
Pikiran Brenda terus terpaut ke
Yuda. Ia benar-benar tidak tahu apa maksud Yuda dan apa rencana laki-laki itu
selanjutnya. Hatinya terus berkecamuk seperti bom waktu yang mau meledak. Dia
juga nggak mau Yuda memiliki sifat seperti cowok-cowok lain yang hanya mempermainkan
kaum hawa seperti dirinya.
Drrrtttt.... Drrrtttt...
HP Brenda bergetar. Brenda melihat
reminder di layar ponselnya. Baim. Jantung Brenda tak menentu. Mau apalagi
cowok itu? Brenda langsung memencet tombol No di ponselnya, namun
dering itu berkali-kali memadati ruang di mobilnya.Tak sabar juga, akhirnya
Brenda menekan tombol Ok dan langsung mernghardik Baim.
“Kamu mau apalagi sih?!” sergah Brenda
tanpa berkata halo.
“Kamu pasti tau apa mauku, Nda!”
“Maaf, aku nggak ada urusan denganmu!”
Klik.
Brenda mematikan ponselnya. Kesal juga ia melihat Baim yang selalu
menterornya. Brenda menginjak pedal gas di jalan Dr. Mansyur. Pikirannya
semakin kacau karena Baim. Dering ponselnya terus aja menyentak-nyentak gendang
telinga. Brenda nggak peduli.
Brenda selalu berharap Yuda menelponnya
hari ini dan
Yuda mampu melindunginya dari Baim. Namun yang dinanti-nanti tak juga
menghubungi.Kesal, emosi dan kecewa dirasakan Brenda dalam perjalanan ke rumah Ryan. Brenda
menghentikan mobilnya, lalu tersenyum ketika melihat Ryan menunggunya di depan
toko.
“Kamu sudah datang,” kata Ryan.
“Sudah… Tumben kamu menyambut kedatanganku?”
“Ryan senang lihat Brenda,”
Brenda tersenyum, lalu melangkahkan kakinya.
“Hari ini kita mau kemana?” tanya Ryan.
“Hmm… Ryan maunya kemana?”
“Ryan mau ajak Brenda ke danau,”
“Danau?” Brenda mengerutkan keningnya.
“Brenda nggak suka danau?”
“Suka… Tapi….”
Maryati muncul dari dalam sambil tersenyum.
“Ryan ingin ke Danau Toba, Nda…”
“Danau Toba, Tante? Itukan butuh waktu yang lama? Kita harus menginap,”
“Iya… bagaimana menurutmu?”
Brenda berfikir sejenak lalu berkata.
“Saya tidak ada persiapan, Tante,”
“Bagaimana kalau kita belanja dulu?”
“Hmm… saya…”
“Sudahlah, Nda. Saya yang menanggung semuanya,”
“Tapi, Tante…”
“Sudah… Ini permintaan Ryan. Anggap saja ini sebagai rekreasi kamu.”
Brenda tersenyum canggung.
“Kamu mau kan, Nda?” tanya Ryan kemudian. Brenda mengangguk keki.
“Ya sudah kalau begitu kita ke dalam dulu yuk…”
Maryati mengajak Brenda ke ruang tamu dan duduk dengan anteng. Pikiran
Brenda masih tidak menentu.
“Ryan mau berenang di Danau. Kamu mau kan?”
“Aku nggak bisa berenang, Yan… Takut tenggelam…”
“Nanti Ryan ajari ya…”
“Ryan bisa renang?”
“Bisa,”
Brenda tersenyum tipis. Ah… wajah itu. Kenapa setiap kali ia menatap
wajah Ryan ada ketenangan bathin dalam dirinya padahal cintanya bukan untuk
Ryan.
Setelah mempersiapkan perbekalan, Maryati masuk ke dalam mobil bersama
Brenda, Ryan dan sang sopir. Mobil meluncur perlahan meninggalkan perumahan
mewah menuju jalan hitam perkotaan.
Brenda dan Maryati duduk di bangku tengah sambil ngobrol tentang Ryan.
Sedangkan Ryan duduk di depan sambil memainkan bola kristal dengan pandangan ke
depan.
Brenda mengambil ponselnya saat Maryati diam dan menyandarkan tubuhnya di
kursi mobil. Brenda mengirim pesan ke Ela.
Brenda : Maryati mengajakku ke Danau Toba, La
Ela : Wah… liburan dong… Nikmati aja, Nda…
Brenda : Ugh… aku nggak ada persiapan. Padahal
aku menunggu kabar dari
Yuda. Kemana
sih cowok itu? Aku pikir
setelah
mengirim bunga ia akan
mengajakku
candle
light dinner…
__ADS_1
Ela : Ya, mungkin aja Yuda memang sibuk.
Menurutku nggak ada salahnya kamu
refresing..
