RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 8


__ADS_3

Di sebuah café


pada suatu sore.


Brenda memainkan sedotan minumannya, melamun. Ela yang memerhatikannya jadi jenuh.


“Kenapa lagi?


Aku kan sudah


bilang, kamunggakbakalan sanggup menghadapi cowok itu,”


Brenda


menghentikan tangannya. Menatap Ela dengan lekat.


“Aku harus


bersabar, La. Kekurangan Ryan bukanlah suatu musibah. Aku harus


membantunya keluar dari dunia yang ia ciptakan sendiri,”


“Dengan apa?


Dengan keahlianmu memasak? Dengan bahasa Inggrismu yang seperti air? Ryan tidak


akan sanggup menerima itu semua, Nda. Sudahlah… kamu cari aja murid yang


lain.  Yang sempurna. Tidak seperti


Ryan,”


“Ela..! Ryan itu


sangat membutuhkan perhatian, pendidikan dan teman. Kita sebagai orang yang


diberikan kesempurnaan berfikir harus menolongnya. Nggak ada kan larangan untuk anak cacat


tidak diperbolehkan sekolah?”


“Yah, itu


terserah kamu saja. Aku sudah menasehatimu,”


“Nasehatmu itu


sangat menghancurkan orang-orang seperti Ryan.”


Ela mengangkat


bahunya. “Oke… aku menyerah. Keputusan ada di tanganmu tuan putri. Semoga kamu


berhasil,” Ela menyendok saladnya. Memakannya dengan lahap. Brenda merasa eneg.


“Kita ke mall


yuk, La,” ajak Brenda kemudian.


Ela meletakkan


sendok di atas piring.


“Kamu mau shooping?” tanya Ela sambil mendelik.


“Aku mau lihat-lihat


saja. Sekalian aku mau caribuku tentang autis,”


Ela menggeleng.


“Pengorbananmu dalam sekali, Nda. Ada apa sih denganmu?”


“Nggak ada


apa-apa. Yuk, cabut…”


“Bentar. Saladnya belum habis,”


“Duuhh... cepatlah, Ela...”


“Iya-iya... dikit lagi nih... Nggak sabaran kali pun.”


Ela menyeruput


minumannya kemudian mengikuti Brenda yang sudah lebih dulu beranjak.


Keduanya menuju parkiran dan pergi dengan mobil masing-masing.


__ADS_1


SUN PLAZA, Medan.


Pusat


perbelanjaan itu dipadati pengunjung. Brenda dan Ela berjalan lenggak-lenggok


seperti selebritis yang dikerubuti


para fans.


Sesekali mata Ela melirik ke etalase. Gaun yang dipajang membuat mata Ela


mendelik. Tas sandang yang bentuknya elegan dan Highthills keluaran terbaru. Ia terhenti. Tangannyamenarik lengan Brenda.


“Apaan sih?”


Brenda melenguh sambil terhenti.


“Tuh…” bibir Ela


dimonyongin. Mata Brenda mengikuti bibir Ela yang


seperti bibir kuda. Sepatu hak tinggi bermerk.


“Bagus ya, Nda...” puji Ela. Mata Brenda beralih ke


bandrol yang melekat di sol. Tiga juta rupiah? Behh..


“Gila...! Nggak ah…” ujarnya. “Aku


lagi kere,”


“Duitkan nggak bisa ngomong, Nda...”


“Aku lagi hemat, La,”


“Yee... memangnya siapa yang menyuruhmu beli?”


Brenda memerotkan bibirnya.


“Gimana kalau aku yang memakainya?”ujar


Ela kemudian.


“That’s ok. Kamu kan selalu perfect…” sungut Brenda sewot.


Dengan cepat Ela


Shopping aja kerjaannya. Kemarin kan baru beli sepatu?


Belanja di butik. Sekarang mau belanja lagi? Iigghh...


dasar Ela.


Tergiur juga


Brenda melihat kaki Ela dihiasi hak tinggi keluaran terbaru. Bagus. Pas sekali dengan kaki indah Ela. Brenda hanya bisa mendegut


ludahnya. Yah, Ela kan anak orang kaya. Kerjanya juga sudah mapan ketimbang


Brenda. Ela


membuka usaha di bidang publishing. Ia yang


memiliki penerbitan majalah eksklusif di kota Medan. Ela memang jenius. Ia


tamatan luar negeri.


“Kamu mau pakai kartu kreditku?” Ela menawari Brenda.


“Ogah ah. Aku pusing bayarnya,”


“Percuma dong kamu mengajar putra seorang wanita


pengusaha...”


“Yee... duitnya juga belum ditransfer, La.” Brenda


melipat tangannya. Tiba-tiba saja matanya menangkap sosok cowok di toko yang sama. Baim!


Cowok itu menggandeng cewek ABG.Igghh... Hati Brenda kembat-kembut mau


meledak.


“Dasar cowok


brengsek!” makinya kecil. “Bisa-bisanya dia memaksaku jadi pacarnya, sementara kelakuannya


seperti playboy kelas kakap,” umpat Brenda.

__ADS_1


“Nda… kamu


kenapa? Bibir kamu kok merat-merot gitu? Lagi kesurupan ya?” Ela yang memperhatikan


Brenda jadi heran.


“Enak aja! Tuh,


cowok tongkar yang aku ceritain waktu itu. Gila kan?”


Mata Ela mengikuti telunjuk Brenda. “Ya udah, ngapain diambil


pusing? Cowok playboy gitu kamu layani,”


“Dia selalu


mengganggu kehidupanku, La. Dia memaksaku menerima cintanya.


Sinting kan? Cinta itu kan nggak bisa dipaksa. Lagi pula aku nggak suka padanya. Terlalu ambisius.


Aku mau melabraknya agar tidak menggangguku lagi,” sungut Brenda sambil menghampiri Baim yang tengah


sibuk memilih sepatu.


“Kalian pasangan


yang serasi ya,” ujar Brenda mengejutkan Baim. Mata Baim  terbelalak melihat sosok Brenda di


sampingnya.


“Nda…”gumamnya gagu. Baim salah tingkah. “Ngapain kamu disini?”


“Itu bukan urusanmu! Mulai detik ini kamu jangan menggangguku


lagi. Aku sudah tahu siapa dirimu. Dasar playboy nggak tahu diri!” Brenda


berlalu dari Baim. Cewek yang ia bawa kontan sewot dan marah-marah. Baim


bingung menghadapi situasi seperti itu.


Brenda tersenyum


sinis. “Rasain…” rutuknya.


“Kamu


benar-benar nekat, Nda…”ujar Ela yang sibuk meninting


belanjaanya.


“Aku jengah


melihatnya, La. Aku sudah bilang berkali-kali ke dia kalau aku nggak cinta


sama dia. Dia aja yang memaksaku.”


Ela mengangkat bahunya. Setelah berputar-putar keliling


Mall, Brenda


dan Ela beranjakke toko buku. Banyak sekali buku-buku


tentang autis. Namun lebih banyak yang anak-anak.


Setelah keliling mall dan butiq-butiq sangat melelahkan


sekaligus melegakan buat Brenda. Ia telah meluapkan emosinya ke Baim. Cowok egois yang nggak tahu diri.


“Sekarang apa tujuanmu?” tanya Ela di depan pintu keluar.


“Aku mau pulang ke rumah mama. Sudah dua minggu aku nggak


jenguk mama,”


“Ok. Itu tujuanmu


yang sangat tepat,”


“Yah... dan aku bisa istirahat dengan tenang,”


“Yuk...”


Keduanya melangkah ke parkiran.


Di toko buku


tadi, Brenda sempat membaca beberapa artikel tentang autis. Sebenarnya autis itu bukan penyakit, tapi gangguan perkembangan otak. Kebanyakan tentang anak-anak yang usianya jauh di bawah Ryan. Bagaimana dia menghadapi


anak autis seusia Ryan?

__ADS_1



__ADS_2