RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 5


__ADS_3

P


onsel Brenda berdering


sangat keras,


ketika ia menguap lebar. Pagi ini ia dikejutkan dengan deringan


handpone yang menyentak-nyentak alam mimpinya. Ringtone lagu Krisdayanti yang mengalun merdu membuat ia


tak ingin mengangkat nada panggilan itu hingga lagu berakhir. Semalam dia lupa


memijit tombol off, sehingga


ponselnya menyala terus. Dengan rasa malas diraihnya ponsel di atas meja.


‘Huh…


dasar pengganggu,’omelnya dalam hati.


“Ya, halo?” sapa


Brenda dengan suara serak.


“Nda, cepat


bangun. Ini ada berita baik!” jawab si penelepon. Suaranya sember. Siapa lagi


kalaubukan Ela, sahabat dekatnya.


Sedetik kemudian


Brenda terlompat bangun dari tempat tidurnya. Refleks. Habis kaget juga Ela


meneleponnya pagi-pagi begini. Suaranya menggelegarkan gendang telinga. Sialan


tuh anak!


“Sabar, Non. Ada apa?” balas Brenda


dengan posisi tegak di sisi tempat tidur.


“Aku sudah dapat


murid-murid buatmu. Nah, kamu mesti berterima kasih padaku. Hehehe…” Ela tertawa


cekikikan dari seberang.


“Jangan


kuatirlah. Kan kamu


dapat komisi juga. Beres. Ada berapa?” Semangat Brenda langsung membuncah. Melebihi kecepatan cahaya. Bullshit!


“Sepuluh,” jawab


Ela ringan. Tanpa beban. Sebentar lagi bakalan koceknya penuh dengan rupiah.


Lumayanlah buat biaya traveling ke Singapore yang


sudah diidam-idamkannya.


“Hah??? Gila banget kamu. Segitu


banyak? Kok bisa?” kaget juga Brenda mendengar berita Ela. Tumben anak itu


dapat menjaring sebanyak sepuluh murid.


“Lha, kan mesti banyak-banyak.


Biar pendapatanmu juga memuaskan, Nda. Lagipula aku kasihan ngelihat kamu. Pokoknya,


kamu akan jadi guru private yang dipuja-puja, kalau semua anak-anak mereka


berhasil di sekolah,”


“Semoga saja, La!”


Brenda mengamini kata-kata Ela. Bakal panen besar mereka!


“Ntar setengah


jam lagi kamu


mesti siap-siap. Aku antar mereka ke tempatmu, oke?” nada suara Ela terdengar


enggak sabaran.


“Sekarang? Tapi


aku harus ke rumah Ryan, La…”


“Kamu tunda


dulu waktumu. Ini demi kemajuan biro jasamu,”


“Ok. Aku akan


memakai waktuku sedikit untuk murid-murid itu besok. Thanks, La,”


Ela memutuskan


pembicaraan.


Brenda dengan


semangat empat lima terlonjak dari tempat tidurnya. Mengayunkan langkah ke kamar mandi. Mengguyur


basah tubuhnya dengan air segar. Melumuri tubuhnya dengan sabun favoritnya.


Byurrr…byurr…byurr… rasa kantuknya hilang seketika.



Ting Tong! Ting


Tong! Ting Tong!


Brenda buru-buru


memakai baju dan bleser. Rok pendek senada dan make up yang lembut. Dia benar-benar


cantik.


‘Wah, tuh anak


kecepatan sih!’ omelnya dalam hati. Bel berbunyi beberapa kali lagi. Brendamengayunkan langkah


lebar-lebar ke bingkai pintu dan tangannya menggerakkan handle pintu dengan cepat. Sebentuk raut wajah yang sudah amat


dihafalnya melabuhkan sebuah senyum patennya. Untung dia bukan cowok, kalau


tidak…


“Wuihh…, lama banget.


Aku hampir kesemutan,” Ela memberengut kesal.


“Sory, La. Habis


kamu sih mengganggu acara tidurku tadi,”


“Aku nggak


dipersilakan masuk?” alis Ela terangkat sedikit.


