
Hari sudah malam
ketika Brenda tiba di rumah mamanya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman, lalu
masuk setelah menyapa mama dengan senyuman yang hambar. Brenda ke kamarnya dan
melepaskan semua kegalauan hatinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur
dengan mata menerawang. Hatinya benar-benar tak menentu.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Nda… buka pintunya…” panggil mama.
“Sebentar, Ma…” Brenda bangkit dari rebahannya membukakan pintu.
Mama tersenyum tipis ketika pintu dibuka dan menatap Brenda dengan teduh.
“Kamu belum mandi?”
Brenda menggeleng pelan dengan ekspresi wajah kelelahan.
“Kamu kenapa? Kok wajahnya kuyu begitu?”
“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Brenda singkat.
“Kalau begitu kamu mandi dulu. Mama tunggu kamu di ruang tamu. Hari ini
Dedy datang ingin melamarmu,”
Brenda terkejut dengan membelalakkan matanya.
“Dedy melamar Brenda?” tegasnya dengan dahi berkerut.
“Iya, Sayang… Jangan biarkan Dedy menunggu terlalu lama. Dia sudah sejak
ashar menunggumu. Mama tunggu di bawah ya,” Linda beranjak dari kamar Brenda.
Setelah pintu ditutup kembali, Brenda mendesah berat. Ia sama sekali tak
memikirkan lamaran Dedy yang dianggap terlalu dini. Brenda buru-buru
membersihkan tubuhnya dan mengganti bajunya. Beberapa menit kemudian ia keluar
menemui Dedy dan beberapa orang yang bersamanya.
“Nda…” sapa Dedy sambil berdiri.
Mata Brenda mengedar ke sekeliling ruang tamu. Ada dua orang laki-laki
dan dua orang perempuan yang mengenakan jilbab. Ada beberapa kotak yang dibawa
mereka. Tidak tahu apa isinya. Senyum Brenda terlihat kaku dan dingin. Kemudian
ia duduk di sebelah mamanya.
“Nda… Dedy ingin melamarmu. Kami sebagai orangtua hanya mendengar
keputusanmu,” papa Brenda memulai pembicaraan.
“Iya, Nda… Mama juga menginginkan yang terbaik untukmu,”
Brenda tertunduk.
“Bagaimana, Nda…?” tanya Dedy kemudian.
“Apakah harus secepat ini?”
“Aku nggak mau menunggu lama, Nda…”
“Baiklah… tapi aku ada satu
permintaan yang harus kamu penuhi,”
“Apa itu, Nda?”
Brenda menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan..
“Permasalahan yang kuhadapi saat ini begitu berat dan sulit kupecahkan
sendiri. Aku sudah memakai sejumlah uang untuk melunasi hutangku dan saat ini
__ADS_1
aku harus mengembalikan uang itu. Apa kamu sanggup melunasi hutang-hutangku?”
“Aku sanggup,” jawab Dedy mantap.
Brenda menatap Dedy dengan lekat dan penuh keyakinan. Ia bertanya-tanya
dalam hati apakah Dedy benar-benar jodoh yang diberikan Tuhan untuknya.
“Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, Nda…”
Brenda mendegut ludahnya, namun tidak berkata apa-apa. Ia menatap kedua
orangtuanya yang hanya tersenyum-senyum pertanda setuju.
“Bagaimana, Nda? Kamu menerima lamaranku?”
Brenda bergeming. Ia hanya menunduk menikmati sebuah kekalahan bathin
dalam dirinya. Benarkah ini cinta yang ia pilih? Benarkah laki-laki itu mampu
membimbingnya di dalam keluarga?
Brenda beringsut dari tempat duduknya menuju kamar. Ia harus meredam
semua emosi jiwanya yang terbelenggu oleh kata-kata menikah. Menikah dengan
laki-laki yang sama sekali belum diketahui statusnya.
Mama mengetuk pintu kamar Brenda,
kemudian masuk setelah dipersilahkan. Mama menatap wajah putrinya dengan lekat. Wajahnya sama
sekali tidak menggambarkan kebahagiaan.
