RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 24


__ADS_3

Kicau burung bersahutan silih berganti. Matahari sudah mulai muncul di


ujung Danau Toba. Warna jingga yang tersirat disana kelihatan lebih matang.


Brenda bangun lebih awal untuk menikmati matahari terbit. Ia keluar kamarnya


sambil mengenakan sweater dan syal. Ia kaget melihat Ryan sudah berdiri di


undukan batu taman yang menghadap ke danau. Brenda menghampiri Ryan sambil


menyapanya.


“Ryan sudah bangun?”


Ryan menoleh sejenak, lalu matanya menatap ke arah matahari terbit.


“Ryan mau lihat matahari terbit,”


“Sama… Akujuga…”


Ryan tidak menyahut. Ia konsentrasi dengan pandangannya.


“Dan sekarang apa rencanamu, Yan…”


Ryan hening sesaat, lalu berujar.


“Ryan mau cinta,”


“Mau cinta? Cinta apa?” Alis Brenda naik beberapa mili.


“Cinta Brenda…” ucap Ryan tanpa intonasi. Datar dan dingin.


Brenda terdiam, lalu tertawa.


“Hahahaha… Ryan mau cinta Brenda?”


Ryan menunduk sejenak, lalu memainkan bola kristalnya. Tangannya bergetar


hebat hingga Brenda takut melihatnya.


“Yan.. kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.


“Kamu jahat… kamu jahat…. Kamu tertawakan Ryan…!”


Brenda salah tingkah.


“Yan…” gumamnya pelan. “Aku nggak bermaksud mentertawaimu… maafkan aku…”


Ryan buru-buru meninggalkan Brenda sambil berjalan tergesa. Brenda


bingung mau berbuat apa. Apa yang salah dengan ucapannya?


Ryan memang tidak suka ada seseorang yang mentertawainya. Ryan mengunci


pintu kamarnya. Hal itu membuat Brenda semakin khawatir. Ia berusaha membujuk


Ryan kalau dia juga cinta Ryan. Namun Ryan tak bergeming.


“Yan… buka pintunya… Brenda juga mau cinta Ryan…” bujuk Brenda. Tidak ada


jawaban hingga Maryati terbangun dan membuka pintu kamarnya.


“Ada apa, Nda?” tanyanya sambil mengikat tali piayamanya.


“Hmm… nggak apa-apa, Tante… Tadi Ryan bilang mau cinta…”

__ADS_1


Maryati tersenyum, lalu mengajak Brenda ke balkon hotel. Mereka duduk


sambil menatap pemandangan Danau Toba.


“Ryan mencintaimu, Nda. Kamu harus berpura-pura juga mencintainya,”


Brenda menunduk. “Iya, Tante… tadi saya nggak sengaja tertawa di depan


Ryan. Setelah itu Ryan ngambek,”


“Ryan memang begitu. Ia nggak suka seseorang mencibirnya,


apalagi mentertawakannya,”


“Oh…” Brenda manggut-manggut. “Saya minta maaf, Tante. Saya nggak  tahu…”


“Saya akan membujuk Ryan agar keluar dari kamarnya. Kita akan menyelusuri


pulau Samosir pagi ini,”


“Wah… asyik tuh, Tante… Saya mandi dulu,”


Maryati mengangguk dan Brenda pun berlalu masuk ke kamarnya.



Maryati membujuk Ryan untuk membuka pintu kamarnya. Lama ia menunggu di


depan pintu, lalu pintu terbuka sedikit. Maryati masuk sambil tersenyum menatap


Ryan.


“Kamu kenapa, Sayang…? Anak mama kok murung?”


“Yan… Brenda nggak jahat. Dia gadis baik-baik kok… Brenda sudah minta


maaf. Masyak Ryan nggak mau maafin Brenda?”


Ryan berjalan menuju jendela kamar yang terbuka dengan pemandangan Danau


Toba.


“Ryan mau Brenda, Ma…”


“Mama tahu… sekarang Ryan mandi dan kita mulai bertualang ke Samosir.


Kita akan melihat patung yang bisa menari, namanya sigale-gale. Trus ada makam


raja batak yang dikubur di batu,”


Ryan menatap wajah ibunya.


“Mama tunggu di lobbyya…”


Ryan mengangguk, kemudian Maryati keluar.



“Yan… maafkan aku atas kesalahan tadi,” ucap Brenda ketika mereka menyeberang


melalui kapal keputihan. Beberapa menit lagi mereka


sampai di tepian penyeberangan. Ombak danau tidak begitu bergelombang, namun


hawanya masih terasa dingin dan membuat Brenda membetulkan syalnya.

__ADS_1


“Udah Ryan maafkan…”


“Dan kita bisa berteman lagi?”


Ryan mengangguk tanpa ekspresi. Brenda tersenyum, lalu pandangannya


menyapu tepian danau yang dijajari pohon-pohon pinus dan hotel-hotel mewah.


Gelombang air danau terasa menggoyangkan kapal dengan riak


Brenda melangkahkan kakinya di undukan batu tepian pantai. Kapal


penyeberang itu merapat di sebuah dermaga. Pandangan Brenda mengedar pada


jejeran toko souvenir di sepanjang


jalan.


Ryan asyik memainkan bola kristal di tangannya sambil mengikuti Brenda.


Brenda mencoba beberapa syal dan aksesoris buatan daerah setempat.


“Pacarnya ya, Mbak?” tanya seorang penjual ke Brenda.


Brenda hanya terssenyum tipis. Kemudian ia mendengar ocehan-ocehan kecil


dari penjual souvenir.


“Sayang ya, cantik-cantik kok pacarnya idiot…”


“Iya… atau jangan-jangan dia milih hartanya,”


“Mungkin saja. Perempuan sekarang kan begitu. Nggak perduli tua, muda, duda, kakek-kakek


apalagi idiot. Yang penting duitnya banyak.”


Brenda sempat berhenti mendengar ocehan-ocehan itu dan mereka terdiam


seketika.


“Nggak perduli, yang penting aku nggak susah-susah berjualan seperti


kalian…” balas Brenda mencibir. Ia terus berlalu meninggalkan para penggunjing.


Ughh…. Jenuh juga Brenda diledek seperti itu. Padahal ia hanya


berpura-pura saja mencintai Ryan. Setelah melihat sigale-gale dan makamraja


batak, Maryati dan Brenda keliling Tomok dan berbelanja aneka souvenir. Ryan memberikan syal untuk


Brenda dan dikenakan di lehernya.


“Makasih, Yan…”


“Brenda suka?”


“Heem…” Brenda mengangguk.


Ryan terlihat kegirangan sambil memanggil ibunya. Ia ingin memberitahu


Maryati kalau Brenda menerima syal pemberiannya. Maryati hanya tersenyum


bahagia.


__ADS_1


__ADS_2