
“Apa? Kamu mengajar cowok autis?”
berkerut dahi Ela mendengarkan penuturan Brenda barusan. Brenda mengangguk,lalu
mencomot kentang goreng di depannya.
“Bayarannya
lumayan, La. Bisa buat bayar hutang,” ujarnya berambisi.
“Apa kamu nggak mikirin
resikonya?” Ela seakan menjelma menjadi orang penting yang mengatur segalanya.
“Resiko apa?” Brenda
memasukkan potongan kentang ke mulutnya, lalu menyeruput minuman ringan
bersoda.
“Yah, kamu akan
mengalami hipertensi stadium empat,”
“Jika itu kamu. Aku
tahu kamu akan mengalami stroke berat, karena kamu punya bibit sebagai perempuan hipertensi,”
“Mungkin. Dan
aku akan mati muda seperti tanteku, hahaha…” Ela tertawa renyah seperti kentang
goreng. Brenda tak perlu ambil pusing dengan kata-kata Ela. Dia sudah tidak
punya pilihan lain. Beberapa hari yang lalu pemilik rumah kontrakannya datang
dan menagih uang untuk kelanjutan rumah. Brenda sangat membutuhkan uang yang sangat banyak jumlahnya.
Miskin bukanlah
kehendak setiap manusia, tapi Tuhan memberi ujian kepada umat-Nya untuk terus
berusaha. Seperti Brenda yang tengah diuji kesabarannya. Dikejar-kejar kolektor
bank, ditagih rentenir dan dipaksa membayar kelanjutan rumah kontraknya.
Puuhh…
“Kamu
melamun?” Ela membuyarkan lamunan Brendayang tenggelam pada masa lalu.
Brenda tergagap. “Hh… nggak kok,”
ucapnya seraya meraih softdrink dan menyedotnya.
“Sudah sore,
kita pulang yuk?” ajak Ela kemudian.
“Pulang?”
“Ya… aku nggak
mau mama melototiku karena pulang terlambat,”
“Baiklah... dan
aku akan menikmati kesendirianku di rumah. Kamu nggak mau menemaniku
sebentar saja?”
“Ayolah, Nda. Kamu nggak akan
merasa kesepian jika menerima dokter Dedy sebagai kekasihmu,”
“Ighh… kamu ini
apa-apaan sih, La? Aku nggak mau punya kekasih seorang dokter. Kamu tahu kan kesibukan dokter? Selalu nggak ada
waktu buat kencan, jalan, apalagi bermesraan. Mereka sibuk ngurusi pasien. Aku
juga trauma dengan cinta cowok yang membabi buta,”
“Kenapa kamu nggak pura-pura
menjadi pasiennya aja?”
“Ogah! Dah basi!”
“Kamu akan
menyesal,”
“Biarin.
Daripada aku menyesal karena salah pilih? Aku nggak mau terulang kembali seperti
dulu,”
“Itu masa lalu,
Nda. Franky memang cowok brengsek yang nggak tahu diri. Kamu jangan apatis dengan cowok. Kamu bisa dicap cewek yang ada
kelainan,”
“Yee… enak aja.
Aku masih normal, La!” Brenda sewot.
“Yah…asal jangan
keterusan menjomblo. Udah ah, yuk pulang. Aku ada janji sama Renold. Kalau aku
telat dia bisa direbut orang,”
“Kamu cinta
karat amat. Cowok itu jangan terlalu dikasih hati,”
__ADS_1
“Yah… karena kamu gagal
menjalin cinta dengan cowok pujaanmu kan?
Kamu nggak pernah
merasakan betapa berartinya seorang cowok bagimu. Betapa damainya jika
cowok berada di sampingmu,”
“Dan aku bukan
tipe cewek pengejar cowok sepertimu,”
“Setidaknya aku
sudah memiliki Renold. Kamu jangan cemburu ya jika aku bermesraan di depanmu dan kami
akan menikah secepatnya, hehehe…”
“Huh… narsis!”
“Yah itu memang sifatku. Kata orang nggak narsis nggak eksis,”
“Kamu kebanyakan nonton iklan,”
“Okelah, Nda. Aku nggak mau berdebat terus denganmu. Aku akan membantumu mencari
murid baru. Kebetulan di komplekku banyak anak-anak yang butuh pendidikan. Yah, dengan bayaran yang kecil…”
“Terima kasih,
La. Untuk membagikan ilmuku aku nggakperlu bayaran mahal, belum saatnya,”
“Ok… Sebaiknya
aku segara pulang,”
Ela beranjak
dari kursinya, diikuti Brenda yang dengan malas mengangkat tubuhnya. Masih bermain-main di
kepala tentang kelakuan
Franky kepadanya. Betapa sakit hati Brenda melihat Franky bermesraan dengan
gadis lain.
‘Sialan! Kenapa aku mengingat kelakuan cowok brengsek itu?!’ Brenda mendengus seraya
mengumpat. Pikirannya beralih ke Ryan. Wajah itu bermain-main di benaknya.
“Kasihan,” batinnya miris. “Cowok cakep seperti Ryan harus menghadapi masa depan yang
kelam.”
Semua orang
memang ingin terlahir sempurna. Cantik, tampan tanpa cacat sedikit pun. Itu
semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Ryan juga tidak pernah meminta menjadi
“La, aku singgah
ke rumahmu ya,”
ucap Brenda
sebelum Ela masuk ke mobilnya.