“Silakan masuk,


Tuan Putri!” Brenda membungkuk seraya memberi


hormat, melebarkan tangan kanannya. Ela masuk diikuti oleh sepuluh ibu-ibu


dengan anaknya.  Sejenak Brendaternganga.


“Wah, dari mana


kamu dapat anak-anak ini? Gila kamu, La,” Brenda berbisik pelan di telinga Ela. Ela hanya senyam-senyum.


Mengangkat bahunya dengan ringan. Brenda juga


mempersilakan sepuluh ibu dan anaknya masuk ke ruang tamu.


“Silakan duduk,


Bu. Mau minum apa?” sapa Brendaramah.


“Nggak usah


repot-repot. Cukup air putih saja, Mbak,” kata salah satu dari mereka dengan


nada sopan. Yang lainnya mengangguk, menyetujui ucapan sang ibu berstelan rapi.


“La, tolong


ambilkan minumnya!” pesan Brenda.


“Beres!” Ela

__ADS_1


segera berlalu ke dapur.  Tak lama


kemudian muncul lagi dengan sepuluh gelas air minum.


“Begini, Nak


Brenda. Anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Dia selalu


tertinggal dari teman-temannya. Saya ingin nak Brenda mengajari anak saya semua


mata pelajaran,”


Brenda


manggut-manggut sambil memperhatikan seorang anak di samping ibunya. Semua


dengan alasan hampir sama. Ada juga yang tidak sempat memberi pelajaran di rumah untuk anaknya. Brenda


menerima tawaran itu dengan senang hati.


“Terima kasih


atas kepercayaan yang sudah diberikan, Ibu-ibu. Saya akan berusaha memberikan


yang terbaik dan saya akan memberikan pelajaran-pelajaran yang mudah dicerna,”


kata Brendabijak. Setelah semua data


disimpan, Brenda siap-siap ke rumah Ryan. Sepuluh murid yang dibawa ibu-ibu


tadi diberi jadwal sore hari.



Ryan duduk


terpaku di balkon kamarnya. Matanya sendu memandang alun-alun kota Medan.


Tangannya terus memainkan bola kristal berulang-ulang. Entah apa yang ada dalam


benaknya. Pandangannya kosong seperti kemarin-kemarin.


“Ryan mau cinta...” gumamnya terbata.


Ia yakin suatu saat akan menemukan cinta itu di hatinya.


Ryan beranjak ke


galerinya. Ia mengambil saksofon dari atas lemari pakaian. Masih apik dengan peti kecil berwarna hitam. Ryan memperhatikan


benda itu dengan lekat, lalu mengelusnya lembut. Menikmati sentuhan


halus setiap bentuknya. Ia mengangkat benda itu dengan hati-hati lalu meniupnya dengan penuh


penghayatan. Nada-nada yang indah keluar begitu merdunya. Sungguh luar biasa.


Maryati sampai terpaku mendengarnya. Matanya sampai berkaca-kaca memperhatikan


Ryan yang begitu menghayati memainkan saksofon.Maryati tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya dan duduk manis di beranda


samping.


Brenda baru tiba


ketika Maryati asyik mendengarkan putranya bermain saksofon. Ia memberi isyarat


agar Brenda tidak membuat suara sekecil apapun dan ikut mendengarkan nada-nada yang


pernah diciptakan Ryan.


“Menakjubkan!”


bisiknya.


Maryati hanya


tersenyum haru. Sungguh ini di luar dugaannya. Ia sangat berterima kasih pada


Yang Maha Kuasa, karena memberi kelebihan lain pada anaknya. Maryati merapatkan


tangannya sambil tersenyum. Matanya terus berbinar.Nada-nada itu terus mengalum lembut hingga melambungkan angan dan kenangan


Maryati.


Pelan Brenda


duduk di sebelah Maryati. Ia juga terenyuh melihat Ryan memainkan saksofon


begitu sempurna hingga tidak ada nada-nada sumbang yang keluar. Pagi itu serasa mereka berada pada sebuah konser tunggal yang tiada duanya.


