
Ela mengantarkan undangan pernikahan ke rumah Brenda sekalian ia ingin
menemui Brenda. Setelah menyapa Mama dan Papa Brenda ia menuju kamar Brenda di lantai dua. Ela
membuka perlahan kamar Brenda yang
tidak terkunci.
“Heiii…, Nona Manis? Sedang apa?”sapa Ela riang.
Brenda yang duduk disofa
kamar langsung mendongak menatap Ela.
“Heii... Duuhh.... yang mau
kawin...” Brenda beranjak dari duduknya. “Sedang apa kamu kemari?”
Ela duduk di kasur empuk dengan bad cover bunga-bunga.
“Aku ngantar undangan,
sekalian mau cerita-cerita sama kamu. Aku mendengar berita miring,”
Brenda memanyunkan bibirnya. “Oh ya? Dari siapa?”
“Apa benar?”
Brenda mengangguk.
“Ya, begitulah... Aku memang
gadis bodoh yang menerima cinta laki-laki brengsek,”
“Sudahlah, Nda... Maafkan aku
sudah memaksamu menerima Dedy. Aku benar-benar nggak tahu kalau Dedy sudah
beristri,”
Brenda tertunduk dengan wajah
murung. Ela menangkap kegelisahan Brenda dari wajahnya.
“Apa yang kamu pikirkan, Nda?”
tanya Ela penasaran.
Hening sejenak.
“Aku ingat senyumannya, La.
Senyuman itu membuatku merasa nyaman di dekatnya,” parau suara Brenda berujar.
Ela mengerutkan kening tidak tahu atas ucapan Brenda.
“Maksud kamu?”
Brenda menahan perasaannya
sambil memandang langit-langit kamar. Hatinya memang tidak bisa dibohongi.
“Aku merindukan Ryan...”
Brenda menunduk. Ia tak perduli jika Ela menghujatnya sebagai gadis idiot yang mencintai cowok autis
seperti Ryan. Ela sempat tercengangmendengar penuturan Brenda.
“Nda... apakah kata-kata itu
sungguh dari dalam hatimu?”
Brenda menahan isakannya, lalu
ia menunduk.
“Kalau kamu ingin menghujatku dengan kata-kata bodoh, aku terima, La. Ini
masalah hati,”
“Kalau kamu benar-benar
mencintai Ryan, mengapa tidak kamu ungkapkan? Mengapa kamu harus membohongi
dirimu, Nda?”
“Aku malu, La... Aku malu...
Aku merasa duniaku sudah terbalik seratus delapan puluh derajat. Dan aku harus
menerima kenyataan itu,”
Ela menghela berat sambil
memperhatikan sahabatnya.
“Cinta itu tidak memandang
usia, fisik hanya nomor dua. Lebih baik kamu segera menemui Ryan, Nda. Jangan
biarkan Ryan semakin menderita dengan bayang-bayangmu...”
Brenda menatap Ela
dengan tajam. Ada ketulusan seorang sahabat di mata Ela. Brenda segera memeluk Ela dengan erat sambil
sesenggukan.
“Aku mencintainya, La….
__ADS_1
Sangat mencintainya….”
Ela menepuk-nepuk bahu Brenda lalu berkata. “Aku akan mendukungmu, Nda... Percayalah….”
“Makasih, La...” Brenda
menangis terseduh.
Lama mereka berpelukan sambil bercerita panjang lebar. Tentang
persahabatan, cinta dan masa depan. Semoga saja masa depan mereka berdua
bahagia.
Brenda masih terpaku di
kamarnya. Ia mengenang lagi pertemuannya dengan Ryan. Perkenalan yang unik dan
keluguan seorang Ryan di matanya. Brenda terkenang saat mereka berlibur ke
Berastagi, puncaknya kota Medan. Ryan terlihat lebih dewasa dan sangat
romantis. Hati Ryan masih begitu polos dan tulus.
Brenda terkenang lagi saat
mereka liburan ke Danau Toba. Sikap Ryan tidak ia temukan pada cowok-cowok yang
pernah menggodanya. Cowok itu mencintainya hanya karena nafsu bukan cinta
sejati yang diharapkan Brenda.
Brenda tersenyum tipis ketika
mengingat semua kenangan tentang Ryan. Entah mengapa ia sangat identik dengan
cowok itu. Hatinya terasa tenang jika berada di samping Ryan. Namun apakah
Brenda mencintai Ryan?
“Ya Allah... apakah aku
mencintai laki-laki itu?” gumamnya dalam hati.
Hati Brenda semakin gunda
gulana. Begitu banyak laki-laki sempurna yang mengejar-ngejar cintanya, namun
mengapa hatinya terpaut pada Ryan?
Brenda bingung seindiri dengan
perasaanya. Wajah Ryan selalu saja terbayang-bayang di matanya.
“Ya Allah, bantu aku menemukan
jodohku. Kau sembunyikan dimana belahan jiwaku?”
Brenda ke
rumah. Ia bertemu Maryati di sebuah taman kecil tengah merenung. Wajahnya
terlihat sayu dan matanya sembab.
Suara telapak sepatu Brenda membuat Maryati menoleh dan
menatap Brenda dengan lekat.
“Tante…”sapanya berat.
