RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 25


__ADS_3

Brenda tiba di rumah saat


malam menjelang. Ia menghentikan mobilnya sambil mengerutkan kening. Lampu


ruang tamu menyala dan ia melihat ada mobil di sana. Siapa yang bertamu


malam-malam begini?’ bathinnya.Brenda masuk dari pintu


belakang.


“Siapa tamunya, Bik?” tanya Brenda ke


pembantunya.


“Pak Yuda, Bu... Sudah lama menunggu...”


“Yuda?” Sedikit berdesir hati Brenda


mengetahui kalau tamu itu adalah Yuda. Buru-buru ia membersihkan wajahnya di wastafel, lalu menemui Yuda di ruang


tamu.


“Yuda...” sapanya dengan hati bergemuruh


senang. Yuda mendongak menatap Brenda.


“Halo, Brenda... Kamu sudah pulang?”


Brenda mengangguk pelan. “Sudah, baru


aja nyampek. Kamu sudah lama?” Brenda balik bertanya.


“Sudah dua jam aku menunggumu di sini.


Yah dengan sedikit kejenuhan tingkat tinggi, hehehehe....”


“Oh... maaf. Aku tadi ada acara bersama


anak didikku,”


“Aku sudah tahu,”


“Dari siapa?”


“Ela yang memberitahuku,”


Brenda memerotkan bibirnya. ‘Ugh dasar


ember bocor tuh anak. Ngapain dia ngasih tahu Yuda segala sih,’ Brenda


menggerutu kecil.


“Sebentar aku buatkan minuman,”


“Nggak usah, Nda. Aku sudah minum dari


tadi. Aku mau mengajakmu keluar, tapi kalau kamu masih capek lebih baik aku


batalkan,”


“Nggak kok, Yud. Aku masih segar bugar


nih... Kamu mau ajak aku kemana?”


“Makan malam?”


“Hmm... ok. Aku ganti baju dulu ya,”


Brenda berlalu masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya. Hatinya kembali


berbunga-bunga, seperti saat pertama kali ia jatuh cinta. Apakah ini yang


dinamakan cinta lama bersemi kembali?


Setelah mengenakan gaun malam, Yuda dan


Brenda masuk ke dalam mobil. Mobil Yuda pun meninggalkan keidaman Brenda dan


serpihan daun-daun kering menuju restouran.


Di dalam mobil, Brenda sebentar-sebentar


melirik ke Yuda yang nggak banyak bicara. Ia sendiri bingung dengan cowok itu.


“Kita kemana, Yud?” tanya Brenda


memecahkan keheningan.


“Hmm... kita makan di Jimbaran aja ya?”


“Terserah kamu.” Brenda tersenyum. Yuda


menoleh ke Brenda sesaat, lalu fokus ke jalan.


Ingin sekali Brenda bersandar di dada


Yuda yang bidang dan berbaring hingga ia terlelap dengan mimpi indah, namun sampai


detik ini Yuda masih biasa-biasa aja.


“Bagaimana perjalananmu?” Yuda mulai


bicara.


“Hmm... lumayan menyenangkan. Sedikit

__ADS_1


mengendurkan urat syarafku yang kaku...”


“Hahahaha...” Yuda terkekeh.


“Kenapa kamu tertawa?”


“Jadi selama ini urat syarafmu ketat


semua? Pantesan wajahmu terlihat miris...”


“Ugh... kamu ngeledekin aku...” Brenda


sewot dengan manja.


“Kamu lucu...”


Yuda membelokan setirnya dan mencari


parkiran di halaman Jimbaran.


“Kita sudah sampai, Nda,” ucapnya.


“Oh...” Brenda membetulkan gaunnya dan


membuka pintu mobil.


Suasana Jimbaran terlihat ramai


pengunjung yang sebagian besarorang-orang kaya. Mata Brenda mengedar


sejenak, lalu mengikuti langkah Yuda. Yuda sudah memesan kursi untuk mereka


berdua.


Brenda duduk sambil meletakkan tas tangannya. Musik melankolis menggema sendu dengan lampu-lampu temaram serta tempat


yang sangat artistik. Ciri khas Bali.


“Aku ingin mengenalkan kamu ke


teman-temanku. Kamu mau kan pura-pura jadi pacarku?” tanya Yuda sambil


bermohon.


“Maksud kamu?” kening Brenda berkerut.


“Aku nggak mau mereka selalu mengejekku duda nggak laku. Sebentar lagi mereka datang dengan pasangan masing-masing. Kamu mau


kan, Nda...?”


Brenda menggigit bibirnya sambil menatap


Yuda.


“Please, Nda...”


Brenda menarik nafas dengan berat. Ada


rasa sesak di dadanya. Lantas selama ini Yuda menganggap Brenda hanya sebuah


mainan?


“Tapi, Yud...”


