RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 22


__ADS_3

Brenda tiba di rumah setelah sholat isya.


Pembantunya buru-buru membukakan pintu. Brenda masuk dengan wajah lelah. Belum


sempat ia duduk di kursi, pembantunya langsung berkata;


“Tadi ada titipan, Bu,” kata pembantu


itu.


“Titipan apa?” tanya Brenda ingin tahu. Dahinya


berkerut sambil menatap pembantunya. ‘Apa surat tagihan lagi? Pikirnya dalam


hati.


Pembantu itu mengambil seikat rangkaian  bunga segar dari atas bufet lalu memberi  ke Brenda. Brenda mengerutkan keningnya.


“Dari siapa, Bik?” tanyanya.


“Pak Yuda, Bu...”


“Yuda?” sedikit bergemuruh hati Brenda


mendengar nama Yuda. Buru-buru ia menerima bunga itu dan membaca selembar


kertas yang menempel di sisi batang bunga. Brenda tersenyum tipis membaca


tulisan singkat itu. Just for you...


Kriiing.... Kriiinngg.... tiba-tiba aja


handphonenya berdering. Brenda mengangkat ponselnya. Dari Yuda.


“Bagaimana? Kamu suka bunga


pemberianku?” tanya Yuda dari seberang sana, sebelum Brenda mengucap kata halo.


“Hmmm... bunga yang indah. Darimana kamu


tahu aku suka mawar?”


Yuda terkekeh. “Setiap perempuan pasti


suka mawar,”


“Makasih ya, Yud. Aku nggak nyangka kamu


mengirimi aku bunga yang indah ini,”


“Ini kejutan buatmu,”


“Hmmm…makasih...”


“Selamat istirahat ya...”


“Yup...”


Klik. Yuda mematikan ponselnya. Padahal

__ADS_1


Brenda masih ingin berlama-lama ngobrol dengan Yuda. Brenda meletakkan bunga


pemberian Yuda di atas meja dan menyuruh pembantunya untuk mengambil vas bunga. Lama ia


memandang bunga-bunga itu sambil tersenyum tipis. Hatinya seperti kuncup-kuncup


mawar yang tengah berkembang.


“Ah... Yuda... aku sangat kagum


padamu... Apakah ini tanda-tanda dari cintamu?” gumam Brenda dalam hati sambil


tersenyum.


Brenda merebahkan tubuhnya diatas tempat


tidur dan lelap dalam buaian mimpi yang indah.



Brenda menguap lebar ketika matahari


menyilaukan matanya, ketika jam weker berdering keras menyentaknya dari mimpi


indah. Ia bangkit sambil melihat jam yang mengantung di dinding kamarnya. Sudah


jam tujuh lewat. Ia menekuk tangannya, menggelengkan kepala yang kemarin terasa


berat. Dengan malas ia membuka gorden jendela kamar. Aroma susu coklat melintas


di hidungnya.


“Ini susunya, Bu...” sang pembantu


“Terima kasih ya, Bik,”


Brenda mengambil gelas itu lalu


meniupnya. Ia memperhatikan bunga-bunga kecil yang tumbuh di halaman rumah.


Ponselnya berdering. Dari Ela.


“Ya, halo...”


“Nda, temeni aku fitting gaun pengantin


yuk...” ajak Ela memohon.


“Loh... kok aku? Calon suamimu kemana?”


“Dia lagi sibuk di kantor. Ada tim


audit. Ayo dong, Nda....”


“Ya udah. Aku mandi dulu,”


“Ok, kita ketemu di sana aja ya,”


“Yup.”

__ADS_1


Brenda mematikan ponsel sambil


termenung. Ela akan menikah sebentar lagi. Sementara dirinya masih mencari


cinta sejati dari cowok yang benar-benar mencintainya.



“Waahhh... kamu cantiksekali, La...” seru Brenda girang.


Ela membenahi gaunnyayang sedikit melorot. Gaun pengantin warna


krem bertabur batu manikam yang indah. Dari bahan berkelas dan dari penjahit


terkenal di kota Medan.


“Kamu juga akan mengenakan gaun pengantinmu, Nda,” ujar


Ela memberi semangat ke Brenda.


“Ugh... aku nggak tahu entah sampai kapan, La. Aku belum


tahu siapa jodohku. Cowok yang aku taksir dan aku cintai juga nggak memberi


respon apa-apa. Padahal kemarin dia mengirimi aku bunga mawar,”


“Oh ya? So sweet...


siapa laki-laki itu?”


“Yuda,”


“Yuda? Wah... ini jalan buatmu,  Nda, untuk mendapatkan cinta Yuda kembali,”


“Tapi sampai saat ini dia tidak meneleponku, La. Aku jadi


bingung,”


“Kamu jangan sensitive begitu dong... Mungkin saja dia


lagi sibuk, atau ada hal-hal lain hingga lupa menghubungimu,”


“Entahlah...”


“Jam berapa kamu ke rumah Ryan?”


“Setelah menemanimu fitting. Aku nggak mau kamu


memaki-makiku karena nggak mau menemanimu,”


“Brendaa… jangan gitu ah. Ini juga


udah selesai. Aku juga banyak kerjaan. Majalahku mau naik omset,”


Ela kembali memperhatikan dirinya di depan cermin sambil


tersenyum-senyum. Brenda ikut membenahi gaun penganti Ela.


Setelah puas fitting gaun pengantin, Ela dan Brenda berpisah.

__ADS_1


Mereka menuju ke lokasi kerja masing-masing.



__ADS_2