RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 16


__ADS_3

B


renda menerima


telpon dari Maryati.


“Ya


halo, Tante...” sapa Brenda dengan suara masih parau.


“Pagi, Nda…” sahut Maryati


berat.


“Pagi juga,


Tante? Ada apa nelpon pagi-pagi sekali?” tanya Brenda penasaran.


Maryati menarik


nafas berat, lalu berujar pelan.


“Ryan di rumah


sakit, Nda…” kata Maryati berat. Ia menggigit bibirnya untuk


menahan tangis. Brenda berlonjak kaget.


“Di rumah sakit?” pekik Brenda tidak percaya. “Ya Allah, Tante… apa yang


terjadi dengan Ryan?”tanyanya kemudian.


“Ryan dihajar di


ruang tahanan. Polisi menjemputnya malam tadi…”


Brenda terlihat bingung sambil berjalan monda-mandir.


“Kenapa bisa jadi begini, Tante..?”tanya Brenda parau.


Maryati menggeleng pelan. “Entahlah, Nda. Tante juga


nggak tahu. Mungkin ini sudah takdir anak saya,”


“Ssttt... jangan ngomong begitu, Tante... Kita berdoa


semoga Ryan baik-baik saja. Saya akan menjenguk Ryan, Tante. Di rumah sakit mana?”


“Terima kasih,


Nda… Kamu baik sekali… Ryan di rumah sakit Colombia Asia,”


“Sama-sama,


Tante… Saya akan meluncur kesana,”


Klik. Brenda menutup ponselnya dengan pikiran tak menentu. Ia


buru-buru ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.  Setelah itu ia meluncur ke rumah sakit.



Pagi-pagi sekali


Brenda sudah tiba di rumah sakit. Ia menemui Maryati yang duduk di


ruang tunggudengan mata terlihat sembab karena menangis semalaman.


“Kamu sudah datang, Nda?”sapa Maryati dengan suara berat.


Brenda


mengangguk seraya tersenyum.


“Bagaimana keadaan Ryan, Tante..?”tanya Brenda ingin tahu.


“Ryan belum sadar,”


“Oh...” Brenda duduk di samping Maryati.


“Ryan


mendapatkan jahitan di lengannya,”


“Separah itu?”


Maryati

__ADS_1


mengangguk. “Mereka menghajar anak saya, Nda. Saya nggak bisa membayangkan


mengapa hal itu bisa terjadi,”


“Sabarlah,


Tante. Saya juga minta maaf. Ini semua berawal dari saya. Kalau saja waktu itu


saya tidak mengajak Ryan keluar, mungkin hal ini tidak akan terjadi,”


“Kamu nggak


salah, Nda… Ryan memang sangat perlu tahu dunia luar. Sudah lama saya tidak


mengajaknya keluar,”


Sejenak situasi


hening.


“Kalau begitu saya melihat Ryan dulu, Tante...”


Maryati


mengangguk pelan “Ya…”


Brenda masuk ke ruang Ryan, lalu duduk di kursi. Ia memerhatikan


wajah Ryan yang penuh luka. Kepalanya diperban dan lengannya terlihat bengkak.


Keadaan Ryan sangat memperihatinkan.


“Maafkan aku,


Yan…” gumam Brenda pelan.


Brenda menatap


lekat wajah Ryan. Ada kharisma dalam diri cowok itu yang membuat Brenda ingin


membantunya keluar dari kehidupan semu yang ia jalani.



HERMES PLACE POLONIA, Medan.


di sebuah café yang ada di gedung Hermes.


Tempat tongkrongan baru yang terletak di jalan Dr. Mongonsidi itu lumayan bagus


arsitekturnya. Ada waterboom


dan bioskop XXI yang hampir mirip


dengan kota besar lainnya.


Brenda memesan makanan dan minuman. Ela juga memesan makanan


favoritnya, lalu memberikannya ke pelayan. Wajah Brenda terlihat murung.


“Kamu kenapa, Nda?” tanya Ela penasaran.


“Ryan masuk rumah sakit, La. Kasihan cowok itu,”


“Masuk rumah sakit? Kenapa? Epilepsinya kambuh?”


“Elaaa! Ryan itu kena musibah! Kamu jangan yang enggak-enggak deh,”


“Iya-iya, maaf. Memangnya kenapa cowok itu?”


“Dikeroyok!”


“Dikeroyok? Sama siapa?”


“Polisi!”


“Kok bisa?”


“Kemarin aku makan


bareng di cafe sama Ryan. Tiba-tiba aja Baim menggebrak meja dan menyerang,


Ryan,”


“Lantas, apa hubungannya sama polisi?”


“Orangtua Baim nggak terima. Mereka menjemput Ryan dan membawanya ke

__ADS_1


kantor polisi,”


“Kasihan sekali,”


“Yah, sekarang Ryan dirawat di rumah sakit,”


Ela menerima pesanannya.


“Apa tindakanmu selanjutnya?”


“Aku akan selalu menjenguk Ryan, La…”


“Wah… besar sekali pengorbananmu…”


“Sudah takdir…” Brenda melenguh.


Brenda mencomot kentang goreng, lalu melumurinya dengan saus tomat.


Mengunyahnya beberapa kali


lalu menyeruput minumannya. Setelah menyantap hidangannya, Brenda ngajak


nonton.


“Nonton yuk, La…” ajak Brenda.


“Mmmm….”


“Ayo dong, La…”


“Okey… Setelah pancake ku


habis…”


Brenda memberengut sambil melipat tangannya memperhatikan Ela yang


menyantap hidangannya lamat-lamat.


“Lama banget sih makannya, kayak keong…”


“Makanan begini kudu dinikmati dan diresapi, Nda…”


“Ughh….”


Setelah suapan terakhir, Brenda langsung menarik Ela yang buru-buru menyeruput minumannya


hingga ia terlihat gelagapan.


“Ighh… nggak sabaran banget sih, Nda… Untung nggak kesedak!”


“Payah… Kamu seperti orang nggak pernah makan pancake aja…”


Ela menghapus bibirnya dengan tisu, lalu mengikuti langkah Brenda ke XXI.


Tentu saja dengan ocehan-ocehan kecilnya.


Brenda terhenti sebelum mendekati loket pembelian tiket. Ia melihat


Franky di sana bersama cewek pelariannya. Mesra banget.


“Ada apa, Nda?” tanya Ela heran.


“Tuh… cowok brengsek!”


Mata Ela memperhatikan bibir Brenda.


“Udah… lupain aja dia, Nda… Nggak usah diambil pusing cowok matre seperti


itu,”


“Hatiku masih sakit karena perlakuannya, La. Gara-gara dia aku harus


pontang-panting cari duit untuk bayar hutang,”


“Kalau kamu tetap mengingat masa lalu, kamu nggak akan pernah maju, Nda.


Sini, biar aku yang beli tiketnya,” ajak Ela kemudian.


   Lagi-lagi Brenda tidak dapat


melupakan perlakuan Franky yang menurutnya telah menghancurkan kehidupannya.


Setelah membeli tiket Brenda dan Ela masuk studio 4. Film Amazing Spiderman.


Sebenarnya Brenda nggak suka film fantasi begitu, tapi karena udah


terlanjur yah dia hanya menikmati sekedarnya.

__ADS_1



__ADS_2