RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 31


__ADS_3

Hari sudah malam


ketika Brenda tiba di rumah mamanya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman, lalu


masuk setelah menyapa mama dengan senyuman yang hambar. Brenda ke kamarnya dan


melepaskan semua kegalauan hatinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur


dengan mata menerawang. Hatinya benar-benar tak menentu.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Nda… buka pintunya…” panggil mama.


“Sebentar, Ma…” Brenda bangkit dari rebahannya membukakan pintu.


Mama tersenyum tipis ketika pintu dibuka dan menatap Brenda dengan teduh.


“Kamu belum mandi?”


Brenda menggeleng pelan dengan ekspresi wajah kelelahan.


“Kamu kenapa? Kok wajahnya kuyu begitu?”


“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Brenda singkat.


“Kalau begitu kamu mandi dulu. Mama tunggu kamu di ruang tamu. Hari ini


Dedy datang ingin melamarmu,”


Brenda terkejut dengan membelalakkan matanya.


“Dedy melamar Brenda?” tegasnya dengan dahi berkerut.


“Iya, Sayang… Jangan biarkan Dedy menunggu terlalu lama. Dia sudah sejak


ashar menunggumu. Mama tunggu di bawah ya,” Linda beranjak dari kamar Brenda.


Setelah pintu ditutup kembali, Brenda mendesah berat. Ia sama sekali tak


memikirkan lamaran Dedy yang dianggap terlalu dini. Brenda buru-buru


membersihkan tubuhnya dan mengganti bajunya. Beberapa menit kemudian ia keluar


menemui Dedy dan beberapa orang yang bersamanya.


“Nda…” sapa Dedy sambil berdiri.


Mata Brenda mengedar ke sekeliling ruang tamu. Ada dua orang laki-laki


dan dua orang perempuan yang mengenakan jilbab. Ada beberapa kotak yang dibawa


mereka. Tidak tahu apa isinya. Senyum Brenda terlihat kaku dan dingin. Kemudian


ia duduk di sebelah mamanya.


“Nda… Dedy ingin melamarmu. Kami sebagai orangtua hanya mendengar


keputusanmu,” papa Brenda memulai pembicaraan.


“Iya, Nda… Mama juga menginginkan yang terbaik untukmu,”


Brenda tertunduk.


“Bagaimana, Nda…?” tanya Dedy kemudian.


“Apakah harus secepat ini?”


“Aku nggak mau menunggu lama, Nda…”


“Baiklah… tapi aku ada satu


permintaan yang harus kamu penuhi,”


“Apa itu, Nda?”


Brenda menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan..


“Permasalahan yang kuhadapi saat ini begitu berat dan sulit kupecahkan


sendiri. Aku sudah memakai sejumlah uang untuk melunasi hutangku dan saat ini

__ADS_1


aku harus mengembalikan uang itu. Apa kamu sanggup melunasi hutang-hutangku?”


“Aku sanggup,” jawab Dedy mantap.


Brenda menatap Dedy dengan lekat dan penuh keyakinan. Ia bertanya-tanya


dalam hati apakah Dedy benar-benar jodoh yang diberikan Tuhan untuknya.


“Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, Nda…”


Brenda mendegut ludahnya, namun tidak berkata apa-apa. Ia menatap kedua


orangtuanya yang hanya tersenyum-senyum pertanda setuju.


“Bagaimana, Nda? Kamu menerima lamaranku?”


Brenda bergeming. Ia hanya menunduk menikmati sebuah kekalahan bathin


dalam dirinya. Benarkah ini cinta yang ia pilih? Benarkah laki-laki itu mampu


membimbingnya di dalam keluarga?


Brenda beringsut dari tempat duduknya menuju kamar. Ia harus meredam


semua emosi jiwanya yang terbelenggu oleh kata-kata menikah. Menikah dengan


laki-laki yang sama sekali belum diketahui statusnya.



Mama mengetuk pintu kamar Brenda,


kemudian masuk setelah dipersilahkan. Mama menatap wajah putrinya dengan lekat. Wajahnya sama


sekali tidak menggambarkan kebahagiaan.