“Untuk apalagi kamu kemari? Apa kamu sudah membawa uang
itu?” tanya Maryati datar dan dingin.
Brenda menghampiri Maryati dengan perlahan.
“Jangan mendekat. Saya tidak ingin dekat-dekatdengan orang yang telah merebut kebahagiaan anak saya!”
“Tante… Maafkan saya… Saya ingin bertemu dengan Ryan…”
Maryati terdiam, lalu berdiri sambil menatap wajah Brenda
dengan tajam. Ada gejolak amarah di matanya, ada tekanan bathin yang
menyiksanya.
“Kamu belum puas menyakiti hati Ryan? Dia benar-benar terpukul,
Nda?! Ryan sangat mencintaimu. Semua lukisan yang ada di kamarnya hanya
wajahmu. Ryan tulus mencintaimu, tapi kamu telah menyakiti hatinya. Kamu sudah
membuat Ryan terluka,”
Brenda tertunduk.
“Saya akan menunjukan kepadamu betapa besar cinta Ryan
kepadamu.” Maryati beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Ryan. Brenda
mengikuti langkah Maryati dari belakang dengan perasaan bersalah. Brenda tidak
menemukan sosok Ryan. Ia hanya menemukan sebuah ruang yang penuh dengan lukisan
dirinya. Ia memperhatikan lukisan-lukisan itu dengan lekat. Sebentuk cinta yang
suci terlukis di sana. Brenda menghapus matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
“Ya Allah… jika memang ia jodohku, pertemukan aku
dengannya. Kalau memang dia adalah pilihan hatiku, izinkan aku meraih
kebahagiaan dalam hidupku. Namun jika memang dia bukan untukku, jangan biarkan
hatiku tersakiti untuk yang kesekian kali,” Brenda bergumam dalam hati. Ia
duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari kasur milik Ryan. Ia melihat bola
kristal di atas meja terletak begitu saja. Kini yang ada hanya kesunyian di
hatinya. Suara canda tawa Ryan tak lagi di dengarnya.
“Dimana Ryan, Tante?” tanyanya ragu.
“Ryan dirawat di rumah sakit. Ryan banyak mengeluarkan
darah karena membenturkan kepalanya ke dinding…”
“Oohh…” parau suara Brenda mendengar penuturan Maryati. “Dia baik-baik saja kan, Tante?”
“Untuk apa kamu pertanyakan itu?Bukankah ini tujuanmu?”
Brenda menahan tangisnya hingga ia terisak.
“Saya mencintai Ryan, Tante…”ucap
Brenda mengakui isi hatinya.
“Bohong!” Maryati menyangkalnya. “Itu semua nggak mungkin, Brenda?! Kamu gadis cantik, smart dan
porpesional, mencintai cowok autis seperti Ryan? Itu mustahil. Saya tidak
menemukan ketulusan hatimu mencintai Ryan. Ini
pasti taktikmu saja agar
tidak mengembalikan uang saya, iya kan?!”sergah Maryati kemudian.
“Tante…”
“Cukup...! Saya tidak mau menerima kebohonganmu! Dunia Ryan
sudah hitam dan akan semakin hitam karenamu, Nda!”
Brenda melesapi kata-kata itu dengan pahit.
“Saya sadar dan saya akui, saya gadis egois yang sudah
mematahkan semangat Ryan. Tapi setelah sekian lama saya bersama
Ryan, saya merasa nyaman berada di dekatnya. Saya
menemukan pelabuhan itu di hati Ryan. Berbeda dengan cowok-cowok lain
yang pernah singgah di hati saya. Ryanbegitu
perhatian kepada saya,”
“Lantas mengapa kamu menolak cinta Ryan?Mengapa kamu menghujat Ryan?! Ryan begitu terpukul melihat kepergianmu,
Nda!”
“Maafkan saya, Tante... Maafkan saya...” suara Brenda
semakin serak. Ia menghapus hidungnya yang sedikit berair karena
tangis.Ia terisak sedih.
Maryati terpaku dengan pandangan semu. Matanya berair dan
jatuh di pipinya.
“Ryan adalah mutiara hati saya. Hanya dia yang saya
miliki, Nda. Kebahagiaan Ryan juga kebahagian saya. Saya tidak ingin Ryan terus
menderita. Selama bertahun-tahun ia memendam derita ini, Nda... Tidak ada
seorang perempuan mana pun yang menerima cintanya,”
“Tante... Hati saya tulus mencintai Ryan...”
Maryati mendongak tak percaya mendengar penuturan Brenda.
Brenda mengangguk dengan mantap.
“Benarkah?”
Brenda kembali mengangguk
dengan isak yang tertahan. Maryati tersenyum bahagia dan segera memeluk Brenda. Tak sadar airmatanya mengalir,
terharu karena akhirnya Ryan menemukan gadis yang mencintainya dengan tulus.
‘Ya Allah... jika memang dia jodohku, pertemukan aku
dengannya...’ doa Brenda dalam hati.
“Saya ingin bertemu Ryan, Tante..”
Maryati melepaskan pelukannya, lalu menghapus airmatanya.
“Ya...”
Brenda melangkahkan kakinya menuju halaman depan. Setelah
menstarter mobilnya, ia melaju ke rumah sakit.
__ADS_1