
Seminggu telah berlalu begitu
saja. Ryan pun sudah mulai sembuh dari luka-luka memar di wajahnya. Dia
sudah bisa menggerakkan kakinya yang semula bergeser dari engsel lutut. Brenda selalu menemaninya dan menghiburnya saat berada di ruang pemeriksaan.
Ryan sudah diperbolehkan pulang.
Brenda duduk manis di kursi tamu yang empuk. Busa tebal dengan corak
warna eksklusif. Interior yang terlihat sangat berkelas
dan hanya dimiliki orang-orang kaya seperti Maryati. Lantai granit dengan corak
yang elegan dan hiasan-hiasan di pajangan lemari yang sangat artistik.
Ryan keluar dengan stelan jeans hitam dan
kaos oblong. Bibirnya merah basahdan kumisnya dicukur rapi. Brenda
terkesima. Benar-benar tidak ada yang tahu kalau melihat Ryan dengan stelan
yang menawan, penderita autis. Wajahnya juga tampan dengan alis mata yang tebal
dan pandangan yang tajam namun teduh.
Brenda bangkit dari duduknya dan
mengulas senyum ke Ryan.
“Pagi, Yan...” sapanya lembut.
Ryan menatap Brenda dengan tajam.
“Pagi, Nda...” sahutnya datar.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Ryan baik-baik saja...”
“Oh... Alhamdullilah...”
Ryan berjalan ke ruang belakang sambil
memainkan bola kristalnya. Brenda mengikuti langkah Ryan. Ia mencium aroma
segar yang menyeruak dari tubuh Ryan. Parfum beraroma gentleman.
“Terima kasih sudah jaga Ryan...”
“Itu memang sudah tugasku, Yan... Bagaimana
kalau hari ini kita ke toko buku? Ryan bisa baca buku disana,”
Ryan menghentikan langkahnya.
“Ryan tidak suka ke toko buku,”
“Bagaimana kalau kita ke museum atau ke
istana maimun? Ryan akan mendengar cerita bagaimana sejarah istana maimun. Dulu
ada legenda seorang putri raja bernama putri hijau,”
Ryan menatap Brenda dengan lekat.
“Putri Hijau?”
“Yah... dan Ryan akan melihat peninggalan-peninggalan
istana disana. Bagaimana? Ryan mau?”
Ryan mengangguk pelan.
”Okey kalau begitu aku bilang dulu ya ke
tante Maryati,”
Brenda menemui Maryati di ruang kerjanya
dan minta izin mengajak Ryan ke istana maimun.
“Hati-hati, Nda...”
“Iya, Tante. Saya pergi dulu...” pamit
Brenda seraya melajukan mobilnya.
Jalan hitam sedikit lengang. Ryan duduk
di samping Brenda dengan pandangan ke depan. Brenda sesekali melirik ke arah
Ryan sambil tersenyum. Wajah itu sangat lembut untuk dilupakan. Ia membayangkan
akan bersama Ryan selama sebulan penuh.
Benda-benda peninggalan istana masih
__ADS_1
tersusun apik di ruangan tersendiri. Kursi kesultanan dan pakaian-pakaian
kebesaran sang raja dan pemaisuri masih disimpan di lemari kaca.
Ryan memperhatikan kursi sang raja dengan
lekat. Hampir tak bekedip, kemudian matanya beralih ke potret yang terpajang di
dinding. Sementara Brenda asyik melihat benda-benda bersejarah lainnya.
“Gimana, Yan? Kamu suka?”
Ryan mengangguk pelan tanpa ekspresi
sambil memainkan bola kristal seperti biasa. Brenda tersenyum bahagia melihat
Ryan bisa menikmati dunia luar. Mereka turun dari istana Maimun dan mendekati
bangunan tempat Meriam Puntung serta mendengarkan cerita legenda Putri Hijau.
“Menurut legenda, di zaman dahulu kala di Kesultanan
Deli Lama kira-kira 10 km dari kampung Medan, hiduplah seorang putri yang
sangat cantik dan karena kecantikannya diberi nama Putri Hijau. Kecantikan
puteri itu tersohor kemana-mana. Sultan Aceh jatuh cinta pada puteri itu dan
melamarnya untuk dijadikan permaisurinya. Lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh
kedua saudara laki-laki Putri Hijau. Sultan Aceh sangat marah karena
penolakannya dan merasa terhina. Maka pecahlah perang antara kesultanan Aceh
dan kesulatanan Deli. Dengan mempergunakan kekuatan gaib, saudara Putri Hijau
menjelma menjadi seekor ular naga dan yang seorang lagi sebagai sepucuk meriam.
