RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 33


__ADS_3

 Ruangan itu terlihat bersih dengan gorden putih dan wangi


pembersih lantai beraroma lavender. Brenda membuka


pintu dengan perlahan, mengintai sejenak untuk mengatur detak jantungnya yang


mulai tak menentu. Ryan duduk di sisi tempat tidur sambil memandang


halaman depan. Laki-laki itu tidak memainkan bola kristal seperti biasanya. Tubuhnya bergoyang-goyang ke


depan dan belakang. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.


“Yan...” sapa Brenda berat.


Ryan menghentikan goyangan tubuhnya, lalu menoleh ke


Brenda dengan gerakan lambat. Ia menatap Brenda dengan tajam. Matanya memerah, lalu ia menarik rambut kepalanya berulang-ulang.


“Brenda jahat...! Ryan benci Brendaaa...! Benciii...!!!”


Ryan berteriak sambil terus menarik rambutnya, kemudian menggigit lengannya.


Brenda panik dan membujuk Ryan untuk tidak melakukan hal


itu.


“Maafkan aku, Yan... Aku memang salah... Maafkan aku…”


“Pergiii...!!! Pergiii...!!! Ryan benci Brendaa...!” Ryan


menepis tangan Brenda yang ingin menenangkannya.


“Yan… tenang….


Jangan lakukan itu…”


“Pergi…!!!


Pergi…!!! Ryan nggak mau lihat Brenda!!!” Ryan terus menjerit-jerit hingga


perawat di rumah sakit berlari tergopoh-gopoh masuk ke kamar Ryan. Maryati juga


berusaha menenangkan Ryan, namun Ryan tetap mengamuk.


“Sebaiknya kamu


pergi dulu, Nda… Ryan lagi nggak stabil…”


“Baik, Tante…”


Brenda buru-buru


keluar ruang perawatan dan berdiri cemas di ruang tunggu. Ia masih mendengar


suara Ryan yang berteriak, namun beberapa menit kemudian ruangan itu hening.


Maryati sudah membujuk Ryan untuk tenang dan melupakan semua masalah yang sudah


terjadi.


Pintu ruangan


terbuka dengan dibarengi langkah Maryati keluar sambil menangis.


“Ada apa,


Tante..?” tanyanya dengan hati cemas.


Maryati menghapus


airmatanya, kemudian duduk di kursi panjang di depan ruang tunggu. Lama ia


menunduk, lalu menatap Brenda dengan wajah sendu.


“Saya sedih


dengan keadaan Ryan. Lebih baik kamu tinggalkan Ryan, Nda…”


“Tante…”


“Sudahlah…


Semuanya sudah berakhir. Saya akan membawa Ryan ke Singapura untuk


pengobatannya. Ada teman saya yang membuka terapi untuk anak autis.,


“Singapura..?” desisnya


nyaris berbisik.


Mata Brenda


berkaca-kaca mendengar penuturan Maryati. Ini benar-benar tidak ingin berpisah


dengan Ryan. Brenda benar-benar mencintai Ryan. Dia tidak sanggup harus


berpisah dengan laki-laki yang membuat hatinya damai.


Brenda duduk di


kursi sambil menggigit bibirnya, lalu menggenggam jemari tangannya. Hatinya


bagai disayat sembilu yang tajam.


“Tante… apakah


Ryan harus pergi?” tanyanya dengan suara parau.


“Ya… Saya tidak


mau Ryan semakin terluka, Nda. Saya tidak mau Ryan semakin tidak terkendali,”


“Tante… Izinkan


saya yang merawat Ryan… Saya mohon…” Suara Brenda semakin parau.


“Sudahlah, Nda…


Itu semua tidak mungkin. Kamu masih muda, cantik, smart dan kamu punya masa


depan yang cerah. Jangan sia-siakan waktumu,”


“Tante…”


Maryati beranjak


dari duduknya dan kembali masuk ke ruangan Ryan. Brenda sesenggukan duduk di


kursi sambil menatap ruangan Ryan.  Berat


ia mengangkat tubuhnya untuk melangkah pergi. Entah mengapa ia merasa sangat


kehilangan.


Brenda beranjak dengan berat. Langkahnya pelan,


pandangannya nanar karena airmata. Ia juga tidak tau dengan perasaan hatinya.


Mengapa ia kini sangat merindukan sosok Ryan. Terlebih ketika ia patah hati


untuk kesekian kali dari cowok-cowok brengsek yang mempermainkan perasaanya.



Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Maryati


membawa Ryan pulang ke rumah. Ia sangat sedih melihat keadaan Ryan yang selalu


melamun di balkon kamarnya. Dari pagi hingga senja hari Ryan diam terpaku


sambil menatap alun-alun kota Medan.


Tuhan… Berikan aku


cinta, untuk kupersembahkan padanya….


