RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 32


__ADS_3

Ela mengantarkan undangan pernikahan ke rumah Brenda sekalian ia ingin


menemui Brenda. Setelah menyapa Mama dan Papa Brenda ia menuju kamar Brenda di lantai dua. Ela


membuka perlahan kamar Brenda yang


tidak terkunci.


“Heiii…, Nona Manis? Sedang apa?”sapa Ela riang.


Brenda yang duduk disofa


kamar langsung mendongak menatap Ela.


“Heii... Duuhh.... yang mau


kawin...” Brenda beranjak dari duduknya. “Sedang apa kamu kemari?”


Ela duduk di kasur empuk  dengan bad cover bunga-bunga.


“Aku ngantar undangan,


sekalian mau cerita-cerita sama kamu. Aku mendengar berita miring,”


Brenda memanyunkan bibirnya. “Oh ya? Dari siapa?”


“Apa benar?”


Brenda mengangguk.


“Ya, begitulah... Aku memang


gadis bodoh yang menerima cinta laki-laki brengsek,”


“Sudahlah, Nda... Maafkan aku


sudah memaksamu menerima Dedy. Aku benar-benar nggak tahu kalau Dedy sudah


beristri,”


Brenda tertunduk dengan wajah


murung. Ela menangkap kegelisahan Brenda dari wajahnya.


“Apa yang kamu pikirkan, Nda?”


tanya Ela penasaran.


Hening sejenak.


“Aku ingat senyumannya, La.


Senyuman itu membuatku merasa nyaman di dekatnya,” parau suara Brenda berujar.


Ela mengerutkan kening tidak tahu atas ucapan Brenda.


“Maksud kamu?”


Brenda menahan perasaannya


sambil memandang langit-langit kamar. Hatinya memang tidak bisa dibohongi.


“Aku merindukan Ryan...”


Brenda menunduk. Ia tak perduli jika Ela menghujatnya sebagai gadis idiot yang mencintai cowok autis


seperti Ryan. Ela sempat tercengangmendengar penuturan Brenda.


“Nda... apakah kata-kata itu


sungguh dari dalam hatimu?”


Brenda menahan isakannya, lalu


ia menunduk.


“Kalau kamu ingin menghujatku dengan kata-kata bodoh, aku terima, La. Ini


masalah hati,”


“Kalau kamu benar-benar


mencintai Ryan, mengapa tidak kamu ungkapkan? Mengapa kamu harus membohongi


dirimu, Nda?”


“Aku malu, La... Aku malu...


Aku merasa duniaku sudah terbalik seratus delapan puluh derajat. Dan aku harus


menerima kenyataan itu,”


Ela menghela berat sambil


memperhatikan sahabatnya.


“Cinta itu tidak memandang


usia, fisik hanya nomor dua. Lebih baik kamu segera menemui Ryan, Nda. Jangan


biarkan Ryan semakin menderita dengan bayang-bayangmu...”


Brenda menatap Ela


dengan tajam. Ada ketulusan seorang sahabat di mata Ela. Brenda segera memeluk Ela dengan erat sambil


sesenggukan.


“Aku mencintainya, La….

__ADS_1


Sangat mencintainya….”


Ela menepuk-nepuk bahu Brenda lalu berkata. “Aku akan mendukungmu, Nda... Percayalah….”


“Makasih, La...” Brenda


menangis terseduh.


Lama mereka berpelukan sambil bercerita panjang lebar. Tentang


persahabatan, cinta dan masa depan. Semoga saja masa depan mereka berdua


bahagia.


Brenda masih terpaku di


kamarnya. Ia mengenang lagi pertemuannya dengan Ryan. Perkenalan yang unik dan


keluguan seorang Ryan di matanya. Brenda terkenang saat mereka berlibur ke


Berastagi, puncaknya kota Medan. Ryan terlihat lebih dewasa dan sangat


romantis. Hati Ryan masih begitu polos dan tulus.


Brenda terkenang lagi saat


mereka liburan ke Danau Toba. Sikap Ryan tidak ia temukan pada cowok-cowok yang


pernah menggodanya. Cowok itu mencintainya hanya karena nafsu bukan cinta


sejati yang diharapkan Brenda.


Brenda tersenyum tipis ketika


mengingat semua kenangan tentang Ryan. Entah mengapa ia sangat identik dengan


cowok itu. Hatinya terasa tenang jika berada di samping Ryan. Namun apakah


Brenda mencintai Ryan?


“Ya Allah... apakah aku


mencintai laki-laki itu?” gumamnya dalam hati.


Hati Brenda semakin gunda


gulana. Begitu banyak laki-laki sempurna yang mengejar-ngejar cintanya, namun


mengapa hatinya terpaut pada Ryan?


Brenda bingung seindiri dengan


perasaanya. Wajah Ryan selalu saja terbayang-bayang di matanya.


“Ya Allah, bantu aku menemukan


jodohku. Kau sembunyikan dimana belahan jiwaku?”



Brenda ke


rumah. Ia bertemu Maryati di sebuah taman kecil tengah merenung. Wajahnya


terlihat sayu dan matanya sembab.


Suara telapak sepatu Brenda membuat Maryati menoleh dan


menatap Brenda dengan lekat.


“Tante…”sapanya berat.


