RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 3


__ADS_3

“Apa? Kamu mengajar cowok autis?”


berkerut dahi Ela mendengarkan penuturan Brenda barusan. Brenda mengangguk,lalu


mencomot kentang goreng di depannya.


“Bayarannya


lumayan, La. Bisa buat bayar hutang,” ujarnya berambisi.


“Apa kamu nggak mikirin


resikonya?” Ela seakan menjelma menjadi orang penting yang mengatur segalanya.


“Resiko apa?” Brenda


memasukkan potongan kentang ke mulutnya, lalu menyeruput minuman ringan


bersoda.


“Yah, kamu akan


mengalami hipertensi stadium empat,”


“Jika itu kamu. Aku


tahu kamu akan mengalami stroke berat, karena kamu punya bibit  sebagai perempuan hipertensi,”


“Mungkin. Dan


aku akan mati muda seperti tanteku, hahaha…” Ela tertawa renyah seperti kentang


goreng. Brenda tak perlu ambil pusing dengan kata-kata Ela. Dia sudah tidak


punya pilihan lain. Beberapa hari yang lalu pemilik rumah kontrakannya datang


dan menagih uang untuk kelanjutan rumah. Brenda sangat membutuhkan uang yang sangat banyak jumlahnya.


Miskin bukanlah


kehendak setiap manusia, tapi Tuhan memberi ujian kepada umat-Nya untuk terus


berusaha. Seperti Brenda yang tengah diuji kesabarannya. Dikejar-kejar kolektor


bank, ditagih rentenir dan dipaksa membayar kelanjutan rumah kontraknya.


Puuhh…


“Kamu


melamun?” Ela membuyarkan lamunan Brendayang tenggelam pada masa lalu.


Brenda tergagap. “Hh… nggak kok,”


ucapnya seraya meraih softdrink dan menyedotnya.


“Sudah sore,


kita pulang yuk?” ajak Ela kemudian.


“Pulang?”


“Ya… aku nggak


mau mama melototiku karena pulang terlambat,”


“Baiklah... dan


aku akan menikmati kesendirianku di rumah. Kamu nggak mau menemaniku


sebentar saja?”


“Ayolah, Nda. Kamu nggak akan


merasa kesepian jika menerima dokter Dedy sebagai kekasihmu,”


“Ighh… kamu ini


apa-apaan sih, La? Aku nggak mau punya kekasih seorang dokter. Kamu tahu kan kesibukan dokter? Selalu nggak ada


waktu buat kencan, jalan, apalagi bermesraan. Mereka sibuk ngurusi pasien. Aku


juga trauma dengan cinta cowok yang membabi buta,”


“Kenapa kamu nggak pura-pura


menjadi pasiennya aja?”


“Ogah! Dah basi!”


“Kamu akan


menyesal,”


“Biarin.


Daripada aku menyesal karena salah pilih? Aku nggak mau terulang kembali seperti


dulu,”


“Itu masa lalu,


Nda. Franky memang cowok brengsek yang nggak tahu diri. Kamu jangan apatis dengan cowok. Kamu bisa dicap cewek yang ada


kelainan,”


“Yee… enak aja.


Aku masih normal, La!” Brenda sewot.


“Yah…asal jangan


keterusan menjomblo. Udah ah, yuk pulang. Aku ada janji sama Renold. Kalau aku


telat dia bisa direbut orang,”


“Kamu cinta


karat amat. Cowok itu jangan terlalu dikasih hati,”

__ADS_1


“Yah… karena kamu gagal


menjalin cinta dengan cowok pujaanmu kan?


Kamu nggak pernah


merasakan betapa berartinya seorang cowok bagimu. Betapa damainya jika


cowok  berada di sampingmu,”


“Dan aku bukan


tipe cewek pengejar cowok sepertimu,”


“Setidaknya aku


sudah memiliki Renold. Kamu jangan cemburu ya jika aku bermesraan di depanmu dan kami


akan menikah secepatnya, hehehe…”


“Huh… narsis!”


“Yah itu memang sifatku. Kata orang nggak narsis nggak eksis,”


“Kamu kebanyakan nonton iklan,”


“Okelah, Nda. Aku nggak mau berdebat terus denganmu. Aku akan membantumu mencari


murid baru. Kebetulan di komplekku banyak anak-anak yang butuh  pendidikan. Yah, dengan bayaran yang kecil…”


“Terima kasih,


La. Untuk membagikan ilmuku aku nggakperlu bayaran mahal, belum saatnya,”


“Ok… Sebaiknya


aku segara pulang,”


Ela beranjak


dari kursinya, diikuti Brenda yang dengan malas mengangkat tubuhnya. Masih bermain-main di


kepala tentang kelakuan


Franky kepadanya. Betapa sakit hati Brenda melihat Franky bermesraan dengan


gadis lain.


‘Sialan! Kenapa aku mengingat kelakuan cowok brengsek itu?!’ Brenda mendengus seraya


mengumpat. Pikirannya beralih ke Ryan. Wajah itu bermain-main di benaknya.


“Kasihan,” batinnya miris. “Cowok cakep seperti Ryan harus menghadapi masa depan yang


kelam.”


Semua orang


memang ingin terlahir sempurna. Cantik, tampan tanpa cacat sedikit pun. Itu


semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Ryan juga tidak pernah meminta menjadi


“La, aku singgah


ke rumahmu ya,”


ucap Brenda


sebelum Ela masuk ke mobilnya.


