RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 2


__ADS_3

Motor  itu meluncur


di jalan hitam. Memasuki perumahan mewah Taman Setia Budi Indah. Setelah berbelok ke


kanan, motor  itu melaju pelan di


aspal hitam. Suara mesinnya menderu pelan.


Maryati sedang sibuk di kebun bunganya. Ia menyemprot bunga-bunga


yang mulai mekar dan mengumpati serangga-serangga kecil yang berpesta pora diantara batang dan daun Mawar. Ia mengganti polybag yang rusak dengan yang baru. Memberi pupuk ke tanaman


anggreknya yang beraneka ragam.


Deru suara mesin motor mencuri perhatiannya. Motor bebek warna merah berhenti di depan toko dengan posisi sejajar dengan tulisan MARYATI FLORIST. Maryati menghentikan


kegiatannya. Ia meletakkan penyemprot di atas meja dan memerhatikan seseorang turun  dari motor. Seorang gadis dengan setelan yang


modis berjalan sambil menyandang tas bermerk Lois Vuiton. Tas peninggalan kesuksesannya dulu. Maryati melirik jam tangan


di lengan kirinya.


“Dia sudah datang? Cepat sekali,” gumamnya. “Seharusnya dia


datang satu jam ke depan,”


Maryati beranjak


dari tempatnya. Ia melepas sarung tangan dan meletakkannya di atas kayu


penyangga. Sejenak ia melihat penampilannya di cermin oval yang terletak di


sisi pintu masuk, terbuat dari kayu jati berukir. Maryati merapikan rambutnya yang sedikit bergelombang, lalu ia membuka pintu dan menyambut kehadiran Brenda dengan senyum mengembang.


“Halo,” sapanya


ramah.


“Halo juga,


Tante…” sambut Brenda dengan seulas senyum yang menawan. Sederetan gigi yang


putih tersusun rapi, menghiasi bibirnya yang manis.


“Kamu cepat


sekali. Maaf, tadi saya masih asyik di kebun, jadi belum merapikan diri,”


ujarnya.


“Tidak apa-apa,


Tante. Kebetulan jam pelajaran saya hari ini tidak ada.  Daripada saya bengong


di rumah,


mending saya melihat bunga-bunga yang ada di toko tante ini,” ucap Brenda.


“Ohh… dengan


senang hati. Mari silahkan…”


“Terima kasih,


Tante.” Brenda mengangguk dengan senyuman.


Mereka berjalan


memasuki kebun bunga milik Maryati. Batu-batu sungai tersusun rapi di injakan


tanah dan mengarah ke sebuah gazebo. Patung seorang


anak dengan bentuk yang sangat indah terletak di tengah taman. Mengeluarkan air


mancur di vas yang dipegangnya dan sebuah kolam kecil dengan ikan hias berwarna


kemerahan.


Wilayah


perumahan Taman Setia Budi Indah ini adalah salah satuperumahan mewah di kota Medan.


Sebagian besar penduduk di situ memiliki mobil mewah dan pekerjaan yang cukup


lumayan.


Brenda berdecak


kagum memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman. Bermacam jenis


Anggrek, Lily, Mawar, Anthurium dan banyak lagi. Maryati  merawatnya sangat sempurna. Rangkaian-rangkaian


bunganya bisa diacungi jempol.


Di sebuah gazebo,


Maryati mempersilahkan Brenda duduk sambil menikmati hembusan angin dan panorama taman. Rangkaian Anggrek dan Lily terlihat apik


di sudut lemari hias. Maryati yang merangkai bunga-bunga itu dengan gaya seni menarik. Brenda memperhatikan beberapa rangkaian Maryati yang sangat elegan. Ingin


juga ia memiliki toko bunga seperti Maryati. Apalagi ia sangat menyukai bunga-bunga tropis dan


impor.


“Jadi begini, Nak


Brenda,” ujar Maryati mengejutkan lamunan Brenda. Brenda tersentak sambil tersenyum tipis. Ia memperhatikan Maryati dengan lekat. Perempuan


baya itu masih terlihat cantik. Kulitnya bersih dengan mata bulat seperti


perempuan keturunan Belanda.


“Putra saya


sangat membutuhkan pendidikan ekstra. Saya ingin nak


Brenda memberi


pelajaran khusus kepadanya,”


“Ya, saya sudah


tahu, Tante. Itu memang tugas saya,”ucapnya lembut.


