RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 13


__ADS_3

B


renda memperhatikan bunga-bunga


segar yang baru saja tiba di toko Maryati. Jenisnya bermacam-macam. Bunga-bunga import pesanan seorang pengusaha. Ini sudah hari kelima.


Brenda tidak punya cara menaklukkan kepasifan Ryan. Ia belum punya jurus agar Ryan


menerimanya menjadi pengajar.


Di meja kerja


Maryati terletak sebuah buku karya Khalil Gibran. Brenda meraih buku itu dan


membukanya.Membaca bait-demi bait kata-kata di dalamnya.


“Tante penggemar


Khalil Gibran?” tanya Brenda disela kesibukan Maryati.


Maryati


menghentikan kegiatannya.


“Itu milik Ryan.


Dia sangat mengagumi sosok  Khalil Gibran.


Tante disuruh membaca,” Maryati tersenyum sipu. Brenda manggut-manggut.


“Ryan suka membaca


buku sastra?” berkerut dahi Brenda.


“Ryan belajar


membaca sejak masih kecil, Nda. Walaupun tidak begitu lancar, tapi Ryan gemar membaca


buku,”


Brenda


manggut-manggut.


“Sebentar, Nak Brenda.


Saya panggilkan Ryan,” Maryati berlalu dan menuju kamar Ryan.


“Nggak usah,


Tante. Biar saya saja yang membujuknya,” tepis Brenda sambil melangkahkan


kakinya.


“Kamu tidak


keberatan?”


Brenda


menggeleng sambil tersenyum. “Nggak, Tante… Boleh saya pinjam bukunya, Tante?”


“Silahkan,”


Brenda beranjak


dari toko Maryati menuju sebuah gazebo yang terletak di belakang rumah. Di halaman


belakang ditumbuhi pohon-pohon rindang dan beberapa pot bunga yang tergantung


di batangnya. Perlahan Brenda menaiki anak tangga dan menghampiri kamar Ryan.


Dia mendadak saja terkejut ketika Ryan membuka pintu secara tiba-tiba.


Pandangannya tajam dan dingin, membuat Brenda merinding seketika. Brenda salah


tingkah melihat cowok autis seperti Ryan yang memiliki wajah tampan.


“Mau apa kamu


kemari?” tanya Ryan kaku.


“Aku ingin


bersahabat denganmu,”


“Untuk apa?”


Ryan beranjak meninggalkan kamarnya sambil memainkan bola kristal. Brendamengikuti langkah Ryan, lalu berujar.


“Yan… sahabat


adalah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan. Kamu hampiri sahabat dikala hati


gersang kegelapan dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian,”


Ryan berbalik.


Kata-kata itu pernah dibacanya suatu ketika.


“Darimana


kata-kata itu?” tanya Ryan menyelidik.


“Aku sangat


mengagumi karya-karya Khalil Gibran dan itu salah satu dari beberapa


tulisannya. Carilah sahabat untuk bersama menghidupkan sang waktu, sebab dialah


orang yang mengisi kekuranganmu, bukannya untuk mengisi keisenganmu,”


“Aku suka Khalil


Gibran,”ucap Ryan pendek.


“Kalau begitu


kita sama-sama mengagumi Khalil Gibran. Apakah kamu tetap dengan pendirianmu?”


Ryan terdiam.


Ditatapnya wajah Brenda dengan lekat, lalu berjalan ke gazebo. Brenda mengikuti


langkah Ryan sambil menikmati hembusan angin yang semilir. Ryan tidak peduli


dengan ucapan Brenda. Dia asyik memainkan bola kristalnya.


“Kamu mau


bermain denganku, Yan? Aku punya permainan,”


“Aku nggak


tertarik,”


“Ayolah, Yan... aku akan menjadi sahabat baikmu...”


Ryan duduk diikuti Brenda.


“Kamu membuatku takut,”


Brenda hampir tertawa mendengarnya.


“Takut? Hahahaha...” akhirnya meledak juga tawa Brenda.


“Kamu itu lucu, Yan... Aku nggak perlu ditakuti. Aku teman yang baik hati,”


Ryan diam sambil memperhatikan Brenda. Brenda yang


melihat wajah Ryan sontak terdiam.


“Maaf, Yan...”


“Kamu lucu,” ucap Ryan datar tanpa ekspresi. Kemudian ia


tersenyum tipis.


Oh my God... Ryan tersenyum...


Maryati

__ADS_1


mengintai dari celah-celah tokonya. Memperhatikan cara Brenda mendekatinya.


