
Brenda pulang ke
rumah mamanya. Kangen juga dengan masakan mama yang lezat. Elusan
lembut tangan mama dan belaian mama saat Brenda merasa sedih.
Senja ia tiba di rumah. Mama tengah menyiram bunga-bunga di taman. Mama memang rajin bercocok tanam. Bunga yang ada di
taman juga beraneka ragam. Mama memandang
Brenda sekilas, lalu tersenyum. Brenda sangat mengagumi senyuman mama yang selalu menyejukkan hati. Setelah turun dari motor, Brenda mencium pipi mama.
“Tumben kamu pulang, Nda…?”
“Brenda kangen sama mama,”
Mama tersenyum. “Bagaimana kabarmu, sayang?”
“Brenda baik-baik aja, Ma. Brenda ke dalam dulu, mau istirahat.” Brenda
berlalu meninggalkan mama. Ia
menuju kamar mandi. Lelah seharian
menghadapi hidup yang serba abu-abu dan penuh ketidak pastian. Sebuah misteri
yang harus dipecahkan setiap manusia.
Brenda menatapi wajahnya di depan cermin. Entah mengapa tiba-tiba saja ia
teringat lagi dengan wajah Ryan.
Wajah itu... Wajah polos dan penuh harap pertolongan
dari Brenda.
Mama mengetuk pintu. Brenda mendongak dan
beringsut membuka pintu kamar. Semburat wajah mama terlihat lelah saat pintu terkuak lebar.
“Ada apa, Ma?” tanya Brenda. Mama menatapnya dengan lekat. Tatapan itu penuh arti. Apalagi yang diharapkan mama? Bathinnya. Mama masuk ke kamar dan duduk di
tempat tidur. Brenda mengikuti langkah mama.
“Nda, kenapa sih kamu sibuk-sibuk ngontrak rumah? Kenapa nggak tinggal sama mama aja?”
“Brenda ingin mandiri, Ma. Sudah lama sekali Brenda menyusahkan mama,”
“Tapi mama nggak merasa disusahkan. Itu sudah tanggung jawab orangtua,”
“Sudahlah, Ma… Brenda baik-baik aja kok,”
“Baik katamu? Setelah kamu mengalami semua masalah yang berat, kamu
bilang kamu baik-baik saja?”
Brenda tersenyum tipis, berusaha meyakinkan mamanya.
“Brenda harus berjuang, Ma. Mungkin ini sudah jalan Brenda harus
__ADS_1
mengawali kehidupan yang baru,”
“Tapi mama kasihan melihatmu, Nda. Kamu jumpalitan cari duit untuk
menutupi hutang-hutang di bank. Mama khawatir kamu jatuh sakit,”
“Brenda baik-baik aja ma. Sejauh ini Brenda masih bisa mengontrol diri,”
Mama terdiam sambil
memperhatikan Brenda. Satu hal yang ingin ia tanyakan ke putrinya. Tentang
jodoh. Mama ingin Brenda
segera menikah.
“Nda… apalagi yang kamu tunggu? dr. Dedy sangat mencintaimu. Kenapa kamu
menolaknya?” ujar Mama.
Brenda diam. Pertanyaan itu entah sudah yang keberapa kali.
“Hh… Ma… Nda…”
“Sudahlah, Nda. Umurmu sudah dua puluh dua tahun. Mama tidak mau kamu menjadi perawan
tua. Mama juga tidak mau ada gunjingan-gunjingan lain tentang dirimu. Semalam
dr. Dedy datang ke mama dan meminta izin kalau dia ingin mempersuntingmu,”
Brenda menghela berat. “Mempersunting Brenda? Ma… umur Brenda masih muda. Perjalanan Brenda masih panjang. Brenda
Brenda dan dr. Dedy itu sangat jauh, Ma...”
Mama bangkit dari duduknya. Beringsut dari tempat
tidur.
“Sebaiknya kamu pikirkan masa depanmu. Mama ingin kamu segera menikah,
Nda…”
“Menikah…? Ma… beri Brenda waktu untuk memikirkannya,”
“Apalagi yang kamu pikirkan? Kamu ingin rambutmu memutih tanpa suami?
Pikirkan, Nda… Mama dan papa sudah
semakin tua. Mama hanya ingin melihatmu bahagia.”
Brenda menghela nafas dengan berat. Sesak terasa menggerogoti rongga
pernafasannya.
“Ughh… kenapa sih mama selalu saja mendiktekan sebuah pernikahan?” Brenda
melenguh.
“Karena pernikahan itu sesuatu yang wajib dilakukan, Nda…”
__ADS_1
Brenda terdiam
dengan pikirannya yang menerawang.
Setiap insan di
dunia ini khususnya yang ber-gender female pasti menginginkan sebuah pernikahan yang bahagia. Cepat menikah dengan lelaki
pujaan. Tidak ada unsur paksaan di dalamnya. Saling mengasihi dan memberi tanpa
batas- unconditional love. Meredam
unsur keegoisan dan motivasi-motivasi yang tidak murni. Cinta sejatilah yang
mampu membuat sebuah pernikahan itu dapat bertahan sampai maut memisahkan.
Selain itu, faktor ekonomi, kematangan emosi, dan kesiapan mental sangat
diperlukan. Pernikahan yang dilandasi tanpa unsur cinta, bakalan tidak berumur
panjang meskipun dilimpahi materi yang berlimpah ruah. Kosong. Nihil. Hampa.
Pernikahan
adalah persatuan antara pria dan wanita. Masing-masing membawa sifat dan
karakter yang berbeda. Saling menyesuaikan diri adalah kunci utamanya.
Pernikahan adalah sebuah proses pendewasaan yang membutuhkan para pelaku yang
berani, kuat, dan tangguh. Sebuah keputusan untuk siap berlabuh ketika ribuan
kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil. Sebuah pernikahan yang bahagia
dan sukses tidaklah bergantung pada ribuan undangan pesta, rancangan gaun
pengantin ala Cinderella, iringan mobil mewah yang memacetkan jalanan, pesta
mewah ala kerajaan. Tampilan lahiriah bisa menipu. Lihat saja pesta pernikahan
Putri Diana dari kerajaan Inggris yang kelihatan dari luar begitu “wah”. Tapi
pada kenyataannya hancur juga di tengah jalan. Malahan beliau meninggal bersama
kekasih gelapnya pada sebuah kecelakaan mobil. Sedangkan Pangeran Charles juga
mempunyai kekasih gelap. Sebuah pernikahan yang tidak bahagia dan juga berakhir
dengan tragis.
Brenda menghela
nafas sejenak. Ada rasa perih yang menggelepar dalam ulu hatinya. Brenda melontarkan tubuhnya
di kasur. Matanya menatap langit-langit kamar. Pernikahan itu bukan main-main
baginya. Ia tak mau salah melangkah hingga menderita bertahun-tahun.
__ADS_1