“Tapi sebelumnya


saya minta maaf. Putra saya tidak sesempurna seperti yang anda bayangkan,”


“Maksud, Tante?”Brenda mengerutkan keningnya.


Maryati menghela nafas sejenak, lalu dihembuskan dengan


perlahan.


“Ia mengalami gangguan


interaksi,”ujarnya sendu. Sejenak situasi menjadi hening.


Brenda tidak mengerti apa maksud perkataan Maryati.


“Hmm… Saya akan mencobanya,


Tante,”ucap Brenda kemudian.


Maryati tersenyum. “Kalau begitu saya panggilkan dulu putra saya, agar


kalian saling kenal,”


Brenda tersenyum


tipis. “Ah, Tante. Nggak apa-apa, biasa aja. Lagipula saya sudah biasa


menyesuaikan diri dengan anak-anak.”


Maryati terdiam


sejenak lalu tersenyum tipis.


“Nak Brenda…”


ucapnya sedikit tertahan. “Tapi putra saya bukan anak-anak lagi,”


Brenda kembali mengerutkan


dahinya.


“Maksud, Tante?”


Brenda ingin tahu.


“Sebentar ya.”


Maryati bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam rumah.


Brenda terus


bertanya-tanya dalam hati. Perkataan Maryati tadi membuatnya berpikir tujuh


keliling. Apa maksudnya kalau putranya bukan anak-anak? Remaja? Atau Dewasa?


Kalau sudah dewasa untuk apa ia memanggil Brenda? Brenda menghalau pikiran-pikiran


buruk dari benaknya. Ia kembali memperhatikan anggrek bulan yang tumbuh subur


di batang pohon.



Ryan, cowok


beralis tebal dengan postur tubuh ideal tengah sibuk di galerinyas. Ia menderita autis sejak


berumur dua tahun. Cenderung pendiam dan fokus pada satu titik. Tidak menyukai


keramaian. Tidak suka dengan warna merah dan kuning. Tidak suka orang-orang


mengejeknya idiot.


Ryan


memperhatikan kanvas putih di pajangan kayu. Dahinya berkerut. Memperhatikan


lukisan yang masih abstrak. Masih berupa sketsa dengan garis patah-patah. Ia


akan melanjutkan esok hari. Saat imajinasinya menyatu dengan pikiran.


Mata Ryan


melirik sebuah lukisan di sudut ruangan. Alisnya naik beberapa mili. Ia


mendekati onggokan kanvas di papan penyangga. Memperhatikan sebuah lukisan yang


masih setengah jadi. Hanya beberapa bagian saja yang perlu disempurnakan.


Ryan mengambil


kuas lalu mencampur warna-warna pada tempat cat. Memadukan warna-warna natural.


Coklat, Orange dan Putih. Tinggal sentuhan terakhir. Seorang perempuan cantik


dengan bola mata berbinar. Lukisan perempuan bermain biola yang anggun.


Rambutnya tergerai dengan balutan satin biru tua.


Maryati menuju ruang lukis anaknya dan memerhatikan


lukisan di papan penyangga.


“Sempurna… Cantik…” suara Maryati membuyarkan lamunan Ryan yang


sedari tadi asyik mengamati lukisannya. Lukisan seorang gadis berambut panjang

__ADS_1


tergerai dengan balutan satin biru sedang bermain biola. Ryan menoleh


ke arah perempuan baya itu dengan pandangan sendu. Ia tidak berekspresi apapun


sebagai interaksi lawan bicaranya. Wajahnya tetap sama. Datar seperti


kemarin-kemarin.


“Siapa gadis


itu?” tanya Maryati ingin tahu.


Ryan meletakkan


kuasnya di atas meja, lalu menatap ibunya dengan pandangan lembut. Tidak


ada yang tersirat di wajah itu.


“Bukansiapa-siapa, Ma…” jawabnya singkat.


Maryati


tersenyum tipis sambil menghampiri Ryan yang kini tumbuh semakin dewasa. Putra satu-satunya yang


dipertahankan sejak dua puluh tiga tahun yang lalu. Maryati menatap wajah Ryan dengan lekat. Ryan menundukkan kepalanya ketika Maryati


menyelidik ada apa gerangan yang mengusik hati putranya.


“Ternyata anak


mama sudah dewasa,” ucap Maryati sambil mengelus kepala Ryan dengan penuh


kasih.


“Ma… Ryan mau


cinta…” ucapnya datar.


Maryati menaikkan


alisnya, memperhatikan wajah Ryan yang tetap sama. Maryati tersenyum lebar.