“Okey… Setelah


aku ngedate dengan Renold,”


“Uugh… Kamu batalkan


aja acaramu dengan Renold,”


“Nggak bisa,


Nda… Kau tunggu aja di rumah. Ada mama kok,”


Brenda memelas kesal.


Ia naik ke motornya dengan malas. Mobil Ela meluncur di jalan hitam. Tinggal


Brenda yang terpaku menatap mobil Ela yang kian menjauh. Ia bingung mau kemana.


Kembali ke rumah kontrakan sangat membosankan. Berat ia menyalakan motornya. Motor Brenda melaju di jalan hitam. Sore yang menyebalkan. Ia


harus menunggu di rumah Ela selama empat jam. Tentu saja dengan keadaan yang


membosankan.



Brenda memotong daun bawang dan beberapa tomat. Ia


membantu Salma di dapur. Senang juga bisa belajar masak dengan tante Salma,


mamanya Ela. Dulu Salma seorang chef di


sebuah restoran ternama. Sejak menikah dengan Rahmad ia tak lagi bekerja di


restoran itu. Rahmad sudah memberikan segalanya ke Salma dan Ela.


“Kenapa tante nggak buka restoran aja?” tanya Brenda di


sela-sela memasak.


“Tante nggak mau repot, Nda. Tante ingin menikmati hari


tua di rumah aja. Yah itung-itung bisa memasak untuk suami tante dan Ela,”


“Tapi masakan tante perlu diacungi jempol. Enak dan


lezat. Bolehkan Brenda  belajar masak


dengan tante?”

__ADS_1


“Tentu saja. Itu tergantung dari niat dan kemauanmu? Kamu


mau membuka restauran lagi?”


Brenda terdiam sejenak, lalu berujar.


“Sebenarnya sih Brenda ingin melanjutkan bisnis kuliner,


Tante. Tapi Brenda belum ada modal. Buka restauran butuh modal besar. Tapi kalau


dipikir-pikir, Brenda nggak mau mengalami nasib yang seperti dulu,”


“Yah, tante tahu. Tanpa modal juga kita nggak bisa


berkembang. Kalau masa lalu jangan kamu ingat-ingat lagi. Hadapi masa depanmu


terus ke depan. Jangan mengingat masa lalu,”


Brenda tersenyum tipis sambil mengangguk


pelan.


“Iya, Tante,”


Ia mengurak-arik potongan kentang, daging dan bawang


bombay. Aromanya sedap, bikin perutnya gemeruyuk. Sudah tidak sabar ingin


menyantap masakan tante Salma yang lezat dan memiliki ciri khas tersendiri. Ada campuran daun jeruk purut sebagai penambah aroma.


Salma meletakkan beberapa hidangan di atas meja. Daging


asap dengan campuran paprika serta saus yang diraciknya sendiri, tidak


ada duanya. Tumis brokoli, kacang polong dengan campuran jamur, ayam dan bakso ikan, membuat selera makan Brenda menggebu-gebu. Beberapa kali ia menelan air


liurnya ketika


aroma sedap menyeruak di dapur.


Setelah semuanya selesai, Brenda duduk di kursi, lalu


meletakkan serbet ke pangkuannya. Ia menyendok nasi ke piringnya dan mengambil


sedikit potongan daging.


“Kamu kapan menikah?” tanya Salma mengawali pembicaraan.


Brenda menatap Salma. “Hmm... belum kepikiran, Tante,”


jawabnya singkat.


“Loh... kenapa, Nda? Jangan lama-lama, nanti kau nggak


kebagian cowok loh,”


Brenda tertawa. “Hahahah.... Ah, Tante bisa aja....”


“Bagaimana kabar mamamu?”


“Baik-baik saja, Tante. Brenda belum menjenguk mama


minggu ini,” Brenda melahap hidangannya.


Salma menyendok beberapa sayuran ke piringnya, lalu menyantapnya dengan nikmat. Mereka


lahap sekali menyantap hidangan di atas meja, hingga perut terasa kenyang. Mereka


tertawa bebarengan lalu ngobrol lagi seputar bisnis yang dikelolah Brenda.


“Mungkin ini


sudah jalannya, Tante. Brenda harus bersabar atas ujian yang Allah beri,”


“Ini pelajaran


buat kamu, Nda. Kenapa kamu nggak  bergabung di


Majalahnya Ela? Daripada kamu pontang-panting kesana-kemari?”


“Brenda nggak


ada bakat ke jurnalis, Tante. Kalau jadi direkturnya sih nggak apa-apa, hahahaha…”


Brenda terbahak.


“Ya, semua itu


harus dijalani dulu kan,


Nda…”


“Iya, Tante…”


Brenda tersenyum tipis. Kemudian Salma bertanya lagi tentang cowok yang ditaksirBrenda.


“Siapa cowok


yang dekat denganmu sekarang?”


“Hmm…” Brenda


memutar bola matanya. “Belum ada yang cocok, Tante…”


Salma tersenyum


tipis. “Jangan terlena, Nda. Usiamu terus bertambah loh… Kasihan papa dan


mamamu,”


Brenda hanya


cengengesan. Kemudian mereka merapikan meja makan yang sedikit berantakan.


Brenda meraih buku psikologi di rak buku, sambil menunggu kedatangan Ela.Entah mengapa lagi-lagi ia terbayang dengan sosok Ryan. Wajah teduh cowok


itu seakan menghipnotisnya.


__ADS_1


__ADS_2