
Ruangan itu terlihat bersih dengan gorden putih dan wangi
pembersih lantai beraroma lavender. Brenda membuka
pintu dengan perlahan, mengintai sejenak untuk mengatur detak jantungnya yang
mulai tak menentu. Ryan duduk di sisi tempat tidur sambil memandang
halaman depan. Laki-laki itu tidak memainkan bola kristal seperti biasanya. Tubuhnya bergoyang-goyang ke
depan dan belakang. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Yan...” sapa Brenda berat.
Ryan menghentikan goyangan tubuhnya, lalu menoleh ke
Brenda dengan gerakan lambat. Ia menatap Brenda dengan tajam. Matanya memerah, lalu ia menarik rambut kepalanya berulang-ulang.
“Brenda jahat...! Ryan benci Brendaaa...! Benciii...!!!”
Ryan berteriak sambil terus menarik rambutnya, kemudian menggigit lengannya.
Brenda panik dan membujuk Ryan untuk tidak melakukan hal
itu.
“Maafkan aku, Yan... Aku memang salah... Maafkan aku…”
“Pergiii...!!! Pergiii...!!! Ryan benci Brendaa...!” Ryan
menepis tangan Brenda yang ingin menenangkannya.
“Yan… tenang….
Jangan lakukan itu…”
“Pergi…!!!
Pergi…!!! Ryan nggak mau lihat Brenda!!!” Ryan terus menjerit-jerit hingga
perawat di rumah sakit berlari tergopoh-gopoh masuk ke kamar Ryan. Maryati juga
berusaha menenangkan Ryan, namun Ryan tetap mengamuk.
“Sebaiknya kamu
pergi dulu, Nda… Ryan lagi nggak stabil…”
“Baik, Tante…”
Brenda buru-buru
keluar ruang perawatan dan berdiri cemas di ruang tunggu. Ia masih mendengar
suara Ryan yang berteriak, namun beberapa menit kemudian ruangan itu hening.
Maryati sudah membujuk Ryan untuk tenang dan melupakan semua masalah yang sudah
terjadi.
Pintu ruangan
terbuka dengan dibarengi langkah Maryati keluar sambil menangis.
“Ada apa,
Tante..?” tanyanya dengan hati cemas.
Maryati menghapus
airmatanya, kemudian duduk di kursi panjang di depan ruang tunggu. Lama ia
menunduk, lalu menatap Brenda dengan wajah sendu.
“Saya sedih
dengan keadaan Ryan. Lebih baik kamu tinggalkan Ryan, Nda…”
“Tante…”
“Sudahlah…
Semuanya sudah berakhir. Saya akan membawa Ryan ke Singapura untuk
pengobatannya. Ada teman saya yang membuka terapi untuk anak autis.,
“Singapura..?” desisnya
nyaris berbisik.
Mata Brenda
berkaca-kaca mendengar penuturan Maryati. Ini benar-benar tidak ingin berpisah
dengan Ryan. Brenda benar-benar mencintai Ryan. Dia tidak sanggup harus
berpisah dengan laki-laki yang membuat hatinya damai.
Brenda duduk di
kursi sambil menggigit bibirnya, lalu menggenggam jemari tangannya. Hatinya
bagai disayat sembilu yang tajam.
“Tante… apakah
Ryan harus pergi?” tanyanya dengan suara parau.
“Ya… Saya tidak
mau Ryan semakin terluka, Nda. Saya tidak mau Ryan semakin tidak terkendali,”
“Tante… Izinkan
saya yang merawat Ryan… Saya mohon…” Suara Brenda semakin parau.
“Sudahlah, Nda…
Itu semua tidak mungkin. Kamu masih muda, cantik, smart dan kamu punya masa
depan yang cerah. Jangan sia-siakan waktumu,”
“Tante…”
Maryati beranjak
dari duduknya dan kembali masuk ke ruangan Ryan. Brenda sesenggukan duduk di
kursi sambil menatap ruangan Ryan. Berat
ia mengangkat tubuhnya untuk melangkah pergi. Entah mengapa ia merasa sangat
kehilangan.
Brenda beranjak dengan berat. Langkahnya pelan,
pandangannya nanar karena airmata. Ia juga tidak tau dengan perasaan hatinya.
Mengapa ia kini sangat merindukan sosok Ryan. Terlebih ketika ia patah hati
untuk kesekian kali dari cowok-cowok brengsek yang mempermainkan perasaanya.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Maryati
membawa Ryan pulang ke rumah. Ia sangat sedih melihat keadaan Ryan yang selalu
melamun di balkon kamarnya. Dari pagi hingga senja hari Ryan diam terpaku
sambil menatap alun-alun kota Medan.
Tuhan… Berikan aku
cinta, untuk kupersembahkan padanya….