“Untuk apalagi kamu kemari? Apa kamu sudah membawa uang


itu?” tanya Maryati datar dan dingin.


Brenda menghampiri Maryati dengan perlahan.


“Jangan mendekat. Saya tidak ingin dekat-dekatdengan orang yang telah merebut kebahagiaan anak saya!”


“Tante… Maafkan saya… Saya ingin bertemu dengan Ryan…”


Maryati terdiam, lalu berdiri sambil menatap wajah Brenda


dengan tajam. Ada gejolak amarah di matanya, ada tekanan bathin yang


menyiksanya.


“Kamu belum puas menyakiti hati Ryan? Dia benar-benar terpukul,


Nda?! Ryan sangat mencintaimu. Semua lukisan yang ada di kamarnya hanya


wajahmu. Ryan tulus mencintaimu, tapi kamu telah menyakiti hatinya. Kamu sudah


membuat Ryan terluka,”


Brenda tertunduk.


“Saya akan menunjukan kepadamu betapa besar cinta Ryan


kepadamu.” Maryati beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Ryan. Brenda


mengikuti langkah Maryati dari belakang dengan perasaan bersalah. Brenda tidak


menemukan sosok Ryan. Ia hanya menemukan sebuah ruang yang penuh dengan lukisan


dirinya. Ia memperhatikan lukisan-lukisan itu dengan lekat. Sebentuk cinta yang


suci terlukis di sana. Brenda menghapus matanya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ya Allah… jika memang ia jodohku, pertemukan aku


dengannya. Kalau memang dia adalah pilihan hatiku, izinkan aku meraih


kebahagiaan dalam hidupku. Namun jika memang dia bukan untukku, jangan biarkan


hatiku tersakiti untuk yang kesekian kali,” Brenda bergumam dalam hati. Ia


duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari kasur milik Ryan. Ia melihat bola


kristal di atas meja terletak begitu saja. Kini yang ada hanya kesunyian di


hatinya. Suara canda tawa Ryan tak lagi di dengarnya.


“Dimana Ryan, Tante?” tanyanya ragu.


“Ryan dirawat di rumah sakit. Ryan banyak mengeluarkan


darah karena membenturkan kepalanya ke dinding…”


“Oohh…” parau suara Brenda mendengar penuturan Maryati. “Dia baik-baik saja kan, Tante?”


“Untuk apa kamu pertanyakan itu?Bukankah ini tujuanmu?”


Brenda menahan tangisnya hingga ia terisak.


“Saya mencintai Ryan, Tante…”ucap


Brenda mengakui isi hatinya.


“Bohong!” Maryati menyangkalnya. “Itu semua nggak mungkin, Brenda?! Kamu gadis cantik, smart dan


porpesional, mencintai cowok autis seperti Ryan? Itu mustahil. Saya tidak


menemukan ketulusan hatimu mencintai Ryan. Ini


pasti taktikmu saja agar


tidak mengembalikan uang saya, iya kan?!”sergah Maryati kemudian.


“Tante…”


“Cukup...! Saya tidak mau menerima kebohonganmu! Dunia Ryan


sudah hitam dan akan semakin hitam karenamu, Nda!”


Brenda melesapi kata-kata itu dengan pahit.


“Saya sadar dan saya akui, saya gadis egois yang sudah


mematahkan semangat Ryan. Tapi setelah sekian lama saya bersama


Ryan, saya merasa nyaman berada di dekatnya. Saya


menemukan pelabuhan itu di hati Ryan. Berbeda dengan cowok-cowok lain


yang pernah singgah di hati saya. Ryanbegitu


perhatian kepada saya,”


“Lantas mengapa kamu menolak cinta Ryan?Mengapa kamu menghujat Ryan?! Ryan begitu terpukul melihat kepergianmu,


Nda!”


“Maafkan saya, Tante... Maafkan saya...” suara Brenda


semakin serak. Ia  menghapus hidungnya yang sedikit berair karena


tangis.Ia terisak sedih.


Maryati terpaku dengan pandangan semu. Matanya berair dan


jatuh di pipinya.


“Ryan adalah mutiara hati saya. Hanya dia yang saya


miliki, Nda. Kebahagiaan Ryan juga kebahagian saya. Saya tidak ingin Ryan terus


menderita. Selama bertahun-tahun ia memendam derita ini, Nda... Tidak ada


seorang perempuan mana pun yang menerima cintanya,”


“Tante... Hati saya tulus mencintai Ryan...”


Maryati mendongak tak percaya mendengar penuturan Brenda.


Brenda mengangguk dengan mantap.


“Benarkah?”


Brenda kembali mengangguk


dengan isak yang tertahan. Maryati tersenyum  bahagia dan segera memeluk Brenda. Tak sadar airmatanya mengalir,


terharu karena akhirnya Ryan menemukan gadis yang mencintainya dengan tulus.


‘Ya Allah... jika memang dia jodohku, pertemukan aku


dengannya...’ doa Brenda dalam hati.


“Saya ingin bertemu Ryan, Tante..”


Maryati melepaskan pelukannya, lalu menghapus airmatanya.


“Ya...”


Brenda melangkahkan kakinya menuju halaman depan. Setelah


menstarter mobilnya, ia melaju ke rumah sakit.

__ADS_1



__ADS_2