“Hahahah… Siapa yang Ryan


cinta?” tanyanya kemudian. Maryati berusaha memahami bahasa Ryan yang sangat


sederhana. Walaupun beberapa kali Maryati selalu berbicara dengan kata-kata


yang biasa ia gunakan, namun kali ini ia mendengarkan setiap ucapan Ryan.


Ryan tertunduk, lalu perlahan


tangan kanannya menunjuk ke arah lukisan di pajangan. Lukisan seorang gadis


cantik yang ada dalam bayangannya. Maryati tertawa lebar.


“Hahaha… Ryan…


Ryan… Gadis itu hanya lukisan,” ucap Maryati memberi tahu. “Ryan mencintai


gadis dalam lukisan?” tanyanya kemudian.


Ryan hanya


menunduk dan terdiam. Hal itu membuat Maryati menghentikan tawanya. Sadar kalau


kata-katanya menyinggung perasaan Ryan, Maryati berusaha memberi pengertian kalau


gadis dalam lukisannya itu hanyalah sebuah ilusi. Tidak nyata.


“Gadis itu tidak


ada, Ryan… Dia cuma lukisan,” ujar Maryati memberitahu.


“Ryan cinta dia,


Ma,” Ryan terus memaksa.


Maryati


tersenyum tipis. “Yan… Mama tahu kamu membutuhkan seorang teman. Mama akan cari


seorang guru untuk mengajar kamu agar kamu tidak kesepian. Ryan mau kan?”


Ryan mengambil


bola kristal di atas meja, lalu memainkannya. Ia tertunduk dan diam. Pertanda


ia menerima atau tidak keputusan Maryati, tidak ada yang tahu. Bahkan Maryati


sendiri susah menebak apa keinginan Ryan. Ryan juga tidak pernah cerita


mengenai perasaannya. Apakah dia sedang galau, senang, susah atau sedang jatuh


cinta.


“Maafkan mama,


Yan. Mama tidak bermaksud membuat kamu…,”kata-kata Maryati tertahan.


“Tidak apa-apa,


Ma. Ryan tahu, Ryan tidak sempurna,”potong Ryan.


“Yan… Kamu anak


mama satu-satunya. Mama tidak mau melihat kamu murung dan sedih. Sebenarnya


mama juga tidak tahu tentang perasaan Ryan…”


“Tinggalkan Ryan


sendiri,”


Maryati terdiam


sejenak. Ia berpikir apakah kata-katanya yang membuat Ryan menjadi seperti itu?


Ryan menoleh ke mamanya, namun ekspresi wajahnya tetap


sama.


“Yuk... dia baik kok. Ryan pasti suka,”


Ryan diam saja ketika Maryati mengamit jemari tangannya. Beberapa menit kemudian Maryati


keluar bersama Ryan. Brenda sedikit terkejut melihat seorang cowok bersama


Maryati dengan wajahpolos. Cowok dewasa bercelana jeans dan kaos oblong yang


memainkan bola kristal berulang-ulang. Brenda mengerutkan keningnya.


‘Oh my God. Apakah aku harus menghadapi


cowok idiot itu?’ batinnya.


“Hh… Brenda…


Kenalkan ini Ryan, putra saya,” ucap Maryati memperkenalkan.


Brenda berusaha tersenyum


dan menyambut kehadiran Ryan. Wajah Ryan tetap sama, datar dan tidak


memberikan kesan manis. Brenda mengulurkan tangannya, namun Ryan enggan menyambut tangan


Brenda. Ryan sedikit menolak ketika Brenda memaksa mengulurkan tangan kembali. Matanya


menatap Brenda dengan tajam, lalu menunduk ketika Brenda tersenyum. Tingkahnya


yang seperti anak-anak itu membuat Brenda mengerutkan kening. Buru-buru Ryan


beranjak meninggalkan Brenda dan Maryati, lalu masuk ke kamar dan


membanting pintu dengan keras.


JEDAAAR...


Maryati tercengang


melihat kelakuan Ryan.Ia berusaha tersenyum ke Brenda.


“Hh… maafkan


putra saya, Nak Brenda. Kelakuannya memang begitu. Lama-lama juga dia bisa


akrab kok,”ucap Maryati merasa nggak enak ke Brenda.