Aku
ingin ia menjadi pendampingku
dan menjadi permaisuriku
Dia anugerah terindah yang
Kau ciptakan untukku
Ryan berbisik dalam hati. Ia selalu berdoa agar Brenda
menerima cintanya. Cintanya kepada Brenda begitu dalam hingga ia tak mampu
melupakan gadis itu. Kenangan-kenangan saat bersama dengan Brenda bermain-main
di matanya. Seperti penggalan-penggalan film yang memflashback kejadian masa
lalunya. Pertemuan pertama dengan Brenda, perkenalan dan saat mereka menikmati
hari-hari indah bersama.
“Yan...” sapa Maryati lembut. “Sudah malam, sebaiknya
__ADS_1
kamu istirahat, Nak...”
Ryan menoleh pelan ke arah mamanya. Tatapan tajamnya
seolah ingin menguliti perasaan Maryati. Tatapan itu seakan memberontak hatinya
mengapa dunia begitu kejam padanya.
“Kita akan meninggalkan kenangan manis di kota ini, Yan.
Mama akan membawamu ke Singapura. Kita akan memulai kehidupan yang baru di
sana.”
Ryan bergeming. Tatapannya kembali ke alun-alun kota
Medan. Tak sedikitpun ia memberi ekspresi ke mamanya. Maryati beranjak
meninggalkan Ryan. Ia akan segera mengemasi barang-barangnya.
Ryan terpaku di dalam mobil bersama Maryati. Ia masih
memainkan bola kristalnya. Berat memang harus meninggalkan Indonesia. Ryan
menoleh ke mamanya, namun tak memberikan ekspresi apa-apa atas kepergian
mereka.
Ryan menoleh ke samping jendela mobil. Ia memperhatikan
bangunan-bangunan yang berkelebatan. Matanya menerawang, kemudian menunduk
sambil memainkan bola kristalnya.
Maryati hanya menatap Ryan sambil tersenyum pahit, lalu
matanya menerawang jauh ke alun-alun perjalanan kota.
“Maafkan mama, Yan...” gumamnya berbisik, sedih.
Brenda duduk di
lantai sambil bersandar di sisi tempat tidur. Matanya sembab karena tangis.
Dunianya seperti hilang begitu saja. Satu-satunya tempat curahan hati Brenda
adalah Ela. Ia menghubungi Ela lewat ponsel.
“Ryan akan pergi
ke Singapura, La…” Brenda terisak berat.
“Ke Singapura? Lantas?”
Brenda diam sejenak, lalu berkata berat.
“Aku nggak bisa membohongi diriku. Hatiku selalu terpau
ke Ryan,”
“Kamu mencintainya? Hei.. girl... ada apa denganmu?”
“Aku nggak tau, La. Aku merasa nyaman dekat dengan Ryan.”
Ela menarik nafas dalam-dalam.
“Okey... Kalau kamu benar-benar
mencintainya, kamu harus cegah kepergian Ryan. Jangan biarkan hatimu raib
begitu saja. Sakit, Nda…”
“Aku harus
bagaimana, La?”
“Temui Maryati
dan bermohon padanya. Temui Ryan dan katakan padanya kalau kamu sangat
mencintainya,”
“Ryan tidak mau
menerima maafku, La. Dia seperti trauma bertemu denganku… Aku bingung dan aku
sedih, La…”
dirimu. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Temui Maryati sesegera mungkin
jika kamu tidak ingin kehilangan Ryan…”
Mata Brenda
menerawang jauh sambil mendengarkan nasehat Ela. Ia memang harus menemui Ryan
sebelum semuanya terlambat. Brenda menghapus airmatanya dan mematikan
ponselnya. Brenda bergegas bangkit dari duduknya dan meraih kunci mobil di atas
meja.
Mobil Brenda
melaju kencang di jalan hitam. Pikirannya terus berkecamuk tak menentu.
Sesekali ia menggigit bibirnya sambil berdoa agar Maryati membatalkan
keberangkatannya.
Sore Brenda tiba
di rumah Maryati. Toko bunga Maryati tutup. Hanya ada beberapa karyawannya yang
membersihkan ruangan kerja Maryati. Brenda bertanya kepada salah satu karyawan
itu.
“Ibu ada?”
tanyanya berat.
“Ibu sudah pergi,
Mbak…”
“Sudah pergi…?”
Brenda menelan
ludahnya yang terasa pahit. Hatinya terasa teriris-iris pedih. Ia terlambat
mencegah Maryati dan bertemu Ryan. Dengan perasaan hancur Brenda melangkahkan
kakinya menuju kamar Ryan. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan dan
mengedarkan pandang. Memperhatikan semua lukisan-lukisan Ryan untuk kesekian
kali. Ia melihat meja Ryan kosong. Tidak ada bola kristal yang selalu dimainkan
Ryan.
Ya Allah… atas restumu
kuingin memilikinya…
Aku ingin dia menjadi
yang terakhir bagiku...
Ya Allah… atas restumu
aku sangat mencintainya…
Aku ingin hidup
bersamanya…
Mata Brenda
kembali merebak, kemudian ia bergegas keluar dari kamar Ryan menuju Bandara
Polonia Medan. Ia berharap Maryati dan Ryan belum berangkat menuju Singapura.