“Sebenarnya ada apa denganmu,


Nda? Dedy sudah melamarmu, apalagi yang kamu renungkan?” Mamamenghampiri Brenda dan duduk di


sampingnya.


“Hhhh....” Brenda menghela


Tidak ada sedikitpun cinta di hati Brenda,”


“Nda... Cinta itu bisa kamu


pupuk setelah kalian menikah. Banyak juga kok orang  bahagia dengan pernikahan yang jodohkan


orangtua,”


“Maa... Ini tentang hati.


Cinta itu tidak bisa disalah-gunakan untuk sebuah pernikahan. Brenda bingung


menghadapi semua ini,”


Mamaberusaha memastikan


kembali hati Brenda.


“Cobalah kalian pendekatan dulu


mulai saat ini. Mungkin cinta itu akan tumbuh di saat kalian merencanakan hari


pernikahan, atau memesan kartu undangan,”


Brenda beranjak dari duduknya


menuju jendela kamar. Memperhatikan pohon mangga yang tumbuh di halaman


tetangga. Kemudian ia mendesah berat sambil menoleh ke mamanya.


“Brenda akan coba, Ma...


Apakah ini hanya perasaan Brenda saja,”


“Mama yakin kamu punya cinta


untuk Dedy. Dia laki-laki tampan dan memiliki pekerjaan yang lumayan. Dia

__ADS_1


seorang dokter, Nda...”


“Brenda tahu, Ma. Tapi ketampanan


itu tidak menjamin segalanya,”


“Sudahlah, Nda... Jangan kamu


permasalahkan. Mama ingin kamu cepat menikah dengan Dedy. Kapan kalian memesan


kartu undangan? Gaun pengantin dan cincin perkawinan?”


“Belum ada rencana, Ma.


Mungkin lusa,”


“Baiklah kalau begitu. Mama


mau mempersiapkan gaun untuk hari pernikahan kalian dan sekalian memberitahu


para sanak saudara,” Mama keluar


dari kamar Brenda. Ia begitu antusias dengan pernikahan putrinya. Namun bagi


Brenda sangat sulit menerima laki-laki itu.



Brenda memperhatikan cincin kawin di etalase bersama Dedy. Lagi-lagi ia nggak merasa nyaman berada di dekat


Dedy. Mungkin karena mereka tidak saling bertemu setiap waktu, atau perasaan


Brenda yang bingung memikirkan uang Maryati.


Di tengah asyiknya Dedy


memilih dan menyematkan cincin perkawinan, tiba-tiba seorang perempuan


muda menghampiri mereka dan melabrak Dedy habis-habisan. Brenda kaget dan bingung. Ternyata


perempuan itu istri Dedy yang ditinggalkan di kota Padang bersama seorang


anaknya yang masih berumur dua tahun.


Perempuan itu meraih cincin


yang akan disematkan ke jari Brenda, lalu menghardik Dedy dengan penuh emosional.


“Kamu apa-apaan, Ded?!”


“Ratna?” Mata Dedy terbelalak


melihat kehadiran istrinya.


“Kamu mau menikahi perempuan


ini?! Dimana tanggung jawabmu, Ded?! Aku istrimu dan ini anak kita..!”


Brenda mendegut ludahnya


menjauh dari Dedy. Ia memperhatikan perempuan itu dengan kalud.


“Ratna...? Apa yang kamu


lakukan disini?”


“Kamu bertanya padaku? Sebagai


seorang istri aku punya insting kalau kamu macam-macam di sini! Dasar mata


keranjang! Aku tidak mau kamu menikah lagi, Ded!”


Setelah mendengar ribut-ribut


dari istri Dedy, Brenda menjauh dan pergi. Hatinya perih-perih sekali.


Brenda mengucap syukur karena


mengetahui siapa Dedy sebenarnya. Dalam taksi yang membawanya pulang, Brenda


murung dan sedih. Matanya merebak membuat genangan-genangan air bening.

__ADS_1



__ADS_2