
Kicau burung bersahutan silih berganti. Matahari sudah mulai muncul di
ujung Danau Toba. Warna jingga yang tersirat disana kelihatan lebih matang.
Brenda bangun lebih awal untuk menikmati matahari terbit. Ia keluar kamarnya
sambil mengenakan sweater dan syal. Ia kaget melihat Ryan sudah berdiri di
undukan batu taman yang menghadap ke danau. Brenda menghampiri Ryan sambil
menyapanya.
“Ryan sudah bangun?”
Ryan menoleh sejenak, lalu matanya menatap ke arah matahari terbit.
“Ryan mau lihat matahari terbit,”
“Sama… Akujuga…”
Ryan tidak menyahut. Ia konsentrasi dengan pandangannya.
“Dan sekarang apa rencanamu, Yan…”
Ryan hening sesaat, lalu berujar.
“Ryan mau cinta,”
“Mau cinta? Cinta apa?” Alis Brenda naik beberapa mili.
“Cinta Brenda…” ucap Ryan tanpa intonasi. Datar dan dingin.
Brenda terdiam, lalu tertawa.
“Hahahaha… Ryan mau cinta Brenda?”
Ryan menunduk sejenak, lalu memainkan bola kristalnya. Tangannya bergetar
hebat hingga Brenda takut melihatnya.
“Yan.. kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
“Kamu jahat… kamu jahat…. Kamu tertawakan Ryan…!”
Brenda salah tingkah.
“Yan…” gumamnya pelan. “Aku nggak bermaksud mentertawaimu… maafkan aku…”
Ryan buru-buru meninggalkan Brenda sambil berjalan tergesa. Brenda
bingung mau berbuat apa. Apa yang salah dengan ucapannya?
Ryan memang tidak suka ada seseorang yang mentertawainya. Ryan mengunci
pintu kamarnya. Hal itu membuat Brenda semakin khawatir. Ia berusaha membujuk
Ryan kalau dia juga cinta Ryan. Namun Ryan tak bergeming.
“Yan… buka pintunya… Brenda juga mau cinta Ryan…” bujuk Brenda. Tidak ada
jawaban hingga Maryati terbangun dan membuka pintu kamarnya.
“Ada apa, Nda?” tanyanya sambil mengikat tali piayamanya.
“Hmm… nggak apa-apa, Tante… Tadi Ryan bilang mau cinta…”
__ADS_1
Maryati tersenyum, lalu mengajak Brenda ke balkon hotel. Mereka duduk
sambil menatap pemandangan Danau Toba.
“Ryan mencintaimu, Nda. Kamu harus berpura-pura juga mencintainya,”
Brenda menunduk. “Iya, Tante… tadi saya nggak sengaja tertawa di depan
Ryan. Setelah itu Ryan ngambek,”
“Ryan memang begitu. Ia nggak suka seseorang mencibirnya,
apalagi mentertawakannya,”
“Oh…” Brenda manggut-manggut. “Saya minta maaf, Tante. Saya nggak tahu…”
“Saya akan membujuk Ryan agar keluar dari kamarnya. Kita akan menyelusuri
pulau Samosir pagi ini,”
“Wah… asyik tuh, Tante… Saya mandi dulu,”
Maryati mengangguk dan Brenda pun berlalu masuk ke kamarnya.
Maryati membujuk Ryan untuk membuka pintu kamarnya. Lama ia menunggu di
depan pintu, lalu pintu terbuka sedikit. Maryati masuk sambil tersenyum menatap
Ryan.
“Kamu kenapa, Sayang…? Anak mama kok murung?”
“Yan… Brenda nggak jahat. Dia gadis baik-baik kok… Brenda sudah minta
maaf. Masyak Ryan nggak mau maafin Brenda?”
Ryan berjalan menuju jendela kamar yang terbuka dengan pemandangan Danau
Toba.
“Ryan mau Brenda, Ma…”
“Mama tahu… sekarang Ryan mandi dan kita mulai bertualang ke Samosir.
Kita akan melihat patung yang bisa menari, namanya sigale-gale. Trus ada makam
raja batak yang dikubur di batu,”
Ryan menatap wajah ibunya.
“Mama tunggu di lobbyya…”
Ryan mengangguk, kemudian Maryati keluar.
“Yan… maafkan aku atas kesalahan tadi,” ucap Brenda ketika mereka menyeberang
melalui kapal keputihan. Beberapa menit lagi mereka
sampai di tepian penyeberangan. Ombak danau tidak begitu bergelombang, namun
hawanya masih terasa dingin dan membuat Brenda membetulkan syalnya.
__ADS_1
“Udah Ryan maafkan…”
“Dan kita bisa berteman lagi?”
Ryan mengangguk tanpa ekspresi. Brenda tersenyum, lalu pandangannya
menyapu tepian danau yang dijajari pohon-pohon pinus dan hotel-hotel mewah.
Gelombang air danau terasa menggoyangkan kapal dengan riak
Brenda melangkahkan kakinya di undukan batu tepian pantai. Kapal
penyeberang itu merapat di sebuah dermaga. Pandangan Brenda mengedar pada
jejeran toko souvenir di sepanjang
jalan.
Ryan asyik memainkan bola kristal di tangannya sambil mengikuti Brenda.
Brenda mencoba beberapa syal dan aksesoris buatan daerah setempat.
“Pacarnya ya, Mbak?” tanya seorang penjual ke Brenda.
Brenda hanya terssenyum tipis. Kemudian ia mendengar ocehan-ocehan kecil
dari penjual souvenir.
“Sayang ya, cantik-cantik kok pacarnya idiot…”
“Iya… atau jangan-jangan dia milih hartanya,”
“Mungkin saja. Perempuan sekarang kan begitu. Nggak perduli tua, muda, duda, kakek-kakek
apalagi idiot. Yang penting duitnya banyak.”
Brenda sempat berhenti mendengar ocehan-ocehan itu dan mereka terdiam
seketika.
“Nggak perduli, yang penting aku nggak susah-susah berjualan seperti
kalian…” balas Brenda mencibir. Ia terus berlalu meninggalkan para penggunjing.
Ughh…. Jenuh juga Brenda diledek seperti itu. Padahal ia hanya
berpura-pura saja mencintai Ryan. Setelah melihat sigale-gale dan makamraja
batak, Maryati dan Brenda keliling Tomok dan berbelanja aneka souvenir. Ryan memberikan syal untuk
Brenda dan dikenakan di lehernya.
“Makasih, Yan…”
“Brenda suka?”
“Heem…” Brenda mengangguk.
Ryan terlihat kegirangan sambil memanggil ibunya. Ia ingin memberitahu
Maryati kalau Brenda menerima syal pemberiannya. Maryati hanya tersenyum
bahagia.
__ADS_1