Bukan Brenda yang pertama kali ingin mengajar i Ryan tapi sudah ada beberapa


orang yang tidak sanggup dengan sikap Ryan. Maryati tersenyum, ternyata Brenda


sudah memasuki dunia Ryan. Ini langkah awal. Tinggal mengatur langkah


berikutnya.


Mereka duduk di kursi taman berhadapan. Ryan hanya diam


sambil memainkan bola kristalnya. Brenda berusaha mencuri perhatian Ryan.


Brenda memberikan permainan-permainan sederhana agar Ryan tidak cenderung diam.


Permainan menebak gambar, mencari tahu apa yang ada di balik kotak dan ada


beberapa permainan lagi.


Awalnya Ryan tidak bereaksi, namun begitu Brenda


memberikan isyarat-isyarat dengan jari tangannya, Ryan seolah mengingat


sesuatu. Ia mengingat gadis yang pernah dicintainya dulu. Gadis itu berbicara


dengan isyarat tangannya. Ryan seperti bertemu kembali dengan gadis itu.


Ryan terlihat gembira bermain bersama Brenda. Walau


sesekali Ryan terlihat seperti kekanak-kanakan, Brenda memakluminya. Ryan cowok


baik. Hanya saja ia tidak seperti cowok normal.


Permainan selesai ketika hari sudah menjelang sore.


“Kamu mau


pulang?” tanya Ryan.


“Ya… sudah sore.


Aku harus kembali ke rumah,”


“Kenapa tidak


tidur sini aja?”


Brenda


menggeleng. “Aku kan tidak tinggal di sini, Yan…”


“Ryan akan


bilang ke mama, agar kamu tinggal disini…”


“Tidak usah…”


“Ma… mama…” Ryan


memanggil Maryati.


Dari balik pintu


perempuan itu muncul dengan tergopoh-gopoh.


“Ada apa, Yan?”


tanyanya.


“Brenda boleh


tidur sini kan?”


Mata Maryati


menatap Brenda yang salah tingkah, lalu tersenyum.


“Yan… Brenda kan


punya rumah. Dia juga punya ibu di rumah. Jadi biarkan Brenda pulang ya,”


“Sudahlah,


Sayang. Besok Brenda datang lagi. Iya kan, Nda?”


Brenda


mengangguk keki. “Iya, Yan… Besok kita bermain lagi. Aku


punya permainan baru,”


“Permainan apa?”


“Besok saja ya,”


Ryan merengut. Maryati berusaha memberi pengertian ke Ryan. Kalau


semua itu tidak boleh dilakukan. Seperti memaksa Brenda untuk tidur di


kamarnya. Atau menyentuh Brenda tanpa alasan. Tapi begitulah sifat Ryan.


Ia harus selalu diberi pengertian dan pembelajaran. Memberitahu mana yang baik


dan mana yang buruk. Mengajari mana yang boleh dan mana yang tidak.


Ryan masuk ke kamarnya. Membuat gerakan-gerakan kecil


pada tubuhnya. Menggigit sesuatu atau memainkan benda yang ia sukai.


“Terima kasih, Nak Brenda. Kamu sudah meyakinkan Ryan...”


Brenda tersenyum. “Ryan butuh perhatian, Tante.


Dia butuh seseorang yang mengerti perasaannya. Jangan biarkan ia terkurung


dalam bingkai kehidupannya sendiri,”


“Itulah sebabnya saya membutuhkan bantuanmu,” ujar


Maryati. “Saya tidak tahu lagi harus kemana membawa Ryan. Saya harap kamu tidak


jemu menghadapi tingkah laku Ryan.”


“Tenang saja, Tante. Saya akan terus berusaha menghadapi


Ryan sebaik mungkin,”


Maryati tersenyum.  Ia mengantarkan Brenda sampai ke gerbang


depan.


“Saya sudah mentransfer gajike rekeningmu,”


“Oh ya...? Terima kasih, Tante. Cepat sekali...?”


“Tidak apa-apa. Saya tahu, pasti kamu membutuhkannya,”


Brenda tersenyum tipis. “Saya permisi dulu, Tante,” ucap


Brenda. Ia naik ke motornya.


“Hati-hati, Nak Brenda,”


Brenda mengangguk sambil melambaikan tangan. Maryati


memperhatikan motor  Brenda sampai hilang


di tikungan.


Di atas motor Brenda berjingkrak kegirangan. Maryati


sudah mentransfer gajinya. Dia bisa belanja, membawa mobilnya ke bengkel dan


mentraktir Ela, bathinnya. Brenda menghubungi Ela dan mengajak Ela ke Mall.


Brenda mencek saldo di ATM.


“Gila... Sepuluh juta?” Brenda kegirangan. “Ela...


cepetan...”

