
Brenda tiba di rumah saat
malam menjelang. Ia menghentikan mobilnya sambil mengerutkan kening. Lampu
ruang tamu menyala dan ia melihat ada mobil di sana. Siapa yang bertamu
malam-malam begini?’ bathinnya.Brenda masuk dari pintu
belakang.
“Siapa tamunya, Bik?” tanya Brenda ke
pembantunya.
“Pak Yuda, Bu... Sudah lama menunggu...”
“Yuda?” Sedikit berdesir hati Brenda
mengetahui kalau tamu itu adalah Yuda. Buru-buru ia membersihkan wajahnya di wastafel, lalu menemui Yuda di ruang
tamu.
“Yuda...” sapanya dengan hati bergemuruh
senang. Yuda mendongak menatap Brenda.
“Halo, Brenda... Kamu sudah pulang?”
Brenda mengangguk pelan. “Sudah, baru
aja nyampek. Kamu sudah lama?” Brenda balik bertanya.
“Sudah dua jam aku menunggumu di sini.
Yah dengan sedikit kejenuhan tingkat tinggi, hehehehe....”
“Oh... maaf. Aku tadi ada acara bersama
anak didikku,”
“Aku sudah tahu,”
“Dari siapa?”
“Ela yang memberitahuku,”
Brenda memerotkan bibirnya. ‘Ugh dasar
ember bocor tuh anak. Ngapain dia ngasih tahu Yuda segala sih,’ Brenda
menggerutu kecil.
“Sebentar aku buatkan minuman,”
“Nggak usah, Nda. Aku sudah minum dari
tadi. Aku mau mengajakmu keluar, tapi kalau kamu masih capek lebih baik aku
batalkan,”
“Nggak kok, Yud. Aku masih segar bugar
nih... Kamu mau ajak aku kemana?”
“Makan malam?”
“Hmm... ok. Aku ganti baju dulu ya,”
Brenda berlalu masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya. Hatinya kembali
berbunga-bunga, seperti saat pertama kali ia jatuh cinta. Apakah ini yang
dinamakan cinta lama bersemi kembali?
Setelah mengenakan gaun malam, Yuda dan
Brenda masuk ke dalam mobil. Mobil Yuda pun meninggalkan keidaman Brenda dan
serpihan daun-daun kering menuju restouran.
Di dalam mobil, Brenda sebentar-sebentar
melirik ke Yuda yang nggak banyak bicara. Ia sendiri bingung dengan cowok itu.
“Kita kemana, Yud?” tanya Brenda
memecahkan keheningan.
“Hmm... kita makan di Jimbaran aja ya?”
“Terserah kamu.” Brenda tersenyum. Yuda
menoleh ke Brenda sesaat, lalu fokus ke jalan.
Ingin sekali Brenda bersandar di dada
Yuda yang bidang dan berbaring hingga ia terlelap dengan mimpi indah, namun sampai
detik ini Yuda masih biasa-biasa aja.
“Bagaimana perjalananmu?” Yuda mulai
bicara.
“Hmm... lumayan menyenangkan. Sedikit
__ADS_1
mengendurkan urat syarafku yang kaku...”
“Hahahaha...” Yuda terkekeh.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Jadi selama ini urat syarafmu ketat
semua? Pantesan wajahmu terlihat miris...”
“Ugh... kamu ngeledekin aku...” Brenda
sewot dengan manja.
“Kamu lucu...”
Yuda membelokan setirnya dan mencari
parkiran di halaman Jimbaran.
“Kita sudah sampai, Nda,” ucapnya.
“Oh...” Brenda membetulkan gaunnya dan
membuka pintu mobil.
Suasana Jimbaran terlihat ramai
pengunjung yang sebagian besarorang-orang kaya. Mata Brenda mengedar
sejenak, lalu mengikuti langkah Yuda. Yuda sudah memesan kursi untuk mereka
berdua.
Brenda duduk sambil meletakkan tas tangannya. Musik melankolis menggema sendu dengan lampu-lampu temaram serta tempat
yang sangat artistik. Ciri khas Bali.
“Aku ingin mengenalkan kamu ke
teman-temanku. Kamu mau kan pura-pura jadi pacarku?” tanya Yuda sambil
bermohon.
“Maksud kamu?” kening Brenda berkerut.
“Aku nggak mau mereka selalu mengejekku duda nggak laku. Sebentar lagi mereka datang dengan pasangan masing-masing. Kamu mau
kan, Nda...?”
Brenda menggigit bibirnya sambil menatap
Yuda.
“Please, Nda...”
Brenda menarik nafas dengan berat. Ada
rasa sesak di dadanya. Lantas selama ini Yuda menganggap Brenda hanya sebuah
mainan?
“Tapi, Yud...”
