RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 11


__ADS_3

Brenda membuka sepatunya dan meletakkannya begitu saja.


Reuni yang sangat membosankan. Terlebih saat Ela membohonginya dengan berpura-pura


hadir ke acara itu.


Nyatanya mereka senang-senang sendiri.


“Huh, dasar Ela! Aku akan balas kelakuanmu...” Brenda


mengumpat kesal.


Ia membaringkan tubuhnya. Mengingat wajah Yuda yang


bermain-main sekejab saja. Kenapa Yuda belum punya pasangan? Padahal dia cowok


tampan dan dulu dikejar-kejar banyak cewek di sekolahnya.


Brenda bangkit dari rebahannya. Mengambil ponsel di


atas meja.


“Kamu dimana, La?” tanyanya ke Ela.


“Aku lagi di Solaria ma Renold. Biasalah, kencan with love,”


“Huh, Ela. Kamu membohongiku. Kamu bilang di rumah


sakit?”


“Iya… tadi dari rumah sakit langsung ke Solaria,”


“Kamu bilang


mama Renold di ruang ICU? Kok kalian seneng-seneng makan di Solaria?”


“Itu taktik aja,


Nda. Udah ah… Gimana reuninya? Menyenangkan?”


“Menyenangkan sekaligus membosankan!”


“Kamu dapat gebetan baru?”


“Gebetan jidatmu itu! Tapi aku ketemu Yuda. Dia tampan


sekali,”


“Oh, ya...? so


sweet... Trus gimana?”


“Yuda bawa pacarbohongan,”


“Pacarbohongan? Jadi selama ini dia belum


menikah? Padahal dulu dia playboy,”


“Tau tuh...”


“Yah udah kamu jadian aja sama dia,”


“Ogah ah. Napa sih kamu selalu saja menjodohkan aku begitu? Dedy lah,


David, sekarang Yuda…?”


“Bukannya dulu kamu mengaguminya?”


“Yah... itu kan dulu,”


“Lantas,”


“Aku nggak mau terkesan cewek murahan,”


“Zaman sekarang udah kebalik, Nda. Gak zaman cowok duluan


yang nembak. Kalau kamu cinta ama dia bilang aja. Gak ada salahnya,”


“Kepala otakmu itu. Kamu pikir aku sepertimu? Huh... Iya kalau dia juga cinta


aku, kalau enggak? Aku bisa mengurung diriku di kamar berminggu-minggu!” Brenda berungut kesal.


“Mencoba itu kan nggak salah, Nda. Kamu jangan mikirin Franky mulu.


Dia itu cowok brengsek!”


“Aku harus


bagaimana, La? Mengobral cintaku sama cowok-cowok yang aku jumpai?”


“Bukan begitu

__ADS_1


maksudku, Nda… Jodoh kalau nggak dicari nggak bakal ketemu,”


“Ugh… aku bosan


dengan masalah cari jodoh,”


“Nah itu dia…


gimana kalau aku ajak kamu ke biro jodoh. Kebetulan aku punya kenalan disana,”


“Ughhh… Ela. Aku


terkesan cewek nggak laku ya?”


“Cari-cari


itukan nggak salah, Nda. Siapa tahu cocok di hatimu dan kalian saling


mencintai, why not…?”


“Nanti aku


pikirin lagi,”


Klik. Brenda mematikan ponselnya. Kesal. Ia melipat


tangannya, lalu berbaring di atas tempat tidur.Lagi-lagi wajah Yuda


bermain-main di matanya. Ah… apakah dia benar-benar telah jatuh cinta dengan


Yuda? Atau hanya perasaannya saja?


“Dia memang


tampan… hmmm…” Brenda bergumam dalam hati. Melayangkan lamunannya pada


langit-langit kamar.


Dulu waktu


semasa kuliah, Brenda sangat tergila-gila dengan Yuda. Brenda selalu mencuri


pandang ke arah cowok itu. Namun sejak Brenda melihat Yuda banyak yang


mengagumi dan digandrungi cewek-cewek lain, hati Brenda pun kecut dan tak


berharap banyak. Kini Yuda hadir lagi dalam kehidupannya. Apakah benar cinta


lama bersemi kembali?


kelip bintang. Bulan separuh terlihat mengintip dari balik awan. Bias cahayanya


memantul terang. Seraut wajah tampan membuatnya mabuk kepayang. Pertemuan


mereka tadi menumbuhkan kembali benih-benih cinta di hati Brenda.



