RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 7


__ADS_3

B


renda terbangun ketika jam weker


di atas meja kerjanya berdering kuat. Sudah jam tujuh dan ini saatnya Brenda


memulai aktifitasnya. Semalaman ia disibukkan dengan rutinitas kerja yang


berat. Menghadapi cowok ambisius seperti Baim membuat pikirannya kacau.


Brenda bangkit


dari tempat tidurnya menghampiri daun jendela. Ia membuka gorden coklat muda,


lalu membuka daun jendela. Udara pagi masuk mengisi ruang kamar. Kemudian


Brenda berjalan menghampiri meja kecil dan menuang air putih  ke dalam gelas. Tenggorokannya terasa kering


karena berdebat dengan Baim.


Mata Brenda


mengedar ke halaman depan. Ia terbayang lagi dengan wajah Ryan. Wajah itu mulai


memenuhi benaknya. Ia membayangkan bagaimana kelanjutan hidup cowok itu.


Bagaimana masa depannya.


Ponsel Brenda berdering.


Ia tersentak, lalu mengambil ponselnya. Dari Baim. ‘Ughh… mau apa lagi sih?’


dengus Brenda kesal. Brenda menolak panggilan


Baim. Ia bergegas masuk ke kamar mandi lalu membasuh tubuhnya. Pagi ini ia


harus ke rumah Ryan



Brenda mengamati


lukisan-lukisan Ryan di galerinya. Sangat artistik.


Paduan warna yang merata dan sangat elegan. Goresan kuas yang lembut hingga


terlihat seperti aslinya. Begitu halus dengan warna-warna yang natural. Lukisan-lukisan itu patut


diacungi jempol dan bisa bersaing dengan pelukis-pelukis terkenal.


Ryan keluar dari kamarnya. Ia mengenakan jeans biru tua


dan t-shirt putih. Tampak sangat tampan dengan potongan rambut model sekarang. Bibirnya


merah basah dengan kumis yang dicukur namun


masih menyisakan bekas cukuran. Matanya menatap Brenda dengan lekat.Tatapan itu benar-benar membuat Brenda salah tingkah.


“Ryan...?” sapa Brenda lembut dengan seulas senyum yang


menawan. Ryan diam saja dengan ekspresi seperti biasa. Ia mengambil bola


kristalnya yang terletak di atas  buffet, lalu


memainkannya berulang-ulang. Brenda mengikuti langkah Ryan ke balkon belakang.


“Kamu pergi. Ryan tidak mau kamu ada di sini,” ucap Ryan datar. Dahi Brenda berkerut, lalu ia berusaha membujuk Ryan.


“Aku hanya ingin berteman denganmu, Yan,”ucapnya lembut.


“Tidak. Ryan tidak mau teman,”Ryan menolak.


Brenda berusaha lagi membujuknya.


“Yah… mungkin saat ini Ryan tidak butuh. Suatu saat nanti Ryan


pasti butuh teman,”


“Ryan tidak mau.


Kamu pergi saja!” Suara Ryan mengeras.


“Yan… aku ingin jadi sahabatmu. Kita bisa main bersama,”


“Ryan tidak mau,”

__ADS_1


“Yan... kedatanganku bukan untuk menyakitimu. Tapi aku ingin berbagi


pengalaman denganmu,” pujuk Brenda lagi. Ia berusaha bersabar


menghadapi Ryan.Seperti membujuk anak kecil yang sedang


ngambek dan nggak mau makan.


“Ryan tidak


mau!”


“Mungkin kita


bisa bermain, atau berbagi ilmu. Seperti aku menyukai lukisan-lukisanmu,”


Ryan tidak memberi reaksi apa-apa. Ia diam sambil asyik


dengan pikirannya. Brenda terus saja membujuk Ryan.


“Yan… beri aku


kesempatan untuk menemukan jati dirimu. Aku akan membantumu,”


Ryan menatap


Brenda tajam.


“Ryan tidak


mau!” ucapnya ketus sambil meninggalkan Brenda di galerinya.