Ryan mengakhiri permainannya dengan nada penutup yang lembut. Hal itu membuat


“Baru kali ini


saya mendengarkan nada-nada indah itu, Nda…” gumamnya pelan.


“Saya juga,


Tante. Selama ini saya tidak tahu kalau Ryan mempunyai bakat di bidang seni dan memainkan saksofon


dengan begitu bagusnya,”


Maryati beranjak


dari duduknya. Ia berjalan di koridor menuju Taman. Brenda mengikuti


langkah Maryati.


“Sejak ia


mengenal seorang gadis beberapa tahun lalu. Ryan selalu termenung dan cenderung


pendiam. Ia kehilangan seorang sahabat yang menurutnya mampu membuat


kehidupannya kembali ceria. Gadis itu meninggal dunia karena penyakit lupus


menyerangnya,”


“Oh… kasihan


sekali,”


“Sejak itu Ryan


tidak lagi ceria dan tidak lagi memainkan nada-nada indah itu. Ryan selalu


mengamuk karena tidak menemukan nada-nada yang pernah ia ciptakan sendiri,”


Detak suara tapak sepatu terdengar beriringan. Maryati


melangkahkan kakinya dengan  pelan, sambil bercerita tentang


kehidupan Ryan dan tentang gadis itu. Betapa Ryan sangat mencintai gadis itu,


hingga ia harus kehilangan dan membuat pikirannya menjadi kacau.Gadis itu segala-galanya bagi Ryan. Gadis sederhana yang memiliki hati


sederhana. Gadis itu bisu, namun mempu memahami kata hati Ryan. Itu yang


membuat Ryan berat melepaskan kepergiannya. Gadis itu mencintai Ryan apa


adanya, namun takdir memisahkan mereka.


Maryati dan Brenda duduk


di kursi taman yang begitu asri. Ditumbuhi bunga-bunga Krokot, Mawar dan Aglonema. Brenda meletakkan tasnya di atas meja.


Ia memperhatikan Maryati yang masih terkagum-kagum dengan putranya. Itu sesuatu


yang sangat luar biasa baginya.


“Saya tidak tahu


kalau Ryan sedang jatuh cinta, Nda…”


“Jatuh cinta?


Dengan siapa?”tanya Brenda penasaran.


Maryati


menggeleng pelan.


“Entahlah… saya


tidak tahu siapa yang Ryan cintai. Naif rasanya kalau menyebut anak sendiri


gila. Ryan mencintai gadis dalam lukisannya. Yah


mungkin saja itu gadis masa lalunya.”


Brenda terpaku


dengan alis berkerut. Aneh memang. Tapi apakah Ryan akan bertemu dengan gadis khayalannya? Kehidupan Ryan memang sebuah


teka-teki yang tidak dapat dipahami. Dimana orang lain sibuk dengan kehidupan


yang penuh sandiwara, justru Ryan hidup dengan perannya sendiri.

__ADS_1


Ryan keluar dari


kamarnya sambil memainkan bola kristal. Ia berjalan di koridor samping yang


menghubungkan taman bunga mereka. Sambil berjalan, ia menatap Brenda dengan


lekat, lalu tertunduk. Brenda


memperhatikannya dengan seulas senyum. Hari


ini Ryan kelihatan tampan.


Tidak terlihat kalau dia cowok autis.


“Hai…


apa kabar, Yan…” sapa Brenda lembut.


Ryan tidak


menyahut. Dia diam saja seperti biasanya dan berlalu ke gajebo.Brenda


mengerutkan keningnya.


“Ryan selalu begitu, Nda... Mungkin ini sebentuk


perkenalan kalian,”


Brenda kembali tersenyum.


“Saya akan segera memahami karakter Ryan, Tante. Butuh


kesabaran untuk meluluhan hatinya,”


“Yah, bahkan saya sendiri tidak tahu apa keinginan Ryan.