“Okey… Setelah
aku ngedate dengan Renold,”
“Uugh… Kamu batalkan
aja acaramu dengan Renold,”
“Nggak bisa,
Nda… Kau tunggu aja di rumah. Ada mama kok,”
Brenda memelas kesal.
Ia naik ke motornya dengan malas. Mobil Ela meluncur di jalan hitam. Tinggal
Brenda yang terpaku menatap mobil Ela yang kian menjauh. Ia bingung mau kemana.
Kembali ke rumah kontrakan sangat membosankan. Berat ia menyalakan motornya. Motor Brenda melaju di jalan hitam. Sore yang menyebalkan. Ia
harus menunggu di rumah Ela selama empat jam. Tentu saja dengan keadaan yang
membosankan.
Brenda memotong daun bawang dan beberapa tomat. Ia
membantu Salma di dapur. Senang juga bisa belajar masak dengan tante Salma,
mamanya Ela. Dulu Salma seorang chef di
sebuah restoran ternama. Sejak menikah dengan Rahmad ia tak lagi bekerja di
restoran itu. Rahmad sudah memberikan segalanya ke Salma dan Ela.
“Kenapa tante nggak buka restoran aja?” tanya Brenda di
sela-sela memasak.
“Tante nggak mau repot, Nda. Tante ingin menikmati hari
tua di rumah aja. Yah itung-itung bisa memasak untuk suami tante dan Ela,”
“Tapi masakan tante perlu diacungi jempol. Enak dan
lezat. Bolehkan Brenda belajar masak
dengan tante?”
__ADS_1
“Tentu saja. Itu tergantung dari niat dan kemauanmu? Kamu
mau membuka restauran lagi?”
Brenda terdiam sejenak, lalu berujar.
“Sebenarnya sih Brenda ingin melanjutkan bisnis kuliner,
Tante. Tapi Brenda belum ada modal. Buka restauran butuh modal besar. Tapi kalau
dipikir-pikir, Brenda nggak mau mengalami nasib yang seperti dulu,”
“Yah, tante tahu. Tanpa modal juga kita nggak bisa
berkembang. Kalau masa lalu jangan kamu ingat-ingat lagi. Hadapi masa depanmu
terus ke depan. Jangan mengingat masa lalu,”
Brenda tersenyum tipis sambil mengangguk
pelan.
“Iya, Tante,”
Ia mengurak-arik potongan kentang, daging dan bawang
bombay. Aromanya sedap, bikin perutnya gemeruyuk. Sudah tidak sabar ingin
menyantap masakan tante Salma yang lezat dan memiliki ciri khas tersendiri. Ada campuran daun jeruk purut sebagai penambah aroma.
Salma meletakkan beberapa hidangan di atas meja. Daging
asap dengan campuran paprika serta saus yang diraciknya sendiri, tidak
ada duanya. Tumis brokoli, kacang polong dengan campuran jamur, ayam dan bakso ikan, membuat selera makan Brenda menggebu-gebu. Beberapa kali ia menelan air
liurnya ketika
aroma sedap menyeruak di dapur.
Setelah semuanya selesai, Brenda duduk di kursi, lalu
meletakkan serbet ke pangkuannya. Ia menyendok nasi ke piringnya dan mengambil
sedikit potongan daging.
“Kamu kapan menikah?” tanya Salma mengawali pembicaraan.
Brenda menatap Salma. “Hmm... belum kepikiran, Tante,”
jawabnya singkat.
“Loh... kenapa, Nda? Jangan lama-lama, nanti kau nggak
kebagian cowok loh,”
Brenda tertawa. “Hahahah.... Ah, Tante bisa aja....”
“Bagaimana kabar mamamu?”
“Baik-baik saja, Tante. Brenda belum menjenguk mama
minggu ini,” Brenda melahap hidangannya.
Salma menyendok beberapa sayuran ke piringnya, lalu menyantapnya dengan nikmat. Mereka
lahap sekali menyantap hidangan di atas meja, hingga perut terasa kenyang. Mereka
tertawa bebarengan lalu ngobrol lagi seputar bisnis yang dikelolah Brenda.
“Mungkin ini
sudah jalannya, Tante. Brenda harus bersabar atas ujian yang Allah beri,”
“Ini pelajaran
buat kamu, Nda. Kenapa kamu nggak bergabung di
Majalahnya Ela? Daripada kamu pontang-panting kesana-kemari?”
“Brenda nggak
ada bakat ke jurnalis, Tante. Kalau jadi direkturnya sih nggak apa-apa, hahahaha…”
Brenda terbahak.
“Ya, semua itu
harus dijalani dulu kan,
Nda…”
“Iya, Tante…”
Brenda tersenyum tipis. Kemudian Salma bertanya lagi tentang cowok yang ditaksirBrenda.
“Siapa cowok
yang dekat denganmu sekarang?”
“Hmm…” Brenda
memutar bola matanya. “Belum ada yang cocok, Tante…”
Salma tersenyum
tipis. “Jangan terlena, Nda. Usiamu terus bertambah loh… Kasihan papa dan
mamamu,”
Brenda hanya
cengengesan. Kemudian mereka merapikan meja makan yang sedikit berantakan.
Brenda meraih buku psikologi di rak buku, sambil menunggu kedatangan Ela.Entah mengapa lagi-lagi ia terbayang dengan sosok Ryan. Wajah teduh cowok
itu seakan menghipnotisnya.
__ADS_1