Aku


ingin ia menjadi pendampingku


dan menjadi permaisuriku


Dia anugerah terindah yang


Kau ciptakan untukku


Ryan berbisik dalam hati. Ia selalu berdoa agar Brenda


menerima cintanya. Cintanya kepada Brenda begitu dalam hingga ia tak mampu


melupakan gadis itu. Kenangan-kenangan saat bersama dengan Brenda bermain-main


di matanya. Seperti penggalan-penggalan film yang memflashback kejadian masa


lalunya. Pertemuan pertama dengan Brenda, perkenalan dan saat mereka menikmati


hari-hari indah bersama.


“Yan...” sapa Maryati lembut. “Sudah malam, sebaiknya

__ADS_1


kamu istirahat, Nak...”


Ryan menoleh pelan ke arah mamanya. Tatapan tajamnya


seolah ingin menguliti perasaan Maryati. Tatapan itu seakan memberontak hatinya


mengapa dunia begitu kejam padanya.


“Kita akan meninggalkan kenangan manis di kota ini, Yan.


Mama akan membawamu ke Singapura. Kita akan memulai kehidupan yang baru di


sana.”


Ryan bergeming. Tatapannya kembali ke alun-alun kota


Medan. Tak sedikitpun ia memberi ekspresi ke mamanya. Maryati beranjak


meninggalkan Ryan. Ia akan segera mengemasi barang-barangnya.



Ryan terpaku di dalam mobil bersama Maryati. Ia masih


memainkan bola kristalnya. Berat memang harus meninggalkan Indonesia. Ryan


menoleh ke mamanya, namun tak memberikan ekspresi apa-apa atas kepergian


mereka.


Ryan menoleh ke samping jendela mobil. Ia memperhatikan


bangunan-bangunan yang berkelebatan. Matanya menerawang, kemudian menunduk


sambil memainkan bola kristalnya.


Maryati hanya menatap Ryan sambil tersenyum pahit, lalu


matanya menerawang jauh ke alun-alun perjalanan kota.


“Maafkan mama, Yan...” gumamnya berbisik, sedih.



Brenda duduk di


lantai sambil bersandar di sisi tempat tidur. Matanya sembab karena tangis.


Dunianya seperti hilang begitu saja. Satu-satunya tempat curahan hati Brenda


adalah Ela. Ia menghubungi Ela lewat ponsel.


“Ryan akan pergi


ke Singapura, La…” Brenda terisak berat.


“Ke Singapura? Lantas?”


Brenda diam sejenak, lalu berkata berat.


“Aku nggak bisa membohongi diriku. Hatiku selalu terpau


ke Ryan,”


“Kamu mencintainya? Hei.. girl... ada apa denganmu?”


“Aku nggak tau, La. Aku merasa nyaman dekat dengan Ryan.”


Ela menarik nafas dalam-dalam.


“Okey...  Kalau kamu benar-benar


mencintainya, kamu harus cegah kepergian Ryan. Jangan biarkan hatimu raib


begitu saja. Sakit, Nda…”


“Aku harus


bagaimana, La?”


“Temui Maryati


dan bermohon padanya. Temui Ryan dan katakan padanya kalau kamu sangat


mencintainya,”


“Ryan tidak mau


menerima maafku, La. Dia seperti trauma bertemu denganku… Aku bingung dan aku


sedih, La…”


dirimu. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Temui Maryati sesegera mungkin


jika kamu tidak ingin kehilangan Ryan…”


Mata Brenda


menerawang jauh sambil mendengarkan nasehat Ela. Ia memang harus menemui Ryan


sebelum semuanya terlambat. Brenda menghapus airmatanya dan mematikan


ponselnya. Brenda bergegas bangkit dari duduknya dan meraih kunci mobil di atas


meja.


Mobil Brenda


melaju kencang di jalan hitam. Pikirannya terus berkecamuk tak menentu.


Sesekali ia menggigit bibirnya sambil berdoa agar Maryati membatalkan


keberangkatannya.


Sore Brenda tiba


di rumah Maryati. Toko bunga Maryati tutup. Hanya ada beberapa karyawannya yang


membersihkan ruangan kerja Maryati. Brenda bertanya kepada salah satu karyawan


itu.


“Ibu ada?”


tanyanya berat.


“Ibu sudah pergi,


Mbak…”


“Sudah pergi…?”


Brenda menelan


ludahnya yang terasa pahit. Hatinya terasa teriris-iris pedih. Ia terlambat


mencegah Maryati dan bertemu Ryan. Dengan perasaan hancur Brenda melangkahkan


kakinya menuju kamar Ryan. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan dan


mengedarkan pandang. Memperhatikan semua lukisan-lukisan Ryan untuk kesekian


kali. Ia melihat meja Ryan kosong. Tidak ada bola kristal yang selalu dimainkan


Ryan.


Ya Allah… atas restumu


kuingin memilikinya…


Aku ingin dia menjadi


yang terakhir bagiku...


Ya Allah… atas restumu


aku sangat mencintainya…


Aku ingin hidup


bersamanya…


Mata Brenda


kembali merebak, kemudian ia bergegas keluar dari kamar Ryan menuju Bandara


Polonia Medan. Ia berharap Maryati dan Ryan belum berangkat menuju Singapura.