__ADS_1


Ela yang di seberang sana masih sibuk, kontan kalang


kabut.


“Ada apa sih, Nda…? Teriak-teriak seperti orang mau melahirkan aja?”


“Aku mau traktir kamu. Mau nggak?”


“Oh, ya...?Emangnya kamu dapet durian runtuh?”


“Eelaa... denger ya, hari ini aku happy sekali. Kamu tahu perempuan pengusaha itu?”


Ela mengangguk sambil memainkan penanya di seberang.


“Ya... ibu cowok autis itu,”jawabnya singkat.


“Husst... Kamu jangan ngomong gitu, La. Dia baru transfer gaji ke rekeningku. Sepuluh juta...”


“Sepuluh juta..???” Nada suara Ela mengeras. “Gila...


banyak amat...? Secara murid-murid yang kamu ajari cuma


bayar lima ratus ribu,”


“Makanya aku mau traktir kamu. Cepat ya, aku mau shooping nih...”


“Ok... tunggu aku,”


Brenda mematikan ponselnya. Kembali ia jingkrak-jingkrak


kegirangan. Seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.


Lima belas menit kemudian Ela muncul dengan sumringah. Ia menghampiri Brenda di pojokan. Kemudian mereka menyusuri


etalase-etalase yang berjejer di buritan Mall. Brenda belanja barang-barang


keperluannya. Dari sabun, parfum, baju dan sepatu. Tak lama kemudian mereka


nangkring di HotPlate. Tempat makanan


favorit mereka.


“Kamu beruntung sekali, Nda… Kalau saja ada beberapa janda kaya


yang membutuhkan jasamu, kamu pasti sudah jadi jutawan,”


“Hahahaha… kamu


bisa aja. Kalau kamu mau jasaku gak apa-apa,”


“Ighh… memangnya


aku idiot?”


“Hampir… hahahaha…”


keduanya tertawa bebarengan.


Suasana Hotplate sangat ramai. Selain makanannya


yang menjadi favorite Brenda, tempatnya juga asyik. Setelah situasi hening


sejenak karena asyik menyantap hidangan di atas meja, Ela berujar.


“Kamu masih bimbang menentukan siapa jodohmu?” tanya Ela. Ia mengunyah potongan cakefruitdengan tumpukan es krim di atasnya.


“Aku belum tahu siapa jodohku, La,” Brenda memainkan


sendok di gelas.


“Dr. Dedy pantas menjadi pendamping hidupmu, Nda. Dia


dokter muda yang sudah terjamin masa depannya. Kamu tidak perlu


memikirkan Franky,”


“Kenapa kamu


selalu menjodohkan aku dengan dr. Dedy? Atau kamu tertarik dengannya?”


“Ighhh… apaan


sih? Ya enggaklah… Aku hanya menjadi makcomblang aja untukmu. Dr. Dedy itu baik


orangnya. Lagi pula aku masih mencintai Reynold,”


“Aku trauma, La.


Aku tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya,”


“Aku kenal betul


dr. Dedy. Dia dari keluarga baik-baik,”


Brenda menghela


berat. “Entahlah. Hatiku masih galau. Aku tidak bisa menerima cinta dr. Dedy


begitu saja,”


“Apalagi yang kamu


tunggu? Usiamu terus bertambah, Nda. Aku tidak mau kamu mengalami sindrom takut


menikah,”


“Aku belum


menemukan pria yang tepat di hatiku,”


“Jangan sok jaim. Kalau kamu begini terus, kamu bakal


menjadi perawan tua!”


“Sudah-ah. Jangan


membahas masalah itu lagi,”


Ela menghapus


bibirnya dengan tisu.


“Aku mau menikah


dengan Renold,” ujarnya.


“Menikah…?”


Brenda mendelik. Oh, sebuah keputusan yang membuat hati Brenda meledak-meletup.


Kata-kata menikah membuatnya sakit hati. Bagaimanadengan dirinya yang selalu


dipermainkan laki-laki?


“Ya,” Ela


menjawab sekenahnya.


“Oh… Ela…


Akhirnya kamu menikah juga…!” seru Brenda girang. Ia memeluk Ela sambil cipika-cipiki.


“Selamat ya, La…”


Ela tersenyum.


“Makasih, Nda… Aku harap kamu segera menyusul,”


“Tenang aja. Aku


akan mencari pangeranku yang gagah berani, hihihi…”


Mereka tertawa


bersamaan. Brenda dan Ela kembali menyantap hidangannya. Obrolan mereka


berlanjut terus hingga berhayal suatu saat nanti kalau mereka punya anak akan


menjodohkan anak mereka.


__ADS_1


__ADS_2