“Nggak apa-apa,


Tante. Saya mengerti keadaan Ryan,”


Maryati duduk di


kursi. Diikuti Brenda yang duduk di depannya sambil mendengarkan cerita Maryati tentang putranya. Maryati menghela nafas, lalu menceritakan semua kekurangan Ryan. Masa


kecil Ryan dan masa lalunya yang sangat suram.


“Ketika Ryan


berumur dua tahun, ia mengalami demam tinggi. Saya panik melihat Ryan


kejang-kejang di tempat tidur. Saya membawa Ryan ke dokter anak. Syukurlah Ryan


tidak apa-apa. Demamnya berangsur turun, namun beberapa bulan kemudian Ryan


mengalami kelainan. Dia lebih banyak diam hampir tidak berinteraksi dengan


saya. Saya seperti kehilangan pegangan hidup dan kehilangan putra saya


satu-satunya. Dokter memvonis Ryan mengalami ganguan interaksi,”


“Maksud, Tante?”


“Ryan autis…”


Maryati tertunduk. Matanya merebak dan ia berusaha menahan tetes airmata yang


menggenang. Maryati berusaha tersenyum dan menghapus matanya.


“Tapi Ryan sudah


banyak berubah,” ucapnya sendu. “Karena saya selalu membawa Ryan ke dokter. Melakukan


terapi dari bangun hingga tidur kembali. Konsultasi psikolog dan memberi pendidikan khusus untuk Ryan. Menyekolahkan di


salah satu sekolah anak-anak autis. Alhamdullilah Ryan mengalami perubahan.


Walau tidak begitu sempurna,”


Brenda


manggut-manggut. “Kenapa Ryan tidak masuk sekolah khusus aja, Tante…?”


“Itulah


masalahnya, Nak Brenda. Ryan selalu menolak dan sering mengamuk sambil membenturkan kepalanya kalau saya suruh sekolah.


Saya takut dan khawatir Ryan melakukan hal-hal yang tidak saya inginkan. Itu


sebabnya saya mencari alternatif lain. Mungkin dengan belajar di rumah Ryan


bisa lebih rileks dan memahami,”


Brenda menghela


nafas sejenak, lalu bertanya lagi.


“Apa penyebab


Ryan menjadi  autis, Tante?”

__ADS_1


Maryati menoleh


menatap wajah Brenda dengan lekat. Pendar mata perempuan itu


terlihat berkaca-kaca namun tertahan oleh gejolak batin yang terus berkecamuk.


“Saya tidak tahu.


Dokter juga tidak dapat memberi alasan yang tepat. Kata mereka belum diketahui


penyebabnya. Apakah faktor genetika atau faktor lain. Semua mengatakan begitu,


tapi yang jelas ada faktor makanan yang terkontaminasi dengan zat-zat beracun. Itu


yang  menyebabkan perkembangan otak anak


terganggu.”


Brenda manggut-manggut


lagi. Ia merasa iba dengan keadaan Ryan. Cowok itu harus menanggung derita


bertahun-tahun sampai dewasa. Brenda terenyuhmendengar cerita Maryati. Baru


kali ini ia melihat anak autis sampai dewasa. Ia ingin mengembalikan semangat


Ryan sebagai seorang cowok yang mandiri, gagah dan tidak mudah terpengaruh. Brenda


tidak ingin Ryan terus bermain-main dengan dunianya sendiri, tanpa


memperdulikan ada komunitas lain di sekitarnya.


“Apakah autis


itu bisa disembuhkan?”


Maryati


menggeleng pelan dengan mata menerawang.


“Secara medis


autis memang tidak bisa disembuhkan dengan sempurna. Namun ada perubahan bagi


autis yang menjalani pengobatan rutin. Terapi otak misalnya, terapi musik, beradaptasi


dengan lingkungan serta perhatian orangtua. Itu juga tergantung tingkatan


penyakitnya. Untuk sembuh seratus persen itu mustahil, Nda,”


“Oh… Maafkan


saya, Tante,”


“Tidak apa-apa,


Nda. Itu kenyataan yang harus saya hadapi,”


“Hhmm… Jadi


kapan saya mulai mengajar Ryan?” tanya Brenda bersemangat.


“Kalau kamu


tidak keberatan, saya minta secepatnya. Saya harap besok kamu sudah mengajar


putra saya. Saya tidak mau putra saya semakin terpojok, Nak Brenda,”


“Saya mengerti,


Tante. Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada yang harus saya kerjakan,”


pamit Brenda seraya beranjak dari kursinya.


“Terima kasih, Nak


Brenda,” ucap Maryati ikut beranjak. Ia mengantarkan Brenda sampai ke pintu


depan.