“Sudah... tuh temanku sudah pada
datang... Kamu pura-pura mesra ya...”
Brenda menelan ludahnya yang terasa
getir. Sama sekali ini bukan rencananya. Teman-teman Yuda datang membawa
pasangan masing-masing. Sambil berkenalan dan berjabat tangan, Brenda hanya
tersenyum kaku. Miris juga hatinya kalau dijadikan pacar pura-pura.
Yuda sok mesra di depan teman-temannya,
sementara Brenda sudah seperti cacing kepanasan.
“Jadi ini pacarmu, Yud? Cantik
sekali...” tanya seorang temannya.
“Iya... dia bekerja di jasa pelayanan,”
“Ohh... Kapan kalian menikah?”
“Hmm... kami akan segera mengundang
kalian kalau harinya sudah ditetapkan. Iya kan, Sayang?”
“Jangan lama-lama, Yud. Dunia mau
kiamat.... hahahaha”
Mereka tertawa bebarengan. Brenda sama
sekali tidak menikmati pembicaraan itu. Pikirannya semakin kacau, hingga ia
hanya mendengar ocehan-ocehan sumbang dari bibir Yuda.
“Dasar playboy!” bathinnya.
Malam merambat semakin tua. Sudah jam
__ADS_1
sebelas malam dan mereka beranjak pulang. Teman-teman Yuda pamit lebih dulu.
Brenda beranjak dengan berat dan mengikuti langkah Yuda masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Brenda hanya diam.
Cintanya seperti kandas di malam-malam yang sepi. Mengapa Yuda begitu tega
menganggapnya hanya sebagai pacar bohongan. Ternyata cintanya hanya bertepuk
sebelah tangan.
Langit menghitam dengan gemuruh kecil
berselaput cahaya petir. Hujan turun deras membasahi kota Medan. Hawa di dalam
mobil terasa dingin hingga Brenda mendekap tangannya di dada. Tidak ada respon
dari Yuda untuk memberikan jaketnya ke Brenda.Ia hanya menggigit bibirnya.
“Sudah sampai, Nda... Aku antar sampai
disini saja ya...”
Brenda mengangguk dengan wajah dingin.
Hujan mengguyur tubuhnya. Brenda berlari kecil menuju gerbang rumahnya dan
bergegas mengetuk pintu. Setelah pembantunya membukakan pintu Brenda
segera masuk dan mencari handuk.Ia sangat kedinginan.
Malam terasa dingin dan sepi. Brenda
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah mengganti bajunya yang basah.
“Ughh... dasar brengsek!”umpatnya kesal.
Dia benar-benar kesal melihat Yuda. Ia memeluk
guling sambil
menggigit bibirnya. Ponsel di sampingnya
berdering. Dari Ela.
“Nda… kamu udah pulang?”
“Sudah,” jawab Brenda dengan suara serak.
“Kamu kenapa, Nda? Kok suaramu begitu?”
“Aku kecewa ngelihat Yuda, La. Tadi Dia mengajakku makan malam,”
“Lantas?”
“Ia menyuruhku berpura-pura menjadi pacar bohongan di depan
teman-temannya. Apa sih maksud Yuda?Kalau memang dia suka bilang dong suka, kalau enggak
juga jangan mempermainkan perasaanku. Itu sangat menyakitkan bagiku, La…”
Brenda terisak.
“Tadi dia telpon aku, Nda. Menanyakan keberadaanmu, aku beritahu aja kamu
lagi refresing ke Danau Toba. Katanya dia ingin mengatakan sesuatu padamu,
penting. Aku pikir Yuda mau mengungkapkan perasaannya ke kamu,”
“Nyatanya yang terjadi justru sebaliknya, La. Aku kesal lihat Yuda,”
“Sudahlah, Nda. Kalau memang Yuda bukan jodohmu, jangan kamu kejar-kejar
lagi dia,”
“Tapi aku sangat mencintainya, La…”
“Kamu nggak perlu mencintai laki-laki seperti Yuda. Kamu kan tahu dari
dulu kalau Yuda itu playboy. Banyak cewek simpanannya,”
Brenda menghapus airmatanya. “Dan dia ingin mempermainkan perasaanku?”
“Sudahlah, Nda…. Kamu jangan bersedih…”
“Aku memang gadis bodoh, La. Mengapa semua laki-laki yang kucintai selalu
membuat aku kecewa?”
“Hhhmmm… aku juga nggak tahu mengapa nasibmu seperti itu, Nda. Sekarang
kamu istirahat ya, udah malam. Aku juga mau tidur. Besok kita cerita lagi
okey…”
“Ya… makasih, La..”
Klik.
Brenda lagi-lagi tak mampu memendam rasa kecewa di hatinya. Ia kembali
memeluk guling dan tertidur dengan lelap.
__ADS_1