Karena kurang sigap, kesultanan Deli Lama mengalami kekalahan dalam peperangan
itu.
Putera mahkota yg menjelma menjadi meriam itu meledak,
terpecah dan puing- puingnya bertebaran. Bagian belakang meriam terlontar ke
Labuhan Deli dan bagian depannya kedataran tinggi Karo. Pangeran yang seorang
lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, menyelamatkan diri masuk
ke dalam Sungai Deli.
meneruskan perjalanannya yang terakhir
di ujung Jambo Aye dekat Lok Seumawe, Aceh. Sedangkan Putri Hijau ditawan dan
dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh.
Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau
mohon diadakan satu upacara untuknya
sebelum peti diturunkan dari kapal. Tetapi, baru saja upacara dimulai,
tiba-tiba berhembus angin ribut yang maha dahsyat disusul oleh
gelombang-gelombang yang sangat tinggi.
Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma
menjadi ular naga itu, dengan sekuat tenaga
dia berusaha menyelamatkan adiknya. Dengan menggunakan rahangnya yang besar
itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam
laut. Dan akhirnya Putri Hijau selamat, dan konon ceritanya, kakak-adik itu
kini hidup tentram di dasar laut. Pecahan meriam puntung yang tersebar, kini
masih ada di istana maimun.”[1]
Setelah puas menikmati peninggalan
istana Maimun dan Legenda Putri Hijau, mereka pergi lagi ke tempat wisata
lainnya. Mesjid Raya, rumah Tjong A Fie dan jembatan gantung yang saat ini
ramai dikunjungi para anak-anak muda.
Ryan juga terlihat bahagia. Wajahnya
mulai membentuk sebuah ekpresi dengan
senyuman yang menawan. Apalagi Brenda yang selalu berwajah ceria, membuat Ryan
menyukai Brenda.
Matahari mulai turun dengan balutan
__ADS_1
senja merah saga. Brenda dan Ryan menuju jalan pulang yang sedikit macet di
beberapa lampu merah. Kini tak ada lagi ekpresi datar dari Ryan. Ryan banyak
bertanya ke Brenda mengenai benda-benda sejarah dan peninggalan-peninggalan
zaman Belanda dan tentang Putri Hijau.
Sehabis magrib mereka baru tiba di
kediaman Maryati. Perempuan itu menyambut kedatangan Brenda dan Ryan dengan
seulas senyum yang menawan.
“Kalian sudah pulang?” sapa Maryati
ketika Brenda keluar dari dalam mobilnya.
Brenda tersenyum. “Sudah, Tante,” sahut
Brenda.
“Bagaimana? Ryan senang?” tanya Maryati
ke Ryan.
“Ryan senang, Ma. Kapan kita kesana
lagi?”
Maryati tersenyum. “Nanti kita kesana
lagi, Yan. Atau kita cari tempat bermain yang lain lagi,”
“Ya..” Ryan mengangguk sambil berlalu.
Ia masuk ke kamarnya.
“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya
Maryati ke Brenda.
“Menyenangkan, Tante. Ryan juga senang
mengunjung istana Maimon. Dia banyak bertanya tentang benda-benda peninggalan
istana,”
“Wahhh... Alhamdulillah... Akhirnya Ryan
mampu keluar dari kenangan masa lalunya, Nda,”
“Yah, kita memang harus bersabar, Tante.
Sepertinya Ryan harus dibawa jalan-jalan agar ia mengenal dunia luar,”
Maryati menghela berat. “Selama ini saya
sudah membujuk Ryan untuk jalan-jalan, Nda. Namun Ryan selalu menolak dan marah
ke saya. Kalau Ryan sudah marah, saya khawatir. Pasti dia berbuat yang tidak
saya inginkan,”
Mereka berjalan memasuki rumah Maryati.
Brenda duduk di kursi empuk buatan Italy. Maryati juga duduk sambil merapikan
rok panjangnya.
“Terima kasih, Nda. Kamu sudah berhasil
memberi semangat ke Ryan.”
“Sama-sama, Tante. Kita harus
bekerjasama untuk Ryan.”
Setelah perbincangan yang tidak begitu
panjang, Brenda pamit pulang. Tubuhnya terasa letih seharian jalan mengelilingi
kota Medan.
[1]
__ADS_1
Beberapa sumber