam yang mengantung di dinding kamarnya. Sudah
jam tujuh lewat. Ia menekuk tangannya, menggelengkan kepala yang kemarin terasa
berat. Dengan malas ia membuka gorden jendela kamar. Aroma susu coklat melintas
di hidungnya.
“Ini susunya, Bu...” sang pembantu
“Terima kasih ya, Bik,”
Brenda mengambil gelas itu lalu
meniupnya. Ia memperhatikan bunga-bunga kecil yang tumbuh di halaman rumah.
Ponselnya berdering. Dari Ela.
“Ya, halo...”
“Nda, temeni aku fitting gaun pengantin
yuk...” ajak Ela memohon.
“Loh... kok aku? Calon suamimu kemana?”
“Dia lagi sibuk di kantor. Ada tim
audit. Ayo dong, Nda....”
“Ya udah. Aku mandi dulu,”
“Ok, kita ketemu di sana aja ya,”
“Yup.”
__ADS_1
Brenda mematikan ponsel sambil
termenung. Ela akan menikah sebentar lagi. Sementara dirinya masih mencari
cinta sejati dari cowok yang benar-benar mencintainya.
“Waahhh... kamu cantiksekali, La...” seru Brenda girang.
Ela membenahi gaunnyayang sedikit melorot. Gaun pengantin warna
krem bertabur batu manikam yang indah. Dari bahan berkelas dan dari penjahit
terkenal di kota Medan.
“Kamu juga akan mengenakan gaun pengantinmu, Nda,” ujar
Ela memberi semangat ke Brenda.
“Ugh... aku nggak tahu entah sampai kapan, La. Aku belum
tahu siapa jodohku. Cowok yang aku taksir dan aku cintai juga nggak memberi
respon apa-apa. Padahal kemarin dia mengirimi aku bunga mawar,”
“Oh ya? So sweet...
siapa laki-laki itu?”
“Yuda,”
“Yuda? Wah... ini jalan buatmu, Nda, untuk mendapatkan cinta Yuda kembali,”
“Tapi sampai saat ini dia tidak meneleponku, La. Aku jadi
bingung,”
“Kamu jangan sensitive begitu dong... Mungkin saja dia
lagi sibuk, atau ada hal-hal lain hingga lupa menghubungimu,”
“Entahlah...”
“Jam berapa kamu ke rumah Ryan?”
“Setelah menemanimu fitting. Aku nggak mau kamu
memaki-makiku karena nggak mau menemanimu,”
“Brendaa… jangan gitu ah. Ini juga
udah selesai. Aku juga banyak kerjaan. Majalahku mau naik omset,”
Ela kembali memperhatikan dirinya di depan cermin sambil
tersenyum-senyum. Brenda ikut membenahi gaun penganti Ela.
Setelah puas fitting gaun pengantin, Ela dan Brenda berpisah.
__ADS_1
Mereka menuju ke lokasi kerja masing-masing.