“Sudah... tuh temanku sudah pada


datang... Kamu pura-pura mesra ya...”


Brenda menelan ludahnya yang terasa


getir. Sama sekali ini bukan rencananya. Teman-teman Yuda datang membawa


pasangan masing-masing. Sambil berkenalan dan berjabat tangan, Brenda hanya


tersenyum kaku. Miris juga hatinya kalau dijadikan pacar pura-pura.


Yuda sok mesra di depan teman-temannya,


sementara Brenda sudah seperti cacing kepanasan.


“Jadi ini pacarmu, Yud? Cantik


sekali...” tanya seorang temannya.


“Iya... dia bekerja di jasa pelayanan,”


“Ohh... Kapan kalian menikah?”


“Hmm... kami akan segera mengundang


kalian kalau harinya sudah ditetapkan. Iya kan, Sayang?”


“Jangan lama-lama, Yud. Dunia mau


kiamat.... hahahaha”


Mereka tertawa bebarengan. Brenda sama


sekali tidak menikmati pembicaraan itu. Pikirannya semakin kacau, hingga ia


hanya mendengar ocehan-ocehan sumbang dari bibir Yuda.


“Dasar playboy!” bathinnya.


Malam merambat semakin tua. Sudah jam

__ADS_1


sebelas malam dan mereka beranjak pulang. Teman-teman Yuda pamit lebih dulu.


Brenda beranjak dengan berat dan mengikuti langkah Yuda masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Brenda hanya diam.


Cintanya seperti kandas di malam-malam yang sepi. Mengapa Yuda begitu tega


menganggapnya hanya sebagai pacar bohongan. Ternyata cintanya hanya bertepuk


sebelah tangan.


Langit menghitam dengan gemuruh kecil


berselaput cahaya petir. Hujan turun deras membasahi kota Medan. Hawa di dalam


mobil terasa dingin hingga Brenda mendekap tangannya di dada. Tidak ada respon


dari Yuda untuk memberikan jaketnya ke Brenda.Ia hanya menggigit bibirnya.


“Sudah sampai, Nda... Aku antar sampai


disini saja ya...”


Brenda mengangguk dengan wajah dingin.


Hujan mengguyur tubuhnya. Brenda berlari kecil menuju gerbang rumahnya dan


bergegas mengetuk pintu. Setelah pembantunya membukakan pintu Brenda


segera masuk dan mencari handuk.Ia sangat kedinginan.


Malam terasa dingin dan sepi. Brenda


merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah mengganti bajunya yang basah.


“Ughh... dasar brengsek!”umpatnya kesal.


Dia benar-benar kesal melihat Yuda. Ia memeluk


guling sambil


menggigit bibirnya.  Ponsel di sampingnya


berdering. Dari Ela.


“Nda… kamu udah pulang?”


“Sudah,” jawab Brenda dengan suara serak.


“Kamu kenapa, Nda? Kok suaramu begitu?”


“Aku kecewa ngelihat Yuda, La. Tadi Dia mengajakku makan malam,”


“Lantas?”


“Ia menyuruhku berpura-pura menjadi pacar bohongan di depan


teman-temannya. Apa sih maksud Yuda?Kalau memang dia suka bilang dong suka, kalau enggak


juga jangan mempermainkan perasaanku. Itu sangat menyakitkan bagiku, La…”


Brenda terisak.


“Tadi dia telpon aku, Nda. Menanyakan keberadaanmu, aku beritahu aja kamu


lagi refresing ke Danau Toba. Katanya dia ingin mengatakan sesuatu padamu,


penting. Aku pikir Yuda mau mengungkapkan perasaannya ke kamu,”


“Nyatanya yang terjadi justru sebaliknya, La. Aku kesal lihat Yuda,”


“Sudahlah, Nda. Kalau memang Yuda bukan jodohmu, jangan kamu kejar-kejar


lagi dia,”


“Tapi aku sangat mencintainya, La…”


“Kamu nggak perlu mencintai laki-laki seperti Yuda. Kamu kan tahu dari


dulu kalau Yuda itu playboy. Banyak cewek simpanannya,”


Brenda menghapus airmatanya. “Dan dia ingin mempermainkan perasaanku?”


“Sudahlah, Nda…. Kamu jangan bersedih…”


“Aku memang gadis bodoh, La. Mengapa semua laki-laki yang kucintai selalu


membuat aku kecewa?”


“Hhhmmm… aku juga nggak tahu mengapa nasibmu seperti itu, Nda. Sekarang


kamu istirahat ya, udah malam. Aku juga mau tidur. Besok kita cerita lagi


okey…”


“Ya… makasih, La..”


Klik.


Brenda lagi-lagi tak mampu memendam rasa kecewa di hatinya. Ia kembali


memeluk guling dan tertidur dengan lelap.


__ADS_1


__ADS_2