Tapi sayang, Maryati dan Ryan sudah tidak ada di Bandara. Brenda sudah
menyusuri Bandara, bahkan minta izin kepada petugas Bandara untuk masuk ke
ruang tunggu menemui Maryati. Mereka sudah tidak ada.
Brenda lunglai
dengan perasaan semakin tercabik-cabik. Ia kembali mengendarai mobilnya dengan
perasaan hampa. Sepanjang perjalanan ia menangis dan
__ADS_1
mengenang saat-saat manis bersama Ryan.Kenangan-kenangan itu terus saja
bermain-main di matanya. Ia tak sanggup melupakan sosok Ryan. Akhirnya cinta
mengalahkan segalanya.
Brenda
membelokan setir ke kanan dan menuju jalan rumahnya, namun ia melihat sebuah
mobil mewah terparkir di sana. Ia kenal betul mobil itu dan segera memarkirkan
mobilnya.
“Ryan..?”
pekiknya tertahan dengan mata merebak. Ia melihat sosok Ryan di teras rumahnya
sambil memainkan bola kristal.
“Ryaaaaannnn….”
Teriaknya sambil berlari menghampiri laki-laki itu.Gejolak di hatinya terus berkecamuk. Ia sudah tak peduli dengan sosok tidak
sempurna Ryan. Brenda hanya butuh cinta sejati dan itu hanya ada pada sosok
Ryan.
Ryan mendongak
menatap Brenda yang mendekatinya.
“Brenda…”
gumamnya pelan.
Brenda langsung
saja berhambur di dada Ryan dan memeluknya erat.
“Maafkan aku,
Yan… Aku sudah menyakitimu…” ujar Brenda tulus.
“Brenda cinta
Ryan..?”
Brenda mengangguk
dan tersenyum bahagia. Ryan membalas rengkuhan Brenda dengan canggung dan salah
tingkah.
“Boleh Ryan cium
Brenda..?”
Brenda tersenyum
malu dan keki. Ia mengangguk dan Ryan mencium keningnya dengan penuh kasih.
Beberapa detik kemudian, Ryan merenggangkan rengkuhannya dan memberi Brenda
sekuntum mawar merah.
“Ini untuk
Brenda…”
Mata Brenda
berbinar. Baru sekali ini ia menjumpai cowok seperti Ryan. Romantisdengan kehangatan kasih sayang yang tulus.
“Makasih, Yan….”
ucapnya sambil mencium bunga itu. “Kamu nggak akan pergi kan…?”
Ryan tertunduk.
“Yan… kamu
jangan pergi. Aku sangat membutuhkanmu…” Brenda memohon.
Ryan menoleh ke arah Maryati. Maryati mengangguk pelan
seraya menghapus airmatanya.
“Ya… Ryan nggak
akan pergi, Nda…”
“Sungguh...?”
“Kamu sungguh-sungguh mencintai Ryan?” suara berat membuat Brenda
terkesiap. Itu suara Maryati yang berdiri bersama Baskoro di sebelah mobil.Brenda mengangguk.
“Saya nggak ingin Ryan pergi, Tante... Ini sungguh dari
dalam hati saya,”
Maryati tersenyum bahagia.
Maryati membatalkan keberangkatannya dan membiarkan cinta Brenda yang
bercerita. Dengan cinta yang tulus mungkin Brenda bisa menerima Ryan apa
adanya.
“Tante kini
sadar kalau kamu benar-benar mencintai Ryan… Kita
akan memulai kehidupan yang baru, Nda...”
“Iya, Tante... Saya akan selalu ada untuk Ryan,”
Maryati merengkuh Brenda dengan linangan airmata.
Akhirnya
kebahagiaan Brenda tidak terlukiskan. Meskipun hidup bersama cowok autis
seperti Ryan, namun ia bahagia menemukan sosok laki-laki yang tulus
mencintainya. Brenda kembali memeluk Ryan dengan penuh cinta. Ryan salah
tingkah ketika Brenda mengecup bibirnya.
“I love you, Yan...”
“Ryan cinta Brenda.”
Langit kota Singapura terlihat cerah dengan taburan
awan-awan putih yang tidak beraturan. Di sebuah hotel yang terletak di jalan
Victoria St, terlihat Brenda tersenyum bahagia. Ini acara bulan madu mereka
yang sudah dinantikan gadis itu beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja ponsel
Brenda berdering, nada sms.
“Bagaimana malam pertamamu?”
“Kamu nggak akan percaya.”
“Dia setangguh kuda liar?”
“Aku mengalami hal yang sangat lucu dan menyenangkan.
Ternyata Ryan sangat romantis.”
“Ya, kamu beruntung mendapatkannya. Apa rencanamu
selanjutnya?”
“Hmmm... Aku akan menikmati bulan madu kami di Melbourn,
La. Kamu pasti cemburu kan?”
“Ugh... kamu nggak setia kawan.”
“Kenapa kamu nggak mengajak Reynold bulan madu?”
“Aku akan segera menyusulmu.”
“☺”
TAMAT
__ADS_1