Brenda : Yah… aku akan menikmatinya… sampai
nanti
Brenda mengakhiri pesan singkatnya. Ia menikmati pemandangan dari balik
kaca mobil yang silih berganti. Gedung-gedung kota Medan berubah menjadi
pedesaan, lalu pepohonan yang berkelebatan. Butuh lima jam untuk sampai ke
Danau Toba.
Angin dingin mulai menyusup lembut di tubuh Brenda. Hawa Danau Toba mulai
terasa. Tak sabar rasanya ingin melihat danau yang indah itu.
Sore mereka tiba di tepian Danau Toba. Brenda mengedarkan pandangan pada
air danau yang biru keputihan. Bukit-bukit hijau dan jejeran
pohon pinus yang membuat suasana menjadi sejuk. Angin dingin menyusup lembut.
Brenda menatap jauh ujung Danau Toba yang terlihat tak terbatas. Ia
membayangkan bagaimana dulunya terjadi Danau yang sangat fenomenal itu.
“Danau Tobaadalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera
Utara, Indonesia. Danau ini
merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat
sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.
Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu
dan merupakan letusan supervolcano (gunung
berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan
Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik
yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit
dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2
minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan.
Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas
permukaan laut.
Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa
spesies juga diikuti kepunahan. Menurut
beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia
sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60
juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih
memperdebatkannya.
Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan
menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.[1]”
Maryati mencari hotel yang enak buat memandang indahnya Danau Toba. Ada beberapa hotel di pinggiran Danau Toba yang lumayan bagus viewnya. Ada
tempat pemandian dan ada beberapa sampan kecil.
Di sebuah hotel yang tepat berada di pinggiran danau, mereka turun sambil
perjalanan panjang. Butuh empat jam lebih dari Medan ke Danau Toba. Brenda membuka jendela kamar yang pemandangannya langsung mengarah ke Danau
Toba. Sangat indah dengan warna kebiruan. Brenda keluar kamar dan menuruni
tangga di taman belakang. Ia menghampiri tepian Danau Toba.
Ombak di tepian danau menghempas bebatuan. Riak putih bekejaran dengan
suara deru yang berdesir. Brenda memasukkan setengah kakinya ke air danau. Ia duduk di bebatuan
sambil memperhatikan Ryan yang berenang di tepian Danau Toba. Ryan memang
pandai berenang. Ia terlihat begitu bahagia sambil sesekali menyelam dan muncul
lagi.
Angin dingin menyusup lembut, menyapu kulit Brenda. Ia mendekap tubuhnya
yang putih mulus, lalu memperhatikan Ryan kembali. Ia termenung. Andai saja
yang berenang itu Yuda, mungkin hatinya tidak segundahini.
“Ayo, Nda…. Berenang…” tegur Maryati.
Brenda menoleh seraya tersenyum.
“Nggak, Tante… Saya nggak bisa berenang… Saya takut tenggelam,”
Maryati tersenyum, lalu duduk di dekat Brenda. Ia memperhatikan putranya
yang sangat senang berenang.
“Kamu ada masalah?” tanya Maryati ketika menangkap kegundahan Brenda.
Brenda menggeleng kaku. “Eee…Enggak kok, Tante,”
“Saya belum pernah melihat Ryan
sebahagia ini, Nda...”
“Oh, ya? Memangnya selama ini bagaimana,
Tante?”
“Ryan selalu mengurung diri di kamar.
Paling di galerinya sambil melukis atau memainkan saksofondengan
nada sumbang,”
Brenda manggut-manggut.
“Ryan seperti menemukan kembali dunianya.
Terima kasih ya, Nda...”
“Sudahlah, Tante... Itu memang sudah
menjadi tanggung jawab saya. Saya juga ingin Ryan menjadi cowok sempurna
seperti cowok lainnya...”
Maryati tertunduk sejenak. “Itu nggak
mungkin, Nda... Untuk sembuh seratus persen itu mustahil... Ryan akan tetap
begitu. Saya harap kamu mampu memberikan yang terbaik untuk Ryan,”
“Saya akan berusaha, Tante...”
Maryati tersenyum, lalu pandangannya
beralih ke Danau Toba yang sangat indah. Airnya kebiruan dengan pemandangan
perbukitan yang hijau. Anak-anak di tepian Danau berebut koin.
__ADS_1
Brenda dan Maryati beranjak dari
bebatuan menuju tenda kecil yang sudah tersedia minuman dan cemilan. Mereka
duduk secara bersamaan. Brenda mengambil handuknya dan mengenakan di tubuhnya.
Angin dingin terasa menyusup lembut.
Tak berapa lama Ryan naik dari danau dan
menghampiri Maryati. Perempuan itu menyerahkan handuk ke Ryan.
“Bagaimana? Ryan suka berenang?”
“Iya... menyenangkan...”