“Sebenarnya ada apa denganmu,
Nda? Dedy sudah melamarmu, apalagi yang kamu renungkan?” Mamamenghampiri Brenda dan duduk di
sampingnya.
“Hhhh....” Brenda menghela
Tidak ada sedikitpun cinta di hati Brenda,”
“Nda... Cinta itu bisa kamu
pupuk setelah kalian menikah. Banyak juga kok orang bahagia dengan pernikahan yang jodohkan
orangtua,”
“Maa... Ini tentang hati.
Cinta itu tidak bisa disalah-gunakan untuk sebuah pernikahan. Brenda bingung
menghadapi semua ini,”
Mamaberusaha memastikan
kembali hati Brenda.
“Cobalah kalian pendekatan dulu
mulai saat ini. Mungkin cinta itu akan tumbuh di saat kalian merencanakan hari
pernikahan, atau memesan kartu undangan,”
Brenda beranjak dari duduknya
menuju jendela kamar. Memperhatikan pohon mangga yang tumbuh di halaman
tetangga. Kemudian ia mendesah berat sambil menoleh ke mamanya.
“Brenda akan coba, Ma...
Apakah ini hanya perasaan Brenda saja,”
“Mama yakin kamu punya cinta
untuk Dedy. Dia laki-laki tampan dan memiliki pekerjaan yang lumayan. Dia
__ADS_1
seorang dokter, Nda...”
“Brenda tahu, Ma. Tapi ketampanan
itu tidak menjamin segalanya,”
“Sudahlah, Nda... Jangan kamu
permasalahkan. Mama ingin kamu cepat menikah dengan Dedy. Kapan kalian memesan
kartu undangan? Gaun pengantin dan cincin perkawinan?”
“Belum ada rencana, Ma.
Mungkin lusa,”
“Baiklah kalau begitu. Mama
mau mempersiapkan gaun untuk hari pernikahan kalian dan sekalian memberitahu
para sanak saudara,” Mama keluar
dari kamar Brenda. Ia begitu antusias dengan pernikahan putrinya. Namun bagi
Brenda sangat sulit menerima laki-laki itu.
Brenda memperhatikan cincin kawin di etalase bersama Dedy. Lagi-lagi ia nggak merasa nyaman berada di dekat
Dedy. Mungkin karena mereka tidak saling bertemu setiap waktu, atau perasaan
Brenda yang bingung memikirkan uang Maryati.
Di tengah asyiknya Dedy
memilih dan menyematkan cincin perkawinan, tiba-tiba seorang perempuan
muda menghampiri mereka dan melabrak Dedy habis-habisan. Brenda kaget dan bingung. Ternyata
perempuan itu istri Dedy yang ditinggalkan di kota Padang bersama seorang
anaknya yang masih berumur dua tahun.
Perempuan itu meraih cincin
yang akan disematkan ke jari Brenda, lalu menghardik Dedy dengan penuh emosional.
“Kamu apa-apaan, Ded?!”
“Ratna?” Mata Dedy terbelalak
melihat kehadiran istrinya.
“Kamu mau menikahi perempuan
ini?! Dimana tanggung jawabmu, Ded?! Aku istrimu dan ini anak kita..!”
Brenda mendegut ludahnya
menjauh dari Dedy. Ia memperhatikan perempuan itu dengan kalud.
“Ratna...? Apa yang kamu
lakukan disini?”
“Kamu bertanya padaku? Sebagai
seorang istri aku punya insting kalau kamu macam-macam di sini! Dasar mata
keranjang! Aku tidak mau kamu menikah lagi, Ded!”
Setelah mendengar ribut-ribut
dari istri Dedy, Brenda menjauh dan pergi. Hatinya perih-perih sekali.
Brenda mengucap syukur karena
mengetahui siapa Dedy sebenarnya. Dalam taksi yang membawanya pulang, Brenda
murung dan sedih. Matanya merebak membuat genangan-genangan air bening.
__ADS_1