“Saya harap kamu


tidak bosan memberi pelajaran untuk Ryan,”


“Pastinya,


Tante,”


Brenda berjalan


meninggalkan gazebo menuju motornya yang diparkir di depan. Dari


dalam kamar, Ryan mengintai Brenda lewat celah jendela. Ia memperhatikan gadis


itu dengan lekat lalu mengambil bola kristal di atas meja dan memainkannya


berulang-ulang. Brenda mestarter motornya lalu melirik sekilas


ke jendela kamar Ryan. Ryan buru-buru menutup gorden jendela.


Maryati melambaikan


tangan saat motor Brenda meninggalkan toko bunganya dengan


serpihan asap knalpot. Besar harapan Maryati agar Brenda mau membantu Ryan menemukan jati


dirinya. Ia tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya. Sedikit merapikan meja dan


menata ulang rangkaian bunganya.



Di teras


belakang, Ryan duduk terpaku. Entah apa yang dipikirkan cowokitu. Maryati memperhatikan


Ryan dari balik kaca toko. Ada sedikit rasa cemasdi hatinya. Tidak seperti biasanya


Ryan murung seperti itu.


Maryati


meletakkan gunting bunga di atas meja. Menyuruh karyawannya menyelesaikan


pekerjaan dan memotong tangkai-tangkai bunga yang sudah layu. Maryati


menghampiri Ryan dengan perasaan tidak menentu.


“Yan…” sapanya


ragu-ragu. Ryan menoleh pelan, namun tidak menggubris sapaan Maryati. “Kamu


kenapa, Sayang? Apa yang kamu pikirkan?” Maryati duduk di sebelah Ryan.


Ryan melirik


Maryati. “Ryan tidak mau belajar, Ma,” ujarnya sedikit menekan intonasi suara.


Maryati menghela


berat. “Yaann… belajar itu penting. Mama tidak mau ada orang  mengucilkanmu, mengolok-olok kamu bahkan


mencibirmu,”


“Maa…”


“Ini demi masa


depan Ryan…” Maryati memastikan.


“Ryan tidak mau,


Ma,”


“Jangan bilang


kalau kamu tidak setujuh, Yan… Ryan mau lihat mama sedih? Ini semua mama


lakukan untuk Ryan, demi masa depan Ryan. Jadi terima usul mama,”


“Ryan tidak mau.


Dia ejek Ryan, Ma…”


“Brenda tidak


seperti itu. Dia gadis baik,”


“Ryan tidak


mau,” Ryan memalingkan wajah dari tatapan Maryati. Tangan Maryati memalingkan


wajah Ryan menghadapnya.


“Sampai kapan


Ryan begini? Sembunyi dari dunia luar? Ryan tidak mendapat apa-apa. Kalau terus


mendekam di kamar. Berdiam diri,”


Ryan menatap


Maryati dengan tajam, lalu menunduk pelan. “Ryan suka sendiri…” ujarnya dengan


suara berat.


Maryati


menghela, seperti helaan seekor binatang buas yang kehilangan mangsanya.


“Jangan bikin kecewa mama, Yan…” ujarnya.


“Ma…”


“Sudah. Besok


Brenda datang. Brenda mau ajar Ryan. Mama ke toko dulu. Masih banyak yang ingin


mama kerjakan,”


Ryan tertunduk.


Dia tetap tidak menerima keputusan Maryati yang sepihak tanpa memikirkan


perasaannya. Ryan tidak mau orang-orang menyebutnya idiot, bodoh atau


semacamnya.


Ryan beranjak.


Ia mengambil biola yang terletak apik di lemari khusus miliknya. Ryan mencoba


beberapa senar dan memainkan nada-nada sumbang, seperti lengkingan seekor


kucing. Bekali-kali dicobanya namun tetap saja suara-suara yang keluar seperti


gesekan-gesekan mendecit. Ryan emosi dan tidak sabar, hingga ia menghempaskan


biolanya di sudut tempat tidur.


Ryan


menarik-narik rambutnya berulang-ulang. Pikirannya kacau dan penyakitnya kambuh


lagi. Ryan memang selalu begitu saat suasana hatinya terganggu. Ia sering


memukul tembok bahkan menghentakkan kepalanya berkali-kali ke dinding kamar.


Hal itu membuat Maryati khawatir kalau Ryan bertindak konyol hingga menyakiti


tubuhnya sendiri.

__ADS_1



__ADS_2