RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 21


__ADS_3

Seminggu telah berlalu begitu


saja. Ryan pun sudah mulai sembuh dari luka-luka memar di wajahnya. Dia


sudah bisa menggerakkan kakinya yang semula bergeser dari engsel lutut. Brenda selalu menemaninya dan menghiburnya saat berada di ruang pemeriksaan.


Ryan sudah diperbolehkan pulang.


Brenda duduk manis di kursi tamu yang empuk. Busa tebal dengan corak


warna eksklusif. Interior yang terlihat sangat berkelas


dan hanya dimiliki orang-orang kaya seperti Maryati. Lantai granit dengan corak


yang elegan dan hiasan-hiasan di pajangan lemari yang sangat artistik.


Ryan keluar dengan stelan jeans hitam dan


kaos oblong. Bibirnya merah basahdan kumisnya dicukur rapi. Brenda


terkesima. Benar-benar tidak ada yang tahu kalau melihat Ryan dengan stelan


yang menawan, penderita autis. Wajahnya juga tampan dengan alis mata yang tebal


dan pandangan yang tajam namun teduh.


Brenda bangkit dari duduknya dan


mengulas senyum ke Ryan.


“Pagi, Yan...” sapanya lembut.


Ryan menatap Brenda dengan tajam.


“Pagi, Nda...” sahutnya datar.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Ryan baik-baik saja...”


“Oh... Alhamdullilah...”


Ryan berjalan ke ruang belakang sambil


memainkan bola kristalnya. Brenda mengikuti langkah Ryan. Ia mencium aroma


segar yang menyeruak dari tubuh Ryan. Parfum beraroma gentleman.


“Terima kasih sudah jaga Ryan...”


“Itu memang sudah tugasku, Yan... Bagaimana


kalau hari ini kita ke toko buku? Ryan bisa baca buku disana,”


Ryan menghentikan langkahnya.


“Ryan tidak suka ke toko buku,”


“Bagaimana kalau kita ke museum atau ke


istana maimun? Ryan akan mendengar cerita bagaimana sejarah istana maimun. Dulu


ada legenda seorang putri raja bernama putri hijau,”


Ryan menatap Brenda dengan lekat.


“Putri Hijau?”


“Yah... dan Ryan akan melihat peninggalan-peninggalan


istana disana. Bagaimana? Ryan mau?”


Ryan mengangguk pelan.


”Okey kalau begitu aku bilang dulu ya ke


tante Maryati,”


Brenda menemui Maryati di ruang kerjanya


dan minta izin mengajak Ryan ke istana maimun.


“Hati-hati, Nda...”


“Iya, Tante. Saya pergi dulu...” pamit


Brenda seraya melajukan mobilnya.


Jalan hitam sedikit lengang. Ryan duduk


di samping Brenda dengan pandangan ke depan. Brenda sesekali melirik ke arah


Ryan sambil tersenyum. Wajah itu sangat lembut untuk dilupakan. Ia membayangkan


akan bersama Ryan selama sebulan penuh.



Benda-benda peninggalan istana masih

__ADS_1


tersusun apik di ruangan tersendiri. Kursi kesultanan dan pakaian-pakaian


kebesaran sang raja dan pemaisuri masih disimpan di lemari kaca.


Ryan memperhatikan kursi sang raja dengan


lekat. Hampir tak bekedip, kemudian matanya beralih ke potret yang terpajang di


dinding. Sementara Brenda asyik melihat benda-benda bersejarah lainnya.


“Gimana, Yan? Kamu suka?”


Ryan mengangguk pelan tanpa ekspresi


sambil memainkan bola kristal seperti biasa. Brenda tersenyum bahagia melihat


Ryan bisa menikmati dunia luar. Mereka turun dari istana Maimun dan mendekati


bangunan tempat Meriam Puntung serta mendengarkan cerita legenda Putri Hijau.


“Menurut legenda, di zaman dahulu kala di Kesultanan


Deli Lama kira-kira 10 km dari kampung Medan, hiduplah seorang putri yang


sangat cantik dan karena kecantikannya diberi nama Putri Hijau. Kecantikan


puteri itu tersohor kemana-mana. Sultan Aceh jatuh cinta pada puteri itu dan


melamarnya untuk dijadikan permaisurinya. Lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh


kedua saudara laki-laki Putri Hijau. Sultan Aceh sangat marah karena


penolakannya dan merasa terhina. Maka pecahlah perang antara kesultanan Aceh


dan kesulatanan Deli. Dengan mempergunakan kekuatan gaib, saudara Putri Hijau


menjelma menjadi seekor ular naga dan yang seorang lagi sebagai sepucuk meriam.