“Yan, dengar


dulu penjelasanku,”Brenda mengikuti langkah Ryan.


“Pergiii!!


Pergii!! Ryan tidak mau!! Ryan mau sendiri!!”


“Yan… sampai


kapan kamu begini?”


“Ryan tidak


JEDAAARRR…


Sejenak situasi


menjadi hening. Kemudian terdengar suara jeritan-jeritan dari kamar Ryan. Dia


menjerit-jerit sambil membenturkan kepalanya. Brenda panik dan ketakutan. Ia


cemas dengan keadaan Ryan di kamar. Mendengar Ryan teriak-teriak, Maryati


menghampiri Brenda yang panik.


“Bagaimana ini,


Tante?” tanyanya gugup.


Maryati tersenyum


getir.


“Nggak apa-apa,


Nda… Ryan memang suka begitu. Maafkan anak tante ya, Nda. Tante sudah berusaha


memberikan yang terbaik untuk Ryan tapi dia tetap dengan dunianya. Tante nggak


tahu lagi harus bagaimana,”


Maryati berusaha


meyakinkan Brenda. Ia mengajak Brenda ke beranda belakang dan menyuguhkan teh


hangat serta beberapa cemilan kecil.


“Kita ngeteh


dulu yuk…” ajak Maryati.


“Terima kasih,

__ADS_1


Tante…” Brenda duduk dengan manis. Angin sepoi-sepoi menyentuh kulit Brenda yang lembut.


“Begitulah


tingkah Ryan kalau sedang marah, Nda… Tante khawatir dengan keadaannya,”


“Sabar ya, Tante.


Mengambil simpati Ryan itu butuh waktu. Saya akan terus berusaha membujuk


Ryan,”


“Tapi tante


merasa bersalah jika memaksamu memenuhi keinginan tante,”


“Saya nggak pernah merasa terpaksa, Tante. Apalagi ini demi kemanusiaan. Demi Ryan yang


terpuruk jauh dari kehidupan normal. Kasihan Ryan kalau separuh


hidupnya mengalami seperti ini,”


“Ya... Tante tahu, Nda... Mungkin itu sudah takdir Ryan dan tante,” suara Maryati mendadak parau. Ada genangan air bening di pelupuk matanya.


“Sudah dua puluh tiga tahun lebih tante menghadapi Ryan


seperti ini. Tante sedih, Nda. Hanya Ryan anak tante satu-satunya. Tante tidak


tahu lagi harus bagaimana?”


“Tante harus bersabar. Kita harus terus berusaha dan


berdoa agar Ryan mengalami perubahan. Agar Tuhan juga memberi mukjizatnya,”


“Terima kasih, Nda. Tante harap kamu mau bersabar untuk Ryan,”


Brenda mengangguk pelan.


“Sama-sama,


Tante. Untuk hari ini biarkan Ryan di kamarnya. Besok saya akan kembali lagi.


Saya akan membujuk Ryan dengan cara saya sendiri.”


Maryati


tersenyum.


“Sekali lagi terima kasih, Nda. Tante harap kamu tidak bosan


menghadapi kelakuan Ryan,”


“Ya, semoga, Tante,” Brenda tersenyum.


“Silahkan


diminum dulu tehnya, Nda…”


Brenda mengangguk


sambil menikmati hembusan angin yang segar. Setelah obrolan panjang, Brenda pamit pulang.


“Saya pamit


pulang, Tante. Masih ada kerjaan lain yang harus saya selesaikan,”


“Baiklah, Nda.


Terima kasih atas kunjungannya,”


“Sama-sama,


Tante,”


“Kamu hati-hati


di jalan,”


“Ya,”


Maryati


mengantarkan Brenda sampai ke halaman depan. Tak lama motor Brenda meninggalkan rumah Maryati.Brenda menghela berat di


perjalanan. Ia benar-benar mendapat sebuah tantangan dan cobaan yang sangat

__ADS_1


berat.



__ADS_2