Brenda menggeliat saat bangun tidur. Tidur yang


nyenyak setelah seharian beraktifitas. Matahari pagi menyusup lembut. Brenda


bangkit dari tempat tidurnya. Matanya menyipit saat matahari pagi menyilaukan


pandangannya. Tak lama Brenda berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan


tubuhnya dengan air hangat. Wangi sabun lavender menyeruak di kamarnya. Hari


ini dia ingin memberi pelajaran baru ke Ryan. Setelah mengenakan pakaian,


Brenda keluar dari rumahnya.


Dering nada panggilan dari


handphone membuat Brenda penasaran. Ia meraih hpnya di atas dashboard. Dari Yuda.


“Ya halo...” sahut Brenda dengan perasaan tak menentu.


Bahagia, deg-degan dan salah tingkah.


“Halo, Nda... Gimana kabarmu?”


“Aku baik-baik aja, Yud... Tumben nelpon aku, ada apa?”


“Nggak ada apa-apa. Kamu sibuk?”


“Hmmm... Memangnya kenapa?”


“Nanti malam aku ada acara di hotel


Marriot. Kamu mau menemaniku?”

__ADS_1


Brenda terdiam sejenak. Yuda ingin mengajaknya jalan?


Menemani ke acaranya? Ini kesempatan untuk Brenda.


“Hmm... Boleh. Jam berapa?”tanya Brenda lembut.


“Aku jemput jam tujuh ya,”


“Ok...”


“Sampai ketemu.”


Klik…


Brenda menutup ponselnya sambil tersenyum girang. Benar-benar


pucuk dicinta ulam tiba. Perasaan cintanya yang dulu bertepuk sebelah tangan


kini sudah menampakkan jati dirinya. Berjuta rasanya, hingga ia tak bernafsu


untuk menyantap makan siangnya. Di matanya bermain-main wajah Yuda yang sangat


tampan. Pujaan kaum hawa sepertinya.



Brenda duduk di beranda sambil menikmati kicauan burung. Maryati masih di


kamarnya. Diam-diam ia melirik jendela kamar Ryan di lantai dua. Ia melihat


sosok bayangan di sana. Ryan mengintainya. Brenda tersenyum tipis ketika Ryan


memalingkan wajahnya.


“Kamu sudah datang, Nda?” tegur Maryati dari dalam rumah, lalu berlajan


melewati koridor.


“Selamat pagi, Tante…” sapa Brenda lembut.


“Pagi, Nda… Maaf, tadi saya masih merapikan diri. Nggak enak kalau


terkesan nggak rapi,”


“Ah tante… biasa aja kok,”


Maryati tersenyum tipis.


“Apa rencanamu hari ini?”


“Hmm…” Brenda berpikir sejenak.


“Bagaimana kalau kita keluar?” usul Maryati.


“Maksud, Tante?”


“Kita jalan-jalan. Yah, sebagai relaksasi untuk Ryan. Kita bisa keliling


kota Medan atau ke taman hiburan? Atau kita ke Brastagi…?”


“Boleh juga, Tante. Usul yang bagus. Siapa tahu Ryan senang jalan-jalan,


sambil menimati pemandangan…”


Maryati tersenyum. “Sebentar ya, tante panggil Ryan dulu,”


Brenda mengangguk pelan. Maryati menghampiri kamar Ryan dan membujuk Ryan


untuk menikmati dunia luar. Ryan sedikit berontak ketika Maryati mengajaknya,


namun Maryati terus membujuk Ryan.


“Ayolah, Yan… kita bersenang-senang di luar. Atau kita nonton? Atau kita


ke puncak…?”


Ryan menatap Maryati dengan lekat.


“Ma…”


“Ayolah, sayang… Ryan ganti baju ya… Kita ke Brastagi.”


Ryan menunduk, kemudian berlalu


dari Maryati. Maryati kembali menemui Brenda di bawah. Mungkin relaksasi jalan


satu-satunya mencerahkan pikiran yang butek. Selama ini Maryati memang jarang


mengajak Ryan keluar. Itu karena Ryan selalu menolak diajak jalan-jalan.


__ADS_1


 


 


__ADS_2