
Di sebuah café
pada suatu sore.
Brenda memainkan sedotan minumannya, melamun. Ela yang memerhatikannya jadi jenuh.
“Kenapa lagi?
Aku kan sudah
bilang, kamunggakbakalan sanggup menghadapi cowok itu,”
Brenda
menghentikan tangannya. Menatap Ela dengan lekat.
“Aku harus
bersabar, La. Kekurangan Ryan bukanlah suatu musibah. Aku harus
membantunya keluar dari dunia yang ia ciptakan sendiri,”
“Dengan apa?
Dengan keahlianmu memasak? Dengan bahasa Inggrismu yang seperti air? Ryan tidak
akan sanggup menerima itu semua, Nda. Sudahlah… kamu cari aja murid yang
lain. Yang sempurna. Tidak seperti
Ryan,”
“Ela..! Ryan itu
sangat membutuhkan perhatian, pendidikan dan teman. Kita sebagai orang yang
diberikan kesempurnaan berfikir harus menolongnya. Nggak ada kan larangan untuk anak cacat
tidak diperbolehkan sekolah?”
“Yah, itu
terserah kamu saja. Aku sudah menasehatimu,”
“Nasehatmu itu
sangat menghancurkan orang-orang seperti Ryan.”
Ela mengangkat
bahunya. “Oke… aku menyerah. Keputusan ada di tanganmu tuan putri. Semoga kamu
berhasil,” Ela menyendok saladnya. Memakannya dengan lahap. Brenda merasa eneg.
“Kita ke mall
yuk, La,” ajak Brenda kemudian.
Ela meletakkan
sendok di atas piring.
“Kamu mau shooping?” tanya Ela sambil mendelik.
“Aku mau lihat-lihat
saja. Sekalian aku mau caribuku tentang autis,”
Ela menggeleng.
“Pengorbananmu dalam sekali, Nda. Ada apa sih denganmu?”
“Nggak ada
apa-apa. Yuk, cabut…”
“Bentar. Saladnya belum habis,”
“Duuhh... cepatlah, Ela...”
“Iya-iya... dikit lagi nih... Nggak sabaran kali pun.”
Ela menyeruput
minumannya kemudian mengikuti Brenda yang sudah lebih dulu beranjak.
Keduanya menuju parkiran dan pergi dengan mobil masing-masing.
__ADS_1
SUN PLAZA, Medan.
Pusat
perbelanjaan itu dipadati pengunjung. Brenda dan Ela berjalan lenggak-lenggok
seperti selebritis yang dikerubuti
para fans.
Sesekali mata Ela melirik ke etalase. Gaun yang dipajang membuat mata Ela
mendelik. Tas sandang yang bentuknya elegan dan Highthills keluaran terbaru. Ia terhenti. Tangannyamenarik lengan Brenda.
“Apaan sih?”
Brenda melenguh sambil terhenti.
“Tuh…” bibir Ela
dimonyongin. Mata Brenda mengikuti bibir Ela yang
seperti bibir kuda. Sepatu hak tinggi bermerk.
“Bagus ya, Nda...” puji Ela. Mata Brenda beralih ke
bandrol yang melekat di sol. Tiga juta rupiah? Behh..
“Gila...! Nggak ah…” ujarnya. “Aku
lagi kere,”
“Duitkan nggak bisa ngomong, Nda...”
“Aku lagi hemat, La,”
“Yee... memangnya siapa yang menyuruhmu beli?”
Brenda memerotkan bibirnya.
“Gimana kalau aku yang memakainya?”ujar
Ela kemudian.
“That’s ok. Kamu kan selalu perfect…” sungut Brenda sewot.
Dengan cepat Ela
Shopping aja kerjaannya. Kemarin kan baru beli sepatu?
Belanja di butik. Sekarang mau belanja lagi? Iigghh...
dasar Ela.