Karena kurang sigap, kesultanan Deli Lama mengalami kekalahan dalam peperangan


itu.


Putera mahkota yg menjelma menjadi meriam itu meledak,


terpecah dan puing- puingnya bertebaran. Bagian belakang meriam terlontar ke


Labuhan Deli dan bagian depannya kedataran tinggi Karo. Pangeran yang seorang


lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, menyelamatkan diri masuk


ke dalam Sungai Deli.


meneruskan perjalanannya yang terakhir


di ujung Jambo Aye dekat Lok Seumawe, Aceh. Sedangkan Putri Hijau ditawan dan


dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat  ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh.


Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau


mohon diadakan satu upacara untuknya


sebelum peti diturunkan dari kapal. Tetapi, baru saja upacara dimulai,


tiba-tiba berhembus angin ribut yang maha dahsyat disusul oleh


gelombang-gelombang yang sangat tinggi.


Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma


menjadi ular naga itu, dengan sekuat tenaga


dia berusaha menyelamatkan adiknya. Dengan menggunakan rahangnya yang besar


itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam


laut. Dan akhirnya Putri Hijau selamat, dan konon ceritanya, kakak-adik itu


kini hidup tentram di dasar laut. Pecahan meriam puntung yang tersebar, kini


masih ada di istana maimun.”[1]


Setelah puas menikmati peninggalan


istana Maimun dan Legenda Putri Hijau, mereka pergi lagi ke tempat wisata


lainnya. Mesjid Raya, rumah Tjong A Fie dan jembatan gantung yang saat ini


ramai dikunjungi para anak-anak muda.


Ryan juga terlihat bahagia. Wajahnya


mulai membentuk sebuah ekpresi  dengan


senyuman yang menawan. Apalagi Brenda yang selalu berwajah ceria, membuat Ryan


menyukai Brenda.


Matahari mulai turun dengan balutan

__ADS_1


senja merah saga. Brenda dan Ryan menuju jalan pulang yang sedikit macet di


beberapa lampu merah. Kini tak ada lagi ekpresi datar dari Ryan. Ryan banyak


bertanya ke Brenda mengenai benda-benda sejarah dan peninggalan-peninggalan


zaman Belanda dan tentang Putri Hijau.


Sehabis magrib mereka baru tiba di


kediaman Maryati. Perempuan itu menyambut kedatangan Brenda dan Ryan dengan


seulas senyum yang menawan.


“Kalian sudah pulang?” sapa Maryati


ketika Brenda keluar dari dalam mobilnya.


Brenda tersenyum. “Sudah, Tante,” sahut


Brenda.


“Bagaimana? Ryan senang?” tanya Maryati


ke Ryan.


“Ryan senang, Ma. Kapan kita kesana


lagi?”


Maryati tersenyum. “Nanti kita kesana


lagi, Yan. Atau kita cari tempat bermain yang lain lagi,”


“Ya..” Ryan mengangguk sambil berlalu.


Ia masuk ke kamarnya.


“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya


Maryati ke Brenda.


“Menyenangkan, Tante. Ryan juga senang


mengunjung istana Maimon. Dia banyak bertanya tentang benda-benda peninggalan


istana,”


“Wahhh... Alhamdulillah... Akhirnya Ryan


mampu keluar dari kenangan masa lalunya, Nda,”


“Yah, kita memang harus bersabar, Tante.


Sepertinya Ryan harus dibawa jalan-jalan agar ia mengenal dunia luar,”


Maryati menghela berat. “Selama ini saya


sudah membujuk Ryan untuk jalan-jalan, Nda. Namun Ryan selalu menolak dan marah


ke saya. Kalau Ryan sudah marah, saya khawatir. Pasti dia berbuat yang tidak


saya inginkan,”


Mereka berjalan memasuki rumah Maryati.


Brenda duduk di kursi empuk buatan Italy. Maryati juga duduk sambil merapikan


rok panjangnya.


“Terima kasih, Nda. Kamu sudah berhasil


memberi semangat ke Ryan.”


“Sama-sama, Tante. Kita harus


bekerjasama untuk Ryan.”


Setelah perbincangan yang tidak begitu


panjang, Brenda pamit pulang. Tubuhnya terasa letih seharian jalan mengelilingi


kota Medan.



 


 


 


 


 


 


[1]

__ADS_1


Beberapa sumber


__ADS_2