Brenda tersenyum. Ia melihat tingkah
Ryan yang terkadang seperti anak-anak. Ia membayangkan bagaimana ia bisa
berpacaran dengan laki-laki itu. Ryan benar-benar bahagia dekat dengan
Brenda.
Angin dingin menerpa tubuh Brenda hingga ia mendekap tangannya lebih
erat. Matanya menatap air danau toba yang kebiruan dengan bias putih di
ujungnya. Hari sudah mulai senja dan hawa dingin semakin menusuk bagaikan
pedang samurai. Pohon-pohon pinus terlihat hijau di pinggiran perbukitan.
Brenda terkejut ketika seseorang meletakkan jaket penghangat di tubuhnya.
“Brenda kedinginan?” tanya Ryan membuyarkan lamunannya. Brenda terehenyuh untuk kesekian kalinya. Ini sudah dua
kali Ryan memberikan jaket penghangatnya ke Brenda. Cowok itu lebih gentleman ketimbang
cowok yang pernah ia jumpai. Ia tidak menemukan itu pada Franky, mantan
kekasihnya yang egois dan mementingkan diri sendiri. Tidak juga pada Dewa,
cowok playboy yang memutuskan cintanya. Apalagi Yuda yang nggak jelas statusnya.
‘Ugh… para cowok sialan!’ umpatnya dalam hati.
“Ryan…” sapanya lembut.
“Brenda suka Danau Toba?”
Brenda mengangguk. “Ya… Pemandangannya indah,”
“Kita tinggal disini aja, Nda…”
Brenda mengerutkan keningnya. “Maksud Ryan?”
“Ryan juga suka tinggal di sini. Ryan bisa berenang tiap hari,”
Brenda tersenyum tipis. “Itu nggak mungkin, Yan. Kalau mau berenang di
Medan juga banyak kolam renang,”
“Tapi nggak enak, Nda…”
“Sudahlah, Yan… kita liburan aja di sini. Besok kita sudah pulang,”
Ryan diam sambil memainkan bola kristalnya dan menatap speedboat yang melaju kencang di Danau
Toba. Mata Brenda kembali memperhatikan panorama indah tepian danau. Warna
hijau dan kebiruan yang menjadi latar belakang indahnya Danau Toba dengan pulau
kecil di tengahnya bernama Samosir. Besok mereka mengunjungi tempat itu sambil
berburu souvenir.
Samosir pulau kecil di tengan Danau Toba memiliki sejarah panjang. Peninggalan
raja-raja Batak banyak terletak di sana. Pemakaman keluarga raja,
sigale-gale dan masih banyak lagi.
Brenda beranjak dari kursinya. Hawa dingin semakin menusuk di tubuhnya.
Ia masuk ke kamar mengambil teh hangat yang selalu tersedia di kamar hotel. Ia
meneguknya sesekali. Hmm… terasa hangat di tubuhnya. Ia kembali menemui Ryan di
balkon belakang.
“Bagus ya pemandangannya…”
Ryan menoleh ke Brenda, lalu pandangannya kembali lagi ke Danau Toba.
Brenda diam melihat Ryan yang asyik memainkan bola kristal sambil menatap
hamparan Danau Toba.
Langit senja sudah berlalu, merubah hari menjadi gelap. Maryati melihat
kedekatan Ryan bersama Brenda. Kemudian ia menegur keduanya.
“Wah… kalian lagi menikmati apa? Serius sekali?”
Brenda menoleh sambil tersenyum
“Pemandangannya indah, Tante…. Bagus banget…”
“Iya, tante juga suka melihat pemandangan Danau Toba. Selain suasananya
adem, landscapenya juga bagus,”
“Heem…” Brenda mengangguk.
“Kita makan malam yuk,” ajak Maryati. “Menu hari ini sangat lezat loh.
Semua khas batak. Ada ikan pora-pora garing ditambah sambal batak yang pedas.
Nanihura, ikan mas yang dilelehi bumbu pedas dan masih banyak lagi,”
“Wah… jadi laper nih, Tante…”
“Ryan bagaimana? Lapar?”
Ryan tetap dengan ekspresinya kemarin, namun ada sedikit bentuk garis di
bibirnya.
Acara makan malam begitu nikmat. Mereka melahap semua hidangan yang
disediakan. Setelah selesai makan malam, mereka kembali menikmati pemandangan
danau.
Lama-lama Brenda merasa tenang di dekat Ryan. Cowok itu mampu meleburkan
hati Brenda, namun Brenda tetap dengan kata hatinya. Ia tetap mencintai Yuda.
Ryan hanya sebatas sandiwara yang dimainkan bersama Maryati.
Brenda pamit lebih dulu masuk ke kamarnya. Ia ngantuk berat setelah
kenyang menyantap hidangan yang tiada duanya. Benar-benar nikmat dan lezat
__ADS_1
[1]
Beberapa sumber