Tapi sayang, Maryati dan Ryan sudah tidak ada di Bandara. Brenda sudah


menyusuri Bandara, bahkan minta izin kepada petugas Bandara untuk masuk ke


ruang tunggu menemui Maryati. Mereka sudah tidak ada.


Brenda lunglai


dengan perasaan semakin tercabik-cabik. Ia kembali mengendarai mobilnya dengan


perasaan hampa. Sepanjang perjalanan ia menangis dan

__ADS_1


mengenang saat-saat manis bersama Ryan.Kenangan-kenangan itu terus saja


bermain-main di matanya. Ia tak sanggup melupakan sosok Ryan. Akhirnya cinta


mengalahkan segalanya.



 


Brenda


membelokan setir ke kanan dan menuju jalan rumahnya, namun ia melihat sebuah


mobil mewah terparkir di sana. Ia kenal betul mobil itu dan segera memarkirkan


mobilnya.


“Ryan..?”


pekiknya tertahan dengan mata merebak. Ia melihat sosok Ryan di teras rumahnya


sambil memainkan bola kristal.


“Ryaaaaannnn….”


Teriaknya sambil berlari menghampiri laki-laki itu.Gejolak di hatinya terus berkecamuk. Ia sudah tak peduli dengan sosok tidak


sempurna Ryan. Brenda hanya butuh cinta sejati dan itu hanya ada pada sosok


Ryan.


Ryan mendongak


menatap Brenda yang mendekatinya.


“Brenda…”


gumamnya pelan.


Brenda langsung


saja berhambur di dada Ryan dan memeluknya erat.


“Maafkan aku,


Yan… Aku sudah menyakitimu…” ujar Brenda tulus.


“Brenda cinta


Ryan..?”


Brenda mengangguk


dan tersenyum bahagia. Ryan membalas rengkuhan Brenda dengan canggung dan salah


tingkah.


“Boleh Ryan cium


Brenda..?”


Brenda tersenyum


malu dan keki. Ia mengangguk dan Ryan mencium keningnya dengan penuh kasih.


Beberapa detik kemudian, Ryan merenggangkan rengkuhannya dan memberi Brenda


sekuntum mawar merah.


“Ini untuk


Brenda…”


Mata Brenda


berbinar. Baru sekali ini ia menjumpai cowok seperti Ryan. Romantisdengan kehangatan kasih sayang yang tulus.


“Makasih, Yan….”


ucapnya sambil mencium bunga itu. “Kamu nggak akan pergi kan…?”


Ryan tertunduk.


“Yan… kamu


jangan pergi. Aku sangat membutuhkanmu…” Brenda memohon.


Ryan menoleh ke arah Maryati. Maryati mengangguk pelan


seraya menghapus airmatanya.


“Ya… Ryan nggak


akan pergi, Nda…”


“Sungguh...?”


“Kamu sungguh-sungguh mencintai Ryan?” suara berat membuat Brenda


terkesiap. Itu suara Maryati yang berdiri bersama Baskoro di sebelah mobil.Brenda mengangguk.


“Saya nggak ingin Ryan pergi, Tante... Ini sungguh dari


dalam hati saya,”


Maryati tersenyum bahagia.


Maryati membatalkan keberangkatannya dan membiarkan cinta Brenda yang


bercerita. Dengan cinta yang tulus mungkin Brenda bisa menerima Ryan apa


adanya.


“Tante kini


sadar kalau kamu benar-benar mencintai Ryan… Kita


akan memulai kehidupan yang baru, Nda...”


“Iya, Tante... Saya akan selalu ada untuk Ryan,”


Maryati merengkuh Brenda dengan linangan airmata.


Akhirnya


kebahagiaan Brenda tidak terlukiskan. Meskipun hidup bersama cowok autis


seperti Ryan, namun ia bahagia menemukan sosok laki-laki yang tulus


mencintainya. Brenda kembali memeluk Ryan dengan penuh cinta. Ryan salah


tingkah ketika Brenda mengecup bibirnya.


“I love you, Yan...”


“Ryan cinta Brenda.”



Langit kota Singapura terlihat cerah dengan taburan


awan-awan putih yang tidak beraturan. Di sebuah hotel yang terletak di jalan


Victoria St, terlihat Brenda tersenyum bahagia. Ini acara bulan madu mereka


yang sudah dinantikan gadis itu beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja ponsel


Brenda berdering, nada sms.


“Bagaimana malam pertamamu?”


“Kamu nggak akan percaya.”


“Dia setangguh kuda liar?”


“Aku mengalami hal yang sangat lucu dan menyenangkan.


Ternyata Ryan sangat romantis.”


“Ya, kamu beruntung mendapatkannya. Apa rencanamu


selanjutnya?”


“Hmmm... Aku akan menikmati bulan madu kami di Melbourn,


La. Kamu pasti cemburu kan?”


“Ugh... kamu nggak setia kawan.”


“Kenapa kamu nggak mengajak Reynold bulan madu?”


“Aku akan segera menyusulmu.”


“☺”


TAMAT


__ADS_1


__ADS_2