Oh, ya, saya hampir lupa, Nda. Saya buatkan minuman ya, teh atau kopi?”


“Teh aja, Tante...”


 Maryati berlalu masuk ke dalam membuatkan minuman.


Ia tidak mau mengganggu perkenalan Ryan dan Brenda.


Brenda mendekati Ryan di gajebo. Ryan masih asyik dengan


bola kristal di tangannya.


“Yan... boleh aku duduk?” sapa Brenda.


Ryan menundukkan kepalanya dengan ekspresi datar. Brenda


duduk walau tidak dipersilakan.


“Kamu siapa?”  tanya Ryan datar.


“Aku Brenda… Aku ingin menjadi teman kamu,


Yan. Kamu jangan takut ya…”


Ryan terdiam sambil terus memainkan bola kristalnya.


“Ee..e… tidak…


kamu pergi… kamu pergi… Ryan tidak mau…”


“Yan… aku akan


menjadi sahabatmu…”


Ryan tidak


menyahut. Ia seperti orang kebingungan, ketakutan melihat orang lain. Ryan


kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Brenda terlihat bingung melihat


tingkah Ryan yang dianggap aneh.


Maryati keluar


dari dalam rumahnya sambil membawa tempayan. Teko kecil berisi


air teh dengan kepulan asap terlihat nikmat. Ia sempat melihat Ryan yang menaiki


anak tangga. Ia berusaha tersenyum di depan Brenda.


“Maaf ya, Nda….


Ryan memang begitu…”


Maryati


meletakkan minuman hangat di atas meja.


“Nggak apa-apa,


Tante… Mungkin ini awal dari perkenalan kami,”


Maryati duduk di


sebelah Brenda. Ia menghela nafas sejenak.


“Begitulah


kehidupan Ryan setiap hari, Nda. Ryan selalu bermain-main sendiri. Dia nggak mau ketemu dengan orang lain. Apalagi orang yang nggak


dikenalnya,”


“Mungkin Ryan


butuh relaksasi, Tante. Atau ia butuh seseorang yang mampu mengendalikan emosinya,”


“Ya… saya belum menemukan


orang itu, Nda. Saya tidak tahu harus mencari kemana agar bisa mengarahkan Ryan,”


“Saya akan


membantu semampu saya, Tante…”


Maryati tersenyum tipis.


“Terima kasih ya, Nda…”


Brenda kembali membuat senyuman manisnya.


“Kita ngeteh dulu yuk... Saya sudah buatkan kamu teh


Upet,”


“Teh upet?”


“Iya, temen saya yang mengirim teh itu. Nikmat loh,


Nda...”


Brenda duduk dan Maryati menuangkan air teh ke mug


Brenda. Aromanya bikin selera. Paduan melati dan daun teh.


“Hmm... nikmat sekali, Tante... Benar-benar segar...”


Maryati tersenyum tipis.


“Saya selalu menikmati teh ini ketika hati saya sedang


galau. Aromanya mampu membuat saya rileks, Nda...”


Brenda meneguk kembali minumannya. Kemudian mereka ngobrol


lagi seputar pekerjaan Brenda dan masalah Ryan. Tak terasa hari sudah menjelang


sore ketika semua pembicaraan tidak menemukan ujungnya. Brenda melirik arloji


di pergelangan tangannya.


“Kalau begitu


saya permisi dulu, Tante. Besok saya akan berusaha lagi mendekati Ryan,”


Maryati


mengangguk sambil tersenyum. Brenda beranjak dari tempat duduknya dan pamit ke


Maryati. Sungguh pekerjaan yang sulit. Ia harus berpikir keras bagaimana


cara mendekati anak autis seperti Ryan.


Brenda menuju mobilnya.


“Puiihh...” Brenda menghela berat di atas motornya. Pikirannya


selalu tertuju pada Ryan. Ini benar-benar sebuah cobaan berat baginya. Kalau


dia tidak mampu mengendalikan Ryan, maka tawaran Maryati yang jumlahnya begitu


banyak tidak akan ia miliki.

__ADS_1



__ADS_2