Tergiur juga
Brenda melihat kaki Ela dihiasi hak tinggi keluaran terbaru. Bagus. Pas sekali dengan kaki indah Ela. Brenda hanya bisa mendegut
ludahnya. Yah, Ela kan anak orang kaya. Kerjanya juga sudah mapan ketimbang
Brenda. Ela
membuka usaha di bidang publishing. Ia yang
memiliki penerbitan majalah eksklusif di kota Medan. Ela memang jenius. Ia
tamatan luar negeri.
“Kamu mau pakai kartu kreditku?” Ela menawari Brenda.
“Ogah ah. Aku pusing bayarnya,”
“Percuma dong kamu mengajar putra seorang wanita
pengusaha...”
“Yee... duitnya juga belum ditransfer, La.” Brenda
melipat tangannya. Tiba-tiba saja matanya menangkap sosok cowok di toko yang sama. Baim!
Cowok itu menggandeng cewek ABG.Igghh... Hati Brenda kembat-kembut mau
meledak.
“Dasar cowok
brengsek!” makinya kecil. “Bisa-bisanya dia memaksaku jadi pacarnya, sementara kelakuannya
seperti playboy kelas kakap,” umpat Brenda.
__ADS_1
“Nda… kamu
kenapa? Bibir kamu kok merat-merot gitu? Lagi kesurupan ya?” Ela yang memperhatikan
Brenda jadi heran.
“Enak aja! Tuh,
cowok tongkar yang aku ceritain waktu itu. Gila kan?”
Mata Ela mengikuti telunjuk Brenda. “Ya udah, ngapain diambil
pusing? Cowok playboy gitu kamu layani,”
“Dia selalu
mengganggu kehidupanku, La. Dia memaksaku menerima cintanya.
Sinting kan? Cinta itu kan nggak bisa dipaksa. Lagi pula aku nggak suka padanya. Terlalu ambisius.
Aku mau melabraknya agar tidak menggangguku lagi,” sungut Brenda sambil menghampiri Baim yang tengah
sibuk memilih sepatu.
“Kalian pasangan
yang serasi ya,” ujar Brenda mengejutkan Baim. Mata Baim terbelalak melihat sosok Brenda di
sampingnya.
“Nda…”gumamnya gagu. Baim salah tingkah. “Ngapain kamu disini?”
“Itu bukan urusanmu! Mulai detik ini kamu jangan menggangguku
lagi. Aku sudah tahu siapa dirimu. Dasar playboy nggak tahu diri!” Brenda
berlalu dari Baim. Cewek yang ia bawa kontan sewot dan marah-marah. Baim
bingung menghadapi situasi seperti itu.
Brenda tersenyum
sinis. “Rasain…” rutuknya.
“Kamu
benar-benar nekat, Nda…”ujar Ela yang sibuk meninting
belanjaanya.
“Aku jengah
melihatnya, La. Aku sudah bilang berkali-kali ke dia kalau aku nggak cinta
sama dia. Dia aja yang memaksaku.”
Ela mengangkat bahunya. Setelah berputar-putar keliling
Mall, Brenda
dan Ela beranjakke toko buku. Banyak sekali buku-buku
tentang autis. Namun lebih banyak yang anak-anak.
Setelah keliling mall dan butiq-butiq sangat melelahkan
sekaligus melegakan buat Brenda. Ia telah meluapkan emosinya ke Baim. Cowok egois yang nggak tahu diri.
“Sekarang apa tujuanmu?” tanya Ela di depan pintu keluar.
“Aku mau pulang ke rumah mama. Sudah dua minggu aku nggak
jenguk mama,”
“Ok. Itu tujuanmu
yang sangat tepat,”
“Yah... dan aku bisa istirahat dengan tenang,”
“Yuk...”
Keduanya melangkah ke parkiran.
Di toko buku
tadi, Brenda sempat membaca beberapa artikel tentang autis. Sebenarnya autis itu bukan penyakit, tapi gangguan perkembangan otak. Kebanyakan tentang anak-anak yang usianya jauh di bawah Ryan. Bagaimana dia menghadapi
anak autis